NovelToon NovelToon
Mantan Rasa Pacar

Mantan Rasa Pacar

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:70.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Hana Fujiwara

Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.

Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.

Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?

Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Demi Daster Berbunga

Kembali pagi ini Dafa mengajak Vina untuk berangkat ke sekolah bersama dan Vina tidak menolak seperti hari- hari kemarin. Masa bodoh dengan hubungan Dafa dan Fena, toh cowok itu sendiri yang datang padanya. Lagipula kini status Dafa dan Vina hanya teman, mungkin.

“Gue ke kelas dulu, Fa. Thank’s tumpangannya,” pamit Vina segera lari begitu melihat sosok Candra.

Dafa hanya melihat punggung Vina yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Ia menghembuskan nafas lelah dan berjalan menuju kelasnya.

“Dafa!” panggil seseorang yang membuat Dafa mau tak mau menghentikan langkah kakinya dan berbalik.

“Ada apa, Fen?”

“Bareng ke kelasnya,” jawab Fena nyengir.

Dafa hanya menganggukkan kepala, membuat Fena tersenyum manis. Mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju kelas.

“Lo udah buat PR matematika? Gue nggak ngerti yang nomor lima.”

“Gue udah buat, nanti gue kasih lihat punya gue.”

Fena menggeleng dramatis, “Nggak, lo harus ajarin gue caranya dapetin jawaban itu. Kalo lo cuma nunjukkin hasil jadinya sama juga bohong. Gue nggak akan ngerti cara hitungannya.”

“Hmm, oke. Nanti gue kasih tau rumusnya.”

“Matematika habis istirahat, kan? Nanti istirahat ke perpustakaan aja, ya?” ajak Fena penuh harap.

Dafa lagi- lagi hanya mengangguk, dirinya tidak sebodoh itu mengartikan sikap Fena akhir- akhir ini yang selalu mendekatinya dan berusaha menarik perhatiannya.

Pelajaran pertama di kelas Dafa adalah Fisika dan guru yang mengampu sedang ada diklat di luar kota selama tiga hari. Jadi mereka hanya di beri tugas untuk mengerjakan soal yang diberikan guru itu. Fena mengajukan diri untuk mengambil buku di ruang guru, tentu dirinya mengajak Dafa. Sang ketua kelas pun sangat setuju dan dengan senang hati mengizinkan. Membuat Dafa mendengus pelan, sebal juga harus ikut terseret. Namun ucapan Vina dulu selalu membekas dalam pikirannya.

‘Fa, kamu jangan terlalu cuek dong. Kasihan temen sekelas kamu. Nggak enak tau dicuekkin gitu.’

Dafa tersenyum tipis mengingat perkataan Vina yang menyuruhnya untuk tidak terlalu cuek dan masa bodoh dengan sekitar. Tentu perubahan Dafa itu membuat teman satu kelas mereka sangat berterima kasih pada Vina yang telah membuat Dafa tidak se- cuek dulu.

“Udah, Fa. Ayo balik ke kelas.”

“Mana gue bantuin.”

Dafa mengambil sebagian buku dari tangan Fena, membuat Fena kembali tersenyum sumringah. Mereka berjalan untuk kembali ke kelas. Namun langkah Dafa terhenti saat melihat sosok Vina yang baru keluar dari kamar mandi dengan tawa ngakak, di belakang cewek itu ada Candra.

Dafa berjalan lebih mendekat kearah Vina dan Candra, manik mata Dafa tak lepas dari sosok yang diam- diam ia rindukan. Jantung Dafa kembali berdetak kencang saat melihat tawa ceria Vina. Benar- benar hampir sampai di tempat Vina dan perempuan itu belum menyadari kehadiran Dafa.

“Hai, Vin,” sapa Fena.

Sapaan dari Fena membuat senyum di bibir Vina pudar, membuat Dafa diam- diam mendesah kecewa. Ia melirik Fena tajam karena telah menghilangkan tawa di bibir Vina.

“Oh, hai. Darimana?” tanya Vina basa- basi.

“Dari ruang guru, ambil buku.”

Vina membulatkan mulutnya, “Hmm, kita duluan, ya.”

Vina dan Candra berlalu darisana. Walau hanya sebentar interaksi antara Dafa dan Vina, hal itu mampu membuat kupu- kupu beterbangan di perut Dafa. Hanya hal sekecil itu mampu membuatnya sangat bahagia.

“Ayo, Fa. Kita juga balik ke kelas.”

Dafa mengubah ekspresinya saat suara Fena masuk ke dalam indera pendengarannya. Ia menghembuskan nafas dan segera berllau darisana. Suasana hatinya kembali memburuk.

Setelah berkutat dengan soal yang diberikan oleh guru fisika, akhirnya bel istirahat berbunyi. Anak- anak di kelas Dafa berteriak heboh, mereka semua seperti telah mendengar suara yang sangat indah. Berbondong- bondong mereka keluar dari kelas untuk menuju ke kantin.

“Ayo, Fa.”

Dafa bangkit dari duduknya dengan membawa beberapa buku dan alat tulisnya. Mau bagaimana pun, Dafa sudah berjanji pada Fena mengajarkan matematika. Walau dirinya sangat malas berurusan denga perempuan itu. Mereka berdua pun berjalan bersama menuju perpustakaan yang berada tidak jauh dari kelasnya.

“Makin lengket aja,” sindir seseorang membuat Dafa dan Fena menatap orang didepan mereka.

Fena menunjukkan senyum malu- malu di goda seperti itu, telinganya menangkat jika perkataan barusan bukan sindiran, melainkan godaan baginya.

“Nggak usah nyinyir lo, Can. Ayo, gue udah laper nih,” ucap Vina menarik Candra segera pergi darisana.

“Semoga langgeng, ya,” kata Candra sebelum pergi darisana. Vina segera menggeplak punggung Candra.

“Kenapa lo doa- in langgeng?!” gumam Vina lirih, tapi masih bisa tertangkap oleh pendengaran Dafa.

Dafa menyunggingkan senyumnya, ia tau jika Vina belum bisa move on darinya. Bukan maksud Dafa sombong, tapi memang kenyataannya seperti itu.

Fena mengetukkan pensil di dagunya, ia sedang berpikir saat ini. Sementara Dafa sudah mengerang frustasi melihat tampang polos Fena. Sudah hampir bel masuk, tapi Fena juga belum paham rumus yang diajarkan Dafa sejak tadi. Dafa benar- benar menyerah mengajari Fena rumus matematika. Bagaimana mungkin seseorang jago fisika, tapi lemah pada mata pelajaran matematika? Bukankah dua mata pelajaran itu sama- sama membutuhkan rumus dan perhitungan?

“Lo contek punya gue dulu, deh. Udah hampir bel nih,” ucap Dafa akhirnya yang telah menyerah.

Fena mengerucutkan bibirnya, “Mau gimana, gue emang nggak mahir di matematika.”

“Ya udah cepet lo salin, gue juga mau masuk ke kelas.”

“Sorry, Fa. Jadi buang waktu lo. Hmm, sebagai gantinya nanti gue traktir lo di Mentari deh.”

“Hari ini gue nggak bisa, udah ada janji.”

Fena mendesah kecewa, gagal lagi dirinya untuk mendekati cowok itu. Ia segera menggeleng dan melanjutkan menyalin jawaban PR dari Dafa.

Begitu bel pulang berbunyi Dafa langsung meluncur menuju ke kelas Vina. Ia berencana mengajak perempuan itu pulang bersama, sebenarnya dirinya juga ada janji dengan Eky. Namun Dafa tau jika hari ini Eky ada tambahan les di sekolahnya, maklum Eky sudah kelas tiga yang sebentar lagi akan ujian. Tapi Dafa tetap hendak mengajak Vina pulang bersama.

“Vin! Pangeran lo nih jemput,” teriak salah seorang anak laki- laki dari kelas Vina.

Dafa sudah biasa mendengar teriakan itu, dirinya malah merasa terbantu kini. Dafa tidak perlu repot- repot memanggil Vina keluar, karena perempuan itu akan keluar begitu teman- temannya heboh dengan kedatangan Dafa.

“Apa, Fa?” tanya Vina begitu ada dihadapan Dafa.

“Gue mau ngajak lo pulang bareng.”

“Hmmm, lo nggak balik sama Fena?”

“Kok Fena? Gue nggak pernah pulang sama dia.”

Vina hanya mengangkat bahu tak peduli, “Lo kan lagi PDKT.”

“Lagian gue ada urusan sama Eky.”

Vina memicingkan mata, mencari kebohongan dari ucapan Dafa. Namun dirinya tidak menemukan kebohongan itu, berarti memang benar Dafa ada urusan dengan abangnya.

“Oke.”

Vina melipat kedua tangannya di depan dada melihat Eky ternyata belum pulang dari sekolah. Di rumah hanya ada Bunda dan Faris yang memasang tampang galak begitu mencium kehadiran Dafa.

“Bang Eky belum balik tuh.”

“Eh, kirain hari ini dia nggak ada pemadatan materi. Ya udah gue pulang dulu.”

“Loh, Dafa? Sini mampir dulu, makan di sini dulu, ya?”

“Eh, tapi…”

“Ayo, masuk- masuk.”

Bunda dengan antusias mendorong punggung Dafa agar masuk, sementara Vina hanya menggelengkan kepalanya melihat Bunda- nya itu.

“Kak, dia ngapain lagi disini?”

“Ada urusan sama Bang Eky.”

“Hilih bihing.”

“Ngomong apa sih?” tanya Vina mengernyit dengan menjitak kepala Faris.

“Kok mukul aku?!”

“Ngeselin soalnya,” gertak Vina dan masuk ke dalam.

...🐈🐈🐈...

Setelah berganti baju, Vina ikut bergabung di meja makan. Bunda terlihat asyik mengobrol dengan Dafa yang diketahui Vina topiknya adalah daster bunga- bunga warna nge- jreng milik Bu Ririn.

“Mama kamu kapan pulang, Fa?” tanya Bunda.

“Lusa kayaknya, Bun.”

“Oke nanti Bunda kabarin Mama kamu aja. Lusa Bunda mau ke rumah.”

“Iya, Bun. Nanti Dafa sampein.”

“Makasih, ayo dimakan yang banyak. Nambah juga boleh.”

Vina dan Faris kompak memutar bola mata dengan dengusan keluar dari hidung masing- masing. Demi daster berbunga, Bunda mencampakkan anak kandungnya sendiri. Namun anak- anak Pak Cahyo ini sudah kebal dengan perangai sang Bunda.

“Bun, besok Faris mau beli si Oren,” Ucapan Faris menghentikan ocehan Bunda pada Dafa.

“Eh? Siapa si Oren?”

“Marmut yang waktu itu aku bilang.”

Bunda menghembuskan nafas, seketika Faris menelan ludahnya. Apa dirinya salah mengalihkan perhatian Bunda dari Dafa?

“Bukannya kemarin Bunda udah bilang, No?!”

“Tapi aku, kan beli pake uang tabungan…”

“Ya… ya, terserah kamu. Tapi, awas kalo nggak di rawat.”

Faris bersorak girang mendengar Bunda akhirnya mengizinkan dirinya merawat marmut lucu nan imut itu.

Dafa pulang setelah menunggu Eky yang tidak kunjung menampakkan auranya. Cowok itu segera menghempaskan tubuhnya di kasur empuk berseprai ironmen berwarna biru. Dirinya berguling- guling di kasur itu tidak mempedulikan kasur yang sudah acak- acakkan. Senyumnya mengembang, setidaknya dirinya masih bisa bertemu dan dekat dengan Vina sudah membuatnya se- senang ini. Namun kesenangan ini tidak berlangsung lama, seseorang dengan tidak tau dirinya memencet bel rumahnya. Dafa mendengus kesal dan segera turun menuju pintu depan.

“Iya~” teriak Dafa.

“Mbak Tati kemana sih?” gumamnya.

“Loh? Kok lo kesini?! Aish, udah gue bilang biar gue yang ke rumah lo aja.”

“Ckck, nggak sopan sama calon kakak. Di suruh masuk dulu, kek.”

“Ya udah masuk… masuk.”

Eky langsung nyelonong masuk dan menjatuhkan tubuhnya di sofa uang tamu rumah Dafa. Cowok itu memejamkan matanya lelah, kepalanya hampir meledak setelah dijejali banyak soal sejak pagi.

“Ambilin gue minum, dong! Apa aja terserah, penting air mateng,” perintah Eky seenaknya.

Namun karena Dafa sedang tidak ingin berdebat, apalagi yang ingin didebatnya adalah calon kakak iparnya. Bisa- bisa restu dari Eky di cabut dan bisa gawat bagi kelangsungan percintaannya.

Eky masih betah berada di rumah Dafa, bahkan cowok itu tadi menumpang mandi dan makan disini. Tentu Eky sudah meminta izin pada Bunda dan Ayahnya, jika tidak bisa- bisa dirinya didepak dari keluarga Pak Cahyo. Kini Dafa dan Eky sedang bermain game di kamar Dafa. Urusan yang dimaksud Dafa tadi sore adalah pertarungan game online.

“Lah si Jujun malah AFK*. Woy!” teriak Eky terbawa suasana.

“Apaan nih si Jesicca, Hode*!”

“Iya, nih. Pengecut! Ngaku- ngaku lo!”

“Ada Loot*. Noh! Nemu gue, yess! Dapet!” sorak Dafa.

“Argh, gue Knock*. Revive* gue cepet. Lo dimana, Fa?!”

“Aye, gue dateng.”

Begitulah mereka menghabiskan waktu dengan bermain game. Namun begitu Eky mendapat telpon dari Bunda, cowok itu langsung pontang- panting. Segera menutup aplikasi dan pamit pulang. Sedangkan Dafa hanya tertawa melihat wajah panik Eky.

Sampai rumah Eky disambut Bunda yang sedang berkacak pinggang dan menampilkan raut muka yang menakutkan. Eky menelan ludahnya susah payah, jika Bunda sudah murka, uang jajan jadi taruhannya.

“Assalamualaikum, Bunda,” ucap Eky mencium tangan Bunda takut- takut.

“Waalaikumsalam, ingat pulang juga?!”

“Maaf, Bun. Tadi urusan sama Dafa memang lama, ini juga baru selesai langsung pulang Eky.”

“Bener?” tanya Bunda menaikkan satu alisnya menatap curiga.

“Bener, Bun. Suer!”

“Ya udah masuk! Awas kalo lain kali ngeluyur sampe lupa waktu, Bunda potong uang jajan kamu!”

Eky nyengir, “Makasih Bunda ku sayang.”

Bunda hanya menggelengkan kepala dan masuk ke dalam diikuti Eky. Di ruang keluarga ada Vina dan Faris yang sedang nonton TV. Namun dua anak itu terlihat sedang menahan tawa mereka.

“Apa lo?!” gertak Eky.

“Enak kena marah?” tanya Vina mengejek.

“Sial, awas kalian!” tunjuk Eky dan segera masuk ke kamarnya.

Vina dan Faris kompak bertos ria. Mereka tadi sengaja menguping pembicaraan Bunda dan Eky di teras. Salah Eky juga karena keasyikkan bermain game sehingga lupa waktu. Vina dan Faris kembali melanjutkan nonton TV yang tadi sempat tertunda.

Ku menangis~

Membayangkan… betapa kejamnya dirimu…

“Ganti, dek!” perintah Vina yang merasa geli dengan sinetron di depannya.

“Nggak, lagi seru nih! Bentar lagi klimaks. Pasti itu emak mertuanya nanti nampar dia… yak! Bener tebakan gue, kan?” heboh Faris yang sedang meramal alur sinetron itu.

Vina memutar bola mata malas, “Sak karepmu!”

Ia lebih memilih masuk kamar daripada meladeni Faris yang akhir- akhir ini sangat menyukai sinetron yang tayang lima kali sehari di sebuah stasiun TV swasta. Entah mendapat hidayah dari siapa, padahal Bunda pun tidak suka sinetron seperti itu.

“Semoga Faris segera tercerahkan hati maupun wajahnya,” gumam Vina menggeleng dramatis.

