Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Waktu istirahat di selasar Fakultas Seni Budaya mendadak terasa mencekam. Araluna, yang baru saja keluar dari ruang praktik dengan noda cat air sedikit menempel di punggung tangannya, langsung memasang radar "cegil" saat melihat siluet yang sangat ia kenali di depan kelas Arsen.
Clarissa berdiri di sana, tampak sangat menawan dengan blouse putih bersih. Di tangannya, ia memegang kotak bekal estetika berisi roti lapis dengan selai anggur impor dan sebotol jus jeruk segar. Arsen baru saja keluar dari kelas, wajah kakunya tampak sedikit lelah, dan saat Clarissa mendekat sambil tersenyum manis, Luna merasa darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun.
"Arsen, ini aku bawain bekal buat kamu. Tadi aku bikin sendiri, rotinya lembut banget pakai selai anggur kesukaan kamu," ucap Clarissa dengan suara yang sengaja dilembutkan.
Tepat saat tangan Clarissa terulur untuk memberikan kotak itu, sebuah bayangan merah melesat. Araluna muncul dari balik pilar, dan dengan gerakan yang sangat halus namun terukur, ia menepis pelan tangan Clarissa hingga kotak itu hampir merosot.
"Maaf, Kak Clarissa yang can... tik, tapi tetep aja lebih cantikan gue..." Luna memotong kalimat Clarissa dengan nada yang sangat pedas namun tetap tersenyum lebar.
Luna berdiri tepat di antara Arsen dan Clarissa, membusungkan dadanya yang masih terbalut jaket kulit milik Arsen. "Kak Arsen itu kalau makan kayak kuda kelaperan sepuluh hari nggak dikasih makan, Kak. Roti selai anggur begini mana kenyang? Yang ada malah dia pingsan karena kurang gizi."
Clarissa ternganga, wajahnya memerah karena malu di depan banyak mahasiswa yang mulai menonton. "Tapi Luna, ini cuma—"
"Dan gue udah bawain makan siang buat dia, empat sehat lima sempurna dengan penuh cinta!" Luna memotong lagi tanpa ampun. Ia merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah wadah makanan besar yang masih terasa hangat.
Luna berbalik menatap Arsen, matanya melotot memberikan kode keras. "Nih, Kak! Gue bawain lo nasi sama rendang buatan Bunda. Rendangnya banyak, bumbunya medok, nggak kayak roti lemes itu. Makan sekarang, atau gue suapin lo di sini, depan semua orang, biar lo makin malu!"
Arsen memijat pangkal hidungnya, merasa pening luar biasa. Sifat kakunya membuatnya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Di satu sisi ada Clarissa, gadis pilihan Papanya yang sopan. Di sisi lain, ada Araluna, "bencana" favoritnya yang sedang dalam mode perang tingkat tinggi.
"Luna, lo jangan bikin keributan," bisik Arsen dengan suara rendah yang penuh penekanan.
"Gue nggak bikin ribut, gue cuma mau mastiin calon suami gue—eh, maksudnya kakak gue, nggak busung lapar!" Luna membuka tutup wadah rendangnya, aromanya yang gurih langsung memenuhi koridor, menenggelamkan aroma roti selai milik Clarissa.
Luna mengambil sesendok nasi dan potongan rendang besar, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Arsen. "Ayo, buka mulutnya, Kak Arsen Sergio yang paling ganteng. Mau gue suapin pake gaya pesawat terbang atau mau makan sendiri?"
Arsen menatap Clarissa yang kini tampak ingin menangis karena merasa terhina. Namun, saat ia melihat mata Luna yang berkilat penuh ancaman sekaligus permohonan, Arsen tahu ia tidak punya pilihan. Jika ia menolak Luna sekarang, gadis ini pasti akan melakukan hal yang lebih gila lagi, seperti berteriak kalau mereka pernah tidur sekamar (meskipun cuma tidur biasa).
Arsen akhirnya menghela napas pasrah. Ia mengambil wadah itu dari tangan Luna. "Gue makan sendiri. Masuk ke kelas lo sekarang."
Luna tersenyum puas, sebuah senyum kemenangan yang sangat lebar. Ia menoleh ke arah Clarissa yang masih berdiri mematung. "Denger kan, Kak? Kak Arsen lebih suka rendang daripada anggur-angguran. Mending Kakak kasih rotinya ke kucing kampus aja, siapa tahu kucingnya doyan roti Inggris."
Setelah Clarissa pergi dengan langkah seribu karena menanggung malu, Luna tidak langsung pergi. Ia malah mendekat ke arah Arsen yang mulai menyantap rendangnya di bangku taman koridor.
"Enak kan, Kak? Itu gue yang bantuin Bunda ngaduk bumbunya tadi pagi jam lima subuh tahu!" bohong Luna demi poin tambahan. Padahal tadi pagi dia baru bangun jam tujuh lewat.
Arsen mengunyah rendangnya dengan diam. Sifat kakunya perlahan mencair saat merasakan nikmatnya masakan rumah. Ia menatap Luna yang sedang duduk di sampingnya, memandangi wajahnya dengan tatapan memuja.
"Lo bener-bener nggak punya rasa malu ya, Lun?" gumam Arsen setelah menelan suapannya.
"Buat apa punya malu kalau taruhannya lo?" jawab Luna santai. Ia mengambil tisu dan mengusap sedikit bumbu rendang di sudut bibir Arsen dengan jempolnya. Gerakannya sangat pelan dan intim, membuat Arsen kembali membeku.
"Jangan pernah terima apa pun dari dia lagi, Kak. Gue bisa masak—oke, gue bakal belajar masak kalau perlu. Pokoknya lo cuma boleh makan dari tangan gue atau tangan Bunda. Titik," tegas Luna.
Arsen tidak membantah. Ia malah menarik tudung jaket yang dipakai Luna hingga menutupi setengah wajah gadis itu. "Makan tuh cemburu. Buruan masuk kelas, bentar lagi dosen lo dateng."
Luna tertawa kecil dari balik tudung jaketnya. Ia tahu, meskipun Arsen tidak mengatakannya secara gamblang, cowok itu sangat menikmati perhatian "gila"-nya. Dan bagi Araluna, melihat Clarissa kalah telak oleh aroma rendang adalah kemenangan paling manis minggu ini.