Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perasaan yang Terucap
Sabtu pagi di komplek perumahan Cempaka terasa begitu asri. Udara segar yang belum tercemar polusi kota merayap masuk ke paru-paru, memberikan energi tambahan bagi siapa pun yang terjaga. Di lapangan basket umum yang terletak di Blok C, Liana sudah berdiri dengan bola basket di tangannya. Ia mengenakan kaus putih polos dan celana pendek hitam, rambutnya dikuncir kuda tinggi yang berayun setiap kali ia bergerak.
Tepat pukul tujuh pagi, suara deru motor sport terdengar mendekat. Justin datang dengan gaya santainya, mengenakan jaket hoodie tanpa lengan yang memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Begitu ia melepas helm, tatapannya langsung tertuju pada Liana yang sedang melakukan pemanasan.
"Pagi, Kak Justin!" sapa Liana dengan senyum cerah.
Justin mengangguk tipis, berusaha menyembunyikan rasa kagumnya melihat Liana yang tampak sangat segar pagi itu. "Pagi. Sudah sarapan?"
"Sudah! Nasi uduk lengkap dengan telurnya," jawab Liana bangga.
Justin tersenyum kecil. "Bagus. Kita mulai latihannya. Gue perhatikan tembakan luar lo sering meleset karena posisi pergelangan tangan lo nggak stabil."
Latihan dimulai dengan intensitas yang lebih santai dibanding di kampus. Tidak ada teriakan peluit, tidak ada kerumunan mahasiswa yang berbisik. Hanya ada suara pantulan bola dan kicauan burung. Namun, suasana yang santai itu justru membuat segalanya terasa lebih... intim.
"Bukan begitu, Liana. Tangan kanan lo harus membentuk sudut sembilan puluh derajat," ucap Justin.
Melihat Liana yang masih kesulitan, Justin melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di belakang punggung Liana. Tanpa peringatan, Justin melingkarkan lengannya, memegang tangan kanan Liana yang memegang bola, sementara tangan kirinya menopang siku gadis itu.
Jarak mereka menghilang. Liana bisa merasakan dada bidang Justin bersandar pelan pada punggungnya. Wangi sabun maskulin yang segar dari tubuh Justin menyerbu indranya, membuat fokus Liana pada ring basket buyar seketika.
"Fokus ke ringnya, jangan ke gue," bisik Justin tepat di samping telinga Liana. Suaranya yang rendah membuat bulu kuduk Liana merinding.
"I-iya, Kak," jawab Liana gugup.
"Rasakan gerakannya. Dorong dengan jari-jari lo, bukan telapak tangan. Pas bola lepas, pergelangan tangan lo harus menekuk seperti leher angsa," instruksi Justin lembut sambil menuntun tangan Liana melakukan gerakan menembak.
Mereka berlatih seperti itu selama hampir dua jam. Justin terus membimbing Liana, sesekali memuji kemajuannya, dan sesekali menggoda tinggi badannya yang membuat Liana cemberut. Bagi orang yang melihat dari jauh, mereka tidak tampak seperti pelatih dan murid, melainkan sepasang kekasih yang sedang menikmati kencan pagi di lapangan basket.
Namun, alam sepertinya punya rencana lain. Langit yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi abu-abu gelap dalam hitungan menit. Angin kencang mulai berhembus, membawa aroma tanah basah.
Tes. Tes. BYAARR!
Hujan turun dengan sangat deras tanpa aba-aba.
"Aduh! Hujan!" pekik Liana sambil mencoba menutupi kepalanya dengan tangan.
"Sini, berteduh!" Justin menarik tangan Liana, membawanya lari menuju area bangku penonton yang memiliki atap seng di atasnya.
Mereka sampai di bawah atap dalam keadaan sedikit basah. Liana merapikan rambutnya yang terkena tetesan air, sementara Justin menyeka wajahnya dengan kaus yang ia kenakan, memperlihatkan sedikit perutnya yang atletis secara tak sengaja, membuat Liana cepat-cepat membuang muka dengan pipi memerah.
Hujan semakin lebat, menciptakan tirai air yang mengurung mereka di bawah atap kecil itu. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya diisi oleh suara gemuruh air yang menghantam atap seng di atas kepala mereka.
Liana duduk di bangku panjang, melihat ke arah lapangan yang kini mulai tergenang air sambil merengut. "Yah, padahal latihannya lagi seru-serunya. Malah hujan deras begini."
Justin berdiri di sampingnya, menyandarkan bahunya pada tiang penyangga atap. Ia tidak melihat ke arah hujan. Sebaliknya, matanya terus mencuri pandang ke arah samping wajah Liana yang tampak menggemaskan saat sedang kesal.
"Liana," panggil Justin pelan.
Liana menoleh. "Iya, Kak?"
Justin menatap tepat ke dalam mata jernih Liana. Tatapannya kali ini sangat berbeda—tidak ada lagi kedinginan atau ketegasan kapten basket. Yang ada hanyalah kejujuran yang telanjang.
"Gue mau ngomong sesuatu," ucap Justin. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia melakukan slam dunk di menit terakhir pertandingan. "Gue... gue rasa gue suka sama lo. Lebih dari sekadar senior ke juniornya."
Liana terdiam mematung. Matanya berkedip berulang kali seolah sedang memproses data yang sangat berat. "Hah?"
Justin menghela napas, sedikit tersenyum melihat reaksi polos gadis di depannya. "Gue bilang, gue suka sama lo, Liana Putri. Gue suka cara lo semangat latihan, gue suka cara lo ketawa, bahkan gue suka cara lo cemberut kalau gue bilang pendek."
Liana masih mematung, mulutnya sedikit terbuka. "Hah?"
"Nggak usah dijawab sekarang," potong Justin cepat, wajahnya sedikit memerah karena malu. Ia kembali menatap ke depan, ke arah lapangan basket yang diguyur hujan. "Jangan terburu-buru. Lo boleh pikirin dulu. Gue cuma nggak mau mendam ini sendirian lagi."
Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya ada suara hujan yang menderu. Di dalam hati Liana, kembang api seolah meledak-ledak. Rasa gembira, tidak percaya, dan haru bercampur jadi satu. Ternyata, perasaan yang ia pendam sejak pertama kali melihat Justin di lapangan kampus tidaklah bertepuk sebelah tangan. Crush-nya, sang pangeran es, menyukainya balik.
Liana menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki.
"Kak Justin..."
Justin kembali menoleh ke arahnya.
"Sebenarnya..." Liana menunduk, memainkan jari-jarinya yang mungil. "Sebenarnya saya juga suka sama Kakak. Sejak pertama kali saya lihat Kakak main basket sendirian di lapangan terbuka waktu hujan... waktu itu Kakak kelihatan keren banget, tapi juga kelihatan kesepian. Sejak saat itu, mata saya nggak bisa berhenti cari Kakak di kampus."
Justin tertegun. Ia tidak menyangka Liana sudah memperhatikannya sejak lama. Penjelasan jujur Liana membuat dinding pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia tidak sanggup lagi menahan rasa hangat yang meluap di dadanya.
Tanpa banyak bicara, Justin mendekatkan wajahnya. Sebelum Liana sempat menyelesaikan kalimat berikutnya, Justin membungkam bibir Liana dengan sebuah ciuman lembut.
Liana membelalak kaget, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Tangannya refleks menggenggam erat ujung kaus Justin karena terkejut dan gugup. Namun perlahan, ia memejamkan matanya, menikmati momen yang selama ini hanya ada di dalam mimpinya. Ciuman itu terasa manis dan penuh perasaan, diiringi irama hujan yang menjadi saksi bisu.
Setelah beberapa saat, Justin menjauhkan wajahnya, menempelkan dahinya pada dahi Liana. Keduanya terengah pelan. Justin kemudian menarik Liana ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. Liana menyandarkan kepalanya di dada Justin, mendengarkan detak jantung laki-laki itu yang sama cepatnya dengan miliknya.
Mereka berdua tersenyum di tengah riuh rendah suara hujan. Di lapangan basket tua itu, di bawah atap seng yang bocor di beberapa bagian, sebuah kisah baru saja resmi dimulai.