"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKLUK JUGA!
BAB 18
Menunggu Tama membuat Selin kesal, pasalnya gadis cantik ini belum puas memarahi Bosnya, Beruntung Selin tidak menikam Tama di mobil tadi, dan Alisya yang melihat raut wajah Selin yang bad Mood hanya bisa tersenyum.
“Apa yang di lakukan Mas Tama sampai membuat kamu Kesal Sel?”
Selin melirik kamar tidur Sang Bos yang masih tertutup itu tandanya Tama belum selesai membersihkan diri.
Dia harus segra menadu pada Alisya. Tingkah suaminya itu selalu membuatnya kesal.
“Suamimu itu sudah membuat kepalaku hampir Pecah Al!”
“Benarkah? Apa yang dia lakukan?”
Selin menceritakan sedetail mungkin, entahlah apa motif Tama melakukan itu tapi Selin pun tidak tau.
“Ganjen sekali lelaki itu?” Ucap Alisya dengan nada sinisnya, dan Selin langsung tersenyum.
“Silakan beri dia pelajaran Al, seberat apapun aku iklas dan aku janji kali ini aku tidak akan melindungi dia dari amukan kamu..”
Alisya memandang pintu kamarnya, tak lama Tama keluar dengan rambut yang masih basah.
“Ada apa ini? Kenapa tatapan kalian berdua menyeramkan?”
Tama berhenti melangkah dia rasanya ingin segera menghilang dari sana.
Alisya sudah melotot ke arahnya.
“Duduk Mas! Aku mau Bicara!”
Dengan nada Sinis Alisya berucap, sudah tau ke arah mana pembicaraan mereka sontak Tama melirik ke arah Selin.
“Sein?”
“Sorry Tam, aku tinggal pulang ya, semoga malam ini kamu selamat!”
“Sein! Ah Sial!”
Selin memberi kode mata pada Alisya, dan benar saja seakan wanita itu sudah sangat siap mengeksekusi suaminya.
“Ikut aku Mas!”
Setelah Selin keluar dari rumah mereka ke duanya memasuki kamar, Alisya sudah duduk di tepi Ranjang.
“Sayang..” Tama merasa waswas, karena kali ini tatapan Istrinya sudah sangat menyeramkan.
“Duduk Mas!” Tak ada nada keramahan, Alisya terlihat garang sekarang.
“Sayang, Apapun yang Sein katakan kamu jangan langsung percaya..” Ucap Tama dengan lembut, lelaki itu seolah meminta belas kasih Istrinya yang sudah terlihat memendam amarah.
“Katakan di bagian mana Wanita Gatel itu menyentuh kamu?”
“Hmmm?” Tama mengusap tengkuk lehernya, dan benar saja Asistennya itu sudah berterus terang.
“Aku akan memberikan kamu pelajaran Sein, liat saja!” Tama bicara pelan namun Alisya masih bisa mendengarnya.
“Aku dengar Mas! Jangan mengumpat!”
Senyum manis dan begitu menawan, Tama menarik kursi dan duduk di depan Istrinya.
“Baiklah,, apa yang mau kamu tanyakan Hmmmm?”
Tatapan sangar Alisya perlahan redup saat mendengar suara Lembut Suaminya. Ah benar !! ini adalah kelemahan seorang Alisya.
“Kamu ngapain sih Mas keganjenan sama perempuan? Di Club lagi!” Tama menggeleng di usap kepala sang Istri dan di berikan aji – ajian penawar amarah.
Tama tersenyum.
“Dia hanya kesusahan membuka botol minum sayang, dan aku membantunya, hanya itu sungguh!” Alisya menyipit melihat adakah kebohongan di mata Suaminya.
“Aku tidak percaya Mas!”
“Iyalah sayang, percaya itu sama Tuhan, jangan sama aku..”
“Mas!”
Mendengar ucapan Suaminya Alisya semakin mendelik.
“Ampun sayang..”
Dasar Suami takut Istri, sudah melihat Istrinya melotot dia sudah melemas.
“Kamu tuh ngapain sih Ke Club? Disana itu banyak wanita – wanita haram tau!” Suara Alisya sudah tidak menyeramkan lagi justru wanita itu ingin sekali menangis.
“Sayang... Cup! Aku tidak berbuat apapun, aku hanya sedang menyelidiki sesuatu, Pabrik salah satu temanku kemalingan dan aku menemukan salah satu bukti di sana..”
“Kamu sedang tidak berbohong kan Mas?” Tama menggeleng seraya mengusap air mata sang Istri.
“Wanita ganjen yang kamu bilang itu hanya memegang lenganku, sungguh! Tapi Ada Sein yang menyelamatkan aku.. jadi jangan cemas ya.. aku sudah mandi dan menyingkirkan Virus liar itu. Sekarang aku sudah steril sayang.”
