Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang pantas dimeja ini?
"Aman?" bisik Arman pelan.
Ares mengangguk ke arah kedua orang tuanya yang menunggu balik pintu. Amelia dan Arman pun masuk dengan langkah hati-hati, memastikan Elina yang tertidur di meja kerja tidak bergerak sedikit pun.
"Sekarang kita cari berlian dan perhiasannya," ucap Amelia semangat, suaranya ditekan serendah mungkin.
"Tenang, Mah. Aku tahu persis tempat Elina menyimpannya," jawab Ares sambil melangkah ke lemari, senyum tipis terukir di wajahnya.
Dengan gerakan yakin, Ares membuka panel rahasia di dalam lemari—ruang kecil yang selama ini hanya ia dan Elina yang tahu.
Tangannya masuk ke dalam, meraba-raba... lalu berhenti.
Kosong.
Ares menegang.
"Res?" Amelia mendekat. "Mana?"
Ares menatap ruang rahasia itu lagi, kali ini lebih lama, seolah berharap matanya salah melihat.
"Nggak ada, Mah..." ucapnya lirih.
"Apa maksudmu nggak ada?" bisik Amelia panik. "Nggak mungkin!"
Arman ikut melihat, wajahnya berubah tegang. "Benar-benar kosong."
Amelia menarik napas tajam, dadanya naik turun. "Dia pasti memindahkannya."
Ares menggeleng kecil, matanya tak lepas dari lemari. "Seharusnya masih di sini..."
"Kita cari seluruh kamar," ucap Arman cepat. "Pelan-pelan, jangan sampai dia terbangun."
Mereka langsung berpencar. Ares membuka semua laci meja kerja Elina, menggeser map-map dan buku catatan. "Nggak ada," gumamnya frustrasi.
Arman berjongkok, memeriksa bawah ranjang dan koper kecil di sudut kamar. "Kosong, Res."
Amelia membuka tas-tas tangan Elina yang tergantung di lemari. "Semua juga kosong."
Mereka saling pandang, panik semakin kentara di wajah masing-masing.
Ares melirik Elina yang tertelungkup di meja, wajahnya pucat, napasnya teratur seolah benar-benar pingsan karena kelelahan.
"Dia nggak mungkin tahu rencana kita," ucap Ares setengah berbisik, seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Tapi kenyataannya semua itu hilang," sahut Amelia dingin.
Ruangan itu kembali sunyi, hanya suara napas mereka yang memburu—sementara Elina tetap terlelap, menyimpan rapat kemenangan kecil yang tak mereka sadari.
Tanpa mereka sadari, Elina hanya berpura-pura pingsan. Teh yang berisi obat tidur itu ia buang diam-diam saat Ares lengah.
Elina pun tersenyum miring, membiarkan mereka bertiga pergi dengan tangan hampa, tak menyadari bahwa rencana mereka telah sepenuhnya gagal.
♡♡
Suara ketukan sepatu heels terdengar dari arah tangga. Ares yang sedang duduk di meja makan langsung menoleh. Pandangannya membeku saat melihat Elina turun dengan penampilan yang sangat berbeda. Biasanya ia tampil sederhana dan cuek setiap kali pergi ke kantor, namun pagi ini gaunnya jatuh anggun di tubuh rampingnya, riasan wajahnya lembut namun tegas, membuat auranya tampak jauh lebih berkelas.
Ares menatap Elina dalam-dalam, kagum tanpa sadar. Istrinya hari ini terlihat cantik—walaupun sebenarnya, Elina memang selalu cantik.
"Ada apa denganmu, Mas?" ucap Elina, membuyarkan lamunan Ares.
Ares tersentak lalu buru-buru mengalihkan pandangan, seolah tak ingin ketahuan sedang memperhatikannya terlalu lama.
Elina hanya menatapnya malas, lalu duduk di meja makan dengan tenang.
"Wah, ini beneran Non Elina," ucap Bi Wati sambil membawa sepiring nasi goreng dari arah dapur.
Elina tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Nona Elina cantik sekali, tapi emang dari dulu sih Nona memang cantik," ucap Bi Wati sambil meletakkan piring di meja.
"Makasih, Bi, pujiannya," balas Elina.
Saat Bi Wati hendak kembali ke dapur, Elina mencegat langkahnya.
"Bibi sarapan sama Elina, sudah lama kita gak sarapan bareng."
"Tapi Non..." Bi Wati ragu.
"Gak ada tapi-tapian, Bibi di sini saja," ucap Elina lembut, namun nadanya tak memberi ruang untuk dibantah.
"Sayang, kenapa Bibi di sini, dia kan—"
"Pembantu? Gitu maksud kamu?" potong Elina sambil menatap tajam Ares.
Belum sempat suasana mencair, langkah Amelia dan Arman terdengar dari arah ruang keluarga.
“Ada apa ini?” ucap Amelia sambil melirik Bi Wati yang duduk di meja makan. “Siapa yang nyuruh kamu duduk di sini, Wati?” katanya sinis.
Saat Bi Wati hendak menjawab dan bangkit, Elina lebih dulu bersuara.
“Aku yang nyuruh Bi Wati di sini sarapan. Ada yang salah?”
“Jelas saja salah, Elina. Dia itu pembantu di rumah ini, gak pantas dia makan bareng dengan kita yang majikannya ini,” jawab Amelia. “Kamu juga ngapain ngajak dia di sini makan.”
“Kamu jangan jadi terlalu baik pada pembantu, Elina. Dia nanti akan memanfaatkan kebaikan kamu,” sambung Arman.
