Follow;
FB~Lina Zascia Amandia
IG~Deyulia2022
WA~ 089520229628
Seharusnya Syapala sangat bahagia di hari kelulusan Sarjananya hari itu. Namun, ia justru dikejutkan dengan kabar pertunangan sang kekasih dengan perempuan lain.
Hancur luluh hati Syapala. Disaat hatinya sedang hancur, seorang pria dewasa menawarkan cinta tanpa syarat. Apakah Syapala justru menerima cinta itu dengan alasan, ingin membalaskan dendam terhadap mantan kekasih?
Ikuti terus kisahnya dan mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Tamparan Keras di Malam Itu
Malam telah larut, jam di tangan sudah menuju ke angka sepuluh malam. Syapala tidak bisa memejamkan mata, ia bangkit dari ranjang.
"Ke mana?"
Arkala yang sudah terbaring di sofa dan ternyata masih terjaga, bangkit menduduki sofa.
Syapala menoleh, di balik cahaya remang-remang lampu sudut ruangan lima watt, ia menatap Arkala beberapa saat.
"Saya belum bisa tidur," jawabnya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.
"Ada yang perlu abang bantu untuk kamu, Dik? Biar abang ambilkan," ujar Kala menawarkan bantuan seraya menyalakan lampu utama kamar.
"Tidak perlu. Saya mau ke dapur, mau ambil air bening ke dalam poci ini," jawabnya sembari meraih poci beling transparan yang biasanya memang berada di atas meja di sudut kamar itu. Kebetulan saat ini sudah kosong, dan Pala merasa kehausan.
"Baiklah."
Arkala membiarkan Syapala keluar untuk mengambil air bening ke dalam teko itu. Ia kembali menuju sofa dan mendudukinya.
Syapala sudah berada di dapur. Keadaan dapur sepi, Bi Rinti telah masuk kamar setengah jam lalu. Tanpa harus membangunkan Bi Rinti, Pala menuangkan air bening dari dispenser ke dalam poci beling yang dia bawa dari kamar.
Meskipun udara malam ini terasa panas, tapi Pala tidak ambil air bening yang didinginkan di dalam kulkas. Pala tidak kuat kalau minum air yang sudah didinginkan di dalam kulkas. Dia lebih memilih air dingin suhu ruangan.
Sejenak ia menikmati air bening di meja makan, dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin membangunkan Bi Rinti ataupun kedua mertuanya.
Lima belas menit sudah, Syapala menikmati damainya ruang dapur. Sebenarnya ia merasa berat untuk kembali ke dalam kamar, terlebih di dalam kamar itu ada Arkala.
Meskipun sudah beberapa hari mereka dalam satu kamar, akan tetapi perasaannya terhadap Arkala masih sama, tidak ada perasaan cinta. Bahkan kadang ia menyesali kenapa waktu itu harus menerima tawarannya. Menikah untuk membalaskan sakit hati.
"Yang ada, aku justru semakin sedih dan tidak nyaman berada di sini," gumamnya penuh sesal.
Syapala bangkit, dia memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia berjalan menuju saklar lampu. Lampu itu kembali ia matikan sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Haus di tenggorokannya, kini hilang sudah.
Syapala mulai berjalan meninggalkan dapur dengan kedua tangan memegang erat poci beling yang telah ia isi air bening tadi.
Langkahnya sangat pelan dan hati-hati.
"Akhhhhh."
Teriakan itu tertahan oleh bekapan tangan seseorang. Syapala terkejut bukan main, dia tidak menduga akan ada seseorang yang masuk ke dalam rumah selarut malam ini.
Syapala berusaha melepaskan tangan orang itu, dan ingin berteriak maling sekuat-kuatnya. Namun, wangi parfum bercampur keringat yang khas di tubuh orang itu mengingatkan dia pada seseorang. Ya, seseorang yang kini dibencinya. Erlaga.
Orang itu yang ternyata Erlaga, perlahan meraih poci beling yang berada dalam pegangan tangan Syapala, yang tadi airnya sempat tumpah sedikit, lalu ia letakkan di atas meja di ruang tengah itu.
"Ini aku. Tenanglah," ujarnya seraya perlahan melepaskan bekapan tangannya di mulut Syapala.
Orang itu berusaha menenangkan Syapala dengan lembut. Wangi napasnya masih sama. Mengingatkan kebersamaan yang pernah dirajutnya dulu. Syapala akhirnya tenang, bahkan dia seperti terbuai dengan kenangan indah bersama pria yang dulu amat dicintainya.
Namun, kesadarannya kembali dengan cepat. Syapala segera menjauh dari Laga. Akan tetapi, tangannya justru dicengkram Erlaga sehingga Syapala tidak benar-benar bisa menjauh dari pria itu.
"Lepaskan tanganku. Aku harus kembali ke kamar. Suamiku menunggu," ketusnya seraya berontak. Tapi, semakin Syapala berontak, semakin Erlaga menarik tubuh gadis itu mendekat.
"Suamimu? Hehehe." Laga tawa mengejek.
"Diamlah, jangan sampai berisik. Nanti Mama dan Papa suamimu mengetahui keberadaan kita. Mereka bisa tahu dan curiga," bisik Laga lagi.
"Lepas, jangan tahan lengan aku. Biarkan aku pergi." Syapala berusaha menepis tangan Erlaga yang semakin kuat menahannya.
"Jangan bohong dengan hatimu Sya, aku tahu kamu masih mencintai aku. Apalagi pernikahan kamu dan abangku hanya didasari oleh kesepakatan. Kalian ingin membuat aku sakit hati, kan? Jangan berusaha membohongi hatimu dan bersandiwara di depanku. Aku tahu hatimu masih untukku."
"Jangan ngaco, aku sudah muak denganmu, Kak. Tolong lepaskan. Aku sudah menjadi kakak iparmu, tolong hargai posisiku di rumah ini," tepisnya menyingkirkan tangan Laga sekuatnya.
"Aku masih mencintaimu, Sya. Semua yang terjadi adalah rekayasa Prita. Tolong maafkan aku dan kembalilah padaku."
"Jangan gila. Aku tidak peduli dengan ocehanmu. Lepas...."
Syapala sekuat tenaga berontak, tapi Erlaga lebih kuat lagi menahan tubuh Syapala dan berhasil memeluknya.
"Trekkkk."
Tepat saat Laga berhasil memeluk Syapala, lampu ruang tengah itu tiba-tiba menyala.
Arkala berdiri dengan wajah dibalut emosi melihat keberadaan Erlaga dan Syapala. Mereka begitu dekat, tangan Laga dalam posisi berada tepat di pinggang Syapala. Mereka seperti sedang berpelukan menumpahkan rasa rindu.
"Kalian. Sedang melepas rindu," sapanya datar, namun tersirat amarah yang ditahan.
Syapala berontak, melepaskan pelukan tangan Laga. Wajahnya terkejut campur pias. Dia tidak menduga bahwa kejadian barusan akan diketahui Arkala.
Laga sama terkejutnya, tapi dia segera menguasai keadaan. Bahkan dia akhirnya tersenyum. Merasa puas adegan barusan dapat dilihat sang abang. Padahal sebelumnya perjumpaan yang tidak sengaja ini, tidak ingin diketahui oleh siapapun, termasuk Arkala.
"Maaf, aku tidak sengaja berjumpa Pala. Abang belum tidur?" balas Laga santai. Kini dia punya alasan kenapa dia bisa berani memeluk Syapala. Karena, pernikahan keduanya hanya didasari kesepakatan, yang tentu saja tidak ada cinta di dalamnya.
"Beraninya kalian melakukan hal memalukan seperti tadi, sedangkan dia adalah istriku," desisnya pelan berbisik tapi masih terdengar oleh keduanya.
Syapala segera menjauh dan mendekati Arkala.
"Abang, itu semua tidak seperti yang Abang lihat. Dia tiba-tiba membekap mulut saya dan berusaha memeluk," terang Syapala, wajahnya meminta Arkala percaya padanya.
"Buat apa Sya, kamu meminta abangku percaya? Toh kita masih sama-sama saling cinta. Kamu juga tidak mencintai Bang Kala, kan?" ujar Erlaga.
"Diam, kamu, Kak. Jangan pernah lagi katakan kalau kita masih saling cinta. Aku sudah tidak mencintaimu lagi," sentak Syapala tidak suka.
"Adik, masuklah ke kamar dan tidak perlu jelaskan apa-apa lagi," titah Arkala mengusir Syapala untuk kembali ke kamar.
Syapala masih diam di sana, namun tangan Arkala yang terangkat dan mengusirnya, membuat dia terpaksa bergegas pergi dari ruang tengah rumah. Padahal ia ingin mengatakan kalau adegan tadi bukanlah kemauannya.
"Rasakan ini, plakkkkk...."
Tiba-tiba Arkala mendekat, dengan cepat tangannya sudah menampar pipi kanan Laga. Laga kesakitan, wajahnya sampai terhempas ke samping kiri.
"Itu untuk balasan karena kamu berani memeluk istri orang. Kalau saja ini terjadi di luaran, aku tidak segan berduel denganmu," tandasnya seraya berlalu meninggalkan Erlaga yang menahan sakit di pipi kanannya akibat tamparan keras sang abang.
.
ud bng cari yg lain yg GK kyk pala yg keras kepala itu😓😓😓
ini yg bikin sakit thor
dan suatu saat pala mau memaafkan laga thooor