“Coba gak ada Selin disana? Pasti kamu sudah di apa – apain Mas!”
“Itu tidak akan terjadi sayang.. Suamimu itu Artama Rainaka..” Tama berusaha meyakinkan, Alisya tidak tau saja sepanik apa Tama saat wanita itu mulai mendekatinya.
Alisya menangis dan Tama hanya berusaha menenangkannya.
“Sudah ya.. Suamimu yang tampan ini baik – baik saja..” Alisya memukul lengan Suaminya dan keduanya tertawa, semudah itu meyakinkan Seorang Alisya, karena pada dasarnya Wanita secantik bidadari itu Tidak akan bisa marah dengan suaminya.
“Aku cemburu Mas..”
“Utututu sayang..”
Tama menarik sang Istri dan mengajaknya berbaring, Tama memeluk Alisya dengan erat menetralkan amarah dalam hatinya.
Ting!
Tama menoleh Ponselnya yang menyala, satu pesan masuk.
Pedang Awan!
Satu pesan masuk dari Selin yang kontak teleponnya di beri nama Pedang Awan, entahlah sejak kapan Tama merubah namannya.
“Perang ke tiga atau ke empat? Selamat berjuang Artama Rainaka!”
Mendapatkan pesan tersebut Tama langsung tertawa, dan seketika ide jailnya terlintas, dia memotret dirinya yang sedang berpelukan dengan sang Istri dan langsung mengirimkan ke Sang Asisten dengan Caption “Grazie! Berkatmu aku bisa memeluknya malam ini.”
Sial! Selin langsung mengumpat saat mendapatkan pesan dari sang bos, padahal dia berharap Tama mendapatkan Omelan dari sang Istri.
“SI Alisya emang udah bucin banget sama Tama ya, Masa gak ada marahnya!”
Tama sangat puas, dia mematikan layar ponselnya dan kembali memeluk sang Istri sehingga keduanya terlelap bersama.
**
Cup!
“Bangun sayang..”
Kedua mata indah Alisya perlahan terbuka, dia melihat Tama sudah tampan dengan Jas Biru mudanya
“Mas? Jam berapa ini?”
“Jam Enam pagi sayang..”
“Kamu sudah siap?” Tama mengangguk dan membantu Sang Istri untuk duduk, begitu dia mencintai Alisya sampai selembut itu dia memperlakukannya.
“Aku ada kerjaan pagi ini yang tidak bisa aku tinggal, jadi aku berangkat lebih awal.”
Alisya menganggguk dan memeluk tubuh Suaminya.
“Mas?”
“Iya sayangku?”
“Boleh aku Izin keluar?”
“Mau kemana?” Nada Bicara Tama naik satu tingkat namun masih terdengar lembut.
“Aku mau Pergi dengan Jessika, aku sangat merindukan sahabatku, boleh ya?”
Tama berpikir seraya mengusap lembut rambut sang Istri yang begitu halus.
“Memangnya mau kemana sih, Hmmm?”
“Ke Mal, aku mau ke salon..”
“Harus hari ini? Kenapa tidak besok? Biar aku menemani..” Alisya langsung menggelengkan kepalanya.
“Tidak mau, aku ingin bicara banyak dengan Jessi dan pembicaraan perempuan, jadi kamu tidak boleh ikut.”
Tama langsung menganggukan kepala, dia langsung paham dengan kode dari sang Istri.
“Baiklah.. tapi aku akan meminta Argo untuk menemani kamu, bagaimana?”
“Mas...” Rengek Alisya dengan manja, tentu saja dia risih jika di ikuti kemanapun dia pergi.
“Sayang, dua kali kamu pergi dengan Bayu pulang – pulang dalam keadaan pingsan, aku cemas sayang, aku takut kamu kenapa – napa.” Dengan lembut Tama memberi pengertian pada Istrinya dan setelah berpikir Alisya menyetujuinya.
“YA sudah tapi jangan terlalu dekat.”
“Baiklah Jarak Seratus meter..” Alisya mengangguk menyetujuinya, dari pada dia tidak di perbolehkan keluar, lebih bahaya lagi.
“Pergilah sayang, Gunakan kartu yang aku berikan padamu, beli apapun yang kamu mau, Sandinya tanggal pernikahan kita, kamu sudah tau kan?” Alisya menganggukan kepala.
“Terimakasih sayang..” Tama langsung mencium kening Istrinya.
“Pergilah,, tapi jangan sekalipun matikan ponselmu.. dan hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu..”
“Aku janji sayang..”
Setelah mendapatkan izin Tama berpamitan untuk Pergi.
“Have Fun Darling...”
“Makasih mas.. Love You..” Ucap Alisya dengan mesra.
“Love you More!”
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya