Kisah Pencinta Yang Asing
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tegar Ditengah Badai
Sudah tujuh hari New York tidak memberikan privasi bagi Guzzel. Paparazzi berkemah di depan gerbang rumahnya di Upper East Side, dan setiap kali ia melangkah keluar untuk pergi ke kampus, puluhan kamera menyambar wajahnya dengan kilatan yang membutakan.
"Guzzel! Siapa ayah bayinya?!"
"Apakah benar ini anak hasil hubungan gelap?"
"Guzzel, berikan komentar!"
Guzzel tidak lagi memakai kacamata hitam untuk bersembunyi. Dia berjalan dengan dagu terangkat. Dia mengenakan gaun yang sengaja memperlihatkan lekuk perutnya yang mulai sedikit menonjol, seolah menantang dunia. Dia tidak membela diri, karena baginya, keajaiban di dalam rahimnya bukan sebuah aib yang harus dijelaskan kepada orang asing.
Di rumah, suasana yang ia takutkan justru tidak terjadi. Ayah Guzzel, Mr. Dante, hanya memeluknya erat saat berita itu pertama kali pecah. Tidak ada interogasi, tidak ada bentakan.
"Dunia boleh menghakimi, tapi di rumah ini, kau adalah putriku, dan anak itu adalah cucuku," ujar Mr. Dante dengan suara bariton yang menenangkan. Ibunya pun hanya terus menggenggam tangannya, menguatkan Guzzel tanpa perlu bertanya siapa pria yang telah meninggalkannya.
Mereka tahu Guzzel hancur, dan mereka memilih menjadi tembok yang melindunginya dari serangan luar.
Di sisi lain kota, di kantor megah Vance Corp, atmosfer terasa sangat mencekam. Mr. Vance sedang tertawa puas sambil menyesap cerutu, menatap berita tentang hancurnya reputasi keluarga Dante di televisi.
"Kau lihat, Max? Tanpa perlu aku mengotori tangan, gadis itu sudah menghancurkan dirinya sendiri," ujar Mr. Vance meremehkan. "Sekarang, lupakan dia. Fokus pada akuisisi perusahaan properti mereka yang sedang anjlok."
Max berdiri di depan jendela besar, membelakangi ayahnya.
Tangannya mengepal hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Setiap kata hinaan ayahnya tentang Guzzel terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya.
"Kau yang melakukan ini, Ayah," suara Max rendah, namun penuh dengan getaran kemarahan yang luar biasa.
"Apa maksudmu? Aku hanya memberimu 'arahan'," jawab Mr. Vance enteng.
Max berbalik dengan sangat cepat. Matanya merah, bukan karena lelah, tapi karena api amarah yang sudah tidak bisa lagi ia bendung. Dia membanting vas kristal di atas meja ayahnya hingga hancur berkeping-keping.
"Hentikan omong kosong ini! Kau menggunakan ibuku untuk mengancamku! Kau menghancurkan wanita yang aku cintai! Dan sekarang kau menertawakan penderitaannya?!" Max mendekat, menumpukan kedua tangannya di meja kerja ayahnya, menatap pria tua itu dengan kebencian yang murni.
"Kau ingin aku menjadi sepertimu? Pria tanpa hati yang hanya peduli pada saham?" Max tertawa pahit, air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Aku bersumpah, Ayah... Aku bersumpah demi nyawa anak yang ada di rahim Guzzel, aku akan menghancurkanmu. Aku akan mengambil semua yang kau miliki. perusahaan ini, hartamu, reputasimu dan aku akan membiarkanmu membusuk dalam kesunyian. Kau pikir kau punya kendali atas aku? Mulai detik ini, aku tidak lagi peduli pada ancamanmu."
Mr. Vance tertegun melihat ledakan emosi putranya. "Kau akan membiarkan ibumu menderita?"
"Ibuku sudah menderita selama bertahun-tahun hidup dengan monster sepertimu!" teriak Max. "Aku sudah memindahkan Ibu ke tempat yang tidak akan pernah bisa kau temukan, satu jam yang lalu. Danesh sudah membantuku. Sekarang, kau tidak punya apa-apa lagi untuk mengancamku."
Max keluar dari ruangan itu dengan bantingan pintu yang keras. Di dalam hatinya, ia sudah membulatkan tekad. Dia tidak akan memohon maaf lagi pada Guzzel dengan kata-kata, dia akan memohon maaf dengan tindakan. Dia akan menjadi tameng yang menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh Guzzel, termasuk ayahnya sendiri.
Malam itu, Guzzel baru saja turun dari mobilnya di depan gerbang kampus untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Paparazzi langsung menyerbu, mendorong-dorong barikade keamanan.
"Guzzel! Katakan yang sebenarnya!" seseorang berteriak sambil mencoba menyodorkan mikrofon ke wajah Guzzel.
Guzzel terhuyung, hampir jatuh karena dorongan kerumunan itu. Namun, sebelum ia menyentuh tanah, sebuah lengan kokoh menangkap pinggangnya.
Bukan pengawal pribadinya, melainkan Maximilien Vance.
Max berdiri di depan Guzzel, memunggungi para wartawan, menjadikannya perisai hidup. Dia menatap Guzzel dengan pandangan yang sangat lembut, sebuah pandangan yang meminta ampunan tanpa kata-kata.
"Jangan takut," bisik Max pelan, tepat di telinga Guzzel.
Max kemudian berbalik menghadap kamera-kamera yang terus memotret. Dia menarik Guzzel ke dalam dekapannya, dengan protektif melindungi perut Guzzel dengan telapak tangannya yang besar.
"Kalian ingin tahu siapa ayahnya?!" Max berteriak, suaranya membungkam kebisingan di sana. "Akulah ayahnya. Maximilien Vance. Dan siapa pun di antara kalian yang berani menulis satu kata lagi yang menghina ibu dari anakku, aku pastikan kalian akan kehilangan pekerjaan besok pagi!"
Guzzel tertegun di dalam pelukan Max. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin mendorong Max, tapi kehangatan tangan Max di perutnya membuatnya merasa terlindungi untuk pertama kalinya sejak mereka saling meninggalkan.
Namun, Guzzel tidak tahu, ini awal dari perang yang sesungguhnya antara Max, ayahnya, dan rahasia-rahasia yang belum terungkap sepenuhnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading 🥰