Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ezio Sakit
“Kalau nggak makan, nanti makin lemas,” katanya pelan.
Ia menyuapkan lagi, sedikit memaksa. Tangan kecil Ezio menepis sendok itu. Bubur terciprat sedikit ke pipinya.
Krisna melangkah mendekat. “Jangan dipaksa, Lena!”
“Saya nggak paksa, Pak,” jawab Lena cepat. “Memang bayi seumuran Ezio kadang begini.”
Ia menyuap lagi.
Ezio menelan sedikit, lalu tiba-tiba wajahnya berubah. Alisnya berkerut, mulutnya terbuka lebar—
Dan seketika, ia muntah.
Bubur yang baru saja masuk keluar bercampur susu. Mengotori dada baju kecilnya. Sedikit mengenai tangan Lena.
Ruangan dapur kering seketika hening.
Lena terkejut, tapi langsung mengubah ekspresinya. “Ya Allah, kasihan sekali .…” Untung saja ia tidak menyentak dengan kata, "kok dimuntahin! Dasar anak nakal!" Kalimat yang selalu ia lontarkan pada anak sendiri.
Ia mengambil tisu, pura-pura panik tapi tetap lembut. “Maaf, Pak. Mungkin perutnya memang nggak enak.”
Krisna sudah berdiri tepat di samping baby chair.
“Saya bilang jangan dipaksa,” suaranya tidak keras, tapi jelas tegang.
“Saya cuma—”
“Sudah. Berhenti dulu.”
Nada itu membuat Lena diam.
Krisna membuka pengikat baby chair dan mengangkat Ezio ke pelukannya. Tubuh kecil itu terasa ringan—terlalu ringan. Wajahnya pucat. Napasnya masih tersengal kecil.
Krisna mendekatkan pipinya ke kening anaknya.
Terasa hangat.
Tidak. Ini bukan sekadar hangat.
Ia menggeser tangannya ke leher Ezio. Lalu ke dada.
Panasnya lebih jelas sekarang.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Sebagai dokter penyakit dalam, refleksnya otomatis bekerja. Ia memposisikan Ezio di bahu, mendengar napasnya. Ia mengamati pola pernapasan, warna bibir, respons terhadap sentuhan.
“Termometer,” katanya singkat.
Bu Rika yang sedari tadi berdiri cemas langsung bergegas mengambilnya dari laci.
Lena berdiri mematung beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Mungkin cuma kecapekan nangis, Pak. Biasanya nanti turun sendiri.”
Krisna tidak menjawab.
Termometer digital berbunyi setelah beberapa detik yang terasa terlalu lama.
Krisna melihat layarnya.
Angka itu membuat dadanya mengencang.
Panas.
Benar-benar panas.
“Demam,” gumamnya.
Bukan tinggi sekali. Tapi cukup untuk bayi sekecil itu yang sejak pagi menangis tanpa henti.
Lena menutup mulutnya pelan, pura-pura iba. “Ya Allah … kasihan sekali.”
Krisna menggendong Ezio lebih erat. Tangannya refleks mengusap punggung kecil itu pelan. Ia tahu tangisan panjang bisa membuat suhu naik. Dehidrasi juga bisa memicu demam.
Dari lorong, Bu Lita berdiri diam. Sejak Ezio dimasukkan ke baby chair, ia sudah merasakan sesuatu tidak beres. Kini melihat Krisna memandangi termometer dengan wajah berubah, hatinya makin perih.
“Ibu bilang apa tadi?” suaranya pelan, lelah. "Kejadian, kan. Ezio demam."
Krisna tidak langsung menjawab.
Ia membawa Ezio ke kamar tamu, duduk perlahan di sofa. “Ambilkan kompres hangat,” katanya pada Bu Rika.
Bu Rika mengangguk cepat.
Lena berdiri tidak jauh, tangan terlipat di depan perutnya, dan tidak melakukan apa pun. “Saya minta maaf, Pak. Mungkin tadi saya terlalu semangat menyuapinya.”
Krisna menatapnya sekilas. Ada retakan kecil di tatapannya—sesuatu yang tidak sepenuhnya percaya.
“Kondisinya memang sudah nggak stabil dari pagi,” katanya pelan.
Ia menunduk menatap Ezio. Bayi itu kini tidak menangis lagi. Hanya merengek pelan, seperti kehabisan tenaga.
Itu justru lebih membuatnya takut.
Bu Lita mendekat perlahan, duduk di seberang Krisna. Ia tidak berkata sudah kubilang. Tidak juga menyindir.
Ia hanya mengelus dada, menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.
“Sekarang bagaimana?” tanyanya pelan.
Krisna menarik napas dalam. “Aku akan observasi dulu. Kalau satu jam nggak turun, kita ke rumah sakit terdekat.”
Ia menunduk lagi, menempelkan keningnya ke kening Ezio.
Panas itu nyata.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, rasa bersalah merayap tanpa bisa ia bantah.
Di sudut ruangan, Lena berdiri diam.
Wajahnya masih menyimpan kepura-puraan yang sama.
Tapi di dalam dadanya, ketakutan mulai menggeliat.
Kalau ini makin parah—
Kalau sampai Krisna berpikir ia tidak becus—
Apa yang akan terjadi pada pekerjaannya?
Rumah besar itu terasa lebih sunyi sekarang. Tidak ada lagi tangisan melengking.
Hanya napas kecil yang berat.
Dan tiga orang dewasa yang masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.
***
Bu Lita menarik napasnya dalam-dalam.
Udara di kamar tamu terasa berat, bercampur aroma bubur bayi yang tumpah dan minyak kayu putih. Ezio kini terbaring di atas sofa, tubuh kecilnya hanya mengenakan popok sementara Krisna membuka baju yang terkena muntah.
Tangannya cekatan, terlatih. Tapi ada kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Bu Rika datang membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk tipis. “Ini, Den.”
Krisna mengangguk tanpa menoleh. Ia memeras handuk itu, lalu mulai mengompres kening Ezio perlahan. Bayi itu merengek kecil, suara seraknya membuat dada siapa pun yang mendengar ikut sesak.
Lena berdiri dekat, memperhatikan dengan raut wajah yang tampak penuh perhatian.
“Semoga sakitnya tidak terlalu parah. Mungkin hanya masuk angin saja,” katanya lirih.
Bu Lita mengamati semuanya dari kursi seberang. Dadanya naik turun pelan, berusaha menahan gejolak dalam hatinya. Padahal rasa kesalnya sudah di ubun-ubun. Apa lagi melihat Lena tidak melakukan sesuatu, justru Bu Rika yang selalu disuruh Krisna.
Ia tidak bisa diam lebih lama.
“Bu Rika,” panggilnya.
“Ya, Bu?” Bu Rika langsung mendekat, tangannya masih basah.
“Raisa ada di rumah?”
Pertanyaan itu jatuh begitu saja di tengah ruangan.
Krisna berhenti sepersekian detik, tapi tidak mengangkat kepala.
Bu Rika menelan ludah. “Saya kurang tahu, Bu. Soalnya tadi pagi dia pamit sama saya mau cari kerjaan. Mungkin dia nggak ada di rumah.”
Bu Lita mengangguk pelan. Pandangannya bergeser ke Krisna yang sedang menggantikan baju Ezio dengan tangan hati-hati. Lena membantu memasukkan lengan kecil bayi itu ke baju bersih, raut wajahnya tampak penuh empati.
Di dalam dada Bu Lita, satu keputusan mengeras.
“Raisa ada nomor ponselnya?”
“Ada, Bu.”
“Saya minta nomornya.”
Bersambung ... 💔
kepo sm bibir lena, kira² meledaknya sprti ap y ???
mommy bab selanjutnya ditnggu 💪💪💪💪💪😊