“Eh? Kak Galang telpon tadi?” gumam Vina melihat ada satu miss call dari Galang.

“Halo. Assalamualaikum, Kak. Tadi lo telpon gue? Hmm, maaf tadi gue di bawah HP gue tinggal di kamar jadi nggak tau kalo lo telpon. Jadi ada perlu apa, Kak?”

“Oh, iya nggak apa- apa. Besok? Hmm, belum tau juga sih? Ajak si Mercy juga?” tanya Vina mengelus bulu Mercy yang sedang tidur di atas kasurnya.

“Iya, Kak. Tau tuh ngebet banget pengen beli. Tapi Mercy nggak doyan marmut, kan?”

“Hahahaha, ya udah besok ketemu di toko aja.”

“Belum tau juga sih mau naik apa. B-jek mungkin.”

“Iya, nggak apa- apa. Gue juga nggak mau ngerepotin.”

“Oke, sampai ketemu besok. Selamat malam. Assalamualaikum.”

...🐈🐈🐈...

Istilah:

AFK* : Away From Keyboard, yaitu istilah yang digunakan bila ada pemain yang tiba- tiba diam di tengah- tengah permainan.

Hode* : Istilah yang merujuk pada pemain laki- laki yang mengaku sebagai perempuan di game.

Loot* : Istilah yang digunakan ketika menemukan senjata atau perlengkapan lain di mayat lawan yang kita habisi.

Knock* : Dimana seseorang player harus tersungkur karena menerima sejumlah tembakan dari lawan.

Revive* : Proses membangkitkan kembali player di dalam satu tim yang mengalami knock.

*Maaf jika istilah- istilah di atas terdapat kesalahan 🙏

1
Erni Fitriana
ku baca thor
Dhina ♑
komennya cuma 8
dah punya gc ayo gunakan para membernya
Dhina ♑
Ya Allah, ini full Like, tapi belum nambah komen
Dhina ♑
Ya Allah Yarabbi
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣

Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂

Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣

pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
HaFu: Ternyata Bunda juga hobi maling mangga 😳
total 1 replies
C̸s̸•Netha_10
gila to the point' banget ya
C̸s̸•Netha_10
'gue peduli karena teman' Thor please lah nyesek itu✌️
HaFu: Jleb yak 😗😗
total 1 replies
C̸s̸•Netha_10
ya ampun baper sendiri gue inget mantan dong😭✌️
HaFu: Jangan diinget-inget lagi 😌
total 1 replies
C̸s̸•Netha_10
sumpah suka sama ceritanya 😭🤚
HaFu: Makasih Kak 😭😭
total 1 replies
C̸s̸•Netha_10
humor gue sebatas 'minta di beliin tikus' 😭✌️
C̸s̸•Netha_10
duh gue yg baper dong🤧
Nunu Adelia93
hahaha udah seneng2 tau nya mimpi 🤪🤪
Nunu Adelia93
astaga mantan model gtu gmna mau move on 😂😂😂
Nunu Adelia93: bener banget ka 🤭🤭
aku gak ikut nimbrung d GC yah ka
tanggung LG baca 😂😂😂
total 2 replies
Dhina ♑
Dah full Like, tapi belum afdol kalau ga ulang buay komen
HaFu: Komen yang banyak, Bund
total 1 replies
Dhina ♑
Teman ga tuh
Dhina ♑
Ya Allah...pagi-pagi kalian iming-iming pake Batagor, Ya Allah....perutku meronta ronta
HaFu: Wkwk sarapan batagor enak, Bund
total 1 replies
Nur Ulsyah Musyarofah
Semangat...
HaFu: Tengkyu Akak
total 1 replies
Nur Hayati
si mercy lucu😍😍😍😍
HaFu: Lucu kayak Otornya ya, uhuk 😗😗😗
total 1 replies
Violla
Semangat kak Hana
Dhina ♑
jadi ngiler 🤤🤤🤤 teringat nonton ke Bioskop, makan Popcorn, minumnya Fanta
duh....nostalgila dehh

kalian bikin kepengen 😥😥
R. Yani aja
ih... sweet banget, Dafa...😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!