Adalah seorang pengusaha muda yang sukses bernama Moses Elruno. Moses Elruno masih berusia 30 tahun merupakan orang terkaya se-Asia, mempunyai banyak sekali perusahaan yang bergerak di bidang elektronika, makanan instant, dan tekstil.
Moses Elruno juga mempunyai banyak sekali rumah, tanah, mobil mewah, pesawat pribadi, dan pulau pribadi.
Moses Elruno mempunyai karakter yang sangat dingin, jarang sekali tersenyum, dan gampang sekali marah. Karena dia hidup sendiri, sudah tidak memiliki Papa dan Mama, juga saudara kandung, membuat dia memiliki karakter yang seperti itu dan cenderung egois.
Moses Elruno suka kehidupan malam, suka berganti ganti cewek, dan minum anggur.
Seorang cewek cantik, seorang mahasiswi, hidup mandiri, dia bekerja serabutan untuk membiayai kuliah. Nama cewek tersebut adalah Melati Arumi Putri. Melati masih berusia 23 tahun. Dia hidup mandiri di kota J, kota metropolitan, yang sangat keras dan besar.
Ibunya hanya seorang sekretaris di sebuah perusahaan swasta di kota S, dan ayahnya sudah meninggal. Melati anak tunggal, itulah kenapa dia bertekad untuk menjadi anak yang sukses dan bisa membahagiakan ibunya.
Melati bisa kuliah di sebuah Universitas Negeri terkenal di kota J karena, Melati mempunyai otak yang brilian, dia mendapatkan beasiswa.
Itulah dengan sangat terpaksa, Melati berangkat ke kota J meninggalkan ibunya sendirian di kota S, demi meraih cita citanya.
Ibunya Melati hanya mampu membiayai kost dam sedikit uang untuk pegangan Melati, selebihnya Melati harus mencari sendiri, itulah kenapa Melati bekerja secara serabutan.
Bekerja sebagai guru privat dan menjadi karyawan di sebuah butik yang cukup besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mulai tertarik
Moses Elruno melangkah menuju ke teras depan rumahnya, dia duduk di bangku taman. Moses Elruno meraup kasar wajahnya dan menghela.napas panjang. Mencoba meredakan perasaan campur aduk yang tiba tiba melandanya.
Moses sangat membutuhkan segelas anggur saat ini, tapi dia tahan dengan sekuat tenaga.
Tiba tiba Moses teringat akan almarhumah mamanya. "Ma, aku sangat merindukanmu" gumam Moses lirih sambil menghela napasnya kembali.
Tiba tiba Ray memanggil namanya "tuan Moses"
Moses menoleh ke arah Ray dengan ekspresi datar khasnya.
"Tumben tuan duduk di teras depan, ada apa tuan?" tanya Ray.
"Nggak apa apa Ray, pengen menghirup udara segar aja, selama ini kan aku nggak pernah pulang kerja sesore ini, biasanya aku sampai rumah larut malam" kata Moses dengan lirih.
"Tuan sudah menengok Chery?" tanya Ray.
"Sudah, oooo iya Ray, Melati kakinya terkilir" kata Moses.
"Aaah, benarkah? saya akan memeriksanya tuan" Ray hendak beranjak pergi meninggalkan Moses.
"Stop!" kata Moses menghentikan langkahnya Ray.
"Kenapa tuan menghentikan saya untuk menolong Melati?" tanya Raymond heran.
"Iya karena dia cewek dan kamu cowok" jawab Moses dengan santainya.
"Lalu?" Ray masih merasa heran.
"Pokoknya aku melarang kamu untuk masuk ke kamarnya Melati sekarang ini, titik!" kata Moses dengan sorot mata tegas.
"Lalu siapa yang akan menolong Melati tuan, bagaimana keadaaannya?" tanya Ray.
"Aku juga tidak begitu tahu keadaannya secara pasti,emm, kamu telepon saja Dokter Emily, mantan pacarnya om Erlangga, dokter Ortopedi kan dia?" kata Moses.
"Aaah, iya benar tuan, saya telepon Dokter Emily sekarang juga, ya?" kata Ray.
"Nggak Ray, nunggu tahun baru tiba aja" jawab Moses
"Ahahaha, anda pandai melawak juga ya tuan" kata Ray sambil memencet nomer ponselnya Dokter Emily.
Ray, meminta tolong kepada Dokter Emily untuk datang ke rumahnya Moses Elruno dan Dokter Emily mengiyakannya.
"Sebentar lagi beliau sampai tuan" kata Ray.
"Emm, tapi tuan, kenapa Melati bisa terkilir?" tanya Ray heran.
"Dia jatuh di kamar mandi, terpeleset" jawab Moses dengan santainya.
"Lalu, dia bisa berjalan keluar dari kamar mandi tuan, kalau belum kan kasihan, masih terduduk di lantai kamar mandi dong sekarang?" tanya Ray penuh rasa penasaran.
"Dia sudah berada di ranjangnya" jawab Moses.
"Bisa berjalan berarti ya, hufft syukurlah kalau tidak parah" kata Ray kemudian.
"Ya, nggak tahu" sahut Moses.
"Nah, tuan bilang tadi, Melati bisa berjalan ke ranjangnya kan, berarti tidak parah, iya kan tuan?" tanya Ray lagi.
"Aissh, jangan banyak tanya Ray, pusing aku, ssstt, diam!" bentak Moses.
Raymond langsung menutup mulutnya.
Sementara itu Melati mengambil salep pereda nyeri dari dalam kotak obat yang disodorkan sama tuannya tadi.
Melati mencoba menggosokkannya di atas tumitnya yang terkilir dan Melati langsung berteriak kesakitan.
"Awwww, kenapa sakit sekali ya" gumam Melati sambil menatap tumitnya.
Untung teriakannya Melati tidak membuat Chery terbangun dari tidur lelapnya.
Tidak begitu lama, pintu kamarnya diketuk sama seseorang.
"Saya Dokter Emily, boleh saya masuk?" tanya suara dari luar pintu kamarnya Melati.
"Aaah, iya dokter, buka saja pintunya, maaf saya tidak bisa berjalan untuk membukakan pintunya" jawab Melati dari dalam kamarnya.
Dokter Emily membuka pintu kamarnya Melati dan kembali menutupnya dengan sangat pelan.
Kenapa harus panggil dokter segala. Batin Melati heran.
"Maaf, saya mulai memeriksanya ya, emm yang mana yang terkilir?" tanya Dokter Emily sambil tersenyum sangat ramah menatap Melati.
"Tumit yang sebelah kiri dok, yang ini, maaf" jawab Melati sambil mengulurkan tumitnya ke hadapannya Dokter Emily.
Dokter Emily mulai memegang dan mencoba memencet tumitnya Melati dan Melati langsung menutup mulutnya, takut kalau teriakannya membangunkan Chery.
"Sakit banget ya?" tanya Dokter Emily.
Melati menganggukkan kepalanya.
"Oke, sepertinya tidak begitu parah, cuma untuk sementara waktu tidak boleh terlalu sering buat gerak dulu, takutnya akan semakin parah dan malah terjadi perobekan. Saya akan kasih obat, untuk diminum dan dioles, saya juga akan pasang deker, jangan lepas dekernya selama dua Minggu ke depan!" kata Dokter Emily sambil mengoleskan salep di atas tumitnya Melati dan mulai memasangkan dekernya.
"Maaf, dok, kalau saya tidak boleh jalan lalu bagaimana saya bisa bekerja?" tanya Melati.
"Saya akan suruh Moses membelikan alat penyangga, jadi nona bisa berjalan dengan memakai alat penyangga, jangan dipakai jalan dulu kaki kiri anda!" kata Dokter Emily.
"Huufft, baik dok, terima kasih banyak" Kat Melati
"Kalau mau oles salepnya, kamu lepas dekernya dulu nggak apa apa, tapi jangan lupa setelah itu dipakai lagi, ya!" Dokter Emily berkata sambil berdiri, pamit sama Melati, dan melangkah keluar dari kamarnya Melati.
Dokter Emily kembali ke teras depan rumahnya Moses untuk menemui Moses dan memberikan penjelasan soal kondisi tumitnya Melati yang terkilir.
"Mo, kondisinya tidak begitu parah, cuma harus hati hati, nggak boleh dibuat jalan dulu kaki kirinya yang terkilir selama dua Minggu ke depan, takutnya nanti malah jadi parah dan terjadi perobekan di dalam" kata Dokter Emily saat sudah berdiri di sampingnya Moses.
Moses berdiri dan bertanya "lalu, kalau tidak boleh jalan, bagaimana dia bisa beraktifitas?"
"Kamu belikan alat penyangga untuk pasienku yang cantik, ya" jawab Dokter Emily sambil tersenyum penuh arti ke Moses.
"Apa dok, senyum senyum, dia bukan tipe saya" kata Moses dengan santainya.
"Aaah, okelah kalau dia bukan tipe kamu, tapi dia memang sangat cantik, iya kan?" tanya Dokter Emily kembali menggoda Moses.
"Semua yang namanya cewek itu ya cantiklah dok, kalau ganteng itu namanya cowok" jawab Moses mencoba ngeles.
"Hahahaha, oke lah, aku pamit, jangan lupa beli alat penyangganya!" kata dokter Emily.
Setelah Dokter Emily pergi meninggalkan rumahnya Moses. Moses menyuruh Ray untuk segera membeli alat penyangganya.
Ray, pun langsung meluncur untuk membeli alat penyangga buat Melati.
Moses, nampak ragu ragu saat melangkah kembali menuju ke kamarnya Melati. Dia sudah ganti baju belum ya. Batin Moses.
Akhirnya Moses menyuruh Sri menemuinya. Moses memberi perintah kepada Sri, setiap pagi dan sore di jam jamnya Melati mandi, Sri harus membantu Melati.
Sri pun mengiyakan dan Moses, menyuruh Sri untuk masuk ke dalam kamarnya Melati sekarang, membantu Melati untuk berganti baju.
Setelah itu Moses kembali masuk kedalam lift dan menuju ke lantai atas, ke kamarnya.
Ting
Pintu lift terbuka dan Moses langsung masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan diri.
Melati, emm, kenapa kamu menari nari di dalam benakku saat ini. Aaah, sial! Moses Elruno mengumpat di dalam hatinya.
Moses Elruno bangun dari ranjangnya dan melangkah menuju ke bar mini yang ada di pojok sebelah kanan ranjangnya, Moses meraih Pilsner glass-nya dan mengisi gelas tersebut dengan anggur kesukaannya sampai hampir penuh. Satu botol anggur tersebut harganya sama dengan satu buah sepeda motor.
Moses mengangkat gelasnya dan hendak meminum anggur tersebut, tapi dia urungkan.
Dia teringat akan janjinya pada dirinya sendiri kalau mulai hari ini, dia akan menjauhi wanita dan anggur.
Moses teringat akan Chery, bayi cantiknya, putri imutnya.
Moses lalu meletakkan gelas yang sudah terisi anggur tersebut di atas meja bar mininya.
Moses beralih ke lemari es yang tertanam manis dan cantik di tembok kamarnya.
Moses mengambil satu botol air mineral, membuka tutup bolotnya dan langsung menenggaknya sampai habis.
Rasanya hambar, tapi aku harus membiasakan diri, demi Chery. Batin Moses.
Beberapa saat kemudian, pintu kamarnya diketuk sama Ray. Iya, hanya Ray dan om Erlangga yang diijinkan Moses untuk masuk ke dalam kamarnya. Wanita wanitanya pun belum pernah dia bawa masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Saya sudah belikan alat penyangganya dan sudah saya suruh Sri untuk memberikannya ke Melati, tuan" kata Ray.
"Terima kasih Ray" kata Moses.
"Tuan, maaf, apa tuan tidak berniat untuk mencari tahu, siapa ibu kandungnya Chery?" tanya Ray dengan pelan dan hati hati.
"Aku tidak tertarik untuk mencari seorang ibu yang tega menelantarkan anaknya demi karier" jawab Moses Elruno tegas.
"Aku mau tahu lebih banyak soal Melati" kata Moses tiba tiba.
"Jangan berpikiran macam macam dulu, aku pengen tahu soal dia karena, dia pengasuh bayiku" tambah Moses.
"Iya, tuan, emm, Melati seorang mahasiswi jurusan Psikologi, dia sangat cerdas, dia berhasil masuk Universitas bergengsi di kota ini lewat jalur undangan dan mendapatkan beasiswa" kata Ray memulai ceritanya.
"Lalu?" tanya Moses semakin tertarik.
"Dia masih muda, masih berusia dua puluh tiga tahun, anak tunggal, dan ayahnya sudah meninggal, dia hidup berdua saja dengan ibunya di kota S, sebelum kuliah di kota ini"" jawab Ray.
"Terus, duduklah Ray!" kata Moses.
Ray, pun duduk di depannya Moses.
"Sebelum bekerja sebagai pengasuh bayinya tuan, dia bekerja sebagai guru privat dan karyawan di sebuah butik" tambah Ray.
"Kenapa dia harus bekerja?" tanya Moses semakin penasaran.
"Ibunya hanyalah seorang sekretaris biasa tuan, di perusahaan yang tidak begitu besar, gajinya sangat kecil, hanya cukup untuk membayar uang kostnya Melati, dan hidup beliau sehari hari di kota kelahirannya" Ray mulai melanjutkan ceritanya kembali.
Moses mengangguk anggukkan kepalanya.
"Lalu, cowok yang kemarin, beneran pacarnya Melati?" tanya Moses.
"Iya tuan, namanya Awan Herlambang, dia satu kampus dengan Melati, dia putera dari pak Dipo Herlambang, Awan dan Melati sudah cukup lama berpacaran, sudah tiga tahun ini mereka berpacaran" jawab Ray.
"Tipe setia juga ya" gumam Moses.
"Apa tuan?" tanya Ray, karena dia tidak bisa mendengarkan apa yang diucapkan tuannya barusan.
"Aahh, nggak penting, lalu selama dia bekerja di sini, apa kuliahnya lancar?" tanya Moses.
"Lancar tuan, kalau dosennya tidak bisa datang ke sini, maka beliau akan mengirimkan tugas tugasnya via email tuan, dan terkadang melakukan video call untuk penyampaian materinya" jawab Ray.
Moses mengangguk anggukkan kembali kepalanya.
Di balik sosoknya yang kerempeng dan tampak ringkih, ternyata dia seorang wanita yang mandiri dan tangguh, juga cerdas. Batin Moses.
"Baiklah Ray, pulanglah, aku mau tidur!" kata Moses.
Ray pun tersenyum, menganggukkan kepalanya, dan keluar dari kamarnya Moses.
Aku mulai tertarik sama kamu sepertinya. Batin Moses sambil mulai memejamkan matanya untuk tidur.