Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arus Pendek di Jantung
Suasana di dalam mobil Maybach itu masih sedingin es hingga mereka sampai di pelataran mansion. Matthias memarkirkan mobil dengan gerakan tegas, rahangnya masih mengeras, dan jemarinya mencengkeram kemudi dengan kuat. Amarahnya pada Martin mungkin sudah tersalurkan, tapi rasa posesif yang membakar dadanya belum juga padam.
Sheena melirik suaminya dari samping. Matthias tampak sangat terganggu, seolah harga dirinya baru saja dicoreng karena istrinya sempat disentuh oleh pria lain.
"Matthias," panggil Sheena pelan setelah mesin mobil mati.
"Masuklah ke dalam, Sheena. Aku masih harus kembali ke kantor," jawab Matthias tanpa menoleh, suaranya berat dan dingin. Ia mencoba kembali ke mode "robot bisnisnya" untuk menutupi gejolak emosi di dalam sana.
Sheena tidak bergerak. Ia menatap profil samping wajah Matthias yang sempurna—garis rahang yang tegas, hidung mancung khas Eropa, dan gurat kelelahan yang mulai terlihat. Ia tahu Matthias melakukan semua itu demi melindunginya, meskipun caranya sangat arogan.
"Terima kasih untuk yang tadi," ucap Sheena lagi.
Matthias mendengus kecil, akhirnya menoleh ke arah Sheena dengan tatapan tajam. "Sudah kubilang, jangan berterima kasih. Aku melakukannya karena kau membawa nama Smith. Aku tidak suka—"
CUP.
Kalimat Matthias terputus di udara. Dunianya seolah berhenti berputar.
Sheena baru saja mencondongkan tubuhnya, menarik kerah jas Matthias sedikit, dan mendaratkan sebuah ciuman singkat namun lembut di pipi kanan suaminya. Kulit wajah Matthias yang dingin seketika terasa terbakar oleh sentuhan bibir Sheena yang hangat.
Hanya satu detik. Tapi bagi Matthias, itu terasa seperti ledakan nuklir.
Sheena langsung menarik diri dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan saat itu juga. Tanpa menunggu reaksi Matthias, Sheena membuka pintu mobil dengan gerakan panik.
"I-itu sebagai tanda terima kasih! Jangan berpikiran yang macam-macam!" Seru Sheena gagap tanpa berani menoleh lagi.
Gadis itu langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam mansion, hampir saja tersandung anak tangga lobi karena saking malunya. Ia menghilang di balik pintu besar secepat kilat.
Sementara itu, di dalam mobil...
Matthias Smith, pria yang paling ditakuti di dunia bisnis Makati, pria yang baru saja mengancam nyawa orang, kini hanya diam mematung. Tangannya masih memegang kemudi, tapi matanya menatap kosong ke depan dengan mulut sedikit terbuka.
Ia perlahan mengangkat tangan kirinya, menyentuh pipinya yang tadi dicium Sheena. Bekas hangat itu masih terasa di sana.
"Apa... apa yang baru saja terjadi?" Gumam Matthias pada dirinya sendiri.
Jantungnya yang biasanya berdetak dengan ritme yang teratur kini berantakan, seolah ada arus pendek yang merusak seluruh sistem logikanya. Matthias mencoba menarik napas panjang, namun yang terhirup justru sisa aroma parfum Sheena yang tertinggal di dalam mobil.
Ia memejamkan mata, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Bukannya kembali ke kantor seperti yang ia katakan tadi, Matthias justru tetap duduk di sana selama sepuluh menit penuh, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sangat memalukan.
"Sial," bisik Matthias dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Dia benar-benar... benar-benar membuatku gila."
Sore itu, sang Tuan Smith gagal kembali ke kantor. Ia justru masuk ke rumah dengan langkah yang sedikit goyah, mencari sosok gadis kecil yang baru saja mencuri kewarasannya dengan satu kecupan di pipi.