Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enam
Arka mengusap wajahnya kasar. Dia berusaha menghapus semua kenangan pahit itu. Dia tak mau mengingatnya tapi kehadiran Revan akan selalu membawanya kembali ke saat itu.
Saat Arka sedang termenung. Terdengar suara ketukan pintu. Dia lalu mempersilakan masuk. Alana masuk sambil membawa segelas susu hangat.
"Mau apa?" tanya Arka dengan suara datar.
"Tuan, aku datang membawa susu hangat. Bi Marni bilang, setiap mau tidur Tuan biasanya minum susu hangat."
Arka rampak menarik napas berat. Kebiasaannya dari kecil ini memang tak bisa dia hilangkan. Tidurnya akan kurang nyenyak jika belum minum susu hangat.
"Letakan saja di sana!"
Alana lalu meletakkan susu yang dia bawa di atas meja, dihadapan Arka. Dia lalu pamit keluar. Dengan perlahan, gadis itu berjalan menuju pintu keluar.
"Alana ...," panggil Arka. Langkah kaki gadis itu terhenti mendengar namanya di panggil.
"Apa Revan sudah tidur?" tanya Arka.
"Sudah Tuan," jawab Alana. Dia membalikkan badannya menghadap pria itu.
"Kalau dia bertanya tentang Daddy-nya kamu harus bisa menjawab. Jangan biarkan dia bertanya terus kenapa Daddy nya jarang datang," ucap Arka.
"Baik, Tuan. Aku mengerti," balas Alana.
Arka tampak kembali menarik napasnya. Dia lalu berucap, "Mengenai apa yang kamu dengar tadi, lupakan semua itu. Aku tak mau kamu berpikir yang bukan-bukan!"
"Ya, Tuan. Aku mengerti," ujar Alana.
"Silakan pergi. Jaga Revan dengan baik. Aku tak mau terjadi sesuatu dengannya. Dengar ... jika kamu menyakitinya sedikit saja ... jangan salahkan aku melakukan sesuatu diluar pikiranmu!" ancam Arka.
Alana mengangguk tanda setuju dan mengerti. Dalam hatinya ada ketakutan tersendiri.
Pagi menjelang dengan pelan, seolah matahari tahu rumah itu menyimpan terlalu banyak luka untuk disinari secara tergesa.
Cahaya keemasan menyelinap masuk lewat celah tirai dapur, jatuh di atas lantai marmer yang dingin. Aroma bawang putih yang ditumis perlahan mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan bau nasi panas yang baru saja matang. Alana berdiri di depan kompor, mengenakan celemek sederhana warna krem. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang masih tampak mengantuk, tapi tangannya bergerak cekatan.
Ia mengaduk nasi goreng di wajan besar, menambahkan telur, sedikit kecap manis, dan irisan daun bawang. Resep sederhana. Tidak ada yang istimewa. Tapi entah kenapa, ia memasaknya dengan hati-hati berlebihan, seperti takut satu kesalahan kecil bisa membawa masalah.
Sejak malam tadi, ancaman Arka masih terngiang jelas di kepalanya. "Jika kamu menyakiti Revan sedikit saja … jangan salahkan aku melakukan sesuatu di luar pikiranmu."
Alana menelan ludah. Ia tidak berani melawan. Tidak berani bertanya. Ia hanya bisa memastikan satu hal, Revan harus aman, nyaman, dan bahagia selama bersamanya.
“Mbakk …,” suara kecil terdengar dari arah pintu dapur.
Alana menoleh cepat. Revan berdiri di sana, mengenakan piyama biru bergambar dinosaurus. Rambutnya sedikit berantakan, matanya masih setengah terpejam.
“Kok bangun cepat?” tanya Alana lembut sambil tersenyum.
Revan mengucek matanya. “Pipis,” jawabnya jujur.
Alana tertawa kecil. “Ya sudah, sini. Mbak temani ke kamar mandi.”
Setelah urusan pagi Revan selesai, Alana mengajaknya kembali ke kamar. Padahal kamarnya ada kamar mandi, entah mengapa pipisnya mau di toilet luar kamar.
Alana menyiapkan air hangat, membantu bocah itu mandi dengan sabar. Revan tampak ceria, bermain air, menyiramkan busa ke lantai hingga membuat Alana berkali-kali menegurnya.
“Revan, sudah ya Nanti lantainya licin.”
Revan nyengir lebar. “Maaf, Mbak.”
Setelah mandi, Alana memakaikan baju bersih untuk Revan, kaus putih dan celana pendek abu-abu. Bocah itu lalu duduk manis di kursi makan di dapur, menunggu sarapan.
