NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 13 Pengusiran**

Hujan berhenti menjelang subuh, meninggalkan bau tanah basah yang menusuk. Desa terbangun dengan wajah yang berbeda lebih keras, lebih dingin. Seolah malam tadi telah mengambil sisa belas kasihan yang ada.

Defit berdiri di halaman rumah, memandangi jejak-jejak kaki yang tertinggal di tanah. Banyak. Terlalu banyak untuk disebut kebetulan.

Mereka sudah sepakat.

Di dalam rumah, Maya mengemas pakaian dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu untuk apa koper itu pergi, atau sekadar bersiap menghadapi yang terburuk. Setiap lipatan kain terasa seperti perpisahan yang belum sempat diucapkan.

“Defit…” suaranya pecah. “Kalau mereka memaksa kita pergi”

“Kita tidak akan pergi,” potong Defit pelan.

Bukan karena keras kepala.

Melainkan karena ia tahu: pergi tidak akan menghentikan apa pun.

Pagi belum tinggi ketika suara kentongan berbunyi.

Tok. Tok. Tok.

Satu… dua… tiga.

Suara itu memanggil warga, dan juga memanggil sesuatu yang lebih tua dari desa itu sendiri. Orang-orang berkumpul di depan rumah Ratna tempat di mana semua bisik bermula.

Kepala desa berdiri paling depan, wajahnya tegang, tapi matanya menyimpan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Kami tidak ingin kekerasan,” katanya lantang. “Tapi demi keselamatan bersama… Defit harus pergi dari desa ini.”

Maya keluar lebih dulu. Wajahnya pucat, matanya merah.

“Keselamatan siapa?” tanyanya, berusaha tegar. “Siapa yang disakiti suamiku?”

Tidak ada jawaban.

Yang ada hanya tatapan menghindar.

Defit melangkah keluar, berdiri di samping Maya. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap mata yang menatapnya menekan dari segala arah.

“Kalian ingin aku pergi,” katanya tenang. “Ke mana?”

“Kami tidak peduli,” sahut seseorang dari belakang. “Asal bukan di sini.”

Defit mengangguk pelan. “Dan kalau aku pergi… apa yang kalian lakukan saat desa ini tetap berdarah?”

Beberapa orang bergidik.

Ratna berdiri di antara kerumunan, wajahnya diliputi rasa bersalah yang bercampur ketakutan. Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Defit menatapnya.

“Ini yang kamu inginkan?” tanyanya lirih. “Aku pergi… membawa semua yang kau tanam?”

Ratna menutup wajahnya, bahunya bergetar.

Seseorang melempar batu.

Tidak mengenai siapa pun jatuh di tanah, tapi suara benturannya cukup untuk memecah batas.

Defit merasakan segel di dadanya berdenyut keras. Retakan itu panas, nyaris membakar dari dalam.

Izinkan kami, bisik suara itu, penuh desakan. Satu sentuhan saja.

Defit mengatupkan rahang. Tangannya mengepal, lalu perlahan membuka.

“Jangan,” bisiknya pada dirinya sendiri.

Namun kerumunan mulai bergerak maju. Obor dinyalakan. Kata-kata berubah menjadi makian.

“Setan!”

“Pembawa sial!”

Maya menjerit saat seseorang menarik lengannya. Defit bergerak refleks, memeluk Maya erat dan saat itulah tanah bergetar.

Bukan kuat. Tidak menghancurkan.

Cukup untuk membuat semua orang terdiam.

Debu jatuh dari atap rumah. Angin berputar pelan di halaman. Bayangan Defit memanjang tak wajar, berdiri tegak seperti sosok lain yang menempel di punggungnya.

Defit mengangkat kepalanya.

Matanya basah bukan oleh amarah, melainkan oleh kelelahan yang dalam.

“Aku sudah cukup dihina,” katanya, suaranya bergetar namun jelas. “Aku tidak ingin kekuasaan. Aku hanya ingin hidup tenang bersama istriku.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Tapi kalau ketenangan itu harus dibayar dengan darah… aku akan memilih cara lain.”

Tanah berhenti bergetar.

Namun rasa takut telah tertanam.

Kerumunan mundur perlahan. Obor diturunkan. Tidak ada teriakan kemenangan hanya keheningan yang dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan.

Kepala desa menelan ludah. “Kami… akan mengawasi.”

Defit mengangguk. “Aku juga.”

Saat mereka bubar, Ratna tertinggal sendirian di halaman. Ia mendekat, lututnya melemas.

“Maafkan aku,” katanya lirih, air mata jatuh. “Aku tidak tahu… akan sejauh ini.”

Defit menatapnya lama.

“Ini belum sejauh apa pun,” jawabnya pelan. “Dan maaf… tidak bisa mengembalikan yang sudah terbangun.”

Malam itu, Defit dan Maya duduk berdua di kamar.

“Aku hampir kehilanganmu hari ini,” bisik Maya.

Defit menggenggam tangannya. “Aku hampir kehilangan diriku sendiri.”

Cermin kembali berembun.

Bayangan itu muncul kini lebih jelas dari sebelumnya, dengan senyum tipis yang puas.

“Pengusiran gagal,” katanya. “Dan ketakutan mereka… adalah pintu.”

Defit menatap bayangan itu tanpa gentar.

“Kalau kau ingin keluar,” katanya lirih, “kau harus melewati aku dulu.”

Bayangan itu tertawa pelan.

“Kau sudah membuka setengah gerbang.”

Dan di bawah desa, segel berdarah itu retak lebih lebar menunggu satu pilihan lagi untuk hancur sepenuhnya.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!