Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Hukum Tanah Navasari
Cahaya biru yang berdenyut dari dasar sumur itu bukan sekadar fenomena alam; itu adalah lonceng peringatan. Arum tahu, begitu berita tentang deposit lithium ini bocor ke luar, Navasari tidak lagi hanya akan menghadapi kontraktor nakal seperti Siska, melainkan raksasa korporasi global yang memiliki kekuatan lebih besar dari hukum negara.
"Mas, tutup sumur ini sekarang. Pakai terpal, timbun dengan sisa pasir. Jangan biarkan ada warga yang memotret cahaya ini," perintah Arum, suaranya rendah namun penuh urgensi.
Baskara segera mengoordinasi Marno dan para pemuda. Dalam hitungan menit, rahasia di dasar sumur itu kembali tertutup kegelapan. Namun, Arum tahu rahasia paling berbahaya adalah yang tersimpan di dalam buku harian ibunya.
Pagi harinya, balai desa berubah menjadi markas darurat. Arum duduk di depan laptopnya, jarinya menari cepat di atas keyboard. Ia sedang menyusun draf anggaran dasar BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) yang paling rumit yang pernah dibuat di tingkat desa.
"Arum, kenapa kita tidak langsung lapor ke Kementerian Energi?" tanya Baskara sambil melihat skema yang dibuat istrinya.
Arum menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Begitu kita lapor tanpa perlindungan hukum yang kuat, tanah ini akan langsung disita negara atas nama 'kepentingan nasional'. Warga hanya akan dapat ganti rugi receh, sementara kekayaannya diambil orang lain. Kita harus mengunci kepemilikan lahan ini sebagai 'Tanah Ulayat Elektronik' sebuah konsep hukum yang aku pelajari di firma audit dulu."
"Maksudnya?"
"Kita akan memecah kepemilikan deposit itu menjadi saham-saham kecil yang melekat pada KTP warga asli Navasari. Jika perusahaan ingin menambang, mereka tidak bisa membeli tanahnya, mereka harus menyewa dan memberikan bagi hasil permanen kepada pemegang saham yaitu warga kita sendiri," jelas Arum. "Ibaratnya, kita tidak menjual ayamnya, kita hanya menjual telurnya, dan warga yang punya kandangnya."
Tiba-tiba, suara deru helikopter terdengar di atas balai desa. Angin kencang menerbangkan dokumen-dokumen di atas meja. Arum dan Baskara keluar, mendapati sebuah helikopter mewah berwarna hitam mendarat di lapangan desa yang becek.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas seharga ratusan juta rupiah turun. Di belakangnya, berdiri Kolonel Baskoro yang kini tampak lebih seperti pengawal daripada komandan.
"Nyonya Arum," pria itu tersenyum, namun matanya sedingin es. "Nama saya Adiguna. Pemilik Arka Energy. Saya dengar Anda baru saja menemukan sesuatu yang menarik di dasar sumur tua."
Arum berdiri tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena angin helikopter. "Kabar burung cepat sekali sampai ke Jakarta, ya, Tuan Adiguna?"
"Saya tidak suka membuang waktu. Saya punya kontrak ganti rugi senilai lima triliun rupiah untuk seluruh desa ini. Kalian semua bisa pindah ke kota, beli rumah mewah, dan tidak perlu lagi mencangkul di tanah berlumpur ini," ujar Adiguna sambil menyodorkan sebuah dokumen tebal.
Baskara hendak bicara, tapi Arum mendahuluinya. "Lima triliun? Tuan Adiguna, berdasarkan audit valuasi cadangan lithium grade tinggi yang ada di bawah kaki kita, angka itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya sewa permukaan tanah kami selama satu tahun."
Adiguna tertawa kecil, namun tatapannya berubah mengancam. "Jangan terlalu serakah, Arum. Ibumu dulu juga mencoba melakukan hal yang sama, dan kau tahu bagaimana akhirnya dia menghilang."
Darah Arum mendidih. "Ibuku tidak menghilang. Dia dibungkam. Dan saya di sini untuk memastikan bahwa suaranya terdengar melalui hukum yang saya susun. Kontrak Anda ini... batal demi hukum."
Arum mengangkat sebuah dokumen yang baru saja ia cetak. "Per pagi ini, seluruh lahan Navasari telah didaftarkan sebagai Kawasan Konservasi Geopark Berbasis Komunitas di bawah perlindungan organisasi lingkungan internasional. Anda tidak bisa menambang di sini tanpa izin dari 800 kepala keluarga yang masing-masing memiliki hak veto."
Wajah Adiguna memerah. "Kau pikir kau siapa? Hanya istri seorang kades kecil!"
"Saya adalah auditor yang baru saja menemukan celah dalam struktur pajak perusahaan Anda, Tuan Adiguna," balas Arum sambil menyodorkan ponselnya yang menampilkan data transaksi gelap Arka Energy yang ia temukan di map merah semalam. "Jika helikopter ini tidak segera lepas landas dalam lima menit, data ini akan sampai ke meja otoritas pajak di tiga negara berbeda."
Kolonel Baskoro mendekati Adiguna, membisikkan sesuatu. Adiguna menatap Arum dengan kebencian murni, namun ia menyadari bahwa wanita di depannya bukan sekadar "istri kades", melainkan predator intelektual yang bisa menghancurkan kerajaan bisnisnya.
"Kita belum selesai, Arum," ancam Adiguna sebelum kembali masuk ke helikopter.
Saat helikopter itu menjauh, warga desa bersorak sorai. Baskara memeluk Arum erat. "Kamu benar-benar luar biasa, Rum. Tapi mereka pasti akan kembali dengan cara yang lebih licik."
"Biarkan saja, Mas," jawab Arum sambil menatap matahari yang mulai tinggi. "Karena mulai hari ini, Navasari tidak lagi dipimpin oleh rasa takut, tapi oleh kecerdasan."
Namun, di sela sorak sorai warga, Marno mendekati Arum dengan wajah pucat. Ia membisikkan sesuatu yang membuat senyum Arum hilang seketika.
"Bu Kades... botol cairan kimia yang Ibu pakai semalam... saya baru sadar. Itu bukan milik Ibu Ratna. Di bawah botol itu ada label tanggal kedaluwarsa tahun 2025. Seseorang sengaja meletakkan botol itu di sana agar Ibu bisa memadamkan api... seseorang yang ingin kita tetap menemukan rahasia sumur itu."
Arum membeku. Jika bukan ibunya yang menyiapkan, lalu siapa "penolong misterius" yang menginginkan perang ini pecah?
Arum merasakan sensasi dingin menjalar di tulang punggungnya. Matahari Navasari yang terik seolah tak mampu menghangatkan tubuhnya saat mendengar bisikan Marno. Botol Potassium Bicarbonate itu alat pemadam yang menyelamatkan nyawanya dan rahasia sumur itu berasal dari masa depan, atau setidaknya, baru diproduksi tahun lalu.
"Mas..." Arum menarik lengan Baskara, menjauh dari kerumunan warga yang masih merayakan kepergian helikopter Adiguna.
"Ada apa, Rum? Wajahmu pucat sekali," Baskara nampak khawatir.
Arum menunjukkan label di dasar botol yang sudah kosong itu kepada Baskara. "Botol ini. Ini bukan milik Ibuku. Ibu meninggal bertahun-tahun lalu, tapi botol ini diproduksi tahun 2025. Seseorang menaruhnya di dalam peti besi itu setelah aku tiba di sini."
Baskara tertegun, menatap angka kecil yang tertera di sana. "Maksudmu... ada orang lain yang bisa membuka sumur beton itu tanpa kita tahu? Dan dia sengaja membantumu memadamkan api Siska?"
"Bukan sekadar membantu, Mas," Arum menyipitkan mata, otaknya kembali melakukan audit terhadap seluruh kejadian sejak mereka pindah ke rumah dinas. "Orang ini ingin aku menemukan peta lithium itu. Dia ingin aku melawan Adiguna. Dia ingin perang ini meledak."
Arum segera kembali ke meja kerjanya. Ia membuka draf BUMDes yang tadi ia susun. Tiba-tiba, ia menyadari sesuatu pada sistem keamanan server cloud yang ia gunakan. Ada satu alamat IP yang terus memantau aktivitasnya secara real-time. Bukan alamat IP dari Jakarta, melainkan dari sebuah titik koordinat yang sangat dekat.
"Marno, ikut aku!" Arum menyambar tasnya.
