Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Di Pagi Pertama Aku Melihat Qi.
Matahari pagi menyelinap melalui celah-celah jendela kayu, menari-nari dalam pola cahaya yang hangat di lantai.
Aku, Shen Yu, sudah bisa mengangkat kepala sendiri sekarang, pencapaian yang cukup membanggakan untuk bayi yang menginjak usia tiga bulan.
Tapi tentu saja, di balik penampilan bayi yang polos ini, pikiran Ma’Ling Sheng yang berusia delapan belas tahun sedang mengamati segala sesuatu dengan mata yang jauh lebih tajam.
Hari ini Ibu membawaku ke taman kecil di belakang rumah kami.
Udara pagi terasa segar, dan aroma bunga-bunga liar memenuhi hidungku yang mungil.
Ibu duduk di bangku kayu, mendekapku erat di pangkuannya.
Wajahnya lembut, tapi matanya memancarkan sesuatu yang lain, konsentrasi mendalam.
“Ini adalah Qi, Nak,” bisik Ibu, suaranya lembut seperti angin sepoi-sepoi. “Napas alam semesta.”
Tangannya yang ramping terulur di depanku, telapak tangan terbuka ke atas.
Aku mengerutkan kening atau semampu bayi mengerutkan keningnya. Lalu, sesuatu mulai terjadi.
Dari kehampaan, partikel-partikel cahaya keemasan muncul, berkumpul seperti debu yang diterangi matahari.
Tapi ini bukan debu.
Ini hidup.
Masing-masing berdenyut dengan ritme sendiri, berkilauan dengan warna-warna pelangi yang samar.
Aku bisa melihatnya, tidak hanya dengan mata bayi ini, tapi dengan mata spiritual yang sudah mulai terbangun sejak Ibu menanamkan “biji cahaya” di dahiku.
Qi. Jadi ini yang kulihat saat Ibu bermeditasi.
Insting bayi mengambil alih. Tanganku yang mungil, masih belum sempurna mengoordinasi gerakan, terulur mencoba menyentuh cahaya-cahaya itu. Jari-jemariku yang gemuk meraih ke udara.
Dan sesuatu yang luar biasa terjadi.
Partikel-partikel Qi itu merespons. Mereka bergerak mendekat, mengelilingi jari-jariku seperti ikan kecil yang penasaran.
Aku bisa merasakannya, kehangatan yang lembut, gelitikan energi, seperti aliran listrik lembut yang menyenangkan.
Ibu tersenyum. Bukan senyuman biasa, tapi senyuman yang penuh kebanggaan dan sesuatu yang lain, kekhawatiran?
“Kau memang anak spesial, Shen Yu,” gumamnya, jarinya membelai pipiku dengan lembut.
Aku mengoceh tak jelas, mencoba berkata sesuatu. Tapi yang keluar hanyalah “Ah … goo …” Sial. Pikiran dewasa, tubuh bayi. Kombinasi yang menyebalkan.
Tapi dalam diam, aku mulai memahami.
Dunia ini bernapas dengan energi. Qi ada di mana-mana, di udara, di tanah, di tumbuhan, bahkan dalam diriku sendiri. Dan dengan mata spiritual ini, aku bisa melihatnya.
Ini seperti memiliki cheat code.
Di kehidupan sebelumnya aku hanya bisa menilai kecantikan fisik. Sekarang aku bisa melihat esensi energi seseorang.
Upgrade yang cukup signifikan.
Ibu menggerakkan tangannya, dan partikel-partikel Qi itu membentuk pola spiral, berputar perlahan di udara.
“Qi bisa diarahkan,” katanya, seolah mengajariku meski tahu aku mungkin tidak mengerti. “Bisa dibentuk. Tapi yang terpenting, Qi harus dihormati. Dia adalah hidup itu sendiri.”
Aku memperhatikan dengan seksama. Pola spiral itu tidak acak, ada struktur di dalamnya, aliran yang mengikuti hukum tertentu.
Dengan mata spiritualku, aku bisa melihat bagaimana Qi mengalir dari telapak tangan Ibu, membentuk pola, lalu kembali menyatu dengan alam.
Dia tidak hanya menunjukkan. Dia sedang mengajariku.
Aku sadar.
Dia tahu aku mengerti.
Orang gila mana yang mengajarkan kultivasi kepada anaknya yang berusia tiga bulan?
Aku memiliki ibu yang sedikit gila.
Kurasa.
Tiba-tiba, seekor kupu-kupu hinggap di bahu Ibu. Dengan mata biasa, kupu-kupu itu berwarna biru dan hitam.
Tapi dengan mata spiritualku, aku melihat aura lembut yang memancar darinya, cahaya biru pucat yang berdenyut seirama dengan kepakan sayapnya.