setelah berhasil membalas dendam, Tang Yan merasakan kelegaan di hatinya yang membuat kepribadian nya berubah riang dan sedikit konyol.
perjalanan Tang Yan kali ini akan dimulai dari dunia Cyber-kultivasi.
bagaimana ceritanya..? tunggu dan nantikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Titan-Borg
Langit di atas Sektor 13 yang biasanya tertutup tirai asap tembaga kusam kini terbelah oleh lautan cahaya merah darah. Bukan sinar matahari yang berhasil menembus polusi, melainkan ribuan lampu sensor dari armada tempur Cyber-Core yang melayang seperti kawanan serangga baja di atas awan beracun. Ratusan Unit Mecha-Sentinel kelas berat yang masing-masing setinggi sepuluh meter dengan zirah komposit titanium yang bersinar dingin. Satu-persatu melompat turun dari kapal induk raksasa yang mengapung di ketinggian awan.
...
DI DALAM KAPAL INDUK AEGIS PRIME
Ruang Komando yang penuh dengan layar hologram dan peralatan canggih. Suara alarm berdenyut cepat menyertai ledakan dari tembakan yang dilepaskan.
"Komandan! Target lokalisasi selesai, sumber anomali berada tepat di bawah Menara Rongsokan koordinat 13-7-9!" seru Prajurit First Class Riko, matanya terkunci pada layar sensor yang menunjukkan titik merah bersinar di tengah hamparan sampah.
Komandan bernama Marcus Thane, pria berusia empat puluhan dengan wajah yang penuh bekas luka dan mata sibernetik di sebelah kanan, mengetuk jari telunjuknya pada meja komando dengan wajah muram. "Anomali tingkat S? Padahal intel awal menyebutkan hanya sekelompok pemulung yang menggunakan energi ilegal!"
"Maaf Komandan, sensor energi baru saja mendeteksi lonjakan tingkat luar biasa! Setara dengan reaktor pembangkit energi kota kecil!" sambung Prajurit Lia dari posisi pemantauan. "Kita juga mendeteksi adanya formasi penghalang yang menutupi target secara total. Semua sensor optik hanya menunjukkan tumpukan sampah biasa."
Marcus mengerutkan kening, melihat pada layar yang menampilkan gambar drone pengintaian, hanya terlihat gunungan logam yang membosankan. Namun data energi yang muncul di sisi layar menunjukkan angka yang luar biasa tinggi.
"Bagaimana mungkin energi semacam itu bisa tersembunyi di Sektor 13? Tempat itu hanya penuh dengan limbah dan sampah teknologi tua!" gumamnya dengan marah.
"Komandan, ada laporan dari Unit Depan! Mereka mengalami gangguan sistem target, ada gerakan yang tidak bisa dilacak oleh radar!" teriak Prajurit Jef yang menangani komunikasi lapangan. "Prajurit Delta-3 melaporkan bahwa salah satu Mecha-Sentinel sudah hancur tanpa bekas!"
Sebuah ledakan muncul di layar utama – gambar Mecha-Sentinel sebesar rumah terbalik dan kepalanya terlepas.
"APA YANG TERJADI?!" Marcus membentak.
"Target yang tidak terdeteksi, Komandan! Sensor hanya menangkap sembilan sinyal identik yang bergerak dengan kecepatan melebihi batas kalkulasi sistem kita!" jawab Lia dengan tangan yang gemetar saat memutar ulang rekaman kecepatan rendah.
Di layar, bisa dilihat bayangan tipis yang melompat dari satu robot ke robot lainnya dengan kelincahan yang mustahil.
"Kirimkan seluruh pasukan! Jangan biarkan mereka lolos!" perintah Marcus dengan suara keras. "Semua unit, serang dengan segala senjata yang ada!"
Suara mesin turbojet mereka mengeluarkan frekuensi rendah yang membuat dasar Menara Sembilan Langit Terbuang bergoyang. Tanah berdebu di sekitarnya bergetar, mengirimkan gelombang kejut yang menggoyangkan tumpukan rongsokan tua. Di depan gerbang formasi pelindung menara, Tang Yan berdiri dengan sikap santai. Rambutnya tertiup angin kencang dari turbulensi mesin, namun wajah remajanya yang imut tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan. Hanya senyum nakal yang seolah meremehkan seluruh armada di hadapannya.
"Pak tua Mo, lihat itu. Bahan baku berkualitas tinggi yang datang sendiri!" Tang Yan mengangkat biskuit cokelat yang hampir habis sambil menunjuk ke langit. "Tak perlu kita susah payah cari rongsokan di tempat sampah lagi. Mereka langsung antar besi terbaiknya ke depan pintu!"
Elder Mo, yang baru saja menyelesaikan proses pembersihan tubuh berkat Ramuan Penyeimbang Arus Jiwa, menatap armada dengan dada yang naik turun. Kali ini gemetar yang melintas di tubuhnya bukan hanya ketakutan, tapi juga karena energi murni yang mengalir deras di pembuluh darahnya. "Senior, ini adalah Unit Iron Aegis – pasukan elit yang biasanya hanya digunakan untuk operasi penindasan di Sektor Atas. Mereka benar-benar menganggap kita sebagai ancaman besar."
"Semakin besar, semakin baik!" Tang Yan tertawa riang, lalu memalingkan wajah ke arah Luna dan Chu Ziyi. "Luna, hari ini adalah ujian akhir untuk tahap pertama kultivasimu. Buktikan bahwa latihan denganku bukan sia-sia. Dan kau, Ratu Es Dingin... kalau kau bosan menonton, boleh saja membekukan beberapa dari mereka untuk jadi pajangan taman kita nanti."
...
KEMBALI KE KAPAL INDUK AEGIS PRIME
"Lapor komandan, semua unit telah menyerang! Namun tembakan kita tidak bisa mengenai target utama!" teriak seorang perwira bernama Riko berseru dengan panik. "Peluru plasma kita justru menghancurkan tumpukan sampah di sekitar mereka!"
"Mustahil! Bagaimana mungkin mereka bisa menghindari tembakan skala seperti ini?!" Marcus menatap layar dengan tidak percaya. "Aktifkan mode target otomatis tingkat maksimal!"
"Sudah aktif, Komandan! Tapi sistem terus mengalami gangguan, seolah ada medan magnet yang sangat kuat yang mengubah lintasan peluru kita!" jawab Lia.
Pada saat itu, gambar Xiao Bai yang melompat ke udara muncul di layar.
"Apa itu?! Makhluk aneh apa yang memiliki bentuk seperti itu?!" teriak Jef saat memperbesar gambar.
"Sistem tidak mengenali spesies ini, Komandan! Analisis struktur tubuh menunjukkan bahwa ia memiliki sisik yang terbuat dari material yang tidak terdaftar di tabel periodik kita!" lapor Riko dengan mata melebar.
Sebelum mereka bisa berbicara lagi, Xiao Bai membuka mulutnya dan menembakkan sinar petir ungu yang membelah barisan pesawat tempur.
"Unit Udara Echo-2 hingga Echo-10 hilang kontak! tidak ada ledakan yang terjadi... Mereka semua hilang menjadi debu!" teriak Jef dengan suara gemetar.
Layar menunjukkan pesawat-pesawat yang tiba-tiba menghilang seperti terkutuk oleh sihir.
"APA YANG KITA HADAPI?! MONSTER?! ATAU APA?!" Marcus menendang kursinya dengan marah.
"Komandan, ada lagi! Ada sumber energi dingin yang ekstrem muncul dari puncak menara!" panggil Lia dengan wajah pucat. "Suhu di area itu turun hingga minus 150 derajat Celsius dalam hitungan detik!"
Di layar, kristal-kristal es muncul dari udara dan melesat ke arah Mecha-Sentinel dengan kecepatan tinggi. Robot-robot besar itu mulai terbanting dan mogok satu per satu.
"Komandan, kita kehilangan kendali atas 70% unit lapangan! Kita harus mundur dan meminta bala bantuan!" usul Riko dengan takut.
"Tidak ada mundur!" suara Marcus penuh kemarahan. "Ini adalah kehinaan bagi Cyber-Core jika kita dikalahkan oleh sebuah kelompok pemulung di Sektor 13! Segera aktifkan The Titan-Borg sekarang juga!"
"Komandan, prototipe itu belum diuji secara menyeluruh! Risiko kebocoran energi nuklir sangat tinggi!" peringatkan Lia.
"TIDAK ADA PILIHAN! AKTIFKAN SEKARANG!" bentak Marcus.
Seolah merespon perintah itu, senjata rahasia Cyber-Core muncul dari belakang kapal induk – prototipe robot raksasa yang ditenagai oleh reaktor nuklir murni, The Titan-Borg.
Robot itu mendarat dengan dentuman dahsyat yang menyebabkan guncangan seperti gempa bumi skala kecil. Tingginya mencapai lima puluh meter, dengan lengan kanan yang dilengkapi pedang energi termal berukuran sepuluh meter, dan lengan kiri yang bisa menembakkan peluru plasma berukuran tanki besar.
"ANOMALI! RASAKAN KEKUATAN PUNCAK TEKNOLOGI MANUSIA!" suara berat robot itu menggema melalui speaker raksasa yang terpasang di bahunya.