NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / Kekasih misterius
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terapi

Tangannya mencengkeram setir lebih kuat. Mobil melambat sedikit tanpa sadar. Bahunya menegang, seperti refleks.

"Ren,"katanya, kini nada suaranya lebih rendah. "Kenapa kamu nanya itu sekarang?”

Aku mengangkat bahu kecil. "Aku cuma penasaran. Masa iya orang yang nabrak aku nggak ada kabarnya.”

Lampu merah menyala, mobil berhenti.

Aku menoleh lagi ke arahnya dan kali ini aku jelas melihatnya. Wajah Arven masih tenang.

"Itu bukan hal yang perlu kamu pikirkan,"katanya akhirnya. "Yang penting kamu selamat.”

"Jawabannya?"desakku pelan.

Arven menoleh, menatapku lama.

"Kasusnya rumit,"ucapnya. "Banyak prosedur. Aku nggak mau kamu ikut-ikutan pusing soal hal-hal kayak gitu.”

Lampu hijau menyala, mobil kembali berjalan. Ia mengganti topik dengan halus.

"Kamu capek?"tanyanya. "Tadi kamu bilang kepalamu agak berat. Kalau mau, kita langsung pulang aja. Aku bikinin kamu teh hangat.”

Nada itu berubah lagi lembut, protektif. Seolah pertanyaan baruku tadi tidak pernah ada.

Tangannya sedikit mendekat, aku mengangguk pelan, walau hatiku belum tenang.

"Ven,"kataku sekali lagi.

"Hm?”

"Kamu nggak bohong sama aku, kan?”

Arven tersenyum kecil, senyum yang biasa ia pakai saat aku panik. Senyum yang selalu berhasil menenangkanku.

"Untuk apa aku bohong sama kamu, Ren?"katanya. "Aku di sini buat jaga kamu. Selalu.”

Mobil terus melaju.

Keesokan paginya, Arven sudah siap bahkan sebelum aku bangun. Sarapan sudah tersaji rapi, jaketku tergantung di kursi, tas kecil berisi dokumen tergeletak di meja semuanya sudah disiapkan tanpa aku minta.

"Kamu nggak perlu bawa apa-apa,"katanya sambil membantuku mengenakan jaket. "Aku udah urus.”

Di ruang tunggu klinik, Arven duduk di sebelahku. Terlalu dekat. Lutut kami bersentuhan, dan setiap kali aku sedikit bergeser, ia ikut menyesuaikan posisi.

"Kamu gugup?"tanyanya.

"Sedikit,"jawabku jujur.

Tangannya langsung meraih tanganku, menggenggamnya. Jari-jarinya saling mengunci dengan jariku.

"Napas pelan-pelan,"katanya. "Fokus ke aku aja.”

Saat namaku dipanggil, aku berdiri tapi Arven ikut berdiri.

"Ven,"kataku pelan, "ini cuma sesi pertama.”

"Aku tahu,"jawabnya. "Aku temenin sampai masuk.”

Perawat sempat melirik kami, lalu berkata dengan sopan bahwa sesi ini sebaiknya dilakukan sendiri dulu.

Wajahnya berubah, bukan marah lebih seperti kecewa yang disembunyikan.

"Kalau kamu butuh aku, panggil,"katanya. "Aku di luar.”

Nada itu lembut, tapi matanya tidak benar-benar melepasku sampai pintu tertutup.

Ruang terapi itu lebih kecil dari yang kubayangkan. Dindingnya berwarna krem pucat, dengan satu jendela sempit yang ditutup tirai tipis. Bau antiseptik samar masih terasa, bercampur aroma teh hangat dari cangkir di meja kecil di sudut ruangan.

"Silakan duduk, Seren,"kata terapis itu dengan suara tenang.

Aku duduk di kursi empuk yang sedikit tenggelam saat kududuki. Punggungku otomatis menegang. Tanganku saling menggenggam di pangkuan.

"Kamu kelihatan cemas,"katanya. "Itu wajar, apalagi ini sesi pertama.”

Aku mengangguk, tapi mataku tanpa sadar melirik ke arah pintu. Aku tahu Arven ada di luar sana.

"Coba tarik napas pelan-pelan,"lanjutnya. "Kita mulai dari hal ringan saja.”

Aku menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan.

"Sejak kamu keluar dari rumah sakit,"katanya, "apa hal pertama yang paling sering kamu rasakan?”

Aku berpikir sejenak. Jawaban yang muncul terasa terlalu jujur, tapi tetap keluar.

"Bingung,"kataku. "Dan takut.”

"Takut apa?”

"Takut salah, takut sendirian, takut kalau aku melakukan sesuatu tanpa sadar, lalu semuanya jadi kacau.”

Terapis itu mencatat sesuatu.

"Siapa orang yang paling sering kamu andalkan saat perasaan itu muncul?”

Pertanyaan itu nyaris refleks.

"Arven.”

Namanya keluar begitu saja, tanpa jeda.

Ia mengangguk pelan. "Apa yang biasanya Arven lakukan?”

"Dia… menenangkan aku. Ngasih tahu apa yang harus aku lakukan. Kadang sebelum aku sadar aku butuh bantuan, dia sudah tahu duluan.”

"Dan itu membuatmu merasa?”

"Tenang,"jawabku cepat. Lalu aku ragu. "Aman.”

Terapis itu menatapku lebih lama kali ini.

"Apakah kamu pernah merasa tidak setuju dengan yang Arven sarankan?”

Aku terdiam.

Bayangan Arven di mobil, di apartemen, di ruang tunggu klinik, semuanya muncul bersamaan.

"Enggak,"jawabku akhirnya. "Atau mungkin pernah, tapi aku nggak yakin. Ingatanku berantakan.”

"Tidak apa-apa,"katanya lembut. "Kita tidak sedang mencari jawaban benar atau salah.”

Ia menyilangkan kaki, lalu melanjutkan, "Kamu juga mengalami kehilangan seseorang bernama Maya, benar?”

Dadaku langsung mengencang.

"Iya.”

"Perasaan apa yang muncul saat kamu memikirkan dia?”

"Belum jelas,"jawabku lirih. "Seperti ada bagian yang hilang, tapi aku nggak tahu apa.”

Terapis itu mengangguk, tidak memaksa.

"Dalam kondisi seperti ini,"katanya, "otak kadang mencari pegangan. Orang, rutinitas, suara yang familiar. Itu mekanisme bertahan hidup.”

Aku menelan ludah.

"Pegangan itu nggak salah, kan?"tanyaku tanpa sadar.

"Tidak,"jawabnya. "Selama kamu juga perlahan belajar berdiri sendiri.”

Kalimat itu membuat dadaku bergetar sedikit. Entah kenapa.

Ia menutup catatannya. "Untuk sementara, saya sarankan kamu mencatat perasaanmu setiap hari. Bukan ingatan tapi emosi. Marah, sedih, nyaman, tidak nyaman.”

Aku mengangguk.

"kalau kamu merasa terlalu bergantung pada satu orang, itu bukan kesalahan. Tapi itu sinyal yang perlu kita perhatikan bersama.”

Dokter itu tidak langsung menutup catatannya. Ia justru bersandar sedikit ke belakang, seolah masih menimbang sesuatu.

"Ada satu hal lagi yang ingin saya sarankan,"katanya akhirnya.

1
j_ryuka
ajak main kek dia ven, pasti ada apa-apanya ini si arven
j_ryuka
segala cara arven melindungi seren, aku curiga sama authornya 🙏
SarSari_
Gas aja, May. Culik Seren gapapa.... Seren juga butuh refreshing, bukan dikurung terus.😂
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
hahaha.. diperhatikan sampai nafasnya
Ria Irawati
karena kondisi seperti itu membutuhkan perhatian lebih. orang di sekitar juga harus lebih peka
pojok_kulon
Kayak pembunuhan berencanaa
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
pasti enak puter musik, aku suka setel musik🤭
Panda%Sya🐼
Kok Arven tegang gitu ya
pojok_kulon
Arven kyak punya dua kepribadian
Ria Irawati
apa kini kau mulai menyadari sesuatu tentang arven?? penisirin banget
Panda%Sya🐼
Idihh jadi ngapain suruh nyanyi kalau suaranya gak bagus
j_ryuka
aku curiga sama author nya
Suo: kok sama aku kak😭
total 1 replies
j_ryuka
kasik tau aja
Ria Irawati
mau apa nih?? cek kesehatan kah??
pojok_kulon
Ya kyaknya yg mungkin kebetulan hape Seren hilang tiba² tapi ditemukan lagi di cas dan kebetulan juga maya bunuh diri
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
emangnya bisa nyanyi?, nanti dinyanyiin nina bobo🤭kayak anak bayi
Panda%Sya🐼
Aku juga dong, lagi capek ni. Baru habis kerja, butuhnya asupan lagu tidur. Biar besok sahur matanya langsung terbuka dengan lebar 🤭
j_ryuka
mau ngapain nih ke rumah sakit
Ria Irawati
kaya lagi Nina boboin anak kecil🤣
pojok_kulon
Duh kasian maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!