Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 01. Awal
...~•Happy Reading•~...
Pada umumnya, pria tampan kaya raya sangat mudah menemukan pasangan hidup, karena mereka bagaikan magnet bagi wanita yang ingin hidup enak dan nyaman, tanpa perlu kerja keras.
Namun itu tidak berlaku bagi Nethaniel, putra konglomerat property yang terkenal di kalangan pengusaha muda. Sebab dia menginginkan cinta yang murni.
Cinta apa adanya dia sebagai pria yang layak dicintai, bukan bercampur dengan ada apanya dia yang mampu memberikan kenyamanan hidup.
Oleh sebab itu, ketika berpacaran dia selektif, tidak mudah jatuh cinta. Dan belum ada wanita yang mampu menghilangkan stigma negatif di pikirannya. Dia seperti gula yang menarik semut.
Akibat berkali-kali gagal menjalin kisah cinta dengan wanita yang hanya mengejar harta, Nethaniel menutup diri.
Dia membentengi diri dengan berbagai aturan yang ditetapkan sendiri. Sehingga dalam situasi tertentu, dia merasa kesepian.
~•~
Hari ini, Nethaniel tiba di Bandara Soekarno-Hatta setelah lama bekerja mengembangkan usahanya di Singapura.
Sambil menunduk, dia berjalan cepat keluar dari bandara. "Rion, apa yang dilihat?" Tanyanya kepada asisten yang sedang menunggu.
"Pak Ethan, keluar lewat mana?" Asistennya terkejut mendengar teguran disertai tepukan pada pundaknya.
"Keluar lewat mana? Ada berapa pintu keluar di sini?" Ethan menggeleng mendengar pertanyaan asistennya.
Rion yang sudah berbalik, jadi menyadari ada yang berbeda pada penampilan bossnya. 'Pantas aku hampir gak kenal.' Rion membatin. "Pak Ethan menyamar lagi?"
"Tidak menyamar. Hanya sedikit rubah penampilan." Ucap Ethan sambil memberikan koper.
"Merubah penampilan dan cara jalan." Ucap Rion.
"Sedikit. Supaya lancar perjalanan." Ethan mengakui.
"Apa di first class masih ada yang mengganggu, Pak?" Rion heran, karena tiket pesawat yang dia booking.
"Saya tidak selamanya di pesawat. Harus keluar dari bandara." Protes Ethan. "Cepat keluar dari sini sebelum ada yang kenal." Ethan menarik kupluk untuk menutup sebagian wajahnya.
"Mau ke mana, Pak?" Tanya Rion setelah mereka berada dalam mobil.
"Papah sudah tahu, saya pulang hari ini?"
"Saya belum kasih tahu, Pak."
"Kalau begitu, kita langsung pulang ke rumah. Saya mau istirahat." Ucap Ethan, lalu menyandarkan punggung.
~••~
Setelah tiba di rumah, Ethan langsung menuju kamar. Dia tidak mau bertemu Mamahnya dalam kondisi yang tidak enak dilihat. "Ethan, kau'kah itu?" Pertanyaan Mamahnya membuat dia garuk kepala yang tidak gatal.
Tanpa menengok, dia mengangkat tangan. "Iya, Mah. Ethan mau istirahat sebentar."
"Ada apa kau mengendap-ngendap masuk ke kamar?" Pertanyaan Mamahnya, membuat Ethan mengelus wajah, lalu berbalik. "Gak mengendap, Mah. Hanya capek, mau istirahat."
Mata Mamahnya membulat lihat penampilan dan wajahnya. "Lihat wajahmu yang tidak bercukur. Apa ada gadis tertarik padamu yang gak terurus itu?" Mamahnya terkejut melihat wajah Ethan kotor oleh buluh-buluh halus di sekitar dagu, bawah hidung dan pinggiran pipi.
"Kau pergi ke mana, sampe wajahmu gak bisa dicukur? Apa Singapore gak menjual alat cukur?" Mamahnya tidak tahan melihat wajahnya yang kotor.
Ethan jadi menyesal, tidak ke hotel terlebih dulu untuk merapikan wajahnya sebelum pulang ke rumah.
"Apa wajah tampan ini gak sedap dilihat, Mah?" Tanya Ethan disertai langkah cepat mendekati Mamahnya. Dia peluk sambil tersenyum dalam hati melihat Mamahnya mendelik, seakan marah. Lalu memukul pelan punggungnya berulang kali.
"Gak usah peluk Mamah untuk menutupi kenakalanmu. Sudah usia hampir kepala tiga, masih bersikap sesukanya."
"Kalau pelukanku sudah gak mempan, aku tidur saja." Ethan melepaskan pelukan, lalu berjalan cepat menuju kamar.
