NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Tahta yang Terluka

Kembali ke mansion Valerius setelah peristiwa di Dermaga 7 terasa seperti memasuki sebuah benteng yang sedang terkepung. Meskipun musuh besar seperti Marco telah dilumpuhkan, atmosfir di dalam rumah mewah itu tidak lantas menjadi tenang. Ada keheningan yang mencekam, tipe keheningan yang biasanya mendahului badai yang lebih besar. Penjagaan digandakan; pria-pria dengan senjata otomatis kini berdiri di setiap sudut taman, dan pemeriksaan keamanan dilakukan setiap jam.

​Dante dipindahkan kembali ke mansion atas permintaannya sendiri. Ia menolak berlama-lama di rumah sakit, merasa bahwa tembok rumah sakit hanya akan membuatnya menjadi target yang lebih mudah. Kini, kamar utamanya telah disulap menjadi unit perawatan intensif pribadi.

​Pagi itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar kamar Dante tampak pucat. Dante duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya masih sangat kental dengan sisa-sisa kepucatan maut, namun matanya—mata elang yang ditakuti itu—telah kembali tajam. Ia mengenakan kemeja katun hitam yang sengaja tidak dikancingkan agar tidak menekan perban tebal yang melilit punggung dan perutnya.

​Aruna masuk ke kamar sambil membawa baki berisi air hangat dan handuk kecil. Ia berhenti sejenak, melihat Dante yang sedang memaksakan diri untuk meninjau beberapa dokumen di tabletnya.

​"Dokter bilang kau harus istirahat total, Dante. Tablet itu bisa menunggu," tegur Aruna dengan nada yang lebih tegas dari biasanya.

​Dante mendongak, garis-garis kelelahan terlihat jelas di sekitar matanya. Namun, saat melihat Aruna, ketajaman matanya sedikit melunak. "Dunia tidak berhenti berputar hanya karena aku tertembak, Janda. Bianca melaporkan ada pergerakan mencurigakan di gudang logistik kita. Aku harus memastikan tidak ada yang mencoba mencuri saat pemimpin mereka sedang terkapar."

​Aruna meletakkan bakinya di nakas dan tanpa permisi mengambil tablet itu dari tangan Dante. "Kepemimpinanmu tidak akan ada gunanya jika kau mati karena pendarahan dalam. Sekarang, diamlah. Aku harus mengganti perbanmu."

​Dante mendengus, namun ia tidak melawan. Ada kepatuhan aneh yang ia tunjukkan hanya kepada Aruna. Baginya, Aruna adalah satu-satunya orang yang tidak melihatnya sebagai "Bos" atau "Monster", melainkan sebagai pria yang terluka.

​Saat Aruna mulai membuka kancing kemeja Dante dengan jemari yang terampil, keheningan yang intim menyelimuti mereka. Dante memperhatikan wajah Aruna dari jarak dekat—kerutan halus di dahinya saat ia berkonsentrasi, dan helai rambut yang jatuh menutupi matanya. Secara refleks, Dante mengangkat tangannya yang masih kaku untuk menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Aruna.

​Sentuhan itu membuat Aruna terhenti. Matanya bertemu dengan mata Dante. Ada percikan emosi yang tak terucapkan di sana—rasa terima kasih, rasa bersalah, dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang mulai tumbuh di antara mereka.

​"Kenapa kau masih di sini, Aruna?" tanya Dante lirih, suaranya parau. "Bumi sudah selamat. Marco sudah kalah. Aku bisa memberimu paspor baru, identitas baru, dan uang yang cukup untuk tujuh turunan agar kau bisa pergi sejauh mungkin dari kegelapan ini."

​Aruna menunduk, fokus kembali pada perban di perut Dante. "Dulu, aku ingin pergi. Setiap detik bersamamu terasa seperti berjalan di atas bara api. Tapi setelah Dermaga 7... setelah kau berdiri di depan peluru untuk anakku..." Aruna menjeda kalimatnya, suaranya sedikit bergetar. "Aku menyadari bahwa pergi darimu bukan berarti aku akan aman. Pergi darimu berarti aku meninggalkan satu-satunya orang yang benar-benar peduli pada nyawa kami lebih dari nyawanya sendiri."

​Dante terdiam. Kata-kata itu menghujamnya lebih dalam daripada peluru Marco. Ia meraih tangan Aruna yang sedang memegang perban, menggenggamnya erat. "Ini bukan kehidupan yang indah, Aruna. Kau akan selalu dibayangi oleh musuh-musuhku. Kau akan hidup dalam sangkar emas ini."

​"Lebih baik di dalam sangkar bersamamu, daripada bebas di luar sana namun selalu merasa takut akan bayang-bayang," balas Aruna mantap.

​Percakapan mereka terputus oleh ketukan keras di pintu. Enzo masuk dengan wajah yang sangat tegang. Ia melirik Aruna sejenak, memberikan kode bahwa ada sesuatu yang sangat penting dan bersifat rahasia.

​"Bicaralah, Enzo. Aruna tidak perlu pergi," perintah Dante.

​Enzo ragu sejenak sebelum berbicara. "Tuan, intelijen kami menemukan bahwa Bianca telah melakukan pertemuan rahasia dengan beberapa sisa pengikut Marco di sebuah bar di pinggiran kota. Dia tidak hanya ingin mengambil alih posisi Anda; sepertinya dia berencana menyerahkan lokasi mansion ini kepada pihak lawan untuk menciptakan kekacauan total."

​Rahang Dante mengeras. Amarah yang dingin mulai terpancar dari tubuhnya. "Jadi, anjing penjagaku benar-benar sudah mulai menggigit tuannya sendiri."

​"Dia merasa keberadaan Nyonya Aruna melemahkan Anda, Tuan. Dia menghasut beberapa petinggi organisasi dengan mengatakan bahwa sang Vulture telah kehilangan taringnya karena seorang janda," tambah Enzo.

​"Panggil dia ke sini," ucap Dante pendek. Suaranya terdengar seperti vonis mati.

​"Dante, tunggu," sela Aruna. "Jika kau menyerangnya sekarang di saat kondisimu seperti ini, itu hanya akan memicu pemberontakan lebih besar. Dia punya pengikut di dalam mansion ini."

​Dante menatap Aruna. "Lalu apa maumu? Membiarkannya membukakan pintu untuk musuh?"

​"Gunakan strategi," Aruna teringat bagaimana ia sering menghadapi penagih hutang yang licik di masa lalunya. "Biarkan dia merasa dia menang. Berikan dia informasi palsu. Jika dia benar-benar berkhianat, dia akan menjebak dirinya sendiri."

​Dante menatap Aruna dengan rasa kagum yang tumbuh. Wanita ini tidak hanya memiliki hati yang besar, tapi juga insting bertahan hidup yang tajam. Ia menoleh ke arah Enzo. "Kau dengar dia? Siapkan 'umpan' itu. Kita akan mengadakan pertemuan dewan besok malam. Aku ingin melihat sejauh mana Bianca berani melangkah."

​Setelah Enzo pergi, suasana kembali sepi. Namun kini, beban yang ada di pundak mereka terasa berbeda. Aruna menyadari bahwa untuk tetap berada di samping Dante, ia harus belajar berpikir seperti mereka. Ia harus menjadi tajam jika tidak ingin hancur.

​Sore harinya, Aruna menemukan Bumi sedang duduk di taman belakang bersama seorang penjaga muda yang sedang mengajarinya cara membuat simpul tali. Bumi tampak ceria, seolah trauma di dermaga telah memudar berkat kehadiran Dante yang ia anggap pahlawan.

​Namun, kedamaian itu terus terusik. Aruna melihat Bianca berdiri di balkon lantai dua, menatap ke arah mereka dengan tatapan yang penuh kebencian. Bianca tidak lagi menyembunyikan rasa jijiknya. Di mata Bianca, Aruna adalah noda yang harus dihapus agar kejayaan Valerius kembali seperti semula.

​Malam harinya, Aruna tidak bisa memejamkan mata. Ia berjalan menuju ruang kerja Dante yang terhubung dengan kamarnya. Ia menemukan Dante sedang berdiri di depan jendela besar, menatap kegelapan hutan di luar. Pria itu tampak sangat kesepian, beban sebuah kekaisaran kriminal berada di bahunya yang terluka.

​Aruna mendekat dan memeluk punggung Dante dari belakang. Ia merasakan tubuh tegap itu menegang sejenak sebelum akhirnya rileks. Dante meletakkan tangannya di atas tangan Aruna yang melingkar di perutnya.

​"Aku takut, Dante," bisik Aruna.

​"Aku juga," jawab Dante jujur—sebuah pengakuan yang tidak pernah ia katakan pada siapa pun selama hidupnya. "Bukan takut mati. Tapi takut jika aku gagal menjagamu dan Bumi."

​"Kita akan melaluinya bersama," ucap Aruna meyakinkan.

​Dante berbalik, menarik Aruna ke dalam pelukannya. Di tengah ancaman pengkhianatan dan bayang-bayang maut yang mengintai, mereka menemukan tempat perlindungan di dalam pelukan satu sama lain. Aruna menyadari bahwa cintanya pada Dante bukan lagi sekadar hutang nyawa, melainkan sebuah ikatan yang telah ditempa oleh darah dan api.

​Namun, di sudut lain mansion, Bianca sedang mengisi peluru ke dalam senjatanya sambil menatap foto Dante dan Aruna di layar monitor CCTV. "Besok malam, Vulture," bisiknya dengan suara penuh racun. "Besok malam, kau akan melihat bahwa cinta adalah kelemahan yang akan membunuhmu."

​Pertempuran di Dermaga 7 mungkin sudah berakhir, tapi perang di dalam rumah sendiri baru saja dimulai. Dan kali ini, Aruna harus menjadi lebih dari sekadar pelindung; ia harus menjadi rekan seperjuangan bagi sang monster yang ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!