Alana meletakkan sepiring nasi goreng hangat di hadapannya. Uap tipis masih mengepul.
“Ini buat Revan,” ucap Alana, mengambil sendok kecil.
Revan mengendus, lalu matanya berbinar. “Wangi.”
Alana tersenyum, lalu mulai menyuapi. Revan makan dengan lahap, sesekali mengangguk-angguk kecil seperti orang dewasa yang sedang menilai masakan.
“Enak?” tanya Alana.
Revan mengangguk cepat. “Enak banget.”
Alana merasa sedikit lega. Dadanya yang sejak pagi terasa tegang perlahan mengendur.
Tanpa ia sadari, dari ambang pintu ruang makan, sepasang mata mengamati pemandangan itu.
Arka berdiri di sana, mengenakan kaus hitam sederhana dan celana rumah. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan dan bayangan malam panjang yang lalu. Biasanya, pagi di rumah itu sunyi, dingin, dan kaku. Revan sering makan tanpa banyak suara, ditemani pengasuh yang berganti-ganti, sementara Arka menutup diri di ruang kerja atau langsung berangkat ke kantor.
Tapi pagi ini berbeda. Ada suara sendok beradu dengan piring. Ada tawa kecil. Ada aroma nasi goreng yang mengingatkannya pada masa lalu, pagi-pagi di rumah sebelum semua hancur, sebelum Aurelia pergi selamanya.
Arka tidak bergerak. Ia hanya berdiri, menatap.
Dan tanpa ia sadari, sudut bibirnya terangkat sedikit saja, nyaris tak terlihat. Senyum tipis. Senyum yang sudah lama menghilang dari wajahnya.
Revan yang sedang mengunyah tiba-tiba menoleh dan melihat Arka. “Om!” serunya ceria, mulutnya masih penuh. “Om udah bangun!”
Alana terkejut. Tangannya berhenti di udara. Ia menoleh cepat, dan mendapati Arka berdiri di sana, menatap mereka.
“Tuan .…” Alana refleks berdiri.
“Duduk saja,” ucap Arka singkat.
Alana menurut, kembali duduk, meski punggungnya terasa kaku.
Revan menatap Arka dengan mata berbinar. “Om, coba nasi goreng Mbak Alana. Enak banget.”
Kalimat itu sederhana. Polos. Tapi entah kenapa, Arka terdiam sejenak.
Ia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi di seberang Revan. Pandangannya bergantian antara bocah itu dan sepiring nasi goreng di depannya.
“Apakah Revan suka?” tanya Arka, suaranya lebih lembut dari biasanya.
“Suka banget!” jawab Revan tanpa ragu. “Lebih enak dari kemarin.”
Alana menunduk, gugup. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Arka mengulurkan tangan, mengusap kepala Revan pelan. Gerakan yang jarang ia lakukan. Sentuhan yang selama ini terasa asing, bahkan bagi dirinya sendiri.
“Habiskan,” ucapnya singkat. “Biar cepat besar.”
Revan mengangguk semangat dan kembali makan dengan lahap.
Arka melirik Alana sekilas. “Kamu yang masak?”
“Iya, Tuan,” jawab Alana hati-hati.
Arka mengangguk pelan. “Duduk.”
Alana membeku. “Maaf?”
“Duduk. Makan,” ulang Arka.
Itu perintah. Tapi nada suaranya tidak sedingin biasanya.
Dengan ragu, Alana mengambil piring dan duduk di ujung meja. Ia makan perlahan, berusaha tidak bersuara.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Arka ikut sarapan di meja makan. Bersama Revan. Bersama Alana, sebagai pembantu di rumahnya.
Tidak ada percakapan berat. Tidak ada bentakan. Hanya suara sendok, tawa kecil Revan, dan keheningan yang terasa, tidak lagi menyesakkan.
Arka memandangi pemandangan itu dengan perasaan aneh di dadanya.
Selama ini, tak ada satu pun pengasuh yang benar-benar cocok dengan Revan. Bocah itu sering rewel, sulit makan, dan kerap menangis diam-diam di malam hari. Arka tahu itu. Tapi ia terlalu sibuk dengan dendam, amarah, dan masa lalu untuk benar-benar hadir.
Dan sekarang… hanya dalam waktu singkat, Revan terlihat nyaman. Hidupnya terlihat lebih ceria.
Arka menyadarinya, dan itu membuatnya, untuk pertama kalinya merasa sedikit lega. Tapi hanya sedikit saja.
Namun di balik ketenangan pagi itu, ada sesuatu yang mulai bergerak pelan. Perasaan yang tidak ia rencanakan. Perubahan yang tidak ia sadari.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