Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa dalam lubang?
Brak!
Zoran melihat sebuah lubang, cukup besar untuk tubuhnya, menganga di hadapannya. Tanpa sempat berpikir panjang, tanpa ragu sedikit pun, ia langsung melompat masuk.
Tubuhnya terjatuh bebas.
Di luar lubang, Beruang Lumut Tulang Hijau meraung penuh amarah. Tangannya yang besar menghantam tanah berkali-kali, sesekali disertai hentakan kaki raksasa, berusaha memperlebar lubang agar bisa mengejarnya masuk.
Tanah bergetar hebat.
Zoran menoleh ke atas dan merasakan bulu kuduknya berdiri. “Dasar beruang sialan” umpatnya pelan. Ia segera mundur lebih dalam.
Namun tiba-tiba, Punggungnya membentur sesuatu.
Bukan dinding tanah.
Bukan pula batu.
Sentuhannya terasa kasar, seperti kayu lapuk, tapi anehnya masih kokoh dan utuh.
Zoran terdiam sejenak. “Kenapa… ada pintu di sini?” batinnya terkejut.
Brak!
Bruk!
Brak!
Hantaman Beruang Lumut Tulang Hijau semakin brutal. Tanah di dalam lubang mulai runtuh, berjatuhan seperti hujan salju dari atas kepala Zoran.
Tidak ada waktu lagi untuk ragu.
Zoran mengumpulkan seluruh tenaganya lalu mendobrak pintu itu sekuat tenaga.
Brak!!
Pintu kayu itu akhirnya terbuka dengan keras.
Di baliknya terbentang ruangan gelap, sunyi, dan terasa dingin, jauh lebih dingin dari salju di luar.
Tanpa menoleh lagi, Zoran langsung masuk ke dalam ruangan itu. Ia tahu betul, di bawah serangan binatang spiritual tingkat jiwa, lubang ini tidak akan bertahan lama. Jika ia tetap di luar, nasibnya hanya satu, dihancurkan menjadi daging geprek di tangan beruang itu.
Lebih baik mengambil risiko masuk ke tempat yang tidak diketahui, daripada mati pasti di luar.
\*\*\*
Begitu Zoran melangkah masuk, cahaya lembut tiba-tiba menyinari sekelilingnya.
Zoran yang masih merangkak refleks mengangkat kepala, dan seketika tubuhnya membeku.
Di hadapannya terbentang hamparan rumput hijau yang luas, sejauh mata memandang. Angin berhembus pelan, membawa aroma segar yang menenangkan. Di kejauhan, tampak rumah-rumah kecil tersusun rapi, menyerupai sebuah desa yang tenang dan damai.
Yang paling membuatnya terpaku adalah satu hal, Tempat ini sama sekali tidak masuk akal.
Ruang di balik pintu kayu lapuk yang tadi sempit dan gelap, kini berubah menjadi lingkungan luas yang asri, terang, dan hidup, seolah ia telah berpindah ke dunia lain dalam satu langkah.
Zoran terdiam cukup lama, mencoba mencerna apa yang dilihatnya. Ia perlahan berdiri, jantungnya berdetak tidak teratur, lalu menoleh ke belakang, ke arah tempat ia seharusnya masuk.
Namun… pintu itu sudah tidak ada.
Hanya hamparan rumput yang tenang.
“Apa… aku sudah mati?” gumam Zoran pelan. “Ini… surga?”
Pikirannya dipenuhi kebingungan.
Bagaimana mungkin sebuah lingkungan sebesar ini tersembunyi di balik pintu kayu rapuh? Jika ini bukan surga… lalu apa tempat ini?
Tiba-tiba,
Sebuah tangan menepuk bahunya.
Sentuhan itu terasa halus dan lembut, hangat namun tidak panas, dan entah kenapa membuat hati Zoran langsung terasa tenang, seolah semua ketegangan dan ketakutannya perlahan diredam.
Zoran tersentak dan segera berbalik.
Di hadapannya berdiri seorang gadis, seumuran dengannya.
Parasnya cantik dan manis, dengan kulit putih sebersih salju. Rambut cokelat panjangnya mengalir lembut hingga ke punggung, berkilau diterpa cahaya, seolah air yang tenang di bawah matahari. Mata birunya jernih dan dalam, lehernya jenjang, dan setiap garis wajahnya terasa begitu… sempurna.
Zoran tercekat. Ia yakin, pria mana pun pasti akan kehilangan akal jika menatap gadis ini terlalu lama. Bahkan, bukan tidak mungkin kecantikan gadis ini saja cukup untuk memicu perang.
“Halo, tuan,” sapa gadis itu dengan nada lembut, disertai senyum hangat yang terasa... Sangat menenangkan.
Zoran yang sejak tadi terpaku akhirnya tersentak. “H-halo,” balasnya. Suaranya terdengar agak aneh, bahkan di telinganya sendiri.
Gadis itu menatapnya dengan penuh perhatian.
“Apa tuan sedang tersesat?” tanyanya. “Atau ingin menuju suatu tempat, tapi tidak tahu jalan?”
Zoran mengangguk pelan. “Benar, nona. Aku memang tersesat,” jawabnya jujur. “Dan… aku juga tidak tahu di mana tempat ini.”
“Kalau boleh tahu,” lanjut gadis itu, sedikit memiringkan kepala, “tujuan tuan sebenarnya ke mana?”
Zoran terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada setenang mungkin. “Aku diminta guruku untuk berkelana,” katanya. “Selama beberapa bulan ini aku mengembara… hanya saja, aku tidak sengaja tersesat dan berakhir di sini.”
Tentu saja ia tidak mungkin berkata bahwa dirinya dikejar beruang raksasa, jatuh ke lubang, lalu menembus pintu kayu lapuk dan tiba di dunia aneh ini.
Itu terlalu tidak masuk akal, bahkan untuk dirinya sendiri.
Gadis itu mengangguk pelan, seolah menerima jawabannya tanpa sedikit pun keraguan. “Begitu ya” Lalu, dengan nada ringan, ia berkata, “Kalau begitu, apa tuan mau singgah ke tempatku dulu? Setidaknya untuk beristirahat.”
Zoran terkejut.
Ajakan itu datang terlalu mudah.
Mereka baru bertemu beberapa menit. Gadis ini belum tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, atau orang seperti apa dia. Namun tetap saja, ia mengajaknya singgah dengan wajah setenang itu.
Apa dia tidak takut?
Bagaimana kalau aku orang jahat?
Pikiran-pikiran itu berputar di kepala Zoran. Ia bahkan sempat berpikir, bukankah justru orang-orang jahat sering tertarik pada gadis secantik ini?
Namun tidak ada kecurigaan di mata gadis itu. Tidak ada kewaspadaan. Hanya ketulusan yang membuat Zoran semakin bingung.
Meski begitu, Zoran akhirnya berkata, “Bolehkah aku, nona?” suaranya sedikit ragu. “Apa tidak merepotkanmu?”
Saat ini, yang terpenting baginya adalah memahami di mana dirinya berada, sebelum mencoba mencari jalan keluar. Dan satu-satunya petunjuk yang ia miliki… adalah gadis di hadapannya.
Mengikuti gadis itu, untuk sekarang, adalah pilihan paling masuk akal.
Gadis itu tertawa pelan. Tawanya ringan, namun entah kenapa terasa mampu melembutkan hati siapa pun yang mendengarnya.
“Tentu saja boleh, tuan,” katanya sambil tersenyum hangat.
“Mari, ikut aku.”
Zoran mengangguk dan mengikutinya dengan patuh.
Tak lama kemudian, mereka tiba di desa yang sebelumnya Zoran lihat dari kejauhan. Dari dekat, desa itu terlihat sederhana, rumah-rumah kecil tersusun rapi, jalan tanah bersih, dan udara terasa segar. Meski tidak mewah, semuanya tampak tertata dan terawat.
Yang membuat Zoran semakin terkejut adalah penduduknya.
Orang-orang desa menatapnya dengan rasa ingin tahu, namun tanpa kecurigaan. Beberapa bahkan tersenyum ramah padanya, seolah menerima kehadirannya meskipun ia jelas orang asing.
Tak lama, mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil yang sederhana namun bersih.
“Inilah rumahku,” ujar gadis itu ringan. “Mari masuk dulu, tuan.”
Zoran terdiam.
Bagaimanapun juga, masuk ke rumah seorang gadis, yang baru saja ia temui, terasa tidak pantas baginya. Terlebih rumah itu tampak sepi. Ia tak bisa menahan diri untuk berpikir, apa kata tetangga kalau melihat seorang pria asing masuk ke rumah gadis ini?
“Aku… di luar saja, nona,” ucap Zoran akhirnya, menolak dengan sopan.
Gadis itu berhenti melangkah, lalu berbalik menatapnya. “Tidak enak rasanya menjamu tamu di luar,” katanya lembut. “Ayo masuk saja, tuan.”
Zoran menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, nona. Aku masih merasa agak panas,” jawabnya beralasan. “Aku ingin menganginkan tubuh sebentar di sini.”
Gadis itu menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk. “Baiklah kalau begitu,” ucapnya. “Silakan duduk dulu, tuan. Aku akan menyiapkan minuman untukmu.” Ia pun masuk ke dalam rumah.
Zoran duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah. Ia mengambil sehelai daun yang ditemukannya di perjalanan, lalu mengipasi tubuhnya perlahan.
Sambil itu, matanya mengamati desa di sekelilingnya
Tidak lama kemudian, gadis itu keluar membawa sebuah nampan kecil berisi minuman hangat dan beberapa makanan ringan.
“Silakan diminum, tuan,” ucapnya lembut sambil meletakkannya di atas meja kecil.
Zoran mengangguk sambil tersenyum tipis. “Terima kasih, nona.” Ia tidak sungkan.
Tanpa ragu, Zoran mengambil cangkir itu dan meneguk isinya perlahan. Rasanya sederhana, tidak istimewa, tidak mewah, namun justru terasa menenangkan. Makanan ringan di sampingnya pun demikian. Tidak ada rasa aneh, tidak ada aroma mencurigakan.
Jarang sekali ada orang yang sebaik ini pada orang asing, kalaupun ada, biasanya mereka punya niat tertentu.
Namun gadis di depannya tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu.
“Apa kamu tinggal sendiri, nona?” tanya Zoran akhirnya, memecah keheningan.
Gadis itu menggeleng pelan. “Tidak, tuan. Aku tinggal bersama ayah dan ibuku.”
Zoran mengangkat alisnya sedikit. “Lalu di mana mereka sekarang? Apa mereka tidak keberatan aku datang ke sini?”
Gadis itu terkekeh ringan, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak perlu. “Tentu saja tidak, tuan. Mereka sedang di kebun,” jawabnya santai. “Biasanya mereka baru kembali menjelang sore.”
Melihat sikap percaya diri gadis itu, Zoran hanya terdiam. Kalaupun nanti orang tuanya menyuruhnya pergi, ia tidak keberatan. Ia juga sudah terbiasa diusir dari berbagai tempat. Dimarahi pun bukan hal baru baginya.
Sore hari pun tiba.
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah jalan desa. Seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya muncul, keduanya mengenakan pakaian berkebun dengan caping di kepala. Di punggung mereka tergantung bakul berisi sayur-sayuran segar.
Saat melihat Zoran duduk di depan rumah bersama putri mereka, langkah keduanya melambat.
Pria itu menatap Zoran sejenak, lalu beralih ke gadis itu. “Siapa dia, Ruian?”