Xuan Hao adalah putra Pangeran yang keberadaannya tidak diakui.
Wajahnya memang tampan, tapi dia pemalas dan suka minum, ditambah dia tidak tau apa-apa tentang beladiri, sastra, maupun strategi perang.
Benar-benar pemuda tidak berguna, tapi setelah tanpa sengaja tersambar petir dan mendapatkan berkah langit berupa Sistem, segalanya berubah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Ibu Suri
Suara keributan terdengar sampai ke tenda yang ditempati Xuan Hao, membuat waktu tidur pria itu terganggu.
[Ding!]
[Tuan, ada yang mencoba menangkap Xuelang, tapi mereka justru diserang balik dan membuat kelompok Serigala Bulan.]
“Orang bodoh mana yang melakukan itu?” ujar Xuan Hao sambil bangkit dari tempat tidurnya.
[Itu dilakukan oleh dua Pangeran Kekaisaran, Pangeran Kedua Xuan Zeyan dan Pangeran Ketiga Xuan Yihan.]
“Benar-benar bodoh!” Xuan Hao akhirnya keluar dari tenda, menyaksikan sendiri bagaimana puluhan prajurit mengepung Xuelang, nama yang ia berikan pada Pemimpin kelompok Serigala Bulan.
Melangkah mendekati prajurit yang mengepung Xuelang, dengan santainya Xuan Hao berbicara, “sekarang pencurian bisa dilakukan di depan banyak orang, dan tidak ada yang mencoba menghentikannya!”
Suara Xuan Hao menggema ke segala arah, membuat prajurit yang melakukan pengepungan menoleh, begitu juga dengan kedua Pangeran Kekaisaran.
“Kau, sampah kediaman Pangeran Agung Xuan Lie, siapa yang kau sebut pencuri?” teriak Pangeran Xuan Zeyan.
“Tentu saja kalian yang tidak tau malu ingin mengambil milik orang lain.”
Bukan Xuan Hao, melainkan jawaban itu diberikan Ibu Suri yang datang bersama Putri Agung dan Putra Mahkota, membuat wajah kedua Pangeran Kekaisaran seketika pucat pasi.
“Nenek, kami tidak mencuri, hanya saja kami ingin memelihara mereka!” ucap Pangeran Xuan Yihan.
“Apa yang ingin kalian pelihara?” tanya Ibu Suri.
“Kami ingin memelihara setidaknya satu ekor Serigala Bulan,” jawab Xuan Zeyan.
“Oh, apa kalian tidak tau kalau kelompok Serigala Bulan sudah ada yang memilikinya?” Lagi Ibu Suri bertanya.
“Mereka ini hanya mengikutinya, bukan berarti dia menjadi pemilik mereka.” Pangeran Xuan Yihan menolak mengakui Xuan Hao sebagai pemilik kelompok Serigala Bulan.
“Xuelang dan kalian semua kemarilah!” perintah Xuan Hao, dan kelompok Serigala Bulan itu patuh datang ke tempat Tuan mereka.
“Kalian duduk di belakangku, dan tunjukkan pada mereka siapa Tuan kalian yang sebenarnya!!”
Kelompok Serigala Bulan benar-benar duduk di belakang Xuan Hao, membuat semua orang kini tau kalau kelompok itu bukan sekedar mengikuti Xuan Hao kembali ke tempat perkemahan, melainkan mengakui pria itu sebagai Tuan mereka.
“Jika kalian berdua tidak buta, tentu kalian bisa melihat sendiri siapa pemilik kelompok Serigala Bulan, dan kalau kalian ingin memelihara salah satu Serigala Bulan, kalian harus mendapatkan ijin resmi dari pemilik mereka!” Ibu Suri tegas dengan ucapannya.
“Ini!~” Kedua Pangeran ragu meminta pada Xuan Hao, apalagi tadi mereka menjadi pihak yang bersikeras tidak percaya kalau kelompok Serigala Bulan adalah milik pria itu.
“Nenek, aku tidak akan membiarkan orang lain memelihara temanku. Sampai kapanpun mereka tetap akan mengikutiku!” tegas Xuan Hao, membuat kelompok Serigala Bulan melolong, menunjukkan jika mereka senang dengan keputusan Xuan Hao.
Mendengar itu kedua Pangeran Kekaisaran pamit pada Ibu Suri, lalu mereka mengajak pergi prajurit yang dibawa ke tempat dimana kelompok Serigala Bulan istirahat, tepat di sebelah tenda yang ditempati Xuan Hao.
“Nenek, Kakak Putri Agung, Yang Mulia Putra Mahkota, terimakasih atas sedikit pertolongannya!” ucap Xuan Hao.
“Kalau kamu memanggilku Kakak, kenapa harus berterimakasih? Lagipula yang salah itu mereka, dan kebetulan saja kami semua menyaksikan apa yang ingin mereka lakukan,” ucap Putri Agung.
Xuan Hao tersenyum kecil, lalu ia mengajak ketiga tamunya menuju tenda miliknya, dimana mereka sepertinya tak ingin pergi setelah selesainya masalah kecil dengan kedua Pangeran Kekaisaran.
“Adik, sepertinya hubungan kita selama ini terlalu jauh, sampai hanya aku yang mendapat panggilan berbeda,” ucap Putra Mahkota yang menginginkan panggilan akrab seperti cara Xuan Hao memanggil Ibu Suri dan Putri Agung.
“Kakak Putra Mahkota, apa kamu iri dengan kami?” tanya Putri Agung.
“Tentu saja aku iri, apalagi adik Hao adalah penyelamat hidupku saat berada di tengah hutan!” ucap Putra Mahkota mengejutkan Ibu Suri dan Putri Agung, dikarenakan mereka belum tau tentang apa saja yang dialami Putra Mahkota selama mengikuti acara berburu.
“Cepat ceritakan pada Nenekmu ini apa yang sebenarnya terjadi di dalam hutan!” perintah Ibu Suri.
Putra Mahkota langsung saja menceritakan semua kejadian yang menimpanya selama di dalam hutan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Termasuk menceritakan hasil penyelidikan tentang pelaku penyerangan, dimana pelaku penyerangan merupakan pembunuh bayaran yang disewa ketiga Pangeran.
Mendengar ke seluruh cerita Putra Mahkota, Ibu Suri menunjukkan ekspresi marah yang begitu jelas terlihat.
“Berani ingin mengakhiri hidup saudara sendiri. Sepertinya aku mulai lunak mendidik Kaisar, sampai ada diantara putranya yang mengincar hidup Putra Mahkota,” ucap Ibu Suri.
“Kalian, cepat panggil Kaisar untuk datang ke tempat ini! Dalam satu pembakaran dupa dia tidak datang, hari ini juga aku sendiri yang akan menggulingkan kekuasaannya!” perintah Ibu Suri tegas pada dua Kasim Senior yang mendampinginya, dimana kedua Kasim itu adalah sosok yang pernah mendampingi mendiang Kaisar sebelumnya.
‘Hah, para Pangeran itu benar-benar mendatangkan masalah pada Kaisar, dan setelah ini aku yakin mereka akan menerima amukan dari Kaisar,’ batin Xuan Hao.
“Cucuku, kamu berjasa sangat besar pada penerus Kekaisaran ini. Cepat beritahu nenekmu ini, hadiah apa yang kamu inginkan!” Ibu Suri menatap Xuan Hao, begitu juga dengan Putra Mahkota dan Putri Agung.
“Nenek, bukannya baru saja Yang Mulia Putra Mahkota ingin memiliki hubungan yang lebih dekat denganku? Jika keinginan itu benar adanya, sebagai hadiah aku ingin Yang Mulia Putra Mahkota menganggap aku seperti adiknya sendiri!” ucap Xuan Hao.
“Apa itu bisa dianggap sebuah hadiah?” tanya Ibu Suri.
“Seharusnya bisa,” jawab Xuan Hao. ‘Lebih baik begitu daripada tidak meminta apa-apa,’ lanjutnya membatin.
Ibu Suri cepat mengarahkan pandangan ke Putra Mahkota. “Bagaimana, apa kamu bersedia memperlakukan cucuku yang satu ini seperti adikmu sendiri?” tanyanya.
Putra Mahkota tersenyum lebar. “Nenek, sejak awal Adik Hao ini adalah adikku, jadi sampai kapanpun dia tetap akan menjadi adik Putra Mahkota ini!” ucapnya tegas.
Puas Ibu Suri mendengar ucapan Putra Mahkota, tapi dalam diam ia telah menyiapkan hadiah yang sebenarnya untuk Xuan Hao, begitu juga dengan Putra Mahkota, bahkan Putri Agung juga sedang menyiapkan hadiah untuk adiknya itu, tetapi itu akan menjadi hadiah pernikahan yang tak akan terlupakan.
Seketika suasana di tenda Xuan Hao dipenuhi keceriaan semua orang, tapi tak lama suasana tiba-tiba berubah menjadi tegang sekaligus mencekam saat Kasim mengumumkan kedatangan Kaisar dan Permaisuri.
Aura Ibu Suri telah berubah, dari yang sebelumnya sangat bersahabat, kini auranya menunjukkan seolah ia adalah sosok yang tak bisa disentuh oleh siapapun, dan puncaknya saat Kaisar masuk ke dalam tenda Xuan Hao, seketika itu juga Ibu Suri memeberi perintah~
“Berlutut!!”'
Bruk!!
Seketika Kaisar berlutut tanpa perlawanan, apalagi begitu ia sadar aura Ibunya itu sangat mencekam.
‘Celaka!! Siapa yang memancing amarah Ibu Suri?? Siapapun itu, setelah ini aku akan membuat hidupnya merasakan apa yang dinamakan penderitaan tujuh hari tujuh malam!’ batin Kaisar Xuan Ruihan.