Bagaimana jika kau mencintai anak angkatmu sendiri?
Begitulah yang tengah di rasakan oleh Maxwell. Ia adalah satu-satunya suami yang tak mengharapkan Istrinya hamil. Bahkan, saat wanita itu di harus menjalani operasi Rahim maka Maxwell-lah satu-satunya manusia kejam yang tak perduli.
Ia di paksa untuk mengangkat seorang anak untuk mengobati trauma Istrinya. Tapi, balita 4 tahun itu sangat menguji kesabaran Maxwell yang di buat hidup di dunia Fantasi dan Mitologi.
Bagaimana tidak? saat Mentari datang maka Bocah itu akan sama seperti anak pada umumnya. Ia berkeliaran membuat suara berisik memusingkan. tapi, di malam hari ia akan menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang arogan bahkan menyaingi sikap dinginnya.
Sosok yang begitu kasar dan selalu ingin membunuh membuat Maxwell hidup bagai di medan perang.
Mampukah Maxwell menundukan Sosok itu? atau ia terjebak dalam keputusan paksaan ini?
....
Tinggalkan Like, komen, Vote dan Giftnya ya say 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan siapa-siapa
Karna desakan Evelyne yang ingin bertemu dengan Maxwell bahkan ia tak bisa tenang dan terus ingin pergi dari sini. Alhasil Tuan Marcello sampai mengirim anak buahnya untuk menemui Maxwell agar bisa datang kesini.
Tapi. Seperti biasa tak akan luput yang dari namanya pertengkaran dan akan terus menyebabkan masalah besar dengan sikap Maxwell yang tak pernah menerima ucapan dari Ayahnya.
Violet yang melihat Evelyne tengah bertengkar dengan Pengawal Owen di dekat Sofa sana tampak terdiam tapi ia menikmati suara berisik dan heboh yang Evelyne ciptakan. Sosok keibuan di diri Violet seketika keluar tak perduli jika Evelyne tak menerima dirinya.
"Dimana Daddy? Leen mau Daddy!!"
"Tuan akan kesini! Sebaiknya Nona kecil makan lebih dulu," bujuk Pengawal Owen tapi Evelyne tak mau. Ia memilih untuk pergi ke Pintu keluar yang di tutup rapat membuat tubuh mungilnya harus berjinjit menggapai gagang Pintu tapi ia tak bisa.
"Bukaa!! Leen mau keluaar!!"
"Leen!" panggil Violet dengan lembut membuat Evelyne berbalik menatapnya dengan mata besar indah dan menggemaskan itu.
"Kau siapa? Kenapa tidur disitu?" polos Evelyne membuat Violet membungkus senyuman. Jika disini ada Tuan Marcello pasti Pria paruh baya itu sudah senang melihat Menantunya sesenang itu. Sayangnya Tuan Marcello tengah keluar mengurus urusannya yang masih terkendala.
"Leen! Kemari. Sayang!" pinta Violet tapi Evelyne agak ragu mendekat.
"Ayo! Kau ingin Apel?" tawarnya meraih buah Apel yang ada di keranjang tepat disampinya. Evelyne memang cukup lapar karna sedari semalam ia tak memakan apapun.
Hingga perlahan kaki mungilnya mendekat dengan wajah begitu masam dan bibir mengerucut terlihat sangat menggemaskan. Violet sampai tak bisa menahan rasa hangat yang tengah mengalir di dadanya.
"Ayo! Naik kesini."
"Saya akan membantu. Nona!" jawab Pengawal Owen mengangkat tubuh mungil Evelyne dan mendudukan bocah itu di samping Violet yang masih tersenyum dan terlihat sangat kagum dengan beningnya kulit Evelyne serta betapa indahnya lautan abu di mata ini.
"Mau itu!"
"Kau sangat-sangat cantik," puji Violet mengusap pipi gembul mulus Evelyne yang diam tak menanggapinya. Ia berbinar kala Pengawal Owen memberikan Apel merah itu hingga kedua tangan mungil Evelyne segera mengambilnya. .
