Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA MASA LALU
"Kalau begitu, bunuh lah," tantang Calista, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Jayden yang goyah.
"Jika membunuhku bisa menyembuhkan trauma mu dan membuatmu percaya bahwa tidak semua wanita ingin menghancurkan mu, lakukan sekarang," lanjut Calista, tanpa rasa takut.
Jayden membeku, napasnya masih menderu, dia menatap wajah Calista yang tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Tidak ada ambisi di mata itu, tidak ada kelicikan, hanya ada ketulusan yang keras kepala.
"Kenapa kau tidak takut?" bisik Jayden, suaranya pecah.
"Karena aku tahu rasanya hidup di dunia di mana kau tidak bisa mempercayai siapapun," jawab Calista, lembut.
Calista perlahan mengangkat tangannya, bukan untuk memeluk, tapi untuk memegang pergelangan tangan Jayden yang memegang belati, lalu menurunkannya dengan lembut.
"Ayahmu mati karena ambisi Isabella, kakakmu mati karena ketamakan istrinya, tapi Jayden... kamu masih hidup karena ada orang-orang yang memilih untuk setia," ucap Calista, menggenggam lembut tangan Jayden.
"Aku di sini bukan karena aku menginginkan takhta Florist, aku di sini karena aku ingin melihat pangeran kecil itu tumbuh, dan aku ingin melihat pria di depanku ini tidak lagi tersiksa oleh hantu masa lalunya," lanjut Calista, menatap dalam mata Jayden, yang penuh luka itu.
Setelah melapaskan genggaman tangan Jayden, Calista duduk di lantai, tepat di depan Jayden, memberi jarak yang nyaman namun tetap hadir, Calista tidak menyentuh Jayden lagi, menghormati batasan pria itu yang sedang merasa jijik pada kehadiran perempuan.
"Minumlah tehnya, tidak ada racun, aku sudah meminumnya setengah tadi di dapur," ucap Calista sambil menggeser cangkir teh yang masih mengepul.
Jayden menatap cangkir itu lama, seolah sedang menilai isi dari cangkir itu, lalu dia menatap Calista.
Perlahan, sesak di dada Jayden mulai berkurang, dan aura mematikan dan kebencian yang tadi meluap-luap mulai menyurut, digantikan oleh kelelahan yang luar biasa.
"Kenapa kau melakukan ini, Calista? Kamu bisa saja pergi dengan kunci gudang senjata itu dan hidup bebas," tanya Jayden lirih.
"Karena di dunia yang penuh dengan ular ini, sesekali kamu butuh seekor naga untuk menjagamu, dan kebetulan, aku adalah naga itu," jawab Calista tersenyum tipis, kali ini senyum yang tulus, kembali memegang tangan Jayden, meyakin kan pria itu.
Jayden menatap tangan Calista yang memegang pergelangan tangannya, lalu tiba-tiba ia tertawa getir.
Tawa itu terdengar pecah, lebih mirip rintihan daripada suara kegembiraan.
"Kau tidak mengerti, Calista..." bisik Jayden, dengan bibir bergetar.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Jayden menyentakkan tangannya dan meraih kepingan gelas kristal yang tadi pecah di lantai.
Sebelum Calista sempat bereaksi, Jayden mencengkeram pecahan tajam itu kuat-kuat di telapak tangannya.
Tes
Tes
Tes
Darah segar langsung merembes keluar, menetes di atas karpet mahal kamarnya.
"Rasa sakit ini, adalah satu-satunya cara agar aku ingat bahwa aku masih hidup, agar aku tidak berubah menjadi monster seperti mereka," ucap Jayden menatap telapak tangannya yang terluka dengan mata yang kosong.
"Rasa sakit fisik jauh lebih baik daripada harus merasakan bau busuk pengkhianatan yang memenuhi kepalaku!" lanjut Jayden, semakin mengeratkan kepalan tangan nya.
Calista tersentak, sebagai mantan agen rahasia, dia sering melihat luka perang, tapi melihat seseorang menyakiti diri sendiri karena luka mental yang begitu dalam adalah hal yang berbeda.