"Ethaaan... Jangan ke mana-mana. Nanti dinner sama Mamah dan Papah." Teriak Mamahnya dan geleng kepala melihat Ethan berjalan sambil mengangkat tangan yang jarinya membentuk isyarat OK.
Saat masuk kamar, Ethan meletakan koper di lantai dan menuju kamar mandi. Ketika melihat wajahnya di cermin, dia tersenyum lebar. Wajahnya seperti yang dikatakan Mamahnya, tidak terawat dan tidak enak dilihat.
Dia melepaskan sweater berkupluk dan semua yang dikenakan untuk memeriksa tubuhnya. Dia mulai membersihkan bulu-bulu halus di wajah, sambil menunggu bathtub diisi air hangat.
~•~
Setelah mandi, dia berbaring sambil mengotak-atik ponsel. Tanpa sadar, dia tertidur hingga Mamahnya masuk kamar dan menguncang tubuhnya. "Ethan, bangun, Papah sudah pulang."
Ethan membuka mata perlahan dan melihat Mamahnya. "Sedikit lagi, Mah. Masih mengantuk."
"Nanti baru tidur lagi. Bangun, mau dinner." Mamahnya tetap memaksa bangun.
"Coba lihat wajahmu. Ini baru Ethan. Tadi Mamah hampir panggil security yang membiarkan penyusup masuk ke dalam rumah."
"Tanggung, Mah. Panggil polisi sekompi saja. Papah sudah pulang, Mah?" Tanya Ethan setelah kesadarannya terkumpul.
"Sudah. Tidak sabar menunggumu."
"Biasanya Mamah bisa menjinakan."
"Papahmu hewan liar? Cepat, kami tunggu di ruang makan." Mamahnya menepuk punggung, lalu keluar kamar.
Ketika Ethan masuk ke ruang makan, dia terkejut melihat Papah dan Opahnya sudah menunggu di meja makan. "Malam, Opah. Maaf, ketiduran." Ethan berjalan cepat mendekati Opahnya, lalu peluk dari belakang sebagai tanda minta maaf, telah membuat Opahnya menunggu.
"Mamah tidak bilang ada Opah." Bisik Ethan sambil memegang bahu Mamahnya sebelum dia duduk di kursi. Mamahnya tersenyum dalam hati.
"Mengapa langsung pulang dan tidak bilang Papah?"
"Surprise, Pah."
"Papah kira mau rayakan keberhasilanmu di Singapore, baru pulang ke sini."
"Mau rayakan dengan Opah di sini."
"Ethan, makan dulu. Opah mau bicara denganmu." Opahnya tidak sabar dan memotong.
"Iya, Opah. Selamat makan." Ethan mengangguk dan bersyukur sebelum makan.
Ethan, Mamah dan Papahnya makan dalam diam, tanpa bercakap, mendengar nada suara Opahnya.
Setelah makan dan perangkat makan dibersihkan pelayan, mereka duduk menunggu sambil makan buah. "Tadi Mamahmu bilang kau sudah kembali. Opah minta Mamahmu siapkan dinner, karena ada yang mau Opah tanyakan." Opahnya membuka percakapan.
Ethan tidak jadi mengambil buah, karena mendengar nada suara serius Opahnya. "Iya, Opah."
"Ethan sudah siap menikah?" Pertanyaan Opahnya membuat dia terkejut. "Opah, menikah perlu pasangan."
"Opah tahu. Terus?"
"Ethan belum ada pasangan."
"Kau seperti itu, belum ada pasangan? Tidak ada yang mau denganmu?"
"Maunya ada, tapi belum pas di hati, Opah?" Ethan tidak berani bercanda seperti kepada Mamahnya.
"Sampai kapan, kalau tunggu pas di hati? Opah sudah tua dan tidak bisa menunggumu?"
"Opah, jangan bilang begitu..." Ethan tidak jadi meneruskan, melihat Opahnya mengangkat tangan.
"Carlos, Judith, jangan biarkan dia seperti ini terus. Dia bukan bertanggung jawab meneruskan bisnis saja, tapi juga keturunan. Papah mau lihat anaknya sebelum mati."
"Iya, Pah. Kami sudah sepakat. Kalau Ethan tidak menentukan pilihan, kami sudah punya calon untuk jadi pasangannya..." Papahnya cepat menjelaskan, sebelum Ethan protes. Agar Opahnya tidak marah.
"Biarkan dia tentukan pilihannya. Dia seperti ini tidak bisa mencari sendiri?"
"Apa yang kurang padamu?" Tanya Opahnya serius.
Orang tua Ethan terdiam dan tidak mengatakan sesuatu, agar tidak memancing emosi Opahnya.
"Opah, bukan ada yang kurang. Tapi pasangan Ethan gak dijual bebas." Ucapan Ethan membuat Papah dan Mamahnya melihat dia dengan mata membesar.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah