NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. AC Mall yang Terasa Dingin

Bab 26: AC Mall yang Terasa Dingin

Pintu kaca otomatis Irian Kisaran berdesis pelan, terbuka lebar seolah menyambut dua remaja dari Tanjungbalai yang baru saja lolos dari panggangan matahari Sumatera Utara. Begitu kaki Rafi melangkah melewati ambang pintu itu, sebuah gelombang udara dingin yang masif langsung menerjang pori-porinya. Secara biologis, tubuh Rafi mengalami thermal shock ringan—sebuah sensasi mengejutkan yang membuat bulu kuduk di lengannya meremang seketika.

Dingin. Sangat dingin.

Bagi Rafi, suhu di dalam mall ini bukan sekadar masalah kenyamanan termal; ini adalah simbol peradaban yang berbeda. Di luar sana, di aspal depan stasiun atau terminal yang baru saja mereka tinggalkan, udara terasa tebal, lengket, dan berbau asap knalpot. Namun di sini, oksigen terasa ringan, bersih, dan beraroma campuran antara pembersih lantai pinus dan wangi popcorn karamel yang samar dari lantai atas.

Rafi melirik Nisa yang berjalan di sampingnya.

Gadis itu tampak mengembuskan napas panjang, sebuah ekspresi kelegaan yang murni. Sisa-sisa peluh di dahi Nisa—yang tadi sempat membuat Rafi merasa bersalah di Bab 20—kini mengering dalam hitungan detik, meninggalkan jejak bedak yang sedikit tidak rata namun tetap terlihat manis di mata Rafi.

"Wah, langsung adem ya, Fi," bisik Nisa. Suaranya terdengar lebih jernih sekarang, tidak lagi serak karena debu jalanan.

"Iya, Nis. Lumayanlah, biar nggak 'berasap' kali kepala kita," jawab Rafi, mencoba melucu meski hatinya sedang melakukan kalkulasi analitis yang intens.

Secara sadar, Rafi menegakkan punggungnya. Ia memperbaiki letak tas ranselnya yang terasa berat—bukan karena isinya, tapi karena beban ekspektasi yang ia panggul hari ini. Ia menatap pantulan dirinya di pilar mall yang dilapisi cermin mengkilap. Kemeja flanel birunya (Bab 13) terlihat sedikit kusut di bagian punggung, namun dalam pencahayaan lampu LED mall yang putih benderang, pudar di kerahnya tidak terlalu kentara.

Ia merasa, untuk pertama kalinya dalam sebulan ini, ia terlihat seperti pria yang "pantas".

Pantas bersanding dengan Nisa. Pantas berada di lantai granit yang licin ini.

Rafi memperhatikan ubin di bawah kakinya. Begitu bersih hingga ia bisa melihat bayangan sepatunya sendiri. Ia teringat Bab 3, saat ia berdebat dengan dirinya sendiri apakah harus membeli lem Alteco atau tidak. Kini, saat ia melangkah dengan mantap tanpa suara "plok-plok" dari sol sepatu yang menganga, ia merasa keputusan logisnya saat itu adalah investasi terbaik dalam hidupnya.

Tiga ribu perak untuk Alteco, tapi hasilnya adalah harga diri di depan Irian Kisaran, batinnya bangga.

Namun, di balik rasa bangga itu, insting skeptis Rafi tetap bekerja. Ia mulai mengamati sekeliling dengan mata seorang akuntan amatir. Ia melihat orang-orang yang lewat—ibu-ibu dengan tas belanjaan penuh, remaja-remaja dengan pakaian bermerek yang tampak santai. Di Tanjungbalai, uang seratus ribu bisa memberi makan satu keluarga selama beberapa hari jika dikelola dengan ketat. Di sini, uang itu mungkin hanya cukup untuk dua mangkuk ramen dan segelas minuman kekinian.

Rafi secara refleks menyentuh saku belakang celananya. Dompetnya masih di sana, menonjol kaku. Di dalamnya terdapat tumpukan uang kertas yang ia kumpulkan dengan darah, air mata, dan ribuan baris ketikan tugas teman-temannya (Bab 4).

Tiga ratus lima belas ribu, angka itu terpatri di otaknya seperti sebuah mantra.

"Kita ke atas dulu yuk, Fi? Di atas kayaknya lebih ramai," ajak Nisa sambil menunjuk ke arah eskalator yang bergerak naik dengan ritme yang statis.

"Yuk," sahut Rafi pendek.

Saat mereka melangkah menuju eskalator, Rafi memposisikan dirinya satu anak tangga di belakang Nisa. Secara teknis, ini adalah strategi perlindungan—jika Nisa terpeleset, ia siap menahan. Namun secara emosional, ini adalah kesempatan bagi Rafi untuk mengamati punggung Nisa. Rambut hitam Nisa yang sedikit bergelombang tampak berkilau di bawah lampu mall. Harum sabun mandi Nisa yang tadi pagi sempat ia hirup di terminal kini kembali tercium, lebih tajam karena bantuan udara AC yang bergerak.