Sekarang Calista menyadari bahwa kebencian Jayden pada perempuan telah berakar menjadi kebencian pada dirinya sendiri, karena di dalam nadinya mengalir darah Isabella.
"Cukup, Jayden!" seru Calista, menghentikan Jayden.
Calista tidak peduli lagi dengan belati atau peringatan Jayden, dia merangsek maju dan dengan paksa merebut pecahan gelas itu dari tangan Jayden, membuat tangan nya lecet.
"Lepaskan! Biarkan aku menghilangkan semua darah pengkhianat itu!" teriak Jayden, kembali mengamuk.
Jayden mencoba mendorong Calista, namun Calista justru mengunci kedua tangan Jayden dengan teknik bela diri yang efisien, menahannya ke lantai agar pria itu tidak bisa menyakiti dirinya sendiri lebih jauh.
"Lihat aku, Jayden Florist!" ucap Calista berteriak tepat di depan wajah pria itu.
"Kau menyakiti dirimu karena kau pikir kau adalah bagian dari mereka? Kau pikir darah Isabella yang mengalir di tubuhmu membuatmu kotor?" tanya Calista, dengan nafas memburu.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
Jayden meronta, air mata kemarahan mengalir di pipinya.
"Aku benci darah ini! Aku benci setiap bagian dari diriku yang berasal dari wanita itu!"
"Kau bukan dia!" ucap Calista menekan tangan Jayden lebih kuat ke lantai, matanya berkilat tajam.
"Darah tidak menentukan siapa kamu, tapi pilihanmu yang menentukannya! Isabella memilih untuk membunuh, kau memilih untuk melindungi, istri kakakmu memilih untuk berkhianat, kau memilih untuk tetap setia pada janji kepada saudaramu. Itu bedanya!" bentak Calista, airmata ikut mengalir melihat mental Jayden, se hancur ini.
Napas Jayden yang tadinya memburu mulai tersendat, tenaganya seolah terkuras habis, dia berhenti meronta, tubuhnya gemetar hebat di bawah kuncian Calista.
Jayden menangis, memeluk tubuhnya sendiri, kepala nya bertumpu diatas kedua lututnya.
Calista perlahan melepaskan kuncian nya, dia melihat telapak tangan Jayden yang robek cukup dalam.
Tanpa suara, Calista merobek bagian bawah gaun tidurnya yang berbahan sutra lembut. Ia mengambil tangan Jayden yang berdarah dan mulai membalutnya dengan gerakan yang sangat hati-hati namun mantap.
"Setiap kali kau menyakiti dirimu, kau hanya membuat Isabella menang dari dalam kuburnya," ucap Calista sambil mengikat kain tersebut.
"Dia ingin kamu hancur, dia ingin kamu menderita, jangan beri dia kemenangan itu, Jay," lanjut Calista, mengusap lembut rambut Jayden.
Jayden mendongak kan kepala nya, menatap kain putih yang kini berubah warna menjadi merah karena darahnya, lalu dia menatap wajah Calista yang begitu dekat, dan anehnya, meski sia membenci perempuan, kehadiran Calista di titik terendahnya malam ini tidak membuatnya merasa muak.
"Kenapa kamu tidak pergi saja?" tanya Jayden dengan suara yang sangat lemah, nyaris tak terdengar.
"Aku pria gila Calista, aku bisa saja membunuhmu dalam sekejap saat aku kehilangan kendali," ucap Jayden, tersenyum getir.
Calista selesai membalut luka Jayden, tapi dai tidak menjauh, melainkan duduk bersila di depan Jayden, menjaga jarak hanya satu jengkal.
"Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjaga Lorenzo, dan untuk menjaganya, aku butuh kau tetap hidup dan kamu tidak gila Jay," jawab Calista.
"Dan satu hal lagi, Jayden, aku adalah agen, maksudku, aku adalah orang yang sudah melihat neraka lebih banyak dari yang bisa kamu bayangkan. Orang sepertiku tidak akan lari hanya karena sedikit drama tengah malam," lanjut Calista, menyentuh dadanya sendiri.
Jayden terdiam, ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara deru angin dari jendela yang terbuka.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.