Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. SITUASI BERBALIK
Rumah bangsawan Montclair tak pernah benar-benar sunyi.
Namun sore itu, sunyi yang menyelimuti aula utamanya terasa ganjil, seperti udara yang menahan napas sebelum badai. Tirai-tirai beludru merah tua tergantung kaku, tak ada angin yang berani menggerakkannya. Cahaya matahari senja menembus jendela tinggi, memantulkan kilau pucat pada lantai marmer yang dingin.
Dan di tengah aula itu ...
BRAKK!
Sebuah vas porselen berusia ratusan tahun menghantam dinding dan pecah berkeping-keping.
"Aku tidak terima!"
Suara Countess Montclair melengking, tajam, penuh amarah yang tak lagi berusaha disembunyikan. Gaunnya berantakan, rambutnya yang biasanya tersusun rapi kini terurai sebagian. Napasnya memburu, matanya merah oleh emosi yang mendidih.
"Bagaimana bisa ... bagaimana mungkin-"
Countess membanting bingkai foto perak ke lantai. "LIORA!"
Nama itu keluar dari mulutnya seperti racun.
"Bagaimana bisa gadis itu menjadi kurus dan cantik? Bagaimana bisa?!" seru Countess murka.
Tangannya gemetar ketika ia mencengkeram sandaran kursi. Ingatannya kembali ke aula istana siang tadi, ke rambut merah yang berkilau, ke punggung ramping, ke senyum tenang yang membuat semua bisikan mati di tenggorokan.
Liora seketika menjadi pusat perhatian di sana.
Bukan gadis gemuk yang dulu bisa ia olok.
Bukan anak perempuan yang bisa ia abaikan.
Bukan sosok yang bisa ia tekan dengan tatapan dingin.
Melainkan seorang Duchess.
Cantik. Tenang. Disandingkan dengan Duke Ravens dan dicintai.
"Tidak, tidak seharusnya begitu, seharusnya mau tetap jadi wanita buruk rupa dan diabaikan. Kenapa? Kenapa?!" ujar Countess, langkahnya terhuyung saat berjalan mondar-mandir. "Itu tidak adil. Ini tidak boleh sampai terjadi. Aku tidak akan membiarkannya."
Countess berhenti mendadak di depan sebuah pintu besar, pintu menuju ruang seni.
Tangannya terangkat ... lalu ragu.
Namun amarah mendorongnya.
Ia membuka pintu itu dengan kasar.
Di dalam, ruangan itu sunyi dan penuh kenangan yang tak pernah benar-benar mati. Lukisan-lukisan bangsawan terdahulu berjajar di dinding. Namun mata Countess langsung tertuju pada satu lukisan di tengah.
Seorang wanita dengan rambut merah lembut, mata hangat, senyum yang tenang.
Elenor Aurelion.
Ibu Liora.
Countess menatap lukisan itu dengan napas tertahan.
"Lihatlah dirimu," ucap Countess, penuh kebencian yang bercampur sesuatu yang lebih gelap. "Bahkan setelah mati pun kau masih menghantuiku."
Tangan wanita itu mengepal.
Countess teringat bagaimana dulu semua orang memuji kecantikan Elenor. Bagaimana nama wanita itu selalu disebut dengan kekaguman. Bagaimana Count, suaminya, pernah menatap Elenor terlalu lama.
Bagaimana Elenor mengambil alih perhatian bangsawan setelah Countess bersusah payah dulu untuk menduduki sosialita.
Bahkan hingga kini.
Beberapa kali Countess memergoki suaminya berdiri di ruangan ini, menatap lukisan itu dalam diam. Tatapan yang lembut. Tatapan yang tak pernah ia dapatkan.
"Menjijikkan," desis Countess. "Kau sudah mati, Elenor. Mati."
Namun kini ... Liora.
Liora yang berdiri anggun di istana, dengan rambut merah yang sama, garis wajah yang mengingatkannya terlalu jelas pada wanita dalam lukisan itu.
Countess merasakan dingin merayap di punggungnya.
"Jika Count melihatnya ...," gumam Countess panik. "Jika dia melihat Liora seperti itu ... dia akan melembut. Dia akan-"
Countess menggeleng keras, seolah ingin menyingkirkan pikiran itu.
"Tidak. Tidak boleh." Ia berbalik, wajahnya berubah keras. "Dan Sera. Putriku sendiri tidak akan mendapatkan apa pun nanti."
Sera, yang selama ini Countess siapkan untuk menjadi pusat perhatian, untuk bersinar, untuk mengungguli siapa pun. Namun dengan Liora di sana, cantik, bergelar Duchess, dicintai Duke maka Sera akan selalu berada di bayangan.
Tidak akan bisa bersinar.
Countess tertawa pendek, tanpa humor.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu," deklarasi wanita itu.
Langkahnya berhenti. Matanya menyipit.
Pesta dansa minggu depan.
Istana.
Banyak saksi.
Banyak mata.