"Ke mana lagi, Rum?" Baskara mencoba mengejar.
"Ke menara telekomunikasi di bukit sebelah barat. Itu satu-satunya tempat yang bisa mengirim sinyal sekuat ini ke balai desa tanpa terdeteksi provider umum."
Mereka memacu motor melewati jalan setapak yang licin. Sesampainya di bawah menara baja yang menjulang itu, Arum menemukan sebuah gubuk kecil yang biasanya digunakan oleh petugas teknis. Pintunya tidak terkunci. Di dalamnya, Arum menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada deposit lithium.
Ada sebuah ruangan yang dipenuhi layar monitor. Di salah satu layar, terlihat rekaman CCTV balai desa, rumah dinas, bahkan kamar tidur mereka. Dan di atas meja kerja yang rapi, terdapat sebuah foto lama yang sudah memudar.
Foto itu menunjukkan dua orang wanita muda yang sedang tertawa di depan fakultas ekonomi. Salah satunya adalah ibunya, Ratna Ayundari. Dan wanita di sebelahnya adalah... Siska.
"Mereka berteman?" Baskara bergumam tak percaya.
"Bukan hanya berteman, Mas. Lihat catatan ini," Arum mengambil sebuah buku agenda yang terbuka. Di sana tertulis: Proyek Navasari bukan tentang kekayaan, tapi tentang penebusan dosa. Jika Arum berhasil melewati ujian Siska, maka dia layak memegang kunci terakhir.
Arum menyadari satu hal yang menyakitkan: Seluruh teror yang dilakukan Siska, mulai dari fitnah di jembatan, percobaan pembakaran, hingga ancaman penjara, adalah sebuah audit karakter. Siska tidak benar-benar ingin membunuhnya; dia sedang "menguji" apakah Arum memiliki ketangguhan yang sama dengan ibunya untuk menjaga Navasari dari predator yang lebih besar seperti Adiguna.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di ambang pintu gubuk.
"Nilai auditmu A-plus, Arum," suara itu bukan suara Siska yang kasar, melainkan suara wanita yang lebih tenang, lebih dewasa.
Siska muncul dari balik bayangan, namun kali ini tanpa jas lapangan atau wajah penuh amarah. Ia mengenakan blus sederhana, matanya sembap. Di tangannya, ia memegang sebuah kunci kuno berwarna emas.
"Ibumu menitipkan ini padaku tiga puluh tahun lalu," Siska mengulurkan kunci itu. "Dia tahu Adiguna akan datang suatu hari nanti. Dia memintaku untuk menjadi 'setan' dalam hidupmu, agar kau belajar bagaimana cara mengalahkan iblis yang sebenarnya."
Arum menatap kunci itu dengan kemarahan dan kebingungan yang bercampur aduk. "Jadi kau membakar menara desa, membahayakan nyawaku, hanya untuk sebuah ujian?"
"Menara itu sudah kosong, Arum. Dokumen aslinya sudah kupindahkan ke sini sejak minggu lalu," Siska menunjuk ke arah deretan lemari arsip di pojok ruangan. "Aku harus memastikan kau tidak hanya cerdik, tapi juga punya nyali untuk berdiri di depan moncong senjata. Karena mulai besok, Adiguna tidak akan datang dengan helikopter lagi. Dia akan datang dengan tentara."
Arum mengambil kunci emas itu. Tangannya gemetar. Ia baru saja menyadari bahwa di Navasari, tidak ada musuh atau kawan yang permanen. Yang ada hanyalah kepentingan untuk menjaga tanah yang menyimpan masa depan energi dunia.
"Mas," Arum menoleh ke arah Baskara. "Siapkan seluruh warga. Kita tidak akan menambang lithium ini sekarang. Kita akan menggunakannya sebagai daya tawar untuk membuat Navasari menjadi desa paling mandiri di negeri ini. Tapi sebelum itu..."
Arum menatap Siska dengan tajam. "Aku tetap akan melaporkanmu atas pemalsuan dokumen perbankan. Auditor tidak pernah menghapus catatan kesalahan, Mbak Siska. Meskipun tujuannya mulia."
Siska tersenyum tipis, hampir terlihat bangga. "Aku tidak mengharapkan yang kurang dari itu, Arum."
menegangkan ..
lanjut thor..