Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Lima
Mama Ratna kembali menatap Alana dengan sorot mata yang menusuk, seolah ingin membedah gadis itu hidup-hidup di tempat.
“Apa yang kamu lakukan di kamar putraku?” Mama Ratna mengulang pertanyaannya, kali ini lebih pelan, tapi justru terdengar jauh lebih mengancam.
Alana masih berdiri di tempatnya. Selimut itu tetap melilit tubuhnya erat, bukan untuk melindungi diri dari dingin, melainkan dari rasa malu yang menggerogoti perlahan. Dadanya naik turun. Napasnya belum sepenuhnya stabil, tapi ia memaksa dirinya untuk tidak runtuh.
Mama Ratna melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Aroma parfum lembut Mama Ratna bercampur dengan udara malam yang dingin, menciptakan sensasi sesak di dada Alana.
Belum sempat Alana membuka mulut. Sebuah tamparan itu mendarat keras di pipi kiri Alana.
Kepalanya terhempas ke samping. Dunia seperti berputar sesaat. Bunyi benturan itu menggema di lorong sunyi, memantul ke dinding marmer dan kembali lagi ke telinga Alana sebagai dengung panjang.
Pipinya terasa panas, perih, dan berdenyut. Namun, Alana tidak jatuh. Ia hanya terhuyung sedikit, lalu kembali berdiri tegak.
Mata Mama Ratna menyala. Wajahnya memerah, bukan karena terkejut, melainkan karena amarah yang akhirnya menemukan sasaran.
“Dari awal melihatmu, aku sudah tahu,” ucap Mama Ratna tajam, nyaris mendesis. “Kau bukan wanita baik-baik. Dasar murahan!”
Alana mengepalkan jari di balik selimut. Dia mau melawan ucapan wanita paruh baya itu, tapi masih berusaha menahan dirinya.
“Aku tahu kau punya niat,” lanjut Mama Ratna tanpa memberi jeda. “Ingin mendekati putraku. Jangan kau pikir akan semudah itu kau masuk ke dalam keluarga kami!”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada tamparan tadi. Alana tidak menjawab. Tapi dia tidak menunduk ketakutan. Justru perlahan, Alana mengangkat wajahnya dan menatap Mama Ratna lurus-lurus.
Tatapan itu tenang. Bukan tatapan memohon, bukan pula tatapan bersalah. Tapi, tatapan orang yang sudah kehabisan sesuatu untuk dipertahankan.
Melihat itu, Mama Ratna mengernyit. Ada rasa tersinggung yang tiba-tiba menyusup.
“Kenapa?” hardik Mama Ratna. “Kau tidak terima disebut wanita murahan?”
Mama Ratna mendengus pendek. “Apa namanya seorang wanita masuk ke kamar majikannya dengan bertelanjang seperti ini?” lanjutnya kejam. “Apa kau pikir bisa merayu Arka?”
Mama Ratna menatap Alana dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. “Seleranya bukan kamu.”
Kalimat itu diucapkan dengan penuh keyakinan, seolah menjadi vonis. “Wanita seleranya Arka itu berpendidikan,” sambung Mama Ratna. “Sekarang kekasihnya saja sedang sekolah ke luar negeri.”
Nada suaranya semakin dingin. “Kau itu hanya … sampah.”
Ada sesuatu yang retak di dalam diri Alana saat kata itu terucap. Bukan hancur. Bukan juga patah. Retakan itu justru membuatnya berhenti merasa takut.
Sudut bibir Alana terangkat sedikit. Sebuah senyum miring, pahit, dan nyaris menantang.
“Bagaimana jika ternyata Arka yang tertarik denganku hingga melecehkan aku?” tanya Alana akhirnya, suaranya pelan tapi jelas,
Lorong itu seolah kehilangan udara. Mama Ratna membeku sesaat. Mata wanita itu membelalak, lalu menyempit tajam.
“Apa?” suaranya Mama Ratna meninggi. “Jangan mimpi!” Dia tertawa sinis, tanpa sedikit pun rasa ragu.
“Selera Arka jelas,” ucapnya lagi. “Bukan kamu. Tidak akan pernah.”
Alana tidak mengalihkan pandangan. “Bu jangan terlalu percaya diri,” balasnya datar. “Kalau dia tidak tertarik padaku, dia tidak akan melecehkanku.”
Wajah Mama Ratna berubah drastis. Amarahnya meluap, tak lagi tersaring oleh sopan santun atau citra bangsawan.
“Kau yang menyerahkan tubuhmu!” bentaknya. “Mana ada anjing yang menolak daging!”
Kata itu, 'anjing', menggema keras di kepala Alana. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada api kecil yang menyala di balik matanya.
“Apakah Arka sama dengan anjing?” tanya Alana tenang.
Plak! Tamparan kedua mendarat. Kali ini lebih keras.
Bibir Alana terasa perih. Ada rasa asin di ujung lidahnya. Tapi ia tetap berdiri. Tetap menatap.
Mama Ratna terengah, dadanya naik turun cepat. “Lancang sekali kau!” teriaknya. “Pergi kau dari rumah ini! Sebelum aku berbuat yang lebih parah lagi!”
Alana menghela napas panjang. Anehnya, ia merasa lega. “Aku juga sudah tidak sudi tinggal di sini,” jawabnya pelan.
Tanpa menunggu reaksi, Alana berbalik. Langkahnya pelan, tapi pasti.
Alana kembali menuju kamarnya sendiri. Kamar kecil yang selama ini dia anggap tempat paling aman di rumah besar itu.
Setiap langkah terasa berat, tapi dia memaksa diri untuk terus berjalan. Di dalam kamar, Alana menutup pintu pelan.
Tangannya gemetar saat ia melepaskan selimut, menggantinya dengan pakaian seadanya yang masih tersisa. Baju-baju yang dibelikan Arka tersusun rapi di lemari.
Alana menatapnya lama. Lalu menutup lemari itu tanpa mengambil apa pun. Dia hanya mengenakan pakaian yang menempel di tubuhnya.
Ketika Alana kembali keluar dengan tas kosong, bahkan tanpa tas sebenarnya, Mama Ratna sudah berdiri di dekat pintu depan. Wanita itu menghadang.
“Tunggu,” ucap Mama Ratna dengan dingin. “Aku mau periksa.”
Alana berhenti. Dia tak ada rasa takut sedikitpun lagi.
“Apakah kamu membawa barang berharga dari rumah ini?”
Alana menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “Periksa saja, Bu.”
Mama Ratna mendekat tanpa ragu. Tangannya merogoh saku rok Alana. Memeriksa lipatan baju. Bahkan sempat menarik sedikit kainnya dengan kasar.
Tidak ada apa-apa. Tidak perhiasan. Tidak uang. Tidak satu pun benda milik rumah itu.
Mama Ratna mendengus kesal. “Cepatlah kau pergi!” katanya. “Dan jangan pernah kembali!”
Alana tidak menjawab. Dia hanya melangkah melewati Mama Ratna. Pintu rumah terbuka.
Udara malam menyambutnya lagi, kali ini tanpa rumah untuk kembali. Alana melangkah keluar. Rasa sakit di tubuhnya terutama bagian inti, tak ia pedulikan.
Tanpa menoleh. Tanpa membawa apa pun. Langkahnya menjauh dari rumah itu, dari luka yang tertinggal di balik dinding megahnya.
Dan malam itu, Alana pergi dengan tubuh lelah, hati remuk, dan masa depan yang sepenuhnya tak pasti.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