Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Elena menggandeng Evan turun dengan satu tas ransel di punggungnya dan satu alamat yang tersimpan rapi di kepalanya. Kota itu ramai dengan bising nya suara kendaraan yang berlalu lalang berbeda dari kampung. Kota yang begitu ramai namun tidak saling kenal, ramai yang tidak peduli siapa kamu dan dari mana kamu datang.
Mereka naik angkot dua kali, lalu berjalan kaki beberapa blok, dan Elena berhenti tepat di sebuah gedung.
Gedung itu tepat seperti yang Bu Ratih gambarkan. Tinggi, dengan logo perusahaan di bagian atas berwarna biru dan silver yang memantulkan cahaya sore. Orang-orang masuk keluar dengan pakaian rapi dan wajah yang tahu persis ke mana mereka pergi.
Di sampingnya Evan mendongak dengan mulut sedikit terbuka.
"Gede banget."
"Iya."
"Ayah kerja di sini?"
"Kemungkinan besar." Elena sudah melangkah masuk.
Yang tidak diketahui orang-orang yang melihatnya hari itu adalah bahwa perempuan dengan kemeja dan celana jeans yang sudah pudar warnanya dan sepatu flatnya yang sudah tipis bawahnya, satu-satunya barang mewah yang ia punya. Ia berjalan masuk ke lobi gedung itu bukanlah orang yang asing dengan tempat seperti ini.
Elena Wirawan.
Putri tunggal dari keluarga Wirawan pemilik Wirawan Group, perusahaan properti yang namanya tercetak di papan-papan proyek dari ujung kota sampai lintas provinsi. Gedung-gedung yang berdiri megah di kota ini, perumahan elite yang iklannya terpampang di jalan raya sebagian besar ada nama Wirawan di belakangnya.
Delapan tahun lalu Elena meninggalkan semua itu demi Adrian.
Baju lusuh tidak mengubah cara seseorang berjalan kalau sejak kecil sudah belajar berjalan dengan benar. Elena masuk ke lobi dengan langkah yang terukur punggung tegak, kepala lurus, mata yang menyapu seluruh ruangan dengan cara yang terlihat santai tapi tidak melewatkan satu detail pun.
Lantai marmer yang mengkilap. Meja resepsionis di tengah. Papan direktori di dinding kiri. Dua satpam di dekat lift yang melirik ke arahnya lalu kembali menatap ke depan karena cara Elena berjalan tidak memberi mereka alasan untuk meragukannya.
Ia berjalan ke papan direktori duluan.
Matanya menelusuri nama-nama perusahaan satu per satu sampai berhenti di satu baris.
PT. Claresta Mitra Utama — Lantai 12.
Nama itu terdengar seperti nama perempuan. Mungkin kebetulan. Elena mengingatnya dan berjalan ke meja resepsionis.
Perempuan muda di balik meja itu memasang senyum yang terlatih. "Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mencari Adrian Kusuma." Elena menyebut nama lengkap suaminya dengan nada yang tenang dan jelas. "Tolong hubungi ruangannya."
Resepsionis itu menatapnya sebentar menatap dengan cara yang mungkin tidak ia sadari sendiri, seperti membandingkan pakaian yang ia kenakan di depannya dengan lobi marmer yang mengkilap di belakangnya.
"Maaf, ibu tamu dari mana?"
"Istrinya."
Sesuatu bergerak di wajah resepsionis itu sesuatu yang kecil dan cepat yang langsung disembunyikan kembali di balik senyum profesionalnya. Elena menangkapnya tapi tidak berkata apapun.
"Sebentar ya, Bu."
Resepsionis itu mengangkat telepon. Suaranya terdengar samar dari seberang meja.
"Mbak Sinta... ya... ada tamu di lobi, mengaku istri Pak Adrian... baik."
Telepon diletakkan.
"Silakan tunggu sebentar, Bu. Sudah dihubungi sekretarisnya."
Elena mengangguk dan berdiri di depan meja itu tidak duduk di kursi tunggu yang ditunjukkan resepsionis, hanya berdiri dengan Evan di sampingnya yang sudah mulai gelisah.
"Bu, masih lama?"
"Tidak tahu."
"Kakiku pegal."
"Sebentar lagi, sabar ya sayang."
Evan menghela napas panjang dengan gaya anak yang merasa hidupnya sangat berat. Elena hampir tersenyum.
Mereka tidak menunggu lama. Kurang dari lima menit pintu lift di seberang lobi terbuka dan Adrian keluar dengan langkah yang tergesa-gesa, langkah orang yang turun bukan karena mau tapi karena harus. Kemeja putih yang dimasukkan rapi, jam tangan baru di pergelangan kiri, rambut yang tersisir dengan gaya yang tidak pernah Elena kenal sebelumnya.
Ia terlihat berbeda. Lebih rapi. Lebih mapan. Lebih seperti orang yang hidupnya baik-baik saja.
Matanya langsung menemukan Elena di tengah lobi dan untuk sepersekian detik ada sesuatu di wajahnya yang sulit dinamai bukan senang, bukan terkejut biasa. Lebih seperti seseorang yang melihat hal yang paling ia takutkan muncul tepat di depan matanya.
Lalu ekspresi itu hilang. Ia berjalan cepat ke arah Elena, tangan langsung mencengkeram lengannya.
"Elena." Suaranya rendah dan terkontrol dengan cara yang jelas membutuhkan usaha. "Kamu ngapain ke sini?"
"Mau bic...."
"Bukan di sini." Ia sudah menariknya bergerak langsung ke arah pintu samping gedung, pintu yang mengarah ke area parkir basement. Langkahnya cepat, tangannya di lengan Elena lebih keras dari seharusnya.
Evan mengikuti dengan langkah kecil yang bingung.
Pintu basement terbuka dan udara yang lebih dingin dan berbau aspal menyambut mereka. Lampu parkir yang kekuningan menerangi deretan mobil yang berjajar rapi. Area parkir itu sepi. Tidak ada orang selain mereka bertiga.
Adrian berhenti dan melepaskan lengan Elena.
Ia berbalik. Menatapnya dengan mata yang tidak bisa memilih antara marah atau panik.
"Kamu kenapa tidak bilang mau ke sini."
"Karena kamu tidak pernah mengangkat teleponku." Elena mengusap lengannya yang tadi dicengkeram, menatap balik dengan tenang. "Jadi aku datang langsung."
"Elena, kamu tidak bisa tiba-tiba datang seenaknya."
"Setahun lebih, Adrian." Elena memotong pelan. "Setahun lebih tidak ada kabar, tidak ada kiriman uang. Ara sudah tidak ada. Dan kamu bilang saya tidak bisa tiba-tiba datang?"
Adrian diam. Rahangnya mengeras. Matanya bergerak ke arah Evan yang berdiri diam di samping ibunya, yang menatap ayahnya dengan mata yang tidak bisa dibaca.
Lalu tanpa berkata apapun Adrian mengeluarkan ponselnya.
"Sebentar." Ia membalik badan dan melangkah menjauh beberapa meter, membelakangi Elena dan Evan.
Elena menatap punggungnya.
Ia tidak bisa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Adrian dari jarak itu. Tapi ia bisa melihat, dari cara Adrian berbicara dengan suara yang rendah dan cepat, cara tangannya bergerak seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu dengan tergesa-gesa, cara bahunya naik dan tegang lalu turun lagi seperti menerima sesuatu yang tidak ia sukai tapi tidak bisa ia tolak.
Seperti seseorang yang sedang meminta izin. Atau meminta saran.
Dari seseorang yang pendapatnya lebih penting dari keputusannya sendiri.
Elena tidak berkata apapun. Hanya menatap punggung suaminya yang berdiri beberapa meter darinya di parkiran basement yang sepi itu, menelepon seseorang yang tidak ia tahu siapa.
Evan menarik ujung bajunya pelan. "Ayah telepon siapa, Bu?"
"Ibu tidak tahu." Elena menjawab jujur.
Dan itu yang paling menyakitkan dari semuanya, bahwa ia benar-benar tidak tahu. Bahwa suaminya berdiri beberapa meter darinya dan menelepon seseorang dan ia tidak tahu siapa, tidak tahu apa yang dibicarakan, tidak tahu kenapa keputusan sesederhana itu tidak bisa ia buat sendiri.
Beberapa menit kemudian Adrian menutup ponselnya dan kembali ke arah mereka. Wajahnya sudah lebih terkontrol dari sebelumnya seperti seseorang yang baru saja mendapat instruksi dan sekarang tahu harus melakukan apa.
"Ikut aku."
"Ke mana?" Elena menatapnya.
"Naik dulu." Adrian sudah berjalan ke arah mobil sedan hitam yang diparkir beberapa meter dari tempat mereka berdiri, bersih dan mengkilap yang membuat Elena tanpa sadar tersenyum pahit.
"Adrian. Kita mau ke mana?"
"Tempat kamu bisa istirahat." menjawab tanpa berbalik. "Cepat."
Elena menatap punggungnya sebentar. Lalu ia menggandeng tangan Evan dan berjalan ke arah mobil itu.
Mereka masuk. Adrian di kursi kemudi, Elena di samping, Evan di belakang yang langsung menempelkan kepalanya ke kaca jendela dengan mata yang menatap keluar tanpa berkata apapun.
Mobil keluar dari basement.
Tidak ada yang berbicara selama perjalanan itu. Adrian menatap jalan dengan rahang yang mengeras dan tangan yang menggenggam setir lebih erat dari yang seharusnya. Elena duduk tegak menatap ke depan, memperhatikan jalan yang mereka lalui mencatat nama jalan, mencatat arah, mencatat semua yang mungkin perlu ia ketahui.
Dua puluh menit kemudian mobil berhenti di depan sebuah rumah. Elena menatapnya dari balik kaca.
Rumah yang bagus. Bukan sekedar bagus. Pagar besi hitam yang tinggi, taman depan yang terawat, cat dinding yang bersih, garasi yang muat dua mobil. Rumah yang jauh, sangat jauh dari kontrakan sempit dinding yang catnya mengelupas.
"Masuk." Adrian membuka pintu mobilnya. "Tunggu di dalam sampai aku pulang kerja."
Elena menatapnya. "Ini rumah siapa?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Sedetik kemudian ia berkata "Istirahat dulu. Nanti kita bicara."
Ia membuka pagar dengan remote, mempersilakan Elena dan Evan masuk, lalu kembali ke mobilnya tanpa menunggu Elena berkata apapun lagi. Mesin menyala. Mobil berbalik dan pergi meninggalkan Elena dan Evan berdiri di depan rumah yang bagus itu dengan satu tas ransel kecil di punggung dan sejuta pertanyaan yang belum terjawab.
Evan menatap rumah itu lalu menatap ibunya.
"Bu, ini rumah siapa?"
Elena menatap pintu rumah yang tertutup di depannya.
Dan entah kenapa entah dari cara Adrian menjawab pertanyaannya tadi, entah dari sesuatu yang kecil yang tidak bisa ia namai ada sesuatu di dalam dada Elena yang mulai bergerak dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.
"Ibu belum tahu." Elena menjawab jujur.