Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ambang Kebocoran
Lucien memusatkan seluruh fokusnya pada Void Crawler terakhir yang berdiri tepat di depannya. Ia telah menghitung sudut tebasan paling efisien untuk memutus leher makhluk itu dengan sihir petir dasar. Di benaknya, mantra ketenangan dari latihan semalam terus berulang, memastikan tak ada setitik pun energi hitam bocor ke bilah pedangnya.
Namun, konsentrasi yang terlalu dalam pada satu titik justru menjadi celah.
Srak!
Suara gesekan sisik di atas batu terdengar sepersekian detik sebelum bayangan abu-abu melesat dari arah samping. Seekor Void Crawler lain—lebih kecil namun jauh lebih gesit—muncul dari balik pilar batu lapangan latihan.
“Lucien, di sampingmu!” teriak instruktur dari tepi arena, tetapi peringatan itu terlambat.
Monster itu menghantam bahu Lucien dengan seluruh berat tubuhnya seperti bongkahan batu besar. Dalam posisi menyerang, Lucien tak memiliki pijakan kuat untuk menahan benturan mendadak itu.
BRAK!
Tubuhnya terlempar beberapa meter dan tersungkur keras di lantai batu. Pedangnya terlepas dari genggaman, berdenting tajam saat meluncur menjauh. Rasa kaget yang menyambar sistem sarafnya jauh lebih kuat daripada nyeri fisik akibat jatuh. Jantungnya berdegup kencang—reaksi alami tubuh yang terancam bahaya.
“Akh…!” Lucien mengerang pelan, tangannya mencengkeram tanah.
Dalam hitungan detik, rasa panas yang sangat ia kenal merayap di sepanjang tulang punggungnya. Denyut jantung yang tak stabil seolah memicu simbol kutukan di sana. Pola kilat gelap itu berdenyut, mencoba menyedot emosi kagetnya untuk diubah menjadi kekuatan yang berbahaya.
Jangan sekarang… kumohon, jangan sekarang! batinnya sambil menggertakkan gigi.
Void Crawler yang menyerangnya kini mendarat tak jauh darinya, mendesis rendah dan bersiap menerkam. Para siswa lain mulai berlari mendekat, tetapi jarak mereka masih terlalu jauh untuk tiba tepat waktu.
Lucien menundukkan kepala. Rambut hitamnya menutupi matanya yang mulai memancarkan kilatan biru tak wajar. Ia harus memilih—membiarkan dirinya terluka demi menjaga rahasia, atau melepaskan sedikit kekuatan terlarang yang bisa menghancurkan penyamarannya di depan para instruktur.
Ia mencengkeram tanah lebih erat. Urat di lehernya menonjol saat ia menekan denyutan di punggungnya dengan sekuat tenaga. Monster itu merendahkan tubuhnya, otot-ototnya menegang, siap melompat ke arah leher Lucien yang tampak tak terlindungi.
Namun, tepat sebelum makhluk itu menerkam, sebuah bayangan melesat turun dari ketinggian.
Syuuuut—BOOM!
Seorang siswi berjubah Crimson Crest mendarat anggun di depan Lucien. Lantai batu retak halus akibat momentum jatuhnya dari lantai empat gedung akademi. Ia tidak membawa pedang, melainkan suling perak pendek yang berkilau tertimpa cahaya matahari.
“Terlalu fokus pada satu titik bisa membunuhmu, Vlad,” ucapnya tenang tanpa menoleh.
Monster itu meraung dan melompat. Siswi itu mengangkat sulingnya ke bibir dan meniup satu nada pendek yang melengking tajam.
TIIIIIIIIIIIING!
Gelombang suara transparan memancar keluar—bukan musik indah, melainkan frekuensi tinggi yang memekakkan. Lucien, tepat di belakangnya, memejamkan mata dan menutup telinga, merasa kepalanya seperti dihantam palu berat.
Bagi monster itu, efeknya jauh lebih parah. Tubuhnya membeku di udara sekejap sebelum jatuh terhempas. Organ pendengarannya hancur oleh getaran sihir ilusi tersebut. Ia menggeliat di tanah, persepsi ruang dan waktunya kacau oleh dengungan yang terus menggema di dalam benaknya.
“Ilusi Suara: Symphony of Vertigo,” bisik siswi itu.
Dengungan perlahan mereda, menyisakan keheningan janggal di lapangan latihan. Monster yang tadi mengancam kini terkapar lemas, matanya memutih, sistem sarafnya lumpuh total.
Lucien menarik napas panjang. Kehadiran siswi ini adalah berkah sekaligus risiko. Ia selamat tanpa perlu melepaskan sihir terlarangnya, dan denyutan simbol di punggungnya perlahan mereda seiring detak jantungnya kembali stabil.
Ia mendongak, menatap punggung gadis yang berdiri di hadapannya.
“Kau… Seraphina?” gumamnya, mengenali siswi berbakat yang terkenal karena sihir ilusi musiknya yang eksentrik.
Gadis itu memutar sulingnya dengan santai lalu menyelipkannya ke pinggang. Ia menoleh sedikit, menatap Lucien dengan sorot mata menyelidik yang membuatnya tidak nyaman.
“Latihanmu terlalu keras, Lucien,” katanya tenang. “Sampai-sampai kau tidak sadar ada bahaya dari samping. Atau… ada sesuatu yang sedang mengalihkan pikiranmu?”