Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pelabuhan Naga Biru
Perjalanan menuju pesisir memakan waktu beberapa hari, dan selama itu pula Jian Yi hidup di bawah kediktatoran Ling'er.
Jian Yi benar-benar menepati janjinya untuk bertanggung jawab; ia menjadi pengawal, pembawa barang, hingga tukang suap makanan bagi Ling'er yang masih sering merajuk.
Setibanya mereka di Pelabuhan Naga Biru, sebuah kota pelabuhan raksasa yang menjadi gerbang menuju Lautan Abadi, mata mereka disambut oleh ratusan kapal besar dan hiruk-pikuk pedagang dari berbagai benua.
"Yi, lihat itu! Kapal-kapal itu lebih besar dari rumah teman-temanmu di sekte!" seru Lu Feng sambil menunjuk kapal perang kekaisaran yang bersandar di dermaga utama.
Namun, perhatian orang-orang di pelabuhan justru teralih pada kelompok mereka.
Jian Yi yang tampan dengan aura Grand Master yang tenang, Lu Feng yang terlihat seperti gelandangan sakti, dan Ling'er—gadis mungil dengan gaun perak yang sangat mencolok, wajah imut, dan bentuk tubuh yang mulai berbahaya bagi kesehatan jantung pria normal.
Saat mereka sedang mencari kapal sewaan di sebuah kedai mewah pinggir dermaga, seorang pria bertubuh tegap dengan jubah biru laut yang dihiasi mutiara hitam mendekat.
Dia adalah Tuan Muda Hai, putra dari penguasa pelabuhan sekaligus pemilik armada dagang terbesar di wilayah tersebut.
Hai berhenti di depan meja mereka, matanya langsung terkunci pada Ling'er. Ia sama sekali tidak mempedulikan Jian Yi atau Lu Feng.
"Luar biasa... Aku telah berlayar ke tujuh samudra, tapi belum pernah melihat permata sedalam dan seindah Anda, Nona Muda." ucap Hai dengan nada yang sangat halus namun penuh percaya diri.
Ia membungkuk dan mencoba meraih tangan Ling'er untuk menciumnya.
Srak!
Sebelum tangan Hai menyentuh kulit Ling'er, sebilah sumpit kayu sudah menancap di meja, hanya satu milimeter dari jari Hai.
Jian Yi masih duduk santai, namun matanya yang ungu kini berkilat dingin.
"Tanganmu... sepertinya ingin mencicipi air laut, ya?" tanya Jian Yi dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Lu Feng berdiri.
Ling'er, yang menyadari Jian Yi mulai bereaksi, justru merasa mendapat kesempatan untuk membalas dendam atas kejadian "meremas" di penginapan.
Ia menarik tangannya dan tersenyum manis ke arah Tuan Muda Hai.
"Oh, Tuan Muda ini sangat sopan," ujar Ling'er dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Tidak seperti 'pelayan' saya yang satu ini, yang hanya tahu cara merusak suasana dan... uhm... meremas adonan roti."
Jian Yi tersedak araknya sendiri. Pipinya memerah menahan malu sekaligus kesal.
Tuan Muda Hai tertawa sombong, mengira Jian Yi benar-benar hanya pengawal. "Pelayan, katamu? Nona cantik, Anda layak mendapatkan pendamping yang lebih baik. Bagaimana kalau Anda ikut ke kapal saya? Kita bisa makan malam di tengah laut sambil melihat lumba-lumba emas. Saya juga punya koleksi... perhiasan mutiara yang mungkin cocok dengan kecantikan Anda."
Hai mengeluarkan sebuah kalung mutiara biru yang sangat mahal dan mencoba mengalungkannya ke leher Ling'er.
BARRRRR!
Gelas di tangan Jian Yi pecah berkeping-keping menjadi debu.
Hawa dingin yang luar biasa mendadak menyelimuti kedai itu, hingga air di dalam teko-teko tamu lain membeku seketika.
"Dia...Tidak...Butuh...Perhiasanmu." ucap Jian Yi. Ia berdiri perlahan, tubuhnya memancarkan tekanan Grand Master yang membuat Tuan Muda Hai jatuh berlutut karena tekanan gravitasi yang mendadak berat.
Lu Feng yang sedang menonton sambil merokok hanya bisa geleng-geleng kepala. "Waduh, ada yang terbakar cemburu nih. Padahal cuaca pelabuhan lagi adem."
Ling'er sedikit terkejut melihat reaksi Jian Yi yang begitu keras. Ia bisa merasakan batin Jian Yi yang sangat kacau; campuran antara rasa protektif dan kecemburuan yang murni.
Hatinya sedikit menghangat, namun ia tetap ingin menjahili Jian Yi.
"Tapi Tuan Muda Hai punya kapal menuju lokasi Mutiara Laut Abadi, kan?" tanya Ling'er sambil melirik Hai yang gemetar.
"Tentu... tentu saja... apapun untukmu, Nona..." bisik Hai dengan nafas tersengal.
Jian Yi mendekat, mencengkeram kerah baju Hai dan mengangkatnya hanya dengan satu tangan. "Dengar, Tuan Muda Mutiara. Kami akan menggunakan kapalmu. Tapi jika kau berani menatapnya lebih dari tiga detik, atau mencoba menyentuh ujung gaunnya, aku akan memastikan kapalmu dan seluruh keluargamu terkubur di dasar laut terdalam. Mengerti?"
Hai mengangguk cepat seolah kepalanya akan lepas.
Jian Yi menoleh ke arah Ling'er, wajahnya masih sangat ketus. "Ayo berangkat. Dan kau, Bakpao... jangan tersenyum pada orang asing. Senyummu itu... membuatku pusing."
Ling'er menjulurkan lidahnya. "Bilang saja kau cemburu, Pendekar Mesum!"
"Aku tidak cemburu!" seru Jian Yi sambil berjalan mendahului mereka, meskipun telinganya yang merah tidak bisa berbohong.