Perlahan, senyum licik terbit di bibir Countess.
"Aku akan menghancurkanmu, Putri Elenor. Di depan semua orang. Sekali lagi," ucapnya.
Gelap sudah pikiran Countess kini.
Ia melihat ke pintu dan berseru, "Pelayan!"
Seorang pelayan masuk dengan gemetar.
"Siapkan kereta," perintah Countess dingin. "Aku akan pergi. Ada sesuatu yang harus kuambil."
Sementara itu ...
Di kediaman Duke Ravens, suasana bertolak belakang sepenuhnya.
Sinar matahari menerangi ruang kerja luas yang dipenuhi rak buku dan tumpukan dokumen.
Liora duduk di balik meja, pena di tangannya bergerak lincah. Wajahnya tenang, fokus, seolah dunia luar tak mampu mengusiknya.
Sasa berdiri di dekat pintu, menatap dengan khawatir.
"Nyonya," kata Sasa lembut, "Anda sudah hampir seharian di sini. Mungkin sebaiknya beristirahat."
Liora tak mengangkat kepala.
"Sebentar lagi," jawab Liora tenang. "Aku masih ingin menyelesaikan ini."
Sasa menghela napas, namun tak membantah.
Ketukan terdengar dari pintu.
"Masuk," ujar Liora.
Seorang pelayan membuka pintu lalu menunduk.
"Nyonya, ada tamu," beritahu pelayan itu.
"Siapa?" tanya Liora.
"Putra Mahkota," jawab sang pelayan.
Liora berhenti menulis. Lalu tersenyum kecil.
"Waktu yang tepat untuk istirahat," kata Liora sambil berdiri, penuh semangat seketika.
Para pelayan saling berpandangan, mereka tahu. Caelum datang bukan sekali dua kali selama Alaric berada di wilayah timur. Dan bukan untuk skandal, melainkan sesuatu yang sudah terjalin sejak lama.
Liora melangkah ke ruang tamu.
"Yang Mulia, Putra Mahkota," sapa Liora formal.
Caelum, dengan pakaian sederhana, jauh dari kemewahan istana, tersenyum lebar.
"Hentikan formalitas itu. Akhirnya.Waktunya bertanding. Kita masih seri, Duchess," kata Caelum.
Liora mengangkat alis.
"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian," pinta Liora.
Liora bergegas menuju ke kamarnya, meminta Sasa untuk membantu berganti pakaian yang biasa ia gunakan ketika Caelum datang ke sini.
Latih tanding.
Di tempat latih tanding kesatria Ravens, Caelum mengobrol santai dengan Colton tentang pertahanan dan kesatria di wilayah timur yang Caelum bentuk sebagai pasukan khusus dari istana.
Sebelum obrolan keduanya terhenti ketika Liora muncul, berpakaian layaknya kesatria, celana cokelat gelap, atasan pas, rambutnya diikat praktis.
Sosok wanita bangsawan seolah hilang dari diri Liora, membuatnya tampak seperti kesatria berpengalaman.
Beberapa kesatria membeku, termasuk Colton.
"Yang Mulia, Duchess," desis Colton panik, "Kenapa Anda berpakaian seperti itu?! Jangan bilang kalau lawan latih tanding Yang Mulia Putra Mahkota adalah Anda?!"
"Tentu saja," jawab Liora sambil tersenyum.
"Tidak bisa, Nyonya. Kami tidak izinkan. Akan sangat berbahaya untuk Anda menyentuh pedang. Duke akan memenggal kepala kami jika Nyonya sampai tergores sedikit saja di sini," kata Colton panik.
Begitu pula dengan para kesatria lainnya.
Caelum tertawa.
"Percayalah," kata Caelum pada para kesatria, "Nyonya kalian tidak serapuh kelihatannya. Pedang sudah seperti mainan untuknya."
Colton menelan ludah dan bertanya, "Apakah Duke tahu?"
Liora tersenyum kaku. "Belum."
Kepanikan Colton dan para kesatria seketika meningkat.
Caelum dan Liora mengambil posisi, bahkan sebelum para kesatria bereaksi atas keterkejutan mereka.
Namun sebelum pedang bertemu ...
Saat keduanya lari berhadapan ...
"Berhenti!"
Terdengar suara memutus gerakan Liora dan Caelum. Suara itu dingin. Berbahaya.
Liora dan Caelum membeku ketika mereka mengenali suara itu.
Mereka menoleh bersamaan.
Duke Alaric Ravens berdiri di sana. Di pinggir lapangan.
Wajahnya gelap.
Sangat gelap.
Matilah aku, batin mereka semua bersamaan.
tapi nanti ada cerita lanjutan anak-anak ya 🙏🙏🙏🫰🫰👍👍
happy ending 👏👍
terimakasih thor 🙏, selalu sukses dgn karya-karyanya di novel dan tunggu cerita para bocil cadel juga Rowan 😍
𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐫𝐬𝐛𝐭 𝐛𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 😁😁