Sebagai Putri Changle, seharusnya ia menikmati kemewahan dan cinta. Namun, gadis modern ini justru terperangkap dalam tubuh seorang putri kuno dengan masa lalu yang mengerikan: dikhianati oleh kekasihnya sendiri, disiksa tanpa ampun, dan meregang nyawa dalam kesengsaraan. Takdir memberinya kesempatan kedua. Dengan Sistem Poin dan Ruang Ajaib sebagai senjatanya, Putri Changle bangkit dari kematian untuk menuntut balas.
Setiap poin yang dikumpulkan adalah langkah menuju pembalasan. Setiap level yang diraih adalah tameng untuk melindungi diri dari musuh-musuh yang mengintai. Namun, semakin dekat ia dengan tujuannya, semakin dalam ia terjerat dalam labirin rahasia kelam yang mengubur masa lalunya dan asal-usul Sistem itu sendiri.
Mampukah Putri Changle mewujudkan dendamnya, ataukah ia hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsme AnH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Kau Terpancing Juga
Guan Shiqing panik luar biasa, matanya melebar seakan bola matanya akan terlempar keluar dan berputar mengelilingi dunia. Wajahnya memerah padam, dan keringat dingin membasahi dahinya. "Putri, Putri! Ampuni saya…," teriaknya serak dengan suara penuh putus asa, menembus udara yang membeku. Suaranya bergema di seluruh ruangan, memohon belas kasihan kepada orang-orang yang hadir.
Namun, Song Zhiwan hanya membekukan pandangannya yang dingin seperti es di ujung Kutub Utara, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia menatap Guan Shiqing dengan tatapan yang kosong dan tanpa emosi, seolah-olah dia sedang melihat seekor serangga yang menjijikkan.
Dua pengawal bersenjata dengan wajah tak tersentuh rasa kasihan, menarik Guan Shiqing pergi dengan paksa. Cengkeraman mereka kuat dan tanpa ampun, membuat Guan Shiqing merasa seolah-olah dia sedang diseret menuju kematiannya. Harapan terakhirnya dipaksa keluar dari ruang itu, membuatnya merasakan kepedihan yang menyengat di setiap inci tubuhnya.
"Tunggu!" Xie Zhan berteriak dengan nada terguncang, dadanya berdebar tak tertahankan melihat wanita yang dicintainya terancam hukuman mati. Dia tidak bisa membiarkan Guan Shiqing mati, dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya.
Wajahnya menyiratkan kegelisahan yang mendalam, seolah waktu pun ikut berhenti saat semua mata tertuju padanya—termasuk tatapan beku Song Zhiwan yang menusuk hingga ke tulang. Dia merasa seolah-olah dia sedang dihakimi oleh semua orang di ruangan itu, dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Guan Shiqing menoleh, matanya penuh luka dan keputusasaan. Harapan dan penyesalan bercampur menjadi satu, menciptakan nuansa hampa yang mendalam saat pandangannya bertemu dengan Xie Zhan. Dia berharap Xie Zhan akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya, tetapi dia juga takut bahwa dia akan mengecewakannya.
Namun, Xie Zhan justru merasa terjepit, kebingungannya tumpah ruah saat menghadapi sorot tajam Pangeran Qin dan istrinya. Dia tahu bahwa dia sedang berada dalam posisi yang sulit, dan dia tidak tahu bagaimana cara keluar dari sana.
"Tuan Muda Xie." Suara Song Zhiwan kini bagaikan udara beku yang menusuk hati. Dia menatap Xie Zhan dengan tatapan yang dingin dan tanpa emosi, seolah-olah dia sedang berbicara dengan orang asing. "Guan Shiqing adalah pelayanku. Memindahkan barang pemberian Ibu Suri adalah kejahatan yang pantas dihukum mati. Lalu dengan alasan apa Tuan berani menghalangiku menegakkan hukum?" Nada dinginnya menggema, mengguncang jiwa siapapun yang mendengarnya.
Di tengah sunyi yang tegang, Xie Zhan berdiri membeku, antara mempertaruhkan segalanya atau menerima kenyataan pahit yang membakar dadanya seperti bara api yang tak berkesudahan. Dia merasa seolah-olah dia sedang berdiri di persimpangan jalan, dan dia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya dan nasib orang-orang yang dia cintai.
"Aku …." Xie Zhan terhenti, matanya berkelana liar mencari celah di balik kebohongan yang makin menyesakkan dadanya. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan, dia merasa seolah-olah dia sedang tenggelam dalam lautan kebohongan yang tak berujung.
Song Zhiwan menatap dingin ke arah Guan Shiqing yang membungkuk, lalu suaranya menusuk udara yang hening. “Karena tak punya identitas, seret dia keluar! Pukul sampai mati!” Dia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dia tidak akan mentolerir ketidaktaatan, dan dia akan menghukum siapa pun yang berani melawannya.
Suara tegas dan tanpa ampun Song Zhiwan meluncur dari bibirnya, membuat Xie Zhan terhuyung dan menatap ngeri ke arahnya. Dia tidak percaya bahwa Song Zhiwan bisa menjadi begitu kejam.
Guan Shiqing perlahan mengangkat wajahnya, mata yang penuh luka membalas pandangan dingin Song Zhiwan. Dia merasa dikhianati oleh orang yang paling dia percayai, dan dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Sayang sekali …," Song Zhiwan menirukan duka palsu, seolah hendak menghapus air mata yang tak pernah mengalir dari pipinya. Dia ingin membuat Xie Zhan dan Guan Shiqing menderita, dan dia ingin melihat mereka mengakui kekalahannya. "Dua nyawa harus berakhir bersamaan."
Dada Xie Zhan tiba-tiba sesak, seperti ada sesuatu yang meremas nyawanya erat-erat. Dia merasa seolah-olah dia sedang kehilangan sesuatu yang berharga, dan dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. "Dua nyawa? Guan Shiqing … hamil?" tanyanya dengan mata membelalak, mengulang kata-kata itu untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah.
Guan Shiqing dengan cemas menyentuh perutnya yang masih rata, seakan ingin memberikan jaring pelindung pada bayinya dari kebiadaban yang akan datang. Dalam hatinya berbisik penuh curiga dan ketakutan. “Bagaimana Song Zhiwan tahu? Apa semua ini sudah dirancang sejak awal?” Dia merasa seolah-olah dia sedang menjadi korban dari rencana yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
Tangan para pengawal kembali merengkuh tubuhnya yang beku dalam kepanikan, mengeksekusi perintah yang tertanam dalam tatapan kejam Song Zhiwan. Dia merasa seolah-olah dia sedang diseret menuju kematiannya, dan dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
"Ahhh … Tuan Muda Xie, tolong aku…," jeritnya dengan suara penuh harap dan kepanikan. Dalam pandangannya, Xie Zhan adalah satu-satunya harapan, cahaya di tengah kelam yang mengancam. Dia berharap Xie Zhan akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya, tetapi dia juga takut bahwa dia akan mengecewakannya.
Xie Zhan menatapnya, hatinya bergejolak dalam pusaran dilema yang mencekik—antara menyelamatkan wanita yang dicintai beserta anaknya atau mengorbankan segalanya demi ambisinya yang membara. Dia merasa seolah-olah dia sedang berdiri di persimpangan jalan, dan dia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya dan nasib orang-orang yang dia cintai.
“Selamatkan aku … dan anakmu, Tuan ….” Air mata mengalir deras di pipi Guan Shiqing, menembus lapisan ketegaran yang selama ini dia bangun. Dia merasa seolah-olah dia sedang kehilangan segalanya, dan dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Melihat wanita yang dicintainya berada dalam bahaya membuat semangatnya seolah membara, menentang segala larangan dan ketakutan. Dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan segalanya.
Namun, sebelum Xie Zhan sempat bergerak, tubuh Guan Shiqing mulai diseret paksa menuju pintu keluar. Dia merasa seolah-olah dia sedang kehilangan satu-satunya hal yang berharga dalam hidupnya, dan dia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
"Ahhh…!" Jeritan kecil dan lemah keluar dari mulut Guan Shiqing ketika diseret kasar, perutnya seperti terguncang. Dia merasa seolah-olah dia sedang disiksa, dan dia tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan.
“Berhenti!” Suara Xie Zhan menggelegar, bergetar oleh amarah dan putus asa yang menyalak liar dalam dadanya. Dia tidak bisa membiarkan Guan Shiqing mati, dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya.
Dunia di sekelilingnya runtuh, diguncang oleh pertarungan sengit antara kekuasaan dan cinta yang saling bertolak belakang tanpa ampun. Dia merasa seolah-olah dia sedang berada di tengah badai, dan dia tidak tahu bagaimana cara bertahan hidup.
Semua mata terbelalak tertuju pada Xie Zhan dalam keheningan menegangkan. Mereka semua menunggu untuk melihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Dua pengawal yang mendapatkan lirikan tajam Song Zhiwan yang menyiratkan titah tanpa kata, segera melepaskan cengkeraman mereka—membiarkan Guan Shiqing terjatuh tersungkur di lantai—seperti boneka yang dililit tali tak terlihat. Mereka tahu bahwa mereka harus mematuhi perintah Song Zhiwan, atau mereka akan menghadapi konsekuensi yang mengerikan.
Xie Zhan membentak perasaannya dengan mengibaskan lengan bajunya, kemudian menoleh dengan penuh ketegasan ke arah Pangeran Qin. Dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Guan Shiqing, bahkan jika itu berarti menentang Pangeran Qin.
Dia menangkup kedua tangannya rapi, sikapnya berubah dari amarah menjadi doa yang menggetarkan: “Sarjana baru, Xie Zhan, dengan segala kerendahan hati memohon kepada Wangye dan Wangfei, agar diizinkan menikahi pelayan Guan Shiqing.” Dia berharap Pangeran Qin akan mengabulkan permintaannya, tetapi dia juga takut bahwa dia akan ditolak.
Tatapan dingin Pangeran Qin menghantam, menusuk seperti pedang beku. Matanya melirik penuh arti pada istrinya, yang terpaku membeku seperti patung di tengah arena pertarungan. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan yang sulit, dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Guan Shiqing terpana, dadanya sesak oleh keberanian yang tiba-tiba meledak dalam diri Xie Zhan, melampaui batas pengharapan dan kepasrahan. Dia tidak percaya bahwa Xie Zhan akan melakukan hal ini untuknya.
Di balik bayang-bayang istana, Song Zhiwan tersenyum dingin, penuh kemenangan dalam bisik hati yang hanya untuk dirinya: “Xie Zhan … akhirnya kau terpancing juga.” Dia tahu bahwa rencananya telah berhasil, dan dia tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
kmana nih momo....... gunakan sistem dong.....
sistem apa? greget bgt.. masalah nya cuma berputar2 di sini aja ga selesai- selesai. trs kelebihan putri cangle apa? masa lemah bgt. mudah di tindas, mau di skip tp penasaran. wkwkwk 🤣🤣🤣🤣
bagusan pemeran perempuan pas novel perempuan beracun kesayangan pangeran lebih cerdas & keren😄
semangat nulisnya😍😍😍