Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamis Wage
Jalanan lebih padat dari biasanya. Mungkin karena kecelakaan siang tadi, banyak kendaraan yang penasaran lalu berhenti di bahu jalan untuk menonton dan merekam bangkai bus yang hendak di angkut oleh petugas.
Begitu pun dengan aku, Bayu dan Yoana. Kami bertiga sudah mendapat restu dari si Mbah. Meskipun soal Ceking, si Mbah sedikit berat untuk merelakannya, tapi aku bersukur rotan itu tidak menyentuhku.
...TINGGG...
Sebuah foto Kecelakaan tadi pagi, 15 menit lagi kita live. Stay Tune.
#BerburuHantuBusPariwisata #TempatAngker #Kecelakaanberuntun
"Yoana, 15 menit lagi. Udah kuposting!" lapor Bayu menunjukan status instagram kita.
"Kalian yakin mau live?" tanyaku memastikan. "follower kita cuma 3 loh Bay."
"Udah, kita gak butuh follower, kita cuman perlu dokumentasi doang," timpal Yoana semangat. "Ya udah aku siap, siap dulu disana sama Bayu, kamu Panca, yang bener ngerekamnya, jangan sampai gerak-gerak!"
"Beres, bawel!" sahutku mengambil alih HP Yoana, ya ini baru HP bagus di tangan orang yang tepat. "Lihat aja entar hasilnya!"
Kami melakukan live, ya meski aku yakin nggak bakal ada yang nonton. Dan terbukti dari jumlah angka yang ada di pojok atas, sepuluh menit dua makhluk itu mengoceh, masih saja angkanya "0".
Bayu memang jago menjadi host, karena di setiap presentasi memang dia yang kebagian menjadi moderator.
Kalau Yoana, dia cantik, pendiam, lucu, imut kadang-kadang, kadang aneh, kadang kayak orang kesurupan, kadang kita suka berantem cuma gara-gara hal sepele, kadang nggak ngomong gara-gara satu di antara kita salah ngomong, ya bisa di bilang aku dan dia seperti orang pacaran tapi sayangnya dia sepupu sendiri.
Tunggu, tunggu kenapa malah bahas romansa?
Ini horror. Ingat!
Oke.
Yoana itu kompeten buat hal-hal mistis kayak gini, jadi ya, dia selalu jadi narasumber di setiap kali kita ngadain live atau podcast horror. Kami bertiga punya channel yang membahas seputar ghaib. Ya meski sebenarnya aku nggak percaya sama yang begituan.
...Tuuunngggg...
Wow.
Satu orang menonton live kami. Entah apa yang diucapkan Yoana dan Bayu sehingga bisa menarik penonton, aku terlalu fokus pada aba-aba mereka dan pada caraku mengambil angel mereka. Jadi tidak terlaku ngeh sama apa yang mereka bahas.
...Tunggg trungg tung tunggg...
Penonton bertambah terus. Aku jadi pegal menyuting mereka dari bawah sini, sesekali merekam bekas darah yang masih menempel pada badan bus, besi, bemper, kaca-kaca yang berserakan, di bawah dan sekarang aku menyorot di bawah roda.
..."Tangan!"...
..."Tangan siapa itu tadi!"...
..."Apaan itu..."...
..."Loh pak polisi tangan orang ketinggalan tuh."...
Penonton mulai ramai berkomentar. Apa yang mereka katakan itu bohong. Mungkin saja mereka mencari sensasi. Aku yang merekamnya saja tak melihat kalau ada tangan. Dasar.
Aku kembali meneruskan perekaman, sekarang kami sedang menyorot ke bibir jalan, tempat mbak-mbak yang sempat kutolong pagi tadi terjepit. Sebenarnya agak takut aku untuk merangkak masuk ke dalam Bus karena beberapa petugas tampak sedang mengambil sesuatu dari dalam.
..."Kepala!"...
..."Njir putus cvvkk!"...
Dan komentar itu memang benar adanya. Anjing pelacak tampak menggigit rambut seseorang dan membawa kepala itu keluar. Sungguh aku ingin muntah sekarang. Aku tak tahan, sedang Yoana dan Bayu masih giat mengoceh dari kejauhan.
Karena saat ini lebih banyak petugas yang mengawasi, jadi kami memutuskan untuk mengakhiri live kami.
"590 penonton, lumayan." ucapku sambil berlari ke Yoana. Tapi ada yang aneh dari raut wajah mereka.
Bayu yang mengiyakan hal itu langsung bilang, "Yoana, apa yang terjadi sama darah itu?"
"Aku lihat, Kamis Wage.... Dia ada di sini....Sekarang."