Rafi merasakan sebuah letupan kebahagiaan yang asing di dadanya. Perasaan ini jauh lebih nikmat daripada saat ia berhasil menyelesaikan soal trigonometri yang paling rumit sekalipun. Ada rasa bangga yang primitif karena berhasil membawa orang yang ia sukai masuk ke dalam gedung berpendingin udara ini, menjauhkannya dari terik matahari yang kejam di luar sana.

Namun, saat eskalator semakin tinggi, mata Rafi menangkap sebuah papan iklan besar di dekat gerai pakaian.

Diskon 50% - Harga mulai dari Rp199.000.

Rafi menelan ludah. Harga diskon saja sudah memakan lebih dari setengah total tabungannya.

Realitas ekonomi kembali menghantamnya seperti godam. Mall ini, dengan segala keindahan dan hawa dinginnya, adalah sebuah ekosistem yang dirancang untuk menyedot uang. Setiap inci udaranya adalah godaan.

Ia kembali teringat Bab 2: aroma nasi garam di pojok kelas. Pengorbanan itu terasa sangat jauh sekarang, namun sisa-sisa mentalitas "si miskin" itu masih membuatnya waspada. Ia tidak boleh terlena dengan hawa dingin ini. Ia harus tetap waspada pada setiap rupiah yang keluar.

"Rafi, lihat itu! Bagus ya tasnya," Nisa menunjuk sebuah toko aksesoris di lantai dua.

Jantung Rafi berdegup kencang. Secara mikro-ekspresi, ia mencoba tetap tenang, namun otaknya mulai memutar skenario terburuk: Bagaimana jika Nisa ingin membeli tas itu? Bagaimana jika dia bertanya pendapatku dan aku harus membayar?

"Eh, iya... warnanya cocok sama baju kamu hari ini," jawab Rafi diplomatis. Ia sengaja tidak berhenti melangkah, memberikan sinyal halus bahwa mereka memiliki tujuan lain yang lebih penting (Bioskop 5D) daripada sekadar melihat-lihat toko tas yang harganya mungkin setara dengan gaji buruh cuci seminggu.

Nisa tidak berhenti. Ia hanya menatap sekilas lalu melanjutkan langkahnya. Rafi mengembuskan napas lega yang sangat tipis. Nisa adalah gadis yang pengertian, atau mungkin dia juga tahu bahwa mereka ke sini bukan untuk belanja barang mewah.

Mereka sampai di lantai dua. Hawa dingin di sini terasa lebih stabil. Rafi melihat kerumunan orang di kejauhan, di depan sebuah wahana dengan tulisan neon berwarna-warni: 5D CINEMA.

"Itu tempatnya, Nis," kata Rafi, suaranya sedikit lebih tinggi karena semangat yang mulai meluap.

Nisa menatap ke arah wahana itu dengan mata berbinar. "Wah, akhirnya sampai juga. Aku sering lihat di status orang, katanya kursinya bisa basah ya kalau ada adegan air?"

"Katanya sih gitu. Nanti kita buktikan sendiri," jawab Rafi sambil meraba dompetnya lagi.

Di depan loket 5D, Rafi berdiri dengan tegap.

Meski hawa AC mall sangat dingin hingga mungkin menyentuh angka 20 derajat Celcius, ia bisa merasakan sedikit keringat dingin di telapak tangannya. Bukan karena panas, tapi karena ia akan segera melakukan transaksi besar pertamanya hari ini. Tiket 5D adalah "investasi hiburan" yang sudah ia anggarkan sebesar 80 ribu rupiah untuk dua orang (Bab 5).

Sebelum melangkah ke loket, Rafi sempat menoleh ke arah pintu masuk mall di lantai bawah yang terlihat dari sela-sela pagar pembatas eskalator. Di luar sana, jalanan Kisaran tampak membara di bawah terik matahari yang memuai.

Orang-orang di luar sana mungkin sedang berkeringat, mengeluh, dan bertarung dengan debu.

Rafi merasa seperti berada di dalam sebuah gelembung kaca yang terlindungi. Untuk beberapa jam ke depan, ia bukan lagi Rafi si "joki tugas" yang miskin. Ia adalah seorang pria yang sanggup memberikan kenyamanan dan hiburan bagi Nisa.

Selamat datang di dunia dingin, Nisa. Aku sudah membayar mahal untuk ini, bisik Rafi dalam hati dengan nada skeptis namun penuh kepuasan.

Ia melangkah menuju antrean tiket, memastikan dompetnya terjepit erat di antara jemari dan telapak tangannya. Perjalanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!