NovelToon NovelToon
ISTRI GENDUT MILIK DUKE

ISTRI GENDUT MILIK DUKE

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.

Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.

Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.

Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.

"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."

Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.

Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35. SITUASI BERBALIK

Rumah bangsawan Montclair tak pernah benar-benar sunyi.

Namun sore itu, sunyi yang menyelimuti aula utamanya terasa ganjil, seperti udara yang menahan napas sebelum badai. Tirai-tirai beludru merah tua tergantung kaku, tak ada angin yang berani menggerakkannya. Cahaya matahari senja menembus jendela tinggi, memantulkan kilau pucat pada lantai marmer yang dingin.

Dan di tengah aula itu ...

BRAKK!

Sebuah vas porselen berusia ratusan tahun menghantam dinding dan pecah berkeping-keping.

"Aku tidak terima!"

Suara Countess Montclair melengking, tajam, penuh amarah yang tak lagi berusaha disembunyikan. Gaunnya berantakan, rambutnya yang biasanya tersusun rapi kini terurai sebagian. Napasnya memburu, matanya merah oleh emosi yang mendidih.

"Bagaimana bisa ... bagaimana mungkin-"

Countess membanting bingkai foto perak ke lantai. "LIORA!"

Nama itu keluar dari mulutnya seperti racun.

"Bagaimana bisa gadis itu menjadi kurus dan cantik? Bagaimana bisa?!" seru Countess murka.

Tangannya gemetar ketika ia mencengkeram sandaran kursi. Ingatannya kembali ke aula istana siang tadi, ke rambut merah yang berkilau, ke punggung ramping, ke senyum tenang yang membuat semua bisikan mati di tenggorokan.

Liora seketika menjadi pusat perhatian di sana.

Bukan gadis gemuk yang dulu bisa ia olok.

Bukan anak perempuan yang bisa ia abaikan.

Bukan sosok yang bisa ia tekan dengan tatapan dingin.

Melainkan seorang Duchess.

Cantik. Tenang. Disandingkan dengan Duke Ravens dan dicintai.

"Tidak, tidak seharusnya begitu, seharusnya mau tetap jadi wanita buruk rupa dan diabaikan. Kenapa? Kenapa?! Itu tidak adil. Ini tidak boleh sampai terjadi. Aku tidak akan membiarkannya!" seru Countess, langkahnya terhuyung saat berjalan mondar-mandir.

Countess berhenti mendadak di depan sebuah pintu besar, pintu menuju ruang seni.

Tangannya terangkat ... lalu ragu.

Namun amarah mendorongnya.

Ia membuka pintu itu dengan kasar.

Di dalam, ruangan itu sunyi dan penuh kenangan yang tak pernah benar-benar mati. Lukisan-lukisan bangsawan terdahulu berjajar di dinding. Namun mata Countess langsung tertuju pada satu lukisan di tengah.

Seorang wanita dengan rambut merah lembut, mata hangat, senyum yang tenang.

Elenor Aurelion.

Ibu Liora.

Countess menatap lukisan itu dengan napas tertahan.

"Lihatlah dirimu, bahkan setelah mati pun kau masih menghantuiku," ucap Countess, penuh kebencian yang bercampur sesuatu yang lebih gelap.

Tangan wanita itu mengepal.

Countess teringat bagaimana dulu semua orang memuji kecantikan Elenor. Bagaimana nama wanita itu selalu disebut dengan kekaguman. Bagaimana Count, suaminya, pernah menatap Elenor terlalu lama.

Bagaimana Elenor mengambil alih perhatian bangsawan setelah Countess bersusah payah dulu untuk menduduki sosialita.

Bahkan hingga kini.

Beberapa kali Countess memergoki suaminya berdiri di ruangan ini, menatap lukisan itu dalam diam. Tatapan yang lembut. Tatapan yang tak pernah ia dapatkan.

"Menjijikkan. Kau sudah mati, Elenor. Mati," desis Countess.

Namun kini Liora seperti duri yang baru bagi sang Countess.

Liora yang berdiri anggun di istana, dengan rambut merah yang sama, garis wajah yang mengingatkannya terlalu jelas pada wanita dalam lukisan itu.

Countess merasakan dingin merayap di punggungnya.

"Jika Count melihat Liora seperti itu maka dia akan melembut. Dia akan mengakui anak itu," gumam Countess panik.

Countess menggeleng keras, seolah ingin menyingkirkan pikiran itu.

"Tidak. Tidak boleh. Dan Sera. Putriku sendiri tidak akan mendapatkan apa pun nanti jika anak sialan itu kembali." Countess berbalik, wajahnya berubah keras.

Sera, yang selama ini Countess siapkan untuk menjadi pusat perhatian, untuk bersinar, untuk mengungguli siapa pun. Namun dengan Liora di sana, cantik, bergelar Duchess, dicintai Duke maka Sera akan selalu berada di bayangan.

Tidak akan bisa bersinar.

Countess tertawa pendek, tanpa humor.

"Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu," deklarasi wanita itu.

Langkahnya berhenti. Matanya menyipit.

Pesta dansa minggu depan.

Istana.

Banyak saksi dan mata.

Perlahan, senyum licik terbit di bibir Countess.

"Aku akan menghancurkanmu, Putri Elenor. Di depan semua orang. Sekali lagi," ucapnya.

Gelap sudah pikiran Countess kini.

Ia melihat ke pintu dan berseru, "Pelayan!"

Seorang pelayan masuk dengan gemetar.

"Siapkan kereta. Aku akan pergi. Ada sesuatu yang harus kuambil," perintah Countess dingin.

Sementara itu ...

Di kediaman Duke Ravens, suasana bertolak belakang sepenuhnya.

Sinar matahari menerangi ruang kerja luas yang dipenuhi rak buku dan tumpukan dokumen.

Liora duduk di balik meja, pena di tangannya bergerak lincah. Wajahnya tenang, fokus, seolah dunia luar tak mampu mengusiknya.

Sasa berdiri di dekat pintu, menatap dengan khawatir.

"Nyonya, Anda sudah hampir seharian di sini. Mungkin sebaiknya beristirahat," kata Sasa lembut.

Liora tak mengangkat kepala.

"Sebentar lagi. Aku masih ingin menyelesaikan ini," jawab Liora tenang.

Sasa menghela napas, namun tak membantah.

Ketukan terdengar dari pintu.

"Masuk," ujar Liora.

Seorang pelayan membuka pintu lalu menunduk.

"Nyonya, ada tamu," beritahu pelayan itu.

"Siapa?" tanya Liora.

"Putra Mahkota," jawab sang pelayan.

Liora berhenti menulis. Lalu tersenyum kecil.

"Waktu yang tepat untuk istirahat," kata Liora sambil berdiri, penuh semangat seketika.

Para pelayan saling berpandangan, mereka tahu. Caelum datang bukan sekali dua kali selama Alaric berada di wilayah timur. Dan bukan untuk skandal, melainkan sesuatu yang sudah terjalin sejak lama.

Liora melangkah ke ruang tamu.

"Yang Mulia, Putra Mahkota," sapa Liora formal.

Caelum, dengan pakaian sederhana, jauh dari kemewahan istana, tersenyum lebar.

"Hentikan formalitas itu. Akhirnya.Waktunya bertanding. Kita masih seri, Duchess," kata Caelum.

Liora mengangkat alis.

"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian," pinta Liora.

Liora bergegas menuju ke kamarnya, meminta Sasa untuk membantu berganti pakaian yang biasa ia gunakan ketika Caelum datang ke sini.

Latih tanding.

Di tempat latih tanding kesatria Ravens, Caelum mengobrol santai dengan Colton tentang pertahanan dan kesatria di wilayah timur yang Caelum bentuk sebagai pasukan khusus dari istana.

Sebelum obrolan keduanya terhenti ketika Liora muncul, berpakaian layaknya kesatria, celana cokelat gelap, atasan pas, rambutnya diikat praktis.

Sosok wanita bangsawan seolah hilang dari diri Liora, membuatnya tampak seperti kesatria berpengalaman.

Beberapa kesatria membeku, termasuk Colton.

"Yang Mulia, Duchess, kenapa Anda berpakaian seperti itu?! Jangan bilang kalau lawan latih tanding Yang Mulia Putra Mahkota adalah Anda?!" ujar Colton panik.

"Tentu saja," jawab Liora sambil tersenyum.

"Tidak bisa, Nyonya. Kami tidak izinkan. Akan sangat berbahaya untuk Anda menyentuh pedang. Duke akan memenggal kepala kami jika Nyonya sampai tergores sedikit saja di sini," kata Colton panik.

Begitu pula dengan para kesatria lainnya.

Caelum tertawa.

"Percayalah, Nyonya kalian tidak serapuh kelihatannya. Pedang sudah seperti mainan untuknya," kata Caelum pada para kesatria.

Colton menelan ludah dan bertanya, "Apakah Duke tahu?"

Liora tersenyum kaku. "Belum."

Kepanikan Colton dan para kesatria seketika meningkat.

Caelum dan Liora mengambil posisi, bahkan sebelum para kesatria bereaksi atas keterkejutan mereka.

Namun sebelum pedang bertemu ...

Saat keduanya lari berhadapan ...

"Berhenti!"

Terdengar suara memutus gerakan Liora dan Caelum. Suara itu dingin. Berbahaya.

Liora dan Caelum membeku ketika mereka mengenali suara itu.

Mereka menoleh bersamaan.

Duke Alaric Ravens berdiri di sana. Di pinggir lapangan.

Wajahnya gelap.

Sangat gelap.

Matilah aku, batin mereka semua bersamaan.

1
hanachi_🌷
lalu .. hal besar apa yang sebenarnya diincar oleh kerajaan Varkhiel di wilayah timur kalau bukan pertambangan dan lahan pertanian ?
hanachi_🌷
suasana feodal yang kental banget.
aryuu
liora ini definisi bego di piara 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 udah dewasa cari kerja kek buat kabur rumah neraka itu🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lah sudah tamat...
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
penyihir hitam bawa pesan bahwa mereka datang lagi untuk menghancurkan semua kerjaan dan menciptakan kekuasaan mereka.. tapi yang jadi masalahnya adalah si pahlawan utamanya kayaknya si kecil.Elara yang bisa menghancurkan musuh .
kalau Elara punya kekuatan sihir merah terus Evan kira² punya kekuatan apa.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
si Twins punya kekuatan tersembunyi, dengan adanya kejadian ini mungkin Alaric dan Liora jadi akan lebih bisa mengontrol, melatih mereka biar si Twins bisa ke kontrol untuk mengeluarkan kekuatannya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Di bikin dagdigdug, eh si kecil Elara nyelamatin semua tanpa sadar dan di ketahui yang lain... apa teka teki dari si anak perempuan dulu tentang matahari itu adalah kekuatan si kecil Elara ya.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Istrinya Arram ke mana, kok ga ikut cuma berdua dengan Aaron.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh weh weh jangan bilang Aron yar jadi pasangannya Elara dan Alaric besanan sama Arram dong.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
si kembar Penghidup suasana.👏👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihiii... Gideon jadi paman favorit si Twins, ya meskipun kasihan sering jadi korban keusilan mereka tapi menjadi ciri khas kasih sayang mereka sama Gideon.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Gideon pawang Alaric sampe si Twins juga jadi lebih dekat ke Dia karna Gideon yang di bikin repot dan selalu menuhin saat masa ngidamnya Liora.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Lidahnya di tarik Rowan biar jelas bilang huruf R-nya./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang Twins, ternyata sepasang sesuai ucapan naka kecil perempuan waktu itu.👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Eh si Bodel baru nongol... Perut bibi mu besar karna ada sodaramu di sana.😁
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selalu ada Gideon sebagai pemutus debat Alaric, Liora./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Weh bakal ada anggota baru teman bermainnya Rowan.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sang Bulan dan Matahari sudah hadir kah di perut Liora.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Gass lah langsung saja eksekusi di situ di depan para bangsawan dan lainnya biar para ksatria yang sudah menjadi korban ga sia² mengorbankan nyawanya.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ya ampun baru tau nama ayahnya Liora Count Bernard kayak tokoh film anak² si mata bulat, hidung hitam./Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!