Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Xiao Han berdiri lagi di depan pintu apartemen lantai 32 Golden Heights Residence, tangannya sedikit gemetar saat menekan bel. Kemeja hitam yang sama kemarin malam sudah dia setrika ulang pagi tadi, tapi tetap terasa kurang pantas di tempat seperti ini. Jam di ponsel menunjukkan pukul 19:58. Dia sengaja datang dua menit lebih awal, takut Lin Qing marah kalau terlambat.
Pintu terbuka otomatis. Lampu di dalam sudah redup, hanya diterangi lilin-lilin kecil yang tersebar di meja makan dan sudut ruangan. Aroma vanila dan kayu cendana samar-samar tercium. Musik jazz pelan mengalir dari speaker tersembunyi.
Lin Qing muncul dari arah koridor menuju kamar tidur. Malam ini dia tidak memakai gaun formal seperti kemarin. Hanya kimono sutra hitam tipis yang longgar, rambutnya terurai basah seolah baru mandi. Wajahnya tanpa make-up tebal, tapi tetap memancarkan aura yang membuat Xiao Han sulit menatap langsung.
"Kamu tepat waktu," katanya sambil berjalan mendekat. Suaranya lebih lembut dari kemarin, tapi tetap ada nada kendali di dalamnya. "Masuk."
Xiao Han melangkah masuk. Pintu menutup sendiri di belakangnya.
Ruangan terasa lebih intim malam ini. Meja makan hanya disiapkan untuk dua orang, tapi makanan belum disentuh. Ada sebotol anggur merah yang sudah dibuka, dua gelas setengah penuh. Di sofa panjang dekat jendela besar, ada bantal-bantal tambahan dan selimut tipis.
Lin Qing menuang anggur ke gelas ketiga, lalu menyerahkannya ke Xiao Han.
"Minum dulu. Santai."
Xiao Han menerima gelas itu, tapi hanya memegangnya. "Bu Lin... malam ini apa yang harus saya lakukan?"
Lin Qing menatapnya lama, lalu duduk di sofa, menepuk tempat di sebelahnya. "Duduk di sini."
Xiao Han menurut. Jarak mereka hanya beberapa senti. Wangi parfumnya lebih kuat sekarang, bercampur bau sabun mandi yang segar.
"Aku tidak butuh sandiwara keluarga malam ini," kata Lin Qing pelan. "Aku cuma butuh... teman. Seseorang yang tidak menghakimi. Seseorang yang tidak mengharapkan apa-apa selain uang yang sudah aku janjikan."
Dia mencondongkan tubuh, tangannya menyentuh lengan Xiao Han dengan lembut. Jari-jarinya dingin, tapi gerakannya lambat, hampir ragu.
"Kemarin kamu bagus berpura-pura jadi pacar. Malam ini aku ingin kamu berhenti berpura-pura. Cukup jadi dirimu sendiri. Dengar aku bicara. Pegang tanganku kalau aku butuh. Dan kalau aku minta lebih... kamu boleh bilang tidak."
Xiao Han menelan ludah. "Lebih... seperti apa?"
Lin Qing tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kamu tahu maksudku."
Ada jeda panjang. Hanya suara jazz dan hembusan AC yang terdengar.
"Aku capek, Xiao Han," lanjutnya setelah beberapa saat. Suaranya hampir berbisik. "Setiap hari aku harus jadi Lin Qing yang sempurna. CEO, putri taipan, wanita paling ditakuti dan diinginkan di kota ini. Tapi di sini, di apartemen ini, aku cuma... lelah. Aku ingin disentuh tanpa ada agenda. Tanpa transaksi bisnis di baliknya. Tanpa orang yang menghitung untung rugi."
Dia menggeser lebih dekat lagi. Kepalanya bersandar pelan di bahu Xiao Han. Rambutnya menyentuh lehernya, lembut dan masih sedikit basah.
"Malam ini aku bayar lima belas juta. Lima juta sudah transfer tadi sore. Sepuluh juta lagi kalau kamu mau tinggal sampai pagi. Tidak harus melakukan apa-apa yang kamu tidak mau. Cukup... temani aku tidur. Peluk aku kalau aku minta. Itu saja."
Xiao Han merasakan detak jantungnya sendiri bercampur dengan detak jantung Lin Qing yang terasa melalui kain tipis kimono itu. Dia tidak tahu harus berkata apa. Bagian dirinya ingin langsung pergi, ini terlalu dekat, terlalu nyata, terlalu berbahaya. Tapi bagian lain mengingat hasil MRI ibunya, angka 180 juta yang masih jauh, tagihan obat yang terus menumpuk, dan tatapan Xiao Mei yang penuh harap pagi tadi.
Dia mengangkat tangan pelan, lalu memeluk bahu Lin Qing dengan hati-hati. Wanita itu langsung merapat, seperti orang yang sudah lama kehausan akhirnya mendapat air.
Mereka diam begitu selama hampir setengah jam. Tidak ada ciuman, tidak ada sentuhan yang lebih jauh. Hanya pelukan diam di sofa, dengan kota Golden Core berkilau di luar jendela seperti lautan lampu yang tak peduli.
Akhirnya Lin Qing bergerak. Dia menarik diri sedikit, menatap wajah Xiao Han dari dekat.
"Kamu takut padaku?" tanyanya.
"Tidak takut," jawab Xiao Han jujur. "Cuma... bingung. Kenapa saya? Ada banyak pria yang lebih... cocok untuk ini."
Lin Qing tertawa kecil, suara yang pertama kali Xiao Han dengar benar-benar tulus malam itu.
"Karena kamu tidak pura-pura kuat. Matamu jujur. Kamu datang karena uang, tapi kamu tidak menatapku seperti aku cuma dompet berjalan. Itu jarang."
Dia berdiri, mengulurkan tangan.
"Ayo ke kamar. Aku mau tidur. Kamu boleh ikut, atau tidur di sofa kalau mau. Pilihanmu."
Xiao Han menatap tangan yang terulur itu. Jari-jarinya ramping, kuku terawat sempurna, tapi ada bekas kecil di telapak tangan—mungkin bekas lama dari masa kecil yang tak pernah diceritakan.
Dia menggenggam tangan itu.
Mereka berjalan ke kamar tidur. Tempat tidur king size dengan seprai sutra putih. Lin Qing melepas kimono-nya, hanya menyisakan tank top hitam dan celana pendek sutra. Dia naik ke tempat tidur, menepuk sisi sebelahnya.
Xiao Han melepas sepatu, lalu naik dengan pakaian lengkap. Dia berbaring miring menghadap Lin Qing. Jarak mereka masih ada satu kepalan tangan.
Lin Qing mematikan lampu. Kamar menjadi gelap, hanya diterangi cahaya redup dari kota di luar.
"Terima kasih," bisiknya di kegelapan.
Xiao Han tidak menjawab. Dia hanya menggeser tangannya pelan, memeluk pinggang Lin Qing dari belakang seperti yang diminta. Tubuh wanita itu menegang sesaat, lalu melemas sepenuhnya.
Malam itu berlalu dalam diam. Tidak ada yang lebih dari pelukan. Tapi bagi Xiao Han, malam itu terasa lebih berat daripada semua panggilan sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya, dia merasa bukan hanya tubuhnya yang "disewa" tapi juga sedikit bagian dari jiwanya.
Pagi harinya, saat matahari mulai menyusup lewat tirai, Lin Qing sudah bangun lebih dulu. Dia duduk di pinggir tempat tidur, memandang Xiao Han yang masih tertidur lelap.
Di meja samping tempat tidur, ada amplop tebal bertuliskan "Sisa 10 juta" dan sebuah kartu nama sederhana.
Di belakang kartu itu tertulis tangan:
"Jangan hilang kontak.
Aku mungkin butuh kamu lagi.
Xiao Han terbangun saat pintu kamar mandi tertutup. Dia memandang amplop itu, lalu kartu nama, lalu ke arah jendela yang menunjukkan kota yang sudah bangun.
Dia tahu, dari malam ini, garis antara "pekerjaan" dan "sesuatu yang lebih" sudah mulai kabur.
Dan dia tidak yakin bisa kembali ke garis itu lagi.