Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Bukan Level
Bab 22
Asoka mengantri toilet mendapati Lisa keluar dari sana dengan raut wajah tidak nyaman. Gadis itu sedang tidak sehat. Semalam, ia dan Rama masih berbincang saat Lisa dan Yuli di dalam kamar sedang kerokan.
“Pusing?” tanya Asoka dan tangannya sudah menyentuh dahi kekasihnya. Dijawab anggukan, merasai suhu tubuh memang agak demam. “Makan lalu minum obat. Mau aku periksa dulu?”
“Ck, nggak. Paling masuk angin karena kehujanan kemarin malam. Geser, aku mau lewat.” Asoka memang menghalangi langkahnya.
Lisa sudah berganti seragam dan memoles tipis wajahnya serta lip tint agar tidak terlihat pucat. Berada di meja makan, tidak jauh dari pintu mengarah ke dapur. Menikmati bubur ayam yang terasa pahit, bukan makannya melainkan mulutnya.
“Ampun, Rama … kenapa sih nyebelin banget.”
“Berisik tau, ini masih pagi,” ujar Lisa mengaduk bubur ayamnya dan terlihat semakin mengenaskan.
Sepagi ini, pasangan itu sudah berdebat. Apalagi kalau bukan keisengan Rama.
“Lagian mata pake di item-item gitu. Awas kecol0k, yang ada picek lo,” ujar Rama lalu menghampiri Lisa, mengambil tempat di sampingnya.
“Makan yang banyak Sa, baru kehujanan udah kayak kena tipes.” Rama membuka Styrofoam miliknya lalu makan dengan lahap. “Emang semalam nggak dikasih obat sama dokter Oka?”
“Nggak, obat apaan. Kalau Cuma paracetamol, Yuli juga punya di kamar.”
“Ish, bukan. Vitamin C, udah dapet lagi belum?”
Lisa menjawab dengan gelengan. “Nanti minta aja di farmasi.”
Rama berdecak lalu menoy0r kepala Lisa. “Bukan itu maksud gue. Vitamin C, cium. Elo mah sakit cinta, dicip0k juga sembuh.”
“Eh, kampr3t. Aku nggak kayak kalian berdua ya, jangan-jangan udah sering begitu.”
“Sa, gue denger ya,” pekik Yuli.
“Halah, muna lo Sa. Kemarin gue lihat sendiri Asoka nyosor, meski Cuma kening.”
“Hah, kapan?”
“Pagi, waktu dia baru datang. Lo belum siuman, masih berkelana di mimpinya si Encep.”
“Serius?” tanya Lisa dan dijawab dengan anggukan.
“Udah tern0da jidat lo. Minta tanggung jawab gih.”
Entah karena dingin atau durasi mandi Asoka yang efisiensi waktu. Pria itu sudah berdiri di belakang Lisa dan mengusap bahunya.
“Habiskan ya. Obatnya diminum.”
“Lagi usaha dok. Sumpah ini pahit, tapi heran sama makhluk satu ini. Bisa kilat gitu makannya," ejek Lisa melirik Rama sedang mengisi gelas dari dispenser. Mengesampingkan dulu masalah keningnya yang sudah diserobot oleh sang dokter. Meski ingin sekali mencecar, beraninya mencium tanpa izin. Eh, maksudnya kalau izin mau dikasih gitu.
“Beres tugas langsung pulang, nanti makan siang aku minta Sapri antar.”
Selanjutnya Lisa ingin sekali berteriak dan menj4mbak rambut Asoka. Belum juga berkomentar, dia malah menunduk lalu mendaratkan bibir di pipinya. Tanpa aba-aba dan izin. Lisa terpaku mendapatkan serangan itu.
Rama menyemburkan air yang sedang dia minum melihat adegan tadi.
“Masih pagi udah nyosor aja.”
Asoka cuek, mengarah ke kamar tanpa rasa bersalah.
“Ada apaan sih?” tanya Yuli bergabung di meja makan.
“Ada ular lagi beger, kudu cepet dinikahin ini mah. Bahaya.”
“Hah, maksudnya gimana? Ular mau nikah, lo nggak jelas Ram.”
Lisa mengusap pipinya sambil berdecak. “Awas aja nanti, gue cakar mukanya.”
“Halah, padahal lo seneng dikasih stempel Asoka Harsa.”
***
Lisa sudah sibuk di meja skrining, memanggil pasien untuk pengecekan suhu, tensi dan berat badan. Asoka tentu saja di ruang periksa. Karena senin, semua dokter lengkap. Asoka, Agus dan tentu saja Marina.
Baru datang sudah heboh, siapa lagi kalau bukan Marimar. Nyelonong boy menghampiri Asoka.
“Pagi, dokter Asoka.”
Asoka menoleh lalu kembali menatap layar ponselnya. “Pagi, dok.”
“Kemarin ke Jakarta? Kok, nggak bilang sih. Tau gitu aku ikut bareng. Udah dua bulan belum balik ke sana.”
“Nggak niat ke Jakarta."
“Gimana, kuliah lancar? Kamu kapan lulus?”
Asoka mengedikan bahu. “Entahlah.”
“Cepet lulus ya, biar bisa praktek spesialis terus cari jodoh. Eh, iya, kapan kamu mau ikut ke klinik temanku. Sore ini yuk, mana tahu bisa ikut gabung di sana. Lumayan kan setahun juga.”
“Kayaknya nggak. Aku akan fokus di puskes dan pendidikan aja. Tidak ada rencana ikut praktek di manapun.” Asoka bicara tanpa menatap Marina, terserah mau dibilang tidak sopan.
Tok tok
Menoleh ke arah pintu, sudah ada Lisa di sana.
“Dok, mulai sekarang?”
Asoka ingin sekali tersenyum lalu melambaikan tangan agar Lisa menghampiri, tapi berusaha profesional karena sedang bertugas.
“Iya,” sahutnya lalu berdiri dan meraih jas putih yang digantung. Dipakai melapisi kemeja lengan panjangnya.
“Baru juga jam 8, nanti aja sih,” keluh Marina sambil bersedekap.
“Sudah waktunya, kasihan pasien yang datang awal. Bahkan dari pagi.” Secara halus, Asoka mengusir Marina yang akhirnya beranjak dari sana kembali ke ruangan prakteknya.
Setengah satu siang, kondisi Lisa makin tidak baik. Kepalanya semakin pusing dan demam. Pasien sudah selesai pemeriksaan , hanya beberapa masih menunggu antrian obat. Akan pamit pada Asoka, tapi Marina sudah duluan memasuki ruangan.
"CK, gesit amat sih."
Lisa kembali ke meja skrining lalu mengirim pesan untuk dokter cintanya.
Dokter Oka
Aku pulang ya, di sini takut ganggu
Membereskan semua alat kerja ke dalam laci. Asoka keluar dari ruangannya.
"Mau diantar?" Dijawab dengan gelengan pelan. "Masih pusing, kok pucat Sa?"
Marina seperti anak hilang, mengekor Asoka, matanya mendelik dan menatap heran saat pria itu menyentuh dahi Lisa.
"Ini sih bukan masuk angin, biar diantar Rama aku piket sampai malam."
"Nggak apa aku pulang sendiri, Rama kayaknya standby. Ada pasien Yuli, mau melahirkan."
"Nanti aku minta Sapri beli makan dan bawakan obat, langsung istirahat." Tangan Asoka tidak sopan mengusap pipi Lisa membuat Marina semakin heran dan cemburu.
"Kalian ada hubungan?" Marina menunjuk Lisa yang menjauh.
"Hm. Dia kekasihku." Asoka memanggil Sapri yang baru saja lewat. "Belikan makan untuk Lisa, langsung antar ke rumah."
"Serius? Bercanda 'kan? Masa sih sama perawat, nggak level dong."
Asoka menoleh, ucapan Marina membuat telinganya gatal.
"Sejak kapan urusan hati ada jenis levelnya. Cinta kami tulus dan serius." Asoka meninggalkan Marina menuju ruang gedung belakang. Ada pasien rawat inap yang harus dia periksa.
"Si4lan, bisa-bisanya aku kalah sama perempuan itu."
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