Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Namanya, Leonel Bimantara.
Di ruangan yang terasa membosankan itu, ada satu raga yang duduk seperti mayat hidup. Aulia. Tubuhnya ada, napasnya berjalan, tapi jiwanya seolah tertinggal entah di mana. Tidak ada lagi semangat, tidak ada binar cahaya di matanya. Ia seperti seseorang yang hanya menjalani sisa hidup, hari demi hari, tanpa tujuan.
Kedatangan mantan suaminya seminggu lalu berhasil mengguncang bagian terdalam hatinya. Luka yang bahkan belum sempat mengempis, kembali robek tanpa ampun. Rasa sakit itu menumpuk, berlapis, tak sempat diberi jeda untuk sembuh.
Aulia belum juga pulang dari rumah sakit, meski luka operasinya mulai mengering. Bukan karena fisiknya yang belum mampu, melainkan jiwanya yang rapuh dan mentalnya kena. Dokter ingin memantau kondisinya lebih dekat.
Iya, mental wanita itu benar-benar terkena. Trauma kehilangan membuatnya runtuh perlahan, diam-diam, tanpa suara.
“Sayang, mau keluar nggak? Ayo kita jalan-jalan ke taman,” bujuk Mama Kania dengan suara lembut, hampir berbisik.
Aulia tak menjawab apa pun. Ia hanya mengangguk pelan, gerakan kecil yang nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat hati Mama Kania menghangat.
Melihat putrinya bersedia keluar, Mama Kania segera meraih kursi roda. Dengan hati-hati ia memapah tubuh Aulia turun dari ranjang, mendudukkannya perlahan. Sebenarnya Aulia sudah bisa berjalan, tapi Mama Kania tak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Ia memilih berjaga.
Senyum tipis terbit di wajah wanita paruh baya itu. Bukan senyum lega, melainkan semangat kecil yang ia kumpulkan sendiri. Harapan sederhana, agar suatu hari nanti, senyum yang sama bisa kembali lahir di wajah putri sambungnya.
...****************...
Sementara itu, di ruangan lain, tangis seorang bayi pecah tanpa jeda. Suaranya serak, histeris. Tubuh kecilnya terasa panas saat disentuh. Susu formula yang disodorkan ditolaknya mentah-mentah, begitu pula ASI yang dibeli dari Bank ASI, tak satu pun mampu meredakan tangisnya.
Biasanya, jika demam seperti ini, bayi mungil itu memang lebih rewel. Ia kerap menolak susu formula, tapi masih mau minum ASI dari bank ASI. Namun kali ini berbeda. Tidak ada yang berhasil.
Tangisnya terus menggema, membuat suster dan anggota keluarga yang berada di sana saling bertukar pandang dengan wajah cemas. Mereka bergantian menggendong, mengayun, membujuk dengan suara pelan, tapi bayi itu tetap menangis, seolah ada sesuatu yang hilang dan tak bisa digantikan apa pun.
“Cepat hubungi Pak Archio, ini anaknya rewel terus dari tadi, ya Allah… aku sudah tidak sanggup lagi,” ujar pengasuh bayi itu dengan suara bergetar. Bukan karena menyerah, tapi karena hatinya tak tega. Tangis bayi kecil itu tak juga reda, suaranya sudah serak, tubuh mungilnya bergetar hebat dalam sesenggukan yang menyayat.
“Iya… kali saja dia ingin digendong ayahnya,” sahut seorang wanita paruh baya yang masih tampak anggun di usianya. Wajahnya cemas. “Pa, tolong hubungi putramu itu,” titahnya pada sang suami.
“Sudah dihubungi, Ma. Mungkin Archio lagi rapat, ponselnya tidak bisa dihubungi,” jawab sang suami, nadanya sama frustrasinya. Ia menatap bayi itu lama, rahangnya mengeras menahan gelisah.
“Astaga…” wanita itu mengusap wajahnya kasar, lalu mondar-mandir tak tenang. “Bimo, Pa. Hubungi Bimo atau orang kantornya di Surabaya!” perintahnya lagi, langkahnya berputar-putar di ruangan, sementara tangis bayi itu terus memenuhi udara, seolah meminta sesuatu yang tak seorang pun di sana mampu memberikannya.
Beberapa kali pria paruh baya itu mencoba menghubungi nomor asisten anaknya. Panggilan pertama tak diangkat, yang kedua hanya berdering lama, hingga entah percobaan ke berapa akhirnya sambungan itu terhubung.
“Halo… Bimo!” ucapnya cepat.
“—”
“Bilang pada Archio untuk pulang sekarang,” lanjutnya dengan nada tertekan. “Anaknya demam dan sekarang ada di rumah sakit. Dia menangis terus sejak tadi, tidak mau susu formula, juga tidak mau ASI yang dibelikan.”
Tak ada percakapan panjang. Pesan itu disampaikan singkat, lalu sambungan terputus.
“Sini, biar aku yang gendong,” ujarnya kemudian, meminta bayi itu diserahkan padanya, berharap dekapan bisa menenangkannya. Namun bayi itu tetap menangis di pelukannya. Tidak ada perubahan.
.
.
.
Tangisan pilu bayi yang terdengar hingga ke depan ruangan membuat Aulia terpaku di kursi rodanya. Jemarinya mencengkeram sandaran tangan, napasnya tertahan. Mama Kania ikut terdiam di belakangnya.
Seharusnya… suara seperti itu kini mengisi hari-harinya. Seharusnya ia mendengar tangisan bayinya sendiri, mendekap tubuh kecil itu di dada. Namun semua itu tinggal bayangan yang tak pernah sempat menjadi nyata.
Mata Aulia berkaca. Betapa bahagianya ia andaikan anaknya kemarin selamat. Ada begitu banyak hal yang belum sempat ia lakukan, begitu banyak pelukan yang tak pernah terjadi. Ia bahkan tidak sempat melihat wajah bayi yang selama ini ia jaga di dalam kandungannya, sebelum semuanya direnggut begitu saja.
Aulia cepat-cepat mengusap air matanya yang terjatuh. Dia mendongak menatap sang ibu. Seolah paham arti tatapan itu, Mama Kania bergerak membuka handle pintu ruangan.
Di dalam sana, semua orang sedang sibuk, panik, dan seperti ingin ikut menangis karena tidak berhasil menenangkan bayi mungil berusia lima bulan itu.
Mereka serempak menoleh saat menyadari pintu dibuka. Mereka mengira yang masuk adalah dokter, ternyata Aulia dan mamanya.
“Maaf, Bu Lancang,” ujar Mama Kania, menunduk hormat.
Wanita paruh baya yang anggun di depan sana berjalan mendekat, memperhatikan Aulia yang masih duduk diam di kursi roda. Pandangan Aulia terus tertuju pada bayi yang di timang kakeknya, wajahnya penuh harap ingin ikut menggendong.
Dia menyodorkan tangannya, meminta bayi itu untuk digendong, tanpa bicara.
“Maaf Bu, boleh tidak dia menggendong sebentar adeknya, anak saya ini baru saja kehilangan anaknya, Bu. Jadi mungkin dia merasa kembali bersedih setelah mendengar tangis yang menyayat hati dari adeknya,” ujar Mama Kania pelan, hampir berbisik.
Suami istri dan suster di depannya saling pandang. Mereka menatap Aulia dengan perasaan yang entah.
Kemudian si kakek yang menggendong bayi itu mendekat, “Boleh,” ujarnya lembut, lalu menyerahkan bayi itu pada Aulia.
Sedikit senyum samar tercetak di sudut bibir wanita itu—cukup terlihat oleh Mama Kania.
Hati Mama Kania sedikit lega, karena akhirnya dia bisa melihat kembali senyum putrinya, meski hanya sebentar.
Dan ajaibnya, begitu bayi itu berada dalam gendongan Aulia, tangisnya berhenti.
Mereka bertiga menatap tak percaya. Ruangan yang tadi ramai suara tangis dan panik, kini mendadak sunyi. Semua terpaku pada bayi mungil itu yang kini menatap wajah Aulia.
Tangan Aulia bergerak menghapus air mata yang membasahi pipi merahnya. Senyum tipis, disertai air mata yang kembali berkaca-kaca, terbit di matanya.
“Namanya siapa?” tanyanya lembut, tanpa melihat ke arah mereka. Fokusnya hanya pada bayi itu.
“Leonel. Namanya Leonel Bimantara,” jawab pria paruh baya itu cepat.
“Nama yang sangat indah… wajahnya juga tampan seperti namanya,” lirih Aulia sambil menyentuh pipi tembem baby Leonel. Punggungnya mulai bergetar karena isak tak bersuara.
Mama Kania segera mengusap lembut punggung putrinya.
Mungkin karena menyadari Aulia menangis, baby Leonel juga ikut menangis dalam dekapannya. Aulia tanpa sadar membuka kancing bajunya, bersiap menyusui bayi itu.
“Pa, keluar!” usir wanita paruh baya yang anggun itu pada suaminya.
Dia menutup mata pria itu, lalu mendorongnya keluar dari dalam ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian