Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 : Jemari mungil
Ainur menoleh ke belakang masih dengan berpegangan pada jeruji besi. 'Tidak ada siapa-siapa. Terus, suara wanita serak-serak basah itu milik siapa ...?’
Ainur tidak bisa melihat apa-apa selain dedaunan berwarna kemerahan, ranting pohon tahunan. Masih terus berupaya mencari sosoknya, tapi tak menemukan apapun.
Suara tadi seperti angin lembut menyapa daun telinga, tanpa sosok, cuma hembusan napas halus layaknya bisikan memberi petunjuk.
'Naluri keibuan, apa aku punya?’ ia bingung sekaligus penasaran. Ingatannya kembali ke mimpi sebelumnya, kala berteriak menggema menyebut nama ibu, dan memanggil nak.
Ainur kembali menghadap pada jeruji terlihat samar. Menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Dia membayangkan ketiga anaknya yang diyakini pernah menjadi penghuni rahimnya. Namun dibantah, ditolak kehadirannya, dan dia di cap mengada-ada. Mengalami delusi semata.
Air matanya berderai bersamaan dengan itu suaranya bergema sarat kerinduan, keputusasaan. “Le, nduk … ibu datang. Sayang, ibu kangen, kepengen lihat kalian, boleh?”
Dia tersenyum mengejek dirinya sendiri yang seperti orang gila, atau memang sudah tidak waras. Apa mungkin ini efek kerinduan akan hadirnya buah hati setelah tiga tahun pernikahan belum juga memiliki.
“Nak, ibu tandang mriki (datang kesini). Kita pernah berbagi makanan yang sama bukan? Apa yang ibu makan, kalian juga menikmatinya. Cah ayu, cah bagus … ibu sayang kale kalian. Setiap sebelum tidur, tak elus-elus perut dimana kalian tumbuh. Sering membayangkan akan secantik dan setampan apa anak-anak Ibu. Kita juga selalu mengobrol, apapun yang ibu lihat, ibu katakan seolah tengah bercengkrama. Nak … kalian ndak kangen ibu ta?” Ainur menangis kencang, terisak-isak sampai suaranya serak.
Rasa rindu ini membuatnya seperti orang kehilangan akal. Kedua tangan masih tetap menggenggam besi, bahunya naik turun dan wajah berlinang air mata. “Nak, tolong ibu kesempatan melihat wajah kalian. Sebentar saja mboten nopo-nopo (tidak apa-apa) – biar bisa ibu jadikan obat kangen.”
Dadanya kian sesak seperti dihimpit beban berat. Ia tumpahkan semua kerinduan, tak lagi peduli apa kata suami, ibu dan lainnya yang mengatakan kalau dirinya belum pernah hamil. Cuma keinginan menggebu-gebu yang menciptakan halusinasi.
Dalam tangis keputusaan, sesuatu lembut meraba jemari Ainur. Membuat empunya langsung membuka mata.
Ainur sulit mendeskripsikan apa yang dilihatnya, hanya bisa terpaku dengan mata terbelalak, napas tertahan.
Sebuah jemari mungil mengelus ibu jari besar, perlahan-lahan dari bawah, muncul wajah batita kurang dari umur tiga tahun. Wajahnya penuh luka sayatan benda tajam. Dia tersenyum memperlihatkan gigi keropos berlidah hitam. Lengan kirinya keluar dari balik jeruji, mengelus pipi berkulit dingin, menghapus buliran air mata.
“Ibu ….”
Badan Ainur bergetar, tapi tak mampu bergerak, cuma bisa memandang dengan pupil membesar sempurna.
‘Suara ini? Sama seperti yang meminta tolong,’ batinnya bertanya saat mengenali nada lembut. Ia meresapi usapan lembut, hatinya ikut bereaksi membuat perasaan tenang.
Sedikitpun Ainur tidak takut melihat sosok kecil yang jelas-jelas menyeramkan. Sebaliknya, ia merasa memiliki ikatan batin. Menangis dalam diam, hatinya sakit kala melihat luka menganga berwarna putih kemerahan pada kening, pipi, sudut bibir.
“Ibu ….” batita berjenis kelamin perempuan itu menjilati punggung jari Ainur.
Deru napas wanita muda terdengar memenuhi ruangan, aromanya membangunkan sosok lainnya yang tengah tertidur pulas.
Ruangan gelap tiba-tiba bercahayakan kemerahan layaknya diterangi obor maupun lampu minyak.
Ainur berhasil melepaskan pegangan pada tangan kanan. Jemarinya bergetar saat mau mengelus rambut kusut, kasar.
