Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
"Bukan sadis, Namira. Itu namanya seleksi alam," sahut Ayyan santai sambil menutup laptop. "Sudah, pendaftaran selesai. Sekarang kamu istirahat, jangan main HP terus sampai larut. Perutmu masih sakit, kan?"
"Masih dikit sih, tapi kalau lihat pengumuman pendaftaran beres begini, rasanya kramnya pindah ke jempol karena pengen update status!" Namira nyengir lebar.
Ayyan hanya menggeleng pasrah. Namun, tepat saat suasana mulai tenang, tiba-tiba terdengar suara riuh dari luar kamar. Suara santriwati yang tadinya hanya terdengar sayup-sayup, kini terdengar lebih jelas di depan pintu ndalem.
"Ning Namira! Ning!"
Namira dan Ayyan saling pandang. Ayyan berjalan menuju jendela dan menyibak sedikit gordennya. Ternyata, di bawah sana sudah ada Nia dan beberapa santriwati lainnya yang membawa bingkisan.
"Ada apa, Mas?" tanya Namira penasaran.
"Temanmu, si Nia itu. Dia sepertinya membawa 'pasukan'. Mungkin mereka sudah melihat video viralmu tadi," jawab Ayyan sambil kembali menatap istrinya. "Kamu mau menemui mereka? Kalau masih sakit, biar saya yang suruh mereka kembali ke asrama."
"Eh, jangan! Kasihan mereka, Mas. Aku mau ketemu!" Namira langsung menyambar jilbab instannya, membetulkannya sedikit di depan cermin, dan tentu saja... menyambar HP-nya. "Sekalian bikin konten mini vlog 'Ketemu Fans Pertama di Pesantren'!"
Ayyan menarik napas panjang. "Gunakan kerudung yang benar, Namira. Dan jangan terlalu heboh, ingat ini lingkungan pesantren."
Namira keluar ke teras ndalem dengan langkah ceria, sementara Ayyan mengekor di belakang seperti bodyguard resmi. Begitu melihat Namira, Nia dan kawan-kawannya langsung heboh namun tetap berusaha sopan.
"Ning Namira! Masya Allah, aslinya lebih cantik daripada di TikTok!" seru salah satu santriwati sambil memberikan kotak berisi jajanan pasar.
"Aduh, makasih ya! Panggil Mira aja kalau lagi nggak ada Abah sama Umi, biar akrab!" jawab Namira santai.
Nia mendekat sambil berbisik, "Mir, beneran itu Gus Ayyan mau diajak bikin video? Kita semua di asrama sampai istighfar berjamaah lho pas lihat. Kok bisa Gus Ayyan jadi selucu itu?"
Namira melirik Ayyan yang berdiri kaku di belakangnya dengan tatapan "dingin" andalannya. Namira langsung menarik lengan Ayyan untuk mendekat. "Tipsnya cuma satu, Ni... kasih makan seblak! Iya kan, Mas?"
Ayyan hanya berdehem kecil, membuat para santriwati langsung menunduk serentak karena segan. "Sudah, ini sudah masuk waktu kegiatan sore. Kembali ke
asrama masing-masing. Terima kasih bingkisannya."
"Nggih, Gus! Pamit, Ning!" Mereka pun bubar dengan wajah sumringah.
Begitu mereka pergi, Namira menoleh ke arah Ayyan. "Tuh kan, Mas. Mereka seneng banget. Ternyata punya istri influencer kayak aku berguna juga kan buat bikin santri makin betah?"
Ayyan terdiam sejenak, lalu tangannya mengacak pelan puncak kepala Namira—hal yang sangat jarang ia lakukan di tempat terbuka. "Iya, bermanfaat. Tapi sekarang, masuk. Waktunya kamu minum jamu kunyit asam yang dibuatkan Mbak dik. Saya tidak mau alasan 'kram' jadi tameng kamu buat nggak belajar kitab malam ini."
"Yeee... ujung-ujungnya tetep disuruh ngaji!" keluh Namira, tapi hatinya tetap berbunga-bunga.
***
Malam harinya, suasana kamar kembali hening, hanya terdengar suara detak jam dinding dan gesekan lembaran kitab yang dibalik oleh Ayyan. Namira duduk di sampingnya, berusaha fokus pada kitab kecil di tangannya, meski matanya sesekali melirik ke arah ponsel yang ia taruh di atas meja.
"Satu paragraf lagi, Namira. Jangan lirik-lirik ponsel terus," tegur Ayyan tanpa menoleh, seolah punya mata di samping kepalanya.
"Iya, Mas... ini lagi dibaca kok. Tapi artinya susah banget, kata-katanya banyak yang mirip," keluh Namira sambil mengerucutkan bibirnya.
Ayyan akhirnya menutup kitabnya dan bergeser mendekat. "Mana yang susah? Sini, saya jelaskan."
Dengan telaten, Ayyan membimbing Namira. Suara baritonnya yang tenang saat mengartikan kalimat-kalimat Arab itu entah kenapa terdengar seperti musik di telinga Namira. Ia bukannya fokus ke arti kitab, malah fokus menatap garis rahang suaminya yang tegas.
"Paham?" tanya Ayyan tiba-tiba sambil menoleh.
"Hah? Eh... iya, paham Mas. Paham kalau suami aku ternyata ganteng banget kalau lagi serius begini," ceplos Namira jujur.
Ayyan tertegun, wajahnya sedikit memerah. Ia berdehem untuk menutupi kecanggungannya. "Fokus, Namira. Jangan mulai lagi."
Baru saja Namira mau menjawab, ponselnya bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun di bawahnya tertera nama asisten manajemen influencer-nya.
"Mas! Mas! Ini dari brand baju sarimbit yang tadi! Aku angkat ya?" Namira langsung bersemangat.
Ayyan mengangguk pelan. Namira menekan tombol hijau. Muncul wajah seorang wanita modis di layar.
"Halo, Kak Namira! Salam kenal, aku Rani dari brand Al-Husna. Kak, video Kakak bareng Gus Ayyan tadi pagi itu benar-benar di luar ekspektasi kami! Bos kami langsung setuju buat kirim paket exclusive malam ini juga lewat kurir kilat. Besok pagi sudah sampai di pesantren!" ucap Rani dengan nada antusias.
Namira melotot senang. "Serius, Kak? Cepat banget!"
"Iya, Kak! Dan kami ada permintaan khusus. Karena followers Kakak naik gila-gilaan, kalau Kakak dan Gus Ayyan bisa bikin satu video lagi pakai baju kami, kami bakal tambahin bonus kontrak buat biaya pembangunan fasilitas santri di sana. Gimana, Kak?"
Namira melirik Ayyan dengan tatapan memohon yang paling maut. "Gimana, Mas? Buat fasilitas santri lho... Mas nggak mau lihat santri kita punya asrama yang lebih bagus?"
Ayyan menghela napas panjang, merasa terjebak dalam skenario istrinya sendiri. "Asalkan bajunya benar-benar syari dan tidak ada gerakan aneh, saya setuju."
"Yesss! Denger kan, Kak Rani? Mas Gus setuju!" seru Namira girang.
Setelah menutup telepon, Namira langsung loncat-loncat di atas kasur. "Mas Ayyan terbaik! Besok kita shooting ya! Mas harus pakai parfum yang paling wangi, biar aura Gus-nya keluar maksimal!"
Ayyan hanya bisa memijat keningnya. "Sekarang, selesaikan mengajinya. Kalau tidak selesai dua halaman, besok tidak ada syuting-syutingan."
"Siap, Pak Ustadz Sayang!" Namira langsung kembali duduk manis dan membaca kitab dengan kecepatan penuh.