Mereka memandangi Evelyne yang mengigit permukaan Apel yang notabennya lebih besar dari mulut kecil pink itu. Ia terlihat kesusahan tapi sekuat tenaga mengigit tak menerima bantuan siapapun.
"Enak?"
"Emm. Enak!" jawab Evelyne mengangguk hingga mereka menelan rasa gemas. Violet memandangi Evelyne dengan tatapan penuh suka dan hangat.
Sebenarnya Evelyne hanya merasa tak nyaman tapi tahu jika Violet wanita yang baik dan tak ingin menyakitinya.
Lama mereka diam membiarkan Evelyne menikmati Apelnya sampai Pintu itu terbuka memperlihatkan sesosok Pria yang sedari tadi mereka tunggu dengan wajah Tampan datar itu.
Apel di tangan Evelyne terlepas karna mata si kecil itu sudah berbinar seakan melihat bintang pijar gagah yang tengah berdiri di depan pintu sana menatap mereka dingin.
"Daddy!!!"
Pekikan Evelyne sontak membuat Maxwell yang terlihat sudah berganti Stelan kemeja itu mematung. Ada guratan tak suka di wajahnya sampai Evelyne nekat turun hampir jatuh tapi untung saja Pengawal Owen sudah membantunya lebih dulu.
"Daddy!!!"
Evelyne berlari ke arah Maxwell yang masih diam di tempat. Hawa intimidasi itu menguar hebat membuat Pengawal Owen dan Violet menelan ludah berat tapi tidak dengan Evelyne yang sudah memeluk kaki kokoh Maxwell erat.
"Daddy!"
"M..Maxwel! Dia..dia masih kecil." gumam Violet takut-takut jika Maxwell murka. Jelas dari aib wajahnya ia tak suka dengan panggilan Evelyne padanya.
"Daddy! Daddy punya Leen-kan?"
"Menyingkir!" tukas Maxwell menerjang Evelyne yang seketika kembali terjungkal ke samping dengan kasar. Violet terkejut ingin bergerak turun tapi perutnya masih sakit hingga Pengawal Owen sedia menahannya.
"Nona! Luka Operasimu masih basah. Jangan terlalu banyak bergerak."
"Itu.. Jangan kasar padanya!" gumam Violet seraya menahan sakit menatap iba Maxwell yang tak perduli. Ia justru seperti memiliki maksud untuk datang kesini.
"Aku tak akan mengulangi ini!"
"Maxwell! Aku.."
"Cepat selesaikan urusanmu disini karna aku masih banyak pekerjaan," tegas Maxwell tak mau di desak berketerusan. Urusannya sangat penting dari pada terus mendapat panggilan untuk melihat Violet walau Maxwell sering mengacuhkannya.
Violet diam meraba perutnya. Ia baru Operasi semalam dan bergerak saja ia masih di awasi Dokter. Bagaimana bisa ia keluar dari Rumah Sakit sekarang?
"T..tapi Max aku."
"Jika begitu maka jangan menggangguku," geram Maxwell yang selalu dibebankan oleh Violet yang selalu saja ingin mendekatinya. Jelas-jelas selama ini ia sudah mengatakan jika Pernikahan ini hanya untuk mengikuti keinginan Dua keluarga saja tak lebih dan jangan berharap banyak.
Mendengar perkataan kasar Maxwell seketika mata Violet berkaca-kaca. Jelas sudah sering kali Maxwell menyakitinya tapi harapan itulah yang membuat Violet bertahan.
"S..Sayang!"
"Dan lagi! BERHENTI BERHARAP PADAKU," Tekan Maxwell begitu serius. Alhasil Violet meremas selimutnya sampai akhirnya Tuan Marcello muncul dari ambang pintu.
Pria paruh baya itu segera mengeraskan wajahnya melihat Evelyne yang memandangi Maxwell tengah menghakimi Violet yang masih belum sehat betul.
"Urus dirimu sendiri!!"
"Maxwell!!" geram Tuan Marcello mendekati ranjang Violet yang seketika diam membisu. Air matanya mengalir tapi selalu ia tahan agar tak terisak berat disini.
"Apa-apaan kau haa?? Violet baru saja selesai Operasi. Jaga sikapmu!!"
"Aku tak ada urusan denganmu," maki Maxwell ketus dan pedas. Alhasil Violet semakin merasa terpojok sampai ia tak bisa mengangkat wajahnya lagi.
"Sudah cukup! Jika kau masih seperti ini maka aku akan serius dalam mengaturmu. Maxwell!!"
"Urus saja selingkuhanmu itu!!!"
Tangan Tuan Marcello langsung terangkat ingin meninju wajah Maxwell tapi Jirome yang tadi ada di belakang langsung menepis tangan Tuan Marcello dengan wajah kelamnya.
"Jangan menyentuh Tuanku!" geram Jirome menekan intonasinya.
Maxwell sudah cukup emosi karna datang kesini meninggalkan pekerjaannya. Ia hanya ingin menekankan pada Violet agar jangan berharap dengan Pernikahan mereka.
"Maxwell! Violet ini istrimu. Kalian sudah lama menikah dan pantas dia berhak atasmu!!! Termasuk waktu maupun hidupmu!!"
"Kau jangan menasehatiku," Tukas Maxwell sudah sangat muak dengan Patuha kosong Tuan Marcello yang jelas begitu menjijikan jika tahu masa lalunya bagaimana.
Maxwell hanya tak punya kuasa untuk menahan emosi jika membicarakan pengkhianatan Tuan Marcello pada ibunya yang sampai tewas dengan tragis di depan matanya.
"Maxwell!"
"Urus menantumu sendiri dan ISTRIMU itu," tekan Maxwell lalu melangkah pergi. Evelyne mengejarnya bersama Jirome setelah membuat satu ruangan ini terbungkam hebat.
Sudah berulang kali Maxwell menegaskan tentang kondisi hubungan dinginnya dengan Violet tapi Tuan Marcello selalu menjadi penengah sampai Violet selalu mengharapkan Maxwell.
"D..Dad. Hiks! K..kenapa Maxwell begitu membencimu dan aku?" isak Violet membuat Tuan Marcello terdiam.
Ia memejamkan matanya mencoba tetap menelan kehidupan pahit ini sampai kesalahannya di masa lalu benar-benar di lupakan Maxwell.
"Violet! Kau jangan memikirkan dia. Kau tahu sendiri Maxwell bagaimana-kan?"
"D..Dad! Tapi.. Tapi Maxwell selalu bertengkar denganmu karna aku. Aku.."
"Sudahlah! Kau hanya perlu menguatkan mental dan hati. Batu yang keras akan terkikis jika terus di tempa. mengerti?" ujar Tuan Marcello mengusap kepala Violet agar tak begitu tertekan akan kejadian ini.
"Aku sudah bicara dengan Ayahmu! Dia belum bisa datang dan pasti nanti akan menjenguk mu."
Violet hanya diam. Ia masih memikirkan Maxwell yang ntah kapan bisa menerima keberadaanya.
Sementara di Lobby sana. Maxwell seperti robot angkuh yang tengah mengasingkan diri dari keramaian Rumah Sakit. Ia tak memperdulikan sapaan siapapun yang memang tak berani menyapanya dalam mode wajah sekelam itu.
Para Anggota di bawah juga sudah berkeliaran dengan isyarat jangan menyapa Tuannya. Mereka tak bisa menduga emosi Pria itu akan meledak kapan saja.
"Sejak Tuan Muda Marcello ke Rumah Sakit ini. Suasananya begitu dingin."
"Yah. Memang Tampan dan mempesona tapi dia begitu sulit di dekati."
Bisik-bisik para Staf Rumah Sakit yang hanya bergunjing dari jauh. Mereka tak berani berpapasan dengan Maxwell yang memang terkenal dengan sikap emosi labil tapi juga memiliki kepribadian membingungkan.
Ia jarang bicara atau menyapa siapapun tapi sekali berhadapan