Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Sang Arsitek Maut Kembali
Sepuluh tahun telah berlalu sejak anak petani yang hancur itu merangkak masuk ke dalam kegelapan Lembah Kabut Beracun.
Kini, dari balik kabut tebal yang biasanya membunuh siapapun yang berani mendekat, seorang pria keluar dengan langkah yang tenang namun berwibawa.
Xiao Chen kini berusia dua puluh lima tahun. Tubuhnya yang dulu kurus dan rapuh telah berubah; tinggi, tegap, namun memiliki aura yang dingin dan pucat seperti mayat.
Rambut hitamnya dibiarkan terurai, kontras dengan kulitnya yang putih karena jarang terkena sinar matahari.
Di pinggangnya, tersampir sebuah buku tua dengan sampul kulit berwarna gelap yang penuh dengan noda darah kering—kitab yang kini tidak lagi kosong.
Setiap langkah yang ia ambil tampaknya membuat rumput di sekitarnya layu seketika.
"Sepuluh tahun," gumam Xiao Chen. Suaranya rendah, memiliki getaran yang membuat burung-burung di sekitarnya terbang menjauh dalam ketakutan. "Cukup lama untuk membiarkan mereka merasa aman di atas takhta mereka."
Selama satu dekade, Xiao Chen telah mengubah dirinya menjadi wadah racun berjalan.
Melalui ribuan eksperimen yang menyiksa diri sendiri, ia tidak hanya membersihkan tubuhnya dari kotoran fana, tetapi juga telah melintasi Ranah Pengumpulan Qi hingga kini mencapai Ranah Inti Bumi.
Di dalam tubuhnya, alih-alih Qi emas yang murni seperti pendekar kebanyakan, ia memiliki Qi berwarna ungu gelap yang bergejolak. Inti bumi miliknya terbentuk dari sari ribuan tanaman mematikan dan empedu binatang buas kuno yang ia taklukkan.
Ia berhenti di pinggir sungai yang menjadi batas hutan. Xiao Chen menatap bayangannya di air. Mata yang dulu penuh air mata kini hanya menyisakan sorot tajam yang tak punya belas kasihan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara percakapan dari kejauhan. Sekelompok tentara bayaran dan dua orang pendekar muda sedang beristirahat tidak jauh dari sana.
"Kudengar Sekte Pedang Langit sedang merayakan ulang tahun tetua mereka yang ke-tujuh puluh," ucap salah satu pendekar dengan nada bangga. "Semua faksi besar akan datang membawa hadiah."
Mendengar nama Sekte Pedang Langit, rahang Xiao Chen mengeras. Itu adalah salah satu sekte yang bertanggung jawab atas pembantaian keluarganya sepuluh tahun lalu.
Xiao Chen berjalan mendekati kerumunan itu tanpa suara, seolah-olah ia adalah bagian dari bayangan hutan.
"Siapa kau?!" teriak salah satu tentara bayaran sambil menghunus pedangnya saat melihat sosok asing muncul dari kabut.
Xiao Chen tidak berhenti. Ia hanya menatap mereka dengan datar. "Aku hanya seorang pengembara yang ingin mengirimkan hadiah ke Sekte Pedang Langit."
"Heh, berpakaian seperti pengemis dan ingin memberi hadiah ke sekte besar? Minggir, atau aku akan—"
Belum sempat tentara itu menyelesaikan kalimatnya, Xiao Chen mengibaskan lengan jubahnya dengan gerakan halus. Sebuah bubuk yang hampir tak terlihat oleh mata telanjang terbang terbawa angin sepoi-sepoi.
Dalam hitungan detik, tentara itu berhenti bergerak. Matanya mulai memerah, lalu dengan ngeri, pembuluh darah di wajahnya tampak menonjol dan pecah. Ia jatuh tersungkur, mencengkeram lehernya yang seolah-olah sedang terbakar dari dalam.
"Apa yang kau lakukan?!" pendekar lainnya mencoba menyerang dengan pedang yang dialiri Qi.
Namun, bagi Xiao Chen yang sudah berada di Ranah Inti Bumi, gerakan itu terlalu lambat. Ia hanya menjentikkan jarinya.
ZING!
Setitik cairan hijau pekat mengenai ujung pedang lawan. Seketika, logam baja itu melepuh dan hancur seperti kertas yang terbakar, sementara sang pemilik pedang menjerit saat tangannya mulai membiru dan membusuk dalam hitungan detak jantung.
"Jangan mati terlalu cepat," bisik Xiao Chen sambil berjalan melewati mereka yang sedang meregang nyawa. "Sampaikan pada tuanmu di neraka... bahwa penulis Kitab Racun sedang dalam perjalanan."
Ia menatap langit yang luas. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Xiao Chen tersenyum—sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada racun mana pun yang pernah ia ciptakan. Target pertamanya telah ditentukan. Pesta ulang tahun Sekte Pedang Langit akan berubah menjadi pemakaman massal.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.