Blurb:
Dua belas tahun yang lalu, Jaxon Thorne memberikan segalanya, hatinya, janjinya, masa depannya pada wanita dengan sepasang mata hijau yang indah, Scarlett Reed yang merubah namanya menjadi Scarlett Quinn.
Lalu, dia terbangun di dunia yang hancur, hanya disisakan secarik surat perpisahan yang melukai hatimya.
Sejak saat itu, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Thorne itu membangun benteng kokoh di sekeliling hatinya, dingin, berkuasa, dan tak tersentuh.
Kekayaannya melimpah, tetapi kebenciannya pada pengkhianatan lebih membara dari apapun hingga dia tak percaya lagi akan cinta sejati dan suka mempermainkan wanita.
Namun, takdir berkata lain.
Semuanya berubah saat Jaxon bertemu dengan Dash Quinn, seorang bocah jenius berusia dua belas tahun pemenang olimpiade sains yang mendapat beasiswa dari perusahaannya.
Ada sesuatu pada senyum dan sorot mata anak itu yang membuat dunia Jaxon berguncang, sebuah pengingat yang tak tertahankan akan masa lalu yang dikuburnya dalam-dalam.
Semakin dekat Jaxon dengan Dash, semakin banyak fakta yang terungkap. Rahasia gelap itu akhirnya terbuka.
Penghianatan terbesar bukan berasal dari gadis sederhana yang dulu dicintainya, melainkan dari lingkaran terdekatnya sendiri, yaitu keluarganya.
Sekarang, dihadapkan pada kebenaran yang pahit, Jaxon harus memilih, tetap menjadi pewaris yang terluka seperti yang diharapkan keluarganya, atau menjadi pejuang yang mengambil kembali segala sesuatu yang telah dicuri darinya.
Sebuah perjalanan untuk menuntut balas, memperbaiki kesalahan, dan meraih keluarga yang tak pernah dia sangka bisa dimilikinya, sebelum segalanya benar-benar terlambat.
Mana yang akan dipilih Jaxon? Keluarganya yang licik atau keluarga barunya yang baru dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Mansion Utama
Pagi itu cukup cerah. Di dalam mobil, tiga penumpangnya menyimpan tiga dunia yang berbeda.
Dash, duduk di baris tengah dengan earphone tersumbat di telinganya, jari-jarinya mengetuk cepat di layar ponsel.
Bocah berusia dua belas tahun itu sesekali melirik ke luar jendela, lalu kembali ke percakapan grup teman-teman asramanya yang sudah ramai membicarakan kegiatan setelah liburan.
Tapi di balik sikap santainya, ada banyak kegembiraan. Mereka baru saja menghabiskan dua hari di vila ayahnya, Jaxon, yang begitu mengagumkan.
“Dash, taruh ponselmu. Kau bisa pusing nanti,” kata Scarlett mengingatkan.
“Ya, Mom.”
Sekarang, mereka dalam perjalanan ke rumah utama yaitu mansion Jaxon Thorne. Dan sore nanti, Dash harus kembali ke asrama.
Di baris depan mobil, suasana jauh lebih dingin. Scarlett duduk di kursi penumpang, tubuhnya sedikit kaku, menatap lurus ke jalan raya.
Jaxon yang menyetir, sesekali meliriknya dari sudut matanya. Tangan Scarlett menggenggam erat tas di pangkuannya.
Dua hari di rumah pegunungan, seharusnya menjadi waktu untuk mencairkan kebekuan di antara mereka. Dan memang, untuk Dash, itu menyenangkan.
Tapi bagi Scarlett tidak karena dia terlalu waspada. Dan Jaxon sudah berusaha mendekat dengan berbagai cara. Dari cara yang santai sampai yang tengil. Dan sekarang, kembalinya ke kota berarti kembalinya ke realitas yang lebih rumit lagi.
*
*
“Kita hampir sampai,” ucap Jaxon.
Scarlett tak menanggapi apa pun. Dash melepas satu earphone-nya. “Wooow … ini mansion kita, Dad?”
“Ya, cepat ke kamarmu nanti. Di lantai paling pojok,” jawab Jaxon.
*
*
Mansion Jaxon Thorne bukan sekadar rumah besar. Rumah itu berdiri di atas lahan luas, dikelilingi taman yang amat sangat luas.
Saat mobil berhenti di depan pintu utama, Dash keluar dengan mata berbinar.
“Amazing!” serunya, mengangkat koper dan tas ranselnya sendiri. “Seperti markas superhero!”
Scarlett keluar dengan lebih pelan. Baginya, mansion ini biasa saja karena perasaannya badmood saat ini.
Dia sudah tahu sejak dulu bahwa Keluarga Jaxon sangat kaya. Sedangkan dia dibesarkan di rumah sederhana, sementara Jaxon adalah pewaris tungga Keluarga Thorne.
Hubungan mereka dua belas tahun lalu adalah tabrakan dua dunia, dan ayah Jaxon tak suka pasa Scarlett sejak awal.
*
*
Jaxon membuka pintu utama. Semuanya sempurna, tak berdebu, dan sepi.
“Aku akan langsung ke kamarku, Dad,” ujar Dash dan berlari ke arah tangga berputar.
“Ada lift di sebelah kiri jika kau tak mau naik tangga!” teriak Jaxon.
Dash berhenti dan melihat ke arah kiri. Matanya berbinar melihat lift itu. Dia tak menyangka di rumah nya ada lift.
Dash masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai dua. Scarlett meletakkan jaketnya di sofa besar dan berjalan pelan, menelusuri ruangan.
Dash, di lantai atas, berteriak kegirangan. “Dad, ini keren! Konsol game barunya sudah dipasang! Tempat tidur sangat besar! Komputer canggih dengan banyak monitor! Ini kamar impianku!” Suaranya bergema di lorong atas.
Jaxon tersenyum, bahagia karena akhirnya bisa menyenangkan putranya. Dia melakukan semua ini untuk Dash, untuk menebus waktu yang hilang, untuk membuat putranya merasa di rumah di salah satu rumahnya. “Senang jika kau suka. Sekarang, bereskan barangmu. Nanti kita makan siang bersama sebelum ke asrama,” teriak Jaxon dari bawah.
“Oke, Bos!” sahut Dash bersemangat.
Jaxon kemudian melihat Scarlett berdiri di depan lukisan besar, tapi tatapannya kosong.
“Baby,” panggilnya.
Scarlett menoleh. “Sudah kubilang hentikan memanggilku seperti itu!”
Jaxon mengedikkan bahunya. “Tak bisa. Sudah kebiasaan dari dulu. Aku tak pernah memanggil namamu sejak kita berkenalan, kau ingat?”
Scarlett mendengus. “Cepat selesaikan ini. Aku lelah. Setelah mengantar Dash, aku ingin langsung kembali ke apartemenku.”
Jaxon mengambil napas dalam. “Tentang itu. Kau tidak perlu kembali ke apartemenmu.”
Scarlett memandangnya, bingung. “Apa maksudmu? Sudah kukatakan kemarin, kan? Aku tak mau—“
“Aku sudah mengosongkan apartemenmu. Semua barang-barangmu sudah dipindahkan ke sini,” ujar Jaxon, terlihat tetap tenang.
“Apa?” Scarlett mulai marah, suaranya bergetar antara tak percaya dan amarah yang mulai mendidih. “Kau … kau melakukan APA?”
“Aku memindahkan barang-barangmu. Kontrak apartemenmu sudah aku selesaikan. Semua telah disimpan di gudang bagian timur mansion ini. Barang, pakaian sehari-harimu sudah aku pindahkan ke kamar tidur utama, bersamaku.”