“Siapa yang bilang Bi Wati pembantu?” ucap Elina tenang namun menusuk. “Dia sudah kuanggap keluarga aku sendiri. Jadi gak ada masalahnya aku mengajak Bi Wati sarapan.”
“Harus Mama sadar diri? Ibu juga pernah jadi pembantu, jadi gak usah ngeremehin orang,” lanjut Elina. “Iya, aku memang baik, sampai kebaikan aku dimanfaatkan, dan dikhianati.”
Arman dan Amelia saling berpandangan, tercengang mendengar ucapan Elina.
“Elina, maksud kamu apa, hah?” ucap Ares.
“Gak ada maksud apa-apa,” balas Elina datar. “Bi, lanjut aja sarapannya.”
“Keterlaluan kamu, Elina! Kamu lebih mengajak pembantu itu daripada mertua dan suamimu!” bentak Amelia.
“Elina, kamu keterlaluan,” desis Ares.
Elina menatap mereka malas. “Apa sih, drama banget. Kalau kalian mau makan, makan saja.”
“Elina, kamu jahat banget sama Mama. Kamu lebih memilih pembantu dibanding mertua kamu sendiri,” ucap Amelia.
Elina menatap Amelia tajam sampai wanita itu refleks menelan ludah.
“Aku sudah katakan, Bi Wati sudah kuanggap keluarga.”
“Tapi apa yang Mama katakan benar, Elina. Bi Wati gak pantas duduk dengan kita,” sambung Ares.
Sedangkan Bi Wati hanya terdiam, menunduk, tak berani ikut campur meski hatinya bergetar.
“Gak pantas kamu bilang, Mas? Tandanya kamu dan keluargamu gak pantas juga duduk di meja makan ini,” ucap Elina dingin.
"Maksud kamu apa, Elina?" sahut Ares.
Elina berdecak pelan, lalu menatap mereka dengan senyum sinis. "Apa kalian lupa? Kalian semua ini berasal dari kampung. Mama hanya pembantu di rumah tetangga, Papa tukang ojek, dan kamu dulu hanya sopir aku. Karena aku baik hati dan jatuh cinta sama kamu, aku menentang kedua orang tuaku demi menikah dan mengangkat derajat keluargamu."
"Apa-apaan kamu, Elina! Kamu sudah menginjak aku sebagai suami hanya karena membela pembantu sialan ini!" teriak Ares.
"Turunkan nada suara kamu, Mas. Ingat kamu berasal dari mana," ucap Elina dingin.
"Jangan jadi istri durhaka, kamu Elina! Jangan pernah kamu samakan Mama dan Wati!" teriak Amelia murka.
"Kenapa Mama marah? Ini kenyataan sebenarnya. Jadi siapa yang tidak pantas makan di meja ini?" ucap Elina.
"Jadi kamu gak pantas, Elina?" desis Arman menahan emosi.
"Aku gak bilang begitu, tapi minimal sadar diri," balas Elina santai, lalu bangkit. "Selera aku sudah hilang. Bi, sekarang siap-siap, kita sarapan di luar."
Bi Wati mengangguk cepat. "Iya, Non."
Tanpa menoleh lagi, Elina meninggalkan mereka bertiga yang masih diliputi emosi.
"Kurang ajar kamu, Elina," geram Amelia. "Dia sudah menginjak harga diri Mama di depan pembantu sialan itu."
"Ares pokoknya kamu harus cepat-cepat mengalihkan aset Elina. Papa sudah muak," ucap Arman.
"Iya, Pah. Ares akan menyuruh orang-orang Ares mempercepat semuanya," jawab Ares sambil mengepalkan tangan. "Aku ingin segera menceraikan Elina."
"Res, masalah berlian Elina bagaimana?" tanya Amelia.
Ares hanya menggeleng. Amelia menghela napas kasar, menyadari rencana mereka untuk memamerkan berlian Elina telah gagal total.
Diam-diam Maya mendengar perdebatan mereka di balik dinding. Awalnya ia berniat masuk dan menghampiri Ares, namun suara pertengkaran yang meninggi membuat langkahnya terhenti. Ia mengurungkan niat dan memilih menyimak saja, berdiri kaku di lorong.
“Jadi Mas Ares orang kampung, dan kedua orang tuanya hanya pembantu dan tukang ojek,” gumam Maya lirih dengan wajah tercengang setelah mendengar potongan percakapan mereka. Dadanya terasa mengganjal, antara terkejut dan tak percaya.
Ia menarik napas dalam, lalu menyeringai tipis.
“Ah, sudahlah. Sebentar lagi Mas Ares akan merebut aset Elina dan perusahaannya.”
Maya menepis semua keraguan di kepalanya. Masa lalu Ares tak lagi penting baginya. Yang ia lihat hanyalah masa depan penuh kemewahan yang menunggunya.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah ruang makan. Maya refleks menoleh dan langsung panik. Ia cepat-cepat bersembunyi di balik sebuah pot bunga besar di sudut lorong, mengintip lewat sela dedaunan.
Dari sana ia melihat Elina keluar dengan penampilan yang benar-benar berbeda dari biasanya. Elina melangkah anggun, gaunnya menjuntai rapi, riasan wajahnya tampak segar, dan perhiasan berkilau menghiasi tubuhnya. Aura elegan terpancar jelas dari setiap gerakannya.
Pemandangan itu membuat Maya mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan rasa iri yang tiba-tiba menggelegak di dadanya.
“Aku harus merebut perhiasan itu.”