Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langkah Adnan dan Kinan keluar dari pintu kediaman disambut oleh hembusan angin sore yang membawa aroma tanah pesantren yang khas. Namun, ketenangan itu seketika pecah oleh tatapan-tatapan tajam yang menghujam dari segala penjuru lapangan pondok.
Adnan berjalan dengan langkah mantap, jemarinya menggandeng erat tangan Kinan.
Kinan berjalan tertatih dengan kepala menunduk dalam.
Rambutnya yang hitam tergerai tanpa hijab, hanya tertutup seadanya dengan tudung jaket tipis yang ia kenakan, membuatnya tampak sangat mencolok di tengah lingkungan yang serba tertutup.
Suara bisik-bisik mulai menjalar seperti api di antara kerumunan santriwati yang baru saja selesai jamaah Ashar.
"Lihat itu, berani sekali dia keluar tanpa hijab di tanah suci ini," bisik seorang santriwati dengan nada sinis.
"Sangat menjijikkan. Bagaimana bisa Ustadz Adnan sudi menyentuh tangan wanita seperti itu?" timpal yang lain sambil membuang muka, seolah-olah melihat Kinan adalah sebuah dosa.
Fauziah, yang berdiri di kejauhan, meremas pinggiran kerudungnya hingga kuku-kukunya memutih.
Matanya berkilat penuh kebencian melihat pemandangan di depannya. Baginya, pemandangan Adnan yang menggandeng Kinan adalah penghinaan bagi seluruh perjuangan mereka menjaga kesucian di pondok tersebut.
Kinan merapatkan jaketnya, tubuhnya sedikit gemetar mendengar kata 'menjijikkan' yang terlontar cukup keras.
Ia merasa ingin lari kembali ke kamar dan bersembunyi di bawah selimut selamanya. Namun, genggaman tangan Adnan justru mengeras, memberikan kekuatan yang tak kasat mata.
"Jangan dengarkan, Kinan. Teruslah berjalan di sampingku," bisik Adnan tanpa menoleh, namun suaranya terdengar sangat tegas di telinga Kinan.
Mereka sampai di parkiran depan. Adnan mengeluarkan sepeda motor manualnya.
Ia menyalakan mesin, suaranya menderu membelah kesunyian sore.
"Naiklah," perintah Adnan lembut.
Kinan naik ke boncengan dengan ragu, memegang ujung baju koko Adnan dengan ujung jarinya.
Adnan melirik ke spion, melihat wajah istrinya yang penuh ketakutan melalui pantulan kaca.
"Pegang yang erat, kita akan pergi mencari warna baru untuk hidupmu," ucap Adnan.
Motor itu pun melaju, meninggalkan gerbang pesantren yang penuh dengan mata-mata penuh prasangka.
Adnan memacu motornya menuju pasar kota, meninggalkan kebisingan lidah manusia menuju sebuah awal yang baru.
Di belakang, Kinan perlahan menyandarkan keningnya di punggung kokoh Adnan, membiarkan angin sore menghapus air mata yang sempat menggenang.
Motor bebek Adnan membelah keramaian pasar kota yang mulai dipadati warga sore itu.
Bau rempah, aroma gorengan, dan riuh rendah tawar-menawar menjadi latar belakang langkah mereka.
Adnan tidak melepaskan genggaman tangannya, membimbing Kinan masuk ke sebuah toko perlengkapan Muslim yang cukup besar.
Di dalam toko yang dipenuhi jajaran kain berwarna-warni, Adnan berhenti di depan deretan mukena.
Matanya yang tajam namun lembut memindai satu per satu, hingga jemarinya menyentuh sebuah mukena berbahan katun bordir putih bersih yang tampak sangat lembut dan sejuk.
"Cobalah sentuh ini, Kinan. Bahannya dingin, supaya kamu betah saat berlama-lama mengadu pada Allah nanti," ucap Adnan tulus.
Kinan menyentuh kain itu dengan ujung jarinya yang gemetar.
Ia belum pernah menyentuh pakaian sesuci ini. Selama ini, pakaiannya hanyalah kain-kain tipis yang mengundang pandangan rendah lelaki.
Kini, suaminya justru mencarikan sesuatu yang akan melindunginya.
Tak hanya mukena, Adnan dengan penuh ketelatenan juga mengajak Kinan ke lorong lain.
Ia membantu Kinan memilih pakaian dalam, handuk baru, sikat gigi, sabun, hingga beberapa potong gamis dan kerudung instan.
Adnan ingin Kinan memulai segalanya dari nol, benar-benar bersih luar dan dalam.
"Tunggu di sini sebentar ya, Mas mau bayar semua ini ke kasir," ucap Adnan sambil membawa keranjang belanjaan yang sudah penuh.
Kinan mengangguk, namun matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah lapak kaki lima di depan toko.
Seorang bapak tua menggelar dagangan baju koko sederhana yang dibungkus plastik bening. Sebuah papan kardus bertuliskan: "Obral Baju Koko - 35 Ribu".
"Mas tunggu di sini sebentar ya!" seru Kinan tiba-tiba.
Sebelum Adnan sempat bertanya, Kinan sudah berlari kecil menuju lapak tersebut.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan lembaran uang lima puluh ribu yang tadi sempat ditolaknya oleh Adnan—uang terakhir yang ia miliki.
Dengan teliti, Kinan memilih satu baju koko berwarna putih tulang yang menurutnya paling bagus.
Ia membayar uang lima puluh ribu itu dan menerima kembalian lima belas ribu dengan wajah berbinar.
Kemudian ia segera berlari kembali ke arah Adnan yang baru saja selesai di kasir.
"Mas, ini," Kinan menyodorkan bungkusan plastik hitam berisi baju koko murah itu dengan tangan gemetar karena haru.
Adnan tertegun. Ia melihat baju koko seharga tiga puluh lima ribu itu, lalu menatap wajah istrinya yang tampak begitu tulus.
"Ini untuk Mas. Aku tahu ini murah, tidak sebagus jubah-jubah Mas yang ada di lemari. Tapi, aku ingin Mas memakainya saat mengajariku sholat nanti. Ini uangku sendiri, Mas. Dari hasil keringatku yang tersisa," bisik Kinan dengan mata berkaca-kaca.
Adnan terdiam seribu bahasa. Baginya, baju koko tiga puluh lima ribu ini terasa jauh lebih mewah dan berharga daripada jubah sutra sekalipun.
Ia melihat pengorbanan seorang istri yang ingin memberikan yang terbaik bagi suaminya meski dalam kekurangan.
Adnan menerima bungkusan itu, lalu menggenggam tangan Kinan erat-erat.
"Terima kasih, Kinan. Ini adalah hadiah terindah yang pernah Mas terima. Mas janji akan memakainya saat kita sujud pertama kali nanti."
Kinan menarik napas lega setelah memberikan baju koko itu.
Wajahnya yang semula tegang kini sedikit lebih cerah. Ia melihat uang kembalian lima belas ribu di telapak tangannya.
"Mas, masih ada lima belas ribu. Kita beli bakso di pojok pasar itu yuk? Aku lapar," ajak Kinan dengan nada manja yang tulus, sebuah sisi dirinya yang mulai muncul di depan Adnan.
Adnan tersenyum teduh, merasa hangat melihat istrinya mulai bisa bersikap lepas.
"Boleh. Ayo, kita makan bakso dulu sebelum pulang."
Namun, baru saja mereka melangkah menuju kedai bakso, sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik kerumunan pengunjung pasar.
Seorang pria dengan aroma alkohol yang menyengat dan pakaian bermerek yang berantakan tiba-tiba menghadang jalan mereka. Mata pria itu membelalak nakal saat mengenali wajah Kinan.
"Lho! Kinan? Ini beneran Kinan?" teriak pria itu dengan suara serak yang memuakkan.
"Ternyata kamu di sini! Pantesan di klub semalam nggak ada. Lagi main peran jadi santriwati, ya?"
Kinan langsung terdiam dengan tubuhnya bergetar hebat.
Ia mengenali pria itu—salah satu pelanggan kasar yang sering mengganggunya.
Sebelum Kinan sempat menghindar, pria itu dengan lancang merangsek maju dan langsung memeluk punggung Kinan dari belakang, meraba bahunya dengan kasar.
"Ayo balik, Sayang. Jangan main-main di sini, nggak cocok sama muka kamu," bisik pria itu tepat di telinga Kinan.
Wajah Adnan seketika berubah. Ketenangan yang biasanya terpancar dari wajah sang Ustadz lenyap, digantikan oleh kilat amarah yang membara.
Adnan mencengkram erat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarahnya bukan karena cemburu buta, tapi karena melihat kehormatan istrinya diinjak-injak di depan umum.
Adnan menarik bahu pria itu dengan satu sentakan kuat, memaksanya melepaskan Kinan.
"Lepaskan tangan kotor Anda dari istri saya!" desis Adnan dengan suara rendah yang menggetarkan.
"Istri? Hahaha! Ustadz, kamu kena tipu ya? Ini tuh bar--"
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang pria itu sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat hinanya.
Pria itu terjerembab ke tumpukan krat kayu. Belum sempat ia bangkit, Adnan yang sudah dikuasai naluri melindungi, kembali menerjang.
Bugh!
Pukulan kedua mendarat di perut pria itu, membuatnya terbatuk dan meringkuk kesakitan.
Orang-orang di pasar mulai berkerumun, terkejut melihat seorang pria bersorban dan berbaju koko bisa bertindak seberani itu.
Kinan menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya tumpah.
Ia ketakutan, namun di sisi lain, ia melihat sisi Adnan yang belum pernah ia lihat: seorang pelindung yang siap menjadi singa demi kehormatannya.
"Pergi! Sebelum saya menyeret Anda ke kantor polisi karena pelecehan!" bentak Adnan dengan suara menggelegar.
"Maafkan Mas, Kinan. Mas gagal menjagamu dari gangguan tadi," bisik Adnan, kini suaranya kembali melembut, penuh penyesalan.
Kinan menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah suaminya.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