Belum sempat tangannya menyentuh helaian rambut – badannya seperti disetrum.
Ainur terkesiap, memekik lirih ketika melihat keranjang bayi dari anyaman rotan, ada sesuatu bergerak-gerak diatasnya.
Dia tidak jadi mengelus rambut anak perempuan yang masih terus menjilati punggung tangannya. Ainur berjinjit agar bisa lebih leluasa melihat ke dalam.
Tangan kanannya mencengkram jeruji paling atas, wajahnya menempel di sela-sela lubang teralis jendela.
"Itu, itu … tidak mungkin.” Kepalanya menggeleng pelan, mengusir pikiran liar yang memaksa untuk percaya pada penglihatan mengerikan sekaligus tak masuk akal.
Bayi tadi berselimutkan handuk, jemarinya menggenggam ujung yang dipilin-pilin, mulutnya sibuk menghisap seperti menyusu, dan hal itu membuat Ainur menggigil.
“Handuk itu berdarah, dan sama persis seperti kain yang menampung darah menstruasiku … apa ini?” suaranya bergetar, dia tidak sadar kalau kedua tangan melepaskan genggaman.
Batita perempuan tadi melambaikan tangan, tersenyum lebar memperlihatkan seringai keji dengan sorot mata menyedihkan, kontras sekali ekspresinya.
Tubuh Ainur lemas, matanya berat serta pandangan berputar-putar. Dia terjun bebas, sebelum seluruh pandangan gelap gulita. Dapat dirasakan sesuatu memeluknya, beraroma kayu lapuk campur rumput segar.
***
Huhhh haahhh ....
Ainur tersentak dari tidurnya. Badannya menggigil sampai giginya bergemeretak.
“Mas Daryo.” Ia menoleh ke samping, kosong. Suaminya tidak ada.
“Mas Aryo!” panggilnya sedikit keras, tak ada sahutan.
Susah payah ia duduk, menarik badannya ke belakang agar bersandar pada kepala ranjang. “Kemana mas Aryo?”
Ainur melihat jam dinding klasik, pukul satu dini hari. Kemudian memperhatikan bantal masih rapi tanda belum ditiduri sama sekali.
“Apa tadi cuma mimpi? Bunga tidur?” Jemarinya mengusap pelipis yang berkeringat, rambutnya pun lepek sedikit basah.
Antara percaya dan tidak meyakini, Ainur membalikkan telapak tangan kiri. Ia terkejut saat melihat punggung jarinya lebam-lebam berwarna merah keunguan dan membiru.
“Tadi nyata ‘kan? Jadi bayi itu menghisap darah, milik siapa?” gumamnya pelan sekali.
“Nggak mungkin.” Ainur menggeleng kuat, sesuatu menyesakan dada mencoba menyeruak, seperti ombak besar melaju mau menghantam tebing berbatu cadas.
Ainur turun dari ranjang, mencoba berdiri tapi kakinya tidak kuat menopang tubuh. Dia terjatuh.
“Tolong kerjasamanya,” pintanya putus asa pada anggota tubuh. Kembali berjuang berdiri, kala berhasil dia tertatih-tatih seraya tangan memegang perut terasa nyeri, area kewanitaan sedikit perih.
Ainur berjalan teramat pelan ke sebuah lemari jati berukir kembang sepatu. Dibukanya salah satu pintu. Tubuhnya luruh kala berusaha membungkuk.
Wanita mengenakan daster itu tidak peduli dinginnya lantai, dia mundur sedikit, membuka laci bagian bawah, tempat penyimpanan kain.
Diambilnya salah satu handuk yang setahunya dijahit khusus bukan dibeli di pasar. Ainur membuka lipatan kain yang cukup menutupi badannya hingga pertengahan paha.
Ritme jantung Ainur seperti bunyi tabuh gendang perang, denyutnya terasa menyakitkan dada. Dia menggigit kuat bibirnya sampai terasa asin, masam.
Air matanya tiba-tiba berlomba-lomba membasahi pipi. Pikirannya buntu, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sulaman benang tujuh warna pada tepian handuk dia remas.
Ainur berusaha berpikir waras, tapi alam bawah sadarnya membunyikan alarm bahaya untuk pertama kalinya. Logika dikedepankan, dan kepalanya mulai berdenyut-denyut. Perasaannya tidak karuan, dada berdebar-debar, pikiran menjadi liar. Sebuah kesimpulan seolah memberitahu – sesuatu mengerikan tengah menunggunya diujung jalan.
“Ini handuk yang sama seperti selimut bayi dalam mimpiku. Apa mungkin …?”
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
menghanguskan mu si paling pintar.