NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Bulan Menuju kehancuran

Rumah selatan yang seharusnya menjadi benteng kini terasa seperti penjara bawah tanah. Arka semakin jarang pulang; dia tenggelam dalam tumpukan berkas hukum, mencoba mengunci aset-asetnya agar tidak bisa disentuh oleh kekuasaan ayahnya. Sementara itu, Laras terjebak di rumah dengan Suster Lastri yang setiap gerakannya seolah menghakimi.

Laras tidak tahan lagi. Ia tidak suka menjadi pihak yang tidak tahu apa-apa. Dengan dalih ada urusan mendadak di proyek, ia berhasil keluar dari pengawasan Lastri dan memacu mobilnya menuju klinik Nadia. Nadia sedang melepaskan jas dokternya saat Laras masuk ke ruang praktiknya tanpa janji temu.

"Laras?" Nadia tampak terkejut, namun segera menguasai diri. "Ada masalah dengan laporannya? Atau Jenderal melakukan sesuatu?"

Laras menutup pintu dengan rapat. Ia tidak duduk. Ia berdiri tegak, menatap Nadia dengan tatapan yang biasa ia gunakan saat menghadapi mandor yang mencoba mencuri material.

"Kenapa kamu membantu kami, Dok?" tanya Laras tanpa basa-basi. "Dan bagaimana kamu bisa tahu soal ultimatum tiga bulan itu sebelum Arka sendiri tahu?"

Nadia terdiam sejenak, lalu ia tersenyum tipis senyum yang penuh dengan rasa lelah. "Duduklah, Laras. Kamu terlihat seperti ingin meruntuhkan gedung ini."

"Aku lebih suka berdiri," sahut Laras dingin.

"Baiklah," Nadia menghela napas. "Jenderal Baskoro masih menggunakan laboratorium yang sama dengan klinikku untuk beberapa tes kesehatan personilnya. Salah satu asisten laboratorium di sana adalah orang yang dulu aku bantu sekolahnya. Dia mendengar pembicaraan telepon ajudan Jenderal soal 'terminasi aset Arka' jika tidak ada perkembangan dalam tiga bulan."

Nadia melangkah mendekati jendela, menatap taman kecil di luar. "Kenapa aku membantu? Karena aku pernah ada di posisimu, Laras. Aku pernah merasa menjadi wanita paling bahagia karena dicintai Arka, lalu dalam satu malam, aku menjadi wanita paling hina karena dianggap 'tidak layak' oleh ayahnya. Aku membantu bukan untuk Arka. Aku membantu agar kamu tidak berakhir hancur sepertiku."

Laras merasakan ketulusan dalam suara Nadia, namun ia masih merasakan duri di hatinya. "Apa kamu masih mencintainya?"

Nadia menoleh, matanya berkaca-kaca namun tetap tenang. "Mencintai Arka adalah sebuah kutukan, Laras. Dia pria yang terlalu baik untuk dunia yang diciptakan ayahnya.

Aku tidak mencintainya lagi dengan cara yang sama, tapi aku peduli padanya sebagai sesama korban." Nadia berjalan menuju mejanya, mengambil sebuah amplop kecil dan menyerahkannya pada Laras. "Kalau kamu mau menyelamatkannya, jangan hanya fokus pada surat medis palsu. Jenderal sedang mengincar kontrak pembangunan pelabuhan yang sedang dikerjakan perusahaan Arka. Dia akan menyabotase suplai materialnya agar proyek itu gagal dan Arka terlihat tidak kompeten."

Laras tertegun. Sabotase material. Itu adalah keahliannya.

"Terima kasih, Dok," ujar Laras pelan, suaranya melunak. "Dan maaf kalau aku meragukanmu."

"Satu saran untukmu, Laras," Nadia menahan tangan Laras saat ia hendak berbalik. "Jangan biarkan Arka menghadapi ini sendirian. Dia punya kecenderungan untuk 'menghilang' saat merasa terpojok. Dia pikir dengan menjauh, dia melindungimu. Padahal, saat dia menjauh, itulah saat kalian paling mudah dihancurkan."

Laras kembali ke rumah dengan pikiran yang berputar. Malam itu, Arka pulang sangat larut, wajahnya kusam dan bau rokok sesuatu yang jarang ia lakukan. "Arka, kita perlu bicara," ujar Laras saat Arka hendak langsung masuk ke kamarnya.

"Nanti saja, Laras. Aku lelah," sahut Arka tanpa menoleh.

Laras menarik lengan Arka, memaksanya berbalik. "Aku bertemu Nadia hari ini."

Arka membeku. Matanya yang lelah mendadak tajam. "Untuk apa? Aku sudah bilang jangan terlibat lebih jauh dengannya."

"Dia memberitahuku soal rencana sabotase pelabuhan, Arka! Sementara kamu sibuk Bersembunyi di balik berkas hukum, ayahmu sedang mencoba meruntuhkan proyekmu dari bawah!" Laras berteriak pelan, teringat bahwa Suster Lastri mungkin masih terjaga.

"Aku bisa mengurusnya sendiri!" Arka membalas dengan nada yang sama tingginya.

"Nggak, kamu nggak bisa! Kamu mulai melakukan apa yang kamu lakukan pada Nadia dulu, kan? Kamu mulai menjauh dariku karena kamu pikir itu cara menyelamatkanku?" Laras menatap Arka dengan penuh kemarahan. "Kita ini aliansi, Arka! Pasal 1 Saling melindungi rahasia. Pasal 5 Jangan jadi pahlawan kesepian!"

Arka terdiam. Napasnya memburu. Kalimat Laras menghujam telak di titik terlemahnya. "Laras... aku hanya tidak ingin kamu ikut terseret kalau aku jatuh."

"Kita sudah satu kapal, Arka. Kalau kamu jatuh, aku tenggelam," Laras melangkah mendekat, memegang kedua sisi wajah Arka. "Jangan menjauh. Jangan jadi bayangan. Kita hadapi sabotase ini bareng-bareng. Aku yang akan urus materialnya, kamu yang urus hukumnya." Arka menatap mata Laras, mencari sisa keraguan di sana, tapi yang ia temukan hanyalah kekuatan baja. Perlahan, pertahanannya runtuh. Ia menyandarkan dahinya di dahi Laras, memejamkan mata.

"Maafkan aku," bisik Arka parau. "Aku tidak terbiasa punya seseorang yang berdiri di sampingku saat badai datang."

"Sekarang kamu punya," balas Laras.

Di balik pintu dapur, Suster Lastri merekam gumaman emosional itu. Ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan soal sabotase, tapi ia melaporkan satu hal penting kepada Jenderal "Hubungan mereka semakin intens. Mereka mulai bergantung satu sama lain secara emosional. Pertahanan mereka semakin sulit ditembus dari dalam."

Tiga bulan menuju kehancuran baru saja dimulai, tapi untuk pertama kalinya, Arka dan Laras tidak lagi berdiri di sisi yang berbeda. Mereka adalah satu unit tempur yang siap meledakkan etalase porselen mereka demi kebebasan yang nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!