NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: CIUMAN DI UJUNG JURANG

#

Pagi datang terlalu cepat.

Arjuna bangun dengan kepala yang berat, bukan karena gak tidur nyenyak tapi karena mimpi. Mimpi tentang api, tentang tembakan, tentang Sari yang berteriak namanya tapi dia gak bisa sampe ke dia.

Dia bangun cepat, napas tersengal. Keringat dingin di dahinya meski udara pagi masih sejuk.

"Cuma mimpi," bisiknya ke diri sendiri. "Cuma mimpi."

Tapi kenapa rasanya kayak pertanda?

Sari udah bangun, duduk di teras kecil rumah Ratna sambil natap laut. Gaun putihnya udah diganti dengan gaun hitam yang lebih formal. Rambut udah diikat tinggi. Makeup tipis yang bikin dia keliatan lebih dewasa. Lebih... lebih kayak anak Adrian.

"Kau bangun," katanya tanpa noleh.

"Udah lama?"

"Sejam mungkin. Gak bisa tidur lagi setelah mimpi buruk."

Arjuna duduk di sebelahnya. "Aku juga mimpi buruk."

"Tentang apa?"

"Tentang kehilangan kau."

Sari akhirnya noleh. Natap dia dengan mata yang basah. "Arjuna..."

"Aku tau," potong Arjuna. "Aku tau kita udah janji gak bakal pesimis. Tapi aku gak bisa bohong. Aku takut. Takut banget kalau ini terakhir kalinya kita duduk bareng kayak gini."

"Maka jangan biarkan itu jadi terakhir," bisik Sari. Tangannya cari tangan Arjuna, genggam kuat. "Berjuang. Bertahan. Hidup untuk aku."

"Hanya kalau kau juga hidup untuk aku."

"Deal."

Mereka duduk diam, pegang tangan, natap matahari yang naik perlahan dari ujung laut. Cahayanya oranye kemerahan, hangat tapi juga terasa kayak warning. Kayak bilang hari ini akan jadi hari yang penuh darah.

"Waktunya," suara Ratna dari dalam rumah. "Kalian harus siap."

Mereka masuk. Di dalam, Pixel udah siap dengan seragam teknisi yang pas di badannya. ID card palsu di lehernya. Toolbox di tangan yang isinya bukan tools tapi laptop dan device hack.

"Aku akan berangkat duluan," katanya sambil cek jam. "Jam enam lewat empat lima. Harus sampe stasiun TV jam tujuh."

"Hati hati," kata Arjuna. "Kalau ada yang curiga..."

"Aku tau, aku improvisasi," Pixel senyum tapi senyumnya gak sampe mata. "Jangan khawatir tentang aku. Khawatir tentang diri kalian sendiri."

Dia pergi. Pintu ditutup pelan.

Tinggal bertiga sekarang. Arjuna, Sari, Ratna.

"Ibu," kata Sari. "Kalau kami gak selamat..."

"Jangan," Ratna angkat tangan. "Jangan bilang kayak gitu. Kalian akan selamat. Kalian harus."

"Tapi kalau gak," Sari bersikeras. "Ibu harus lanjutin. Harus pastiin video itu tetap tersebar. Pastiin dunia tau apa yang Adrian lakukan."

Ratna menatapnya lama. Lalu ngangguk. "Aku janji."

Jam tujuh. Arjuna naik bis umum dengan seragam teknisi yang Bu Lastri kasih. Toolbox di tangan. Earpiece di telinga yang connect ke Pixel.

"Test test," suara Pixel di earpiece. "Kau denger aku?"

"Denger," bisik Arjuna pelan sambil pura pura batuk supaya orang di bis gak curiga.

"Bagus. Aku udah di stasiun. Lagi setup di ruang server. Security gak curiga, ID card palsu work perfect."

"Oke."

Bis berhenti di depan gedung megah Saluran Satu. Gedung kaca tujuh lantai yang mengkilap di bawah matahari pagi. Di depan pintu ada dua security yang check semua orang yang masuk.

Arjuna turun. Jalan santai. Jangan kelihatan gugup. Jangan kelihatan kayak mau ngebom gedung meski technically dia memang mau ngebom gedung dengan informasi.

"Permisi," katanya ke security sambil tunjukin ID. "Aku dikirim untuk check audio di studio empat. Ada komplain dari tim produksi tentang feedback."

Security itu liat ID. Liat Arjuna. Liat toolbox.

"Nama?"

"Adi Prasetyo," jawab Arjuna pakai nama di ID palsu.

Security cek komputer. Ketik sesuatu. Tunggu.

Detik detik terasa kayak jam.

"Oke," akhirnya security itu ngangguk. "Masuk. Studio empat di lantai empat. Pakai lift di sebelah kiri."

"Terima kasih."

Arjuna masuk. Jantungnya berdegup keras tapi dia paksa kakinya jalan normal. Jangan lari. Jangan keliatan panik.

Lift. Tekan tombol empat. Pintu tutup.

"Aku masuk," bisiknya ke earpiece.

"Bagus," suara Pixel. "Sekarang ke studio, pasang mic dummy, tunggu sinyal dari aku."

Lift berhenti di lantai empat. Pintu buka. Arjuna keluar ke koridor yang penuh orang lalu lalang. Semua sibuk dengan kerjaan masing masing. Gak ada yang perhatiin dia.

Studio empat di ujung koridor. Pintu besar dengan tulisan "ON AIR" yang sekarang mati. Dia masuk.

Di dalam ada set panggung yang mewah. Dua kursi kulit yang berhadapan. Meja kaca di tengahnya. Lampu studio yang besar besar. Kamera di beberapa sudut.

Dan gak ada orang. Masih terlalu pagi untuk rehearsal.

Arjuna mulai kerja. Pasang mic dummy di kursi sebelah kiri dimana Adrian nanti akan duduk. Pura pura ngecek kabel sambil sebenarnya pasang device kecil yang Pixel kasih. Device untuk intercept sinyal kalau dibutuhkan.

"Device terpasang," bisiknya.

"Perfect," jawab Pixel. "Sekarang keluar, naik ke lantai lima lewat tangga darurat. Pintu tangga ada di ujung koridor kanan."

Arjuna keluar dari studio. Tapi pas mau belok ke kanan, ada suara.

"Eh, kau!"

Dia berhenti. Berbalik.

Seorang wanita paruh baya dengan clipboard jalan ke arahnya. Wajahnya ketat, gak ramah.

"Kau siapa? Aku gak kenal kau."

"Adi Prasetyo, Bu," jawab Arjuna sambil tunjukin ID lagi. "Dari tim teknis. Dikirim untuk check audio."

"Tim teknis?" wanita itu ambil ID nya, periksa dengan teliti. Terlalu teliti. "Aku koordinator produksi di sini. Dan aku gak ingat minta orang tambahan untuk check audio."

Sial.

"Mungkin dari divisi lain, Bu," Arjuna coba tenang. "Aku cuma ikut perintah atasan."

"Atasan siapa?"

"Pak..." Arjuna coba ingat nama yang Pixel kasih. "Pak Bambang. Dari divisi broadcast."

Wanita itu natap dia curiga. "Pak Bambang sedang cuti. Sudah seminggu."

Sial sial sial.

"Mungkin yang gantiin dia, Bu. Aku gak tau pasti siapa yang kirim. Aku cuma..."

"Aku akan check ini," wanita itu ambil walkie talkie nya. "Security, aku mau verifikasi ID seseorang..."

Tiba tiba lampu gedung berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu mati total.

Gelap.

Orang orang berteriak. Panic.

"APA YANG TERJADI?!"

"LISTRIK MATI!"

Di earpiece, Pixel ketawa. "Itu aku. Aku matikan listrik utama. Kalian punya lima menit sebelum generator backup nyala. Gerak sekarang!"

Arjuna gak buang waktu. Di tengah kegelapan dan chaos, dia lari ke tangga darurat. Buka pintu. Naik dua anak tangga sekaligus ke lantai lima.

Di belakang, wanita itu masih teriak. "KEAMANAN! ADA PENYUSUP!"

Tapi suaranya hilang di tengah kekacauan.

Lantai lima. Ruang kontrol master.

Arjuna sampai di depan pintu besar bertuliskan "AUTHORIZED PERSONNEL ONLY". Dia coba buka. Terkunci.

"Pixel, pintunya terkunci!"

"Pakai device kedua di toolbox. Yang bentuknya kayak kartu merah. Tap ke sensor di sebelah pintu."

Arjuna buka toolbox dengan tangan gemetar. Cari device merah. Ketemu. Tap ke sensor.

Bunyi beep. Lampu sensor berubah hijau. Pintu buka.

"Berhasil!"

Dia masuk. Ruang kontrol penuh dengan layar monitor dan console yang complicated. Dan ada enam orang di sana, semua bingung karena listrik mati.

"Eh siapa kau?!" salah satunya teriak.

"Aku dari tim teknis," Arjuna angkat toolbox. "Dikirim untuk fix masalah listrik."

"Kita gak minta..."

Tiba tiba pintu terbuka lagi. Ratna masuk dengan baju formal dan kacamata. Kelihatan seperti supervisor senior.

"Maaf terlambat," katanya dengan suara authoritative. "Saya Ratna Dewi, supervisor divisi broadcast. Kami dikirim untuk emergency repair sebelum acara malam ini."

Staff di sana natap dia. Lalu natap satu sama lain. Bingung tapi juga gak berani argue dengan orang yang keliatan sepenting Ratna.

"Oke," akhirnya salah satunya bilang. "Tapi cepat. Generator backup akan nyala lima menit lagi dan kita harus test semua sistem sebelum wawancara jam delapan."

"Kami akan cepat," Ratna ngangguk. Lalu natap Arjuna. "Adi, setup peralatanmu. Aku akan supervise."

Arjuna buka toolbox. Keluarin laptop. Colok kabel ke console utama.

"Pixel, aku udah connect. Kau ambil alih dari sana."

"Copy that. Mulai infiltrasi sistem sekarang."

Di layar laptop, code mulai running. Cepat. Terlalu cepat untuk mata normal bisa baca.

Staff di ruang kontrol mulai sibuk dengan kerjaan masing masing, gak terlalu perhatiin Arjuna dan Ratna.

"Berapa lama?" bisik Arjuna ke Ratna.

"Sepuluh menit untuk full access," jawab Ratna sambil pura pura check console. "Lima menit kalau kita mau cepat tapi risky."

"Kita gak punya sepuluh menit."

"Maka lima menit."

Sementara itu, di bawah gedung, Sari turun dari taksi dengan gaun hitam yang elegant. Rambutnya turun sekarang, berombak cantik. Makeup yang perfect. Dia kelihatan seperti model atau artis.

Security di pintu langsung perhatiin.

"Permisi Nona," salah satunya tegur. "Apa keperluan Anda?"

"Aku teman Adrian Mahendra," jawab Sari dengan senyum manis. "Aku mau kasih surprise untuk dia sebelum wawancara. Apa aku boleh masuk?"

"Anda ada di guest list?"

"Tidak. Makanya namanya surprise," Sari ketawa. Ketawa yang kedengeran innocent.

Security itu ragu. "Saya harus check dulu dengan..."

"Kumohon," Sari megang lengannya, mata berkaca kaca. "Aku udah gak ketemu dia berbulan bulan. Ini kesempatan terakhir ku untuk... untuk bilang sesuatu yang penting."

Security itu menatapnya. Liat mata yang berkaca kaca itu. Liat wajah yang innocent.

"Baiklah," akhirnya dia menghela napas. "Tapi Anda harus didampingi security. Dan cuma boleh lima menit."

"Terima kasih!" Sari peluk dia cepat. "Terima kasih banyak!"

Dia masuk dengan security yang kawal. Naik lift ke lantai empat dimana ruang tunggu VIP ada.

Di ruang tunggu itu, Adrian duduk santai di sofa kulit. Pakai jas hitam mahal. Rambut rapi. Wajah tenang.

Dan saat pintu terbuka, saat dia lihat Sari masuk, wajahnya... wajahnya gak kaget. Gak marah. Malah tersenyum.

"Sari," katanya pelan. "Anakku. Aku sudah menunggu kau datang."

Sari berhenti. Darah nya membeku.

Dia tau. Dia tau sejak awal aku akan datang.

"Kenapa kau gak kelihatan surprise?" tanya Sari, coba jaga suaranya tetap stabil.

"Karena aku sudah predict ini," Adrian berdiri. Jalan ke arahnya pelan. "Aku tau kau dan teman temanmu akan coba sesuatu di hari ini. Aku tau kalian punya video pembantaian itu. Dan aku tau kalian akan coba broadcast."

"Kalau kau tau, kenapa kau biarkan?"

Adrian tersenyum lebih lebar. "Karena aku ingin kalian coba. Ingin kalian rasakan kalau kalian hampir menang. Sebelum aku ambil semuanya dari kalian."

Sari mundur. Tangan nya cari ponsel di tas kecilnya. Harus kasih warning ke Arjuna. Harus...

Tapi Adrian lebih cepat. Tangannya nangkep pergelangan tangan Sari. Kuat. Menyakitkan.

"Jangan," bisiknya. "Janganrusak permainan ini. Biarkan teman temanmu coba. Biarkan mereka broadcast video. Karena aku... aku sudah siapkan sesuatu yang lebih besar."

"Apa yang kau rencanakan?" Sari mencoba lepas tapi Adrian terlalu kuat.

"Kau akan lihat," jawab Adrian. "Kau akan lihat saat wawancara dimulai. Saat dunia menonton. Saat semuanya runtuh."

Dia tarik Sari lebih dekat. Bisik di telinganya.

"Dan saat itu terjadi, saat Arjuna dan teman temannya mati, kau akan sadar. Sadar kalau satu satunya yang bisa lindungi kau di dunia ini adalah aku. Ayahmu."

Sari rasakan air mata jatuh. "Aku lebih pilih mati daripada dilindungi monster kayak kau."

"Kita lihat saja," Adrian lepaskan dia. "Kita lihat saat semuanya berakhir nanti malam."

Jam delapan malam. Wawancara dimulai.

Di studio, Adrian duduk dengan santai di kursi kulit. Presenter terkenal Ibu Wulan duduk di seberangnya dengan senyum profesional.

"Selamat malam Indonesia," katanya ke kamera. "Malam ini kita punya tamu spesial. Pengusaha sukses, dermawan, dan inspirasi bagi banyak orang. Mari kita sambut, Tuan Adrian Mahendra!"

Tepuk tangan dari audience yang hadir.

Adrian tersenyum. Lambaikan tangan.

Di ruang kontrol lantai lima, Arjuna berdiri di belakang Pixel dan Ratna yang duduk di depan console. Semua staff lain udah diusir keluar dengan alasan "technical emergency".

"Kita punya akses penuh," bisik Pixel. "Aku bisa override sinyal kapanpun."

"Tunggu," kata Ratna. "Tunggu sampai wawancara berjalan lima menit. Biar audience udah banyak yang nonton. Lalu kita play video."

Di layar monitor, wawancara dimulai normal. Pertanyaan tentang bisnis. Tentang charity. Tentang visi masa depan.

Adrian jawab semuanya dengan perfect. Karismatik. Meyakinkan.

Lima menit berlalu.

"Sekarang," kata Ratna.

Pixel ketik command. Tekan enter.

Di semua layar TV di seluruh negara, gambar tiba tiba berubah. Dari wajah Adrian ke video gelap.

Video dari Hendrawan.

Video pembantaian Desa Harapan Baru.

Suara tembakan. Suara teriakan. Suara api yang membakar.

Dan wajah Adrian yang tersenyum di tengah semua itu.

Di studio, Ibu Wulan berhenti bicara. Natap monitor dengan mata melebar.

"Apa... apa ini?"

Tapi Adrian gak kelihatan panik. Gak kelihatan surprise.

Malah dia tersenyum.

Tersenyum lebar sambil natap kamera.

"Akhirnya," bisiknya. "Akhirnya permainan dimulai."

Lalu dia angkat tangan.

Dan di seluruh kota, di seluruh negara, listrik mulai mati.

Satu per satu.

The Protocol diaktifkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!