Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Yang Pulang Membawa Masalah
Kumandang adzan ashar baru saja usai seperempat jam lalu. Ayza masih duduk di atas sajadah ketika ponselnya bergetar.
Bunda Siti.
Ia menghela napas kecil, lalu mengangkat panggilan. “Assalamu’alaikum, Bun.”
“Wa’alaikum salam, Ayza. Kamu sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Bun.” Ayza berhenti sejenak. “Bunda sendiri gimana hari ini?”
Di seberang, suara Siti terdengar pelan, tapi berusaha ringan. “Masih sama. Baru dua mingguan ini. Belum kelihatan apa-apa.”
Ayza mengangguk meski tahu tak terlihat. “Pelan-pelan ya, Bun.”
Percakapan mengalir. Tentang obat., cuaca dan hal-hal kecil yang sengaja dipilih agar tidak menyinggung rasa sakit.
Lalu suara lain menyela. Lebih berat dan tegas.
“Za, ini Ayah.”
“Oh, Ayah gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah sehat." Lalu Rahman bertanya, "Kamu sama Reza gimana?”
Ayza menatap lantai. Cadar masih terlipat di pangkuannya. “Baik, Yah,” jawabnya tenang. “Kami baik-baik saja.”
Ada jeda singkat, seolah ayah mertua itu menimbang, tapi memilih percaya.
“Oh ya,” lanjut Rahman. “Fahri sebentar lagi pulang. Tolong dijagain, ya. Anak itu… agak susah dibilangin.”
Ayza tersenyum tipis. “InsyaAllah, Yah.”
"Kalau ada apa-apa," lanjut Rahman. "jangan ragu hubungi kami."
"Iya, Yah."
Tak lama telepon ditutup.
Ayza masih duduk beberapa detik. Lalu berdiri, melipat sajadah dengan rapi.
"Baik-baik saja," ulangnya dalam hati. Senyuman terbit di bibirnya. Bukan senyum bahagia, tapi pahit.
***
Hari-hari terus berlalu.
Reza berangkat sebelum matahari naik, pulang saat rumah sudah gelap. Kadang tak pulang sama sekali. Meja makan lebih sering dingin daripada hangat.
Ayza mengisi waktu dengan mengurus rumah, dan membuat sketsa.
Kertas-kertas desain busana muslim terlipat rapi di laci dapur. Ia menggambar di sela menunggu nasi matang, dalam kesibukan yang harusnya tak dikerjakan sendiri. Uang belanja yang ditinggalkan Reza tak pernah lebih, membuat Ayza belajar mengatur pemasukan dan pengeluaran dengan cermat.
Sore itu, bel rumah berbunyi.
Ting tong. Ting tong. Ting tong.
Cepat, tak sabar.
Ayza bergegas ke pintu.
Seorang pemuda berdiri di depannya. Tinggi, rambut sedikit acak, jaket tersampir di bahu asal, satu koper besar di samping kaki dan ransel di punggung. Tatapannya menyapu Ayza dari ujung cadar sampai kaki, terang-terangan.
“Lo…” Ia menyipit. “Istri Kak Reza?”
“Benar,” jawab Ayza tenang. “Kamu Fahri, ya?”
Pemuda itu tidak menjawab. Ia melangkah masuk begitu saja, menyeret koper melewati ambang pintu.
“Bi,” serunya keras sambil berjalan ke arah kamar. “Buatin es jeruk.”
Ayza menutup pintu pelan, menghela napas sekali, lalu berbalik ke dapur. Tak lama kemudian, ia mengetuk pintu kamar.
“Masuk!” suara Fahri terdengar dari dalam.
Ayza membuka pintu. Ia melihat Fahri duduk setengah rebahan di ranjang, fokus ke layar ponsel. Jarinya bergerak cepat.
“Back up! Njir—kiri, kiri!” gumamnya, mata tak lepas dari game.
Ayza meletakkan gelas es jeruk di nakas.
“Beresin bajuku, Bi,” ucap Fahri ringan, tanpa menoleh.
Ayza menunduk, memungut sepatu yang dilepas asal. Jaket di kasur, ransel di lantai, koper di dekat ranjang. Ia membereskannya satu per satu.
“Di koper itu pakaian kotor,” tambah Fahri, masih menatap layar. “Masakin makanan favoritku juga.”
Fahri tak mendapat jawaban yang seharusnya ia dengar.
“Bi?” Fahri melirik sekilas. “Bi!”
“Iya,” suara Ayza akhirnya terdengar. “Nanti Kakak masakin.”
Fahri mendongak. Alisnya naik. “Kok lo?”
Ayza yang sedang mengeluarkan pakaian dari koper berhenti sejenak, lalu menutupnya kembali setelah kosong.
“Tadi kamu minta es jeruk,” katanya datar. “Kakak yang buatin.”
Fahri mendengus. “Gue nggak minta sama lo.”
Ayza menoleh, tatapannya tenang. “Di rumah ini cuma ada Kakak dan Pak Darto.”
Fahri memicingkan mata. “Bibi ke mana? Lo pecat?”
Ayza mengangkat koper yang sudah kosong, menaruhnya ke sudut. “Ketemu aja belum,” jawabnya. “Gimana Kakak bisa mecat?”
Fahri terdiam sejenak, menatap Ayza lagi. Lebih lama dan lebih tajam. “Jangan sok ngatur di kamar gue,” katanya ketus.
Ayza merapikan keranjang pakaian kotor, lalu berdiri.
“Kakak nggak ngatur,” ujarnya pelan. “Cuma beberes," katanya, lalu melangkah ke pintu.
Pintu tertutup.
Di dalam kamar, Fahri menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari yang ia mau akui. Lalu kembali ke ponselnya, tapi jarinya sudah tidak secepat tadi.
Di luar, Ayza berjalan ke dapur. Langkahnya tetap tenang. Ia tahu, ini baru awal.
Dan Fahri, anak itu belum tahu, siapa yang sebenarnya sedang ia uji.
***
Gelap merayap pelan. Suara jangkrik dari rerumputan samping rumah mulai terdengar.
Ayza sedang di dapur saat suara pintu kamar Fahri dibanting.
“Bi!”
Ayza tidak menjawab. Ia mematikan kompor dulu, baru kemudian melangkah ke ruang tengah.
“Kakak sudah bilang gak ada bibi di rumah ini.”
Fahri berdiri di ambang pintu kamar, kausnya asal pakai, rambut masih basah, tatapannya sinis.
“Makanannya mana?”
“Sedang dimasak,” jawab Ayza. “Sebentar lagi.”
Fahri mendengus. “Lama amat. Di rumah ini tuh biasanya nggak kayak gini.”
Ayza menatapnya sekilas. “Oh," sahutnya singkat.
Fahri menunggu, tapi tak ada kelanjutan. Alisnya berkerut. “Oh doang?”
Ayza berbalik ke dapur tanpa menanggapi.
Beberapa menit kemudian, piring diletakkan di meja makan. Nasi, lauk sederhana, sup hangat.
Fahri duduk, menyendok, lalu berhenti.
“Ini apa?” tanyanya, mendorong piring sedikit menjauh.
“Sayur sop.”
“Gue bilang makanan favorit gue.” Fahri menyandarkan punggung ke kursi. “Lo denger nggak sih?”
Ayza berdiri tenang di seberang meja. “Nggak ada stok bahan makanan untuk masakan yang kamu minta.”
Fahri berdecak. "Gak guna banget sih." Ia menyuap sedikit, lalu meletakkan sendok sedikit kasar. “Ambilin minum.”
Ayza berjalan ke kulkas mengambil air, meletakkannya di depan Fahri.
“Dingin amat.” Fahri mendorong gelas itu kembali. “Ganti.”
Ayza menatap gelas itu beberapa detik, lalu mengambilnya lagi, menuang air suhu ruang, menaruhnya kembali.
Fahri menyeringai. “Gitu dong.”
Ayza duduk di kursi seberang, mengambil piringnya sendiri.
“Kok lo ikut makan?” tanya Fahri, nada merendahkan.
Ayza menyendok nasi. “Ini rumah Kakak juga.”
Fahri tertawa pendek. “Rumah kami, bukan rumah lo.”
Sendok Ayza berhenti di udara, ia menurunkannya pelan. “Kita satu alamat,” jawabnya. “Sementara.”
Kata itu membuat Fahri menoleh cepat. “Sementara?”
Ayza kembali makan, tidak menjelaskan.
Fahri menghela napas keras. Lalu bersandar. “Dengar ya,” katanya. “Gue pulang buat liburan. Jangan ribet. Jangan sok jadi istri senior.”
Ayza mengangkat wajah, tatapannya lurus, datar. “Kakak nggak sok,” ujarnya. “Kakak cuma hidup di sini.”
Fahri memicing. “Lo berani juga.”
Ayza berdiri, membawa piringnya ke dapur. Sebelum masuk, ia berhenti. “Kalau kamu mau dilayani,” katanya tanpa menoleh, “bilangnya yang jelas." Ia melangkah pergi.
Fahri tertinggal di meja, sendoknya diam. Nafsu makannya turun entah ke mana. Lalu ia menggeram pelan. “Songong amat…”
Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari satu hal yang bikin dada terasa aneh.
Perempuan itu tidak takut. Tidak membantah keras, tidak juga tunduk. Dan itu, anehnya, lebih mengganggu daripada omelan atau tangisan.
***
Fahri keluar dari kamarnya dengan jaket kulit dan sepatu sneaker. Langkahnya cepat, tak menoleh.
Beberapa detik kemudian, suara motor meraung dari garasi. Gas digeber kasar, seperti sengaja memberi tahu seluruh rumah bahwa ia pergi.
Ayza berdiri di balik jendela kamarnya, ia menyibak gorden tipis.
Fahri sudah melesat keluar dari halaman, motornya megaung di jalan dengan kecepatan berlebihan.
Ayza mendengus pelan. Senyum tipis terbit, bukan geli, lebih ke heran.
Bunda yang lembut. Ayah yang berwibawa dan dermawan. Tapi dua bersaudara itu…
Ia menggeleng pelan, menurunkan gorden, seolah menutup pikiran yang tak ingin ia lanjutkan.
Tiga jam kemudian.
Pensil di tangan Ayza berhenti di atas kertas. Garis sketsa menggantung tak selesai saat ponselnya bergetar di meja.
Nama Ayah menyala di layar.
Ayza mengernyit. Matanya melirik jam dinding. Jarum pendek menunjuk angka sebelas. Terlalu malam untuk sekadar bertanya kabar.
Ia mengangkat panggilan. Belum sempat ia menyapa, suara di seberang lebih dulu masuk, terdengar lebih berat dari biasanya.
“Za.”
Ada jeda singkat. Tarikan napas. “Reza di mana?”
Pensil di tangan Ayza terlepas. Jatuh ke meja, bunyinya kecil, tapi terasa nyaring di telinganya.
“Kenapa, Yah?” tanyanya pelan.
Di seberang, suara Rahman terdengar menahan sesuatu.
“Fahri… ada di kantor polisi.”
...🔸🔸🔸...
..."Ada orang yang mengira keras itu berkuasa. Padahal yang paling berbahaya adalah yang tetap tenang."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