NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: DETAK JANTUNG YANG BERKHIANAT

Malam telah jatuh sepenuhnya di atas villa terpencil itu. Suasana di dalam kamar Ghea terasa begitu hening, hanya suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur setiap embusan napasnya. Ghea berbaring kaku di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang tinggi.

Pikirannya masih dipenuhi oleh tur "sangkar emas" yang ditunjukkan Adrian tadi siang. Sensor suhu, pemindai retina, hingga kabar kematiannya yang terpampang di berita. Semua itu terasa seperti rantai tak kasat mata yang melilit lehernya semakin erat.

Cklek.

Suara gerendel pintu yang berputar membuat tubuh Ghea menegang seketika. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum sandalwood yang dingin dan maskulin itu sudah memenuhi ruangan sebelum pemiliknya melangkah masuk.

Adrian masuk tanpa suara. Ia sudah tidak mengenakan kemeja rapinya. Pria itu hanya memakai kaus hitam polos yang pas di tubuh, menonjolkan lekuk otot dadanya yang keras. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang, gerakannya tenang namun penuh dominasi.

"Belum tidur, Ghea?" tanya Adrian pelan.

Ghea tetap diam, berpura-pura memejamkan mata. Ia berharap Adrian hanya masuk untuk memeriksa keadaannya lalu pergi. Namun, harapannya pupus saat ia merasakan sisi tempat tidurnya amblas. Adrian duduk di sana, tepat di sampingnya.

Tangan Adrian yang hangat mulai mengusap kening Ghea, menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya. Sentuhan itu terasa sangat lembut, namun bagi Ghea, itu tak ubahnya seperti seekor predator yang sedang membelai mangsanya sebelum disantap.

"Aku tahu kau belum tidur. Aku bisa mendengar detak jantungmu dari sini," bisik Adrian.

Ghea terpaksa membuka mata. Ia menatap wajah Adrian yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Dalam temaram lampu tidur, wajah pria itu terlihat sangat tampan, hampir tidak nyata. Rahangnya yang tegas dan mata gelapnya yang dalam seolah mampu menyedot siapa pun ke dalam pusarannya.

"Kenapa kau di sini, Adrian? Bukankah ini sudah malam?" suara Ghea sedikit bergetar.

"Ini kamarku juga, Ghea. Apakah kau lupa?" Adrian tersenyum tipis. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di samping Ghea, lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.

Ghea membeku. Tubuhnya terasa seperti kayu yang kaku saat dada bidang Adrian menempel pada punggungnya. Lengan kuat Adrian melingkar erat di pinggang Ghea, menariknya semakin rapat hingga tidak ada celah di antara mereka.

"Lepaskan aku..." lirih Ghea.

"Sstt... Diamlah. Aku hanya ingin memelukmu. Kau tahu betapa tersiksanya aku selama kau koma? Aku tidak bisa tidur karena takut kau tidak akan pernah bangun lagi," Adrian membenamkan wajahnya di ceruk leher Ghea, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam.

Ghea mencoba memberontak kecil, namun tenaga Adrian jauh lebih besar. Pelukan itu tidak menyakitkan, tapi sangat mengikat. Ghea merasa sesak, bukan karena fisik, melainkan karena mentalnya yang sedang dipermainkan.

Namun, di tengah rasa takut yang luar biasa, sesuatu yang aneh terjadi. Jantung Ghea mulai berpacu dengan liar. Dentumannya begitu keras hingga ia takut Adrian bisa merasakannya melalui punggungnya.

Kenapa? Kenapa jantungku berdetak secepat ini? batin Ghea panik.

Ia seharusnya merasa jijik. Ia seharusnya merasa marah. Pria ini adalah penculiknya, pria ini kemungkinan besar adalah seorang pembunuh yang sedang ia buru sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi kenapa tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda?

"Kau merasakannya, Ghea?" bisik Adrian, suaranya terdengar serak dan menggoda tepat di telinga Ghea. "Jantungmu... dia tidak bisa berbohong. Kau takut, tapi kau juga merasa nyaman berada di sini, kan?"

"Tidak! Kau gila!" Ghea mencoba membalikkan tubuhnya untuk menghadapi Adrian.

Kini mereka saling berhadapan. Tangan Adrian berpindah ke pipi Ghea, ibu jarinya mengusap bibir bawah Ghea dengan gerakan perlahan yang sangat intim. Ghea menatap mata Adrian, mencoba mencari setitik kejahatan di sana, namun yang ia temukan hanyalah pemujaan yang mendalam dan gelap.

"Amnesia mungkin menghapus ingatanmu, Ghea. Tapi dia tidak bisa menghapus chemistry di antara kita. Kau adalah milikku, dulu, sekarang, dan selamanya. Tubuhmu mengingatku, meski otakmu menolakku," ucap Adrian dengan nada yang sangat meyakinkan.

Ghea merasa dunianya berputar. Apakah benar apa yang dikatakan Adrian? Apakah mereka benar-benar sepasang kekasih sebelum semua ini terjadi? Ataukah ini hanyalah gaslighting tingkat tinggi yang dilakukan Adrian untuk menghancurkan pertahanan mentalnya?

Adrian mendekatkan wajahnya. Hidung mereka bersentuhan. Napas hangat Adrian terasa menerpa wajah Ghea. Ghea merasa lumpuh. Ia ingin mendorong pria ini menjauh, tapi tangannya justru lemas tak bertenaga di atas dada Adrian.

"Tidurlah," bisik Adrian. Ia tidak mencium bibir Ghea, melainkan hanya memberikan kecupan lama di keningnya. "Aku akan menjagamu dari mimpi buruk. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu selama kau ada di dalam pelukanku."

Adrian kembali menarik Ghea ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajah Ghea di dadanya yang bidang. Ghea bisa mendengar detak jantung Adrian yang stabil dan tenang. Sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang masih berantakan.

Dalam pelukan itu, Ghea merasa seperti seekor burung yang sayapnya telah patah, lalu dimasukkan ke dalam sangkar berlapis beludru. Sangkar itu hangat, sangkar itu harum, dan sangkar itu membuatnya merasa terlindungi dari dunia luar yang katanya menganggapnya sudah mati.

Namun, di balik rasa nyaman yang semu itu, insting detektif Ghea berteriak di sudut pikirannya yang paling dalam. Jangan percaya! Ini adalah jebakan!

Ghea mencengkeram kain kaus Adrian. Air mata jatuh tanpa suara dari sudut matanya. Ia benci pada dirinya sendiri karena merasakan desiran aneh saat Adrian mengusap punggungnya. Ia benci pada tubuhnya yang seolah berkhianat pada logikanya.

Jika kau memang monster yang kucari, kenapa pelukanmu terasa seperti rumah yang selama ini kucari? tanya Ghea dalam hati.

Malam itu, Ghea tertidur karena kelelahan secara emosional. Ia tertidur di pelukan pria yang paling berbahaya dalam hidupnya. Ia tidak menyadari bahwa ini adalah awal dari rencana besar Adrian: membuat Ghea jatuh cinta pada penculiknya sendiri, hingga Ghea tidak akan pernah mau pergi, bahkan jika pintu villa itu terbuka lebar untuknya.

Sementara itu, Adrian menatap wajah tidur Ghea dengan senyum kemenangan. Ia mengusap rambut Ghea dengan lembut.

"Kau hampir jatuh, Ghea Zanna," gumam Adrian pelan. "Sedikit lagi, dan kau akan memohon padaku untuk tidak pernah melepaskanmu."

Adrian mempererat pelukannya, memastikan Ghea tidak memiliki ruang sedikit pun untuk menjauh. Di rumah ini, di bawah pengawasannya, Ghea tidak akan pernah menjadi detektif lagi. Dia hanya akan menjadi Ghea, pusat dari seluruh obsesi gila Adrian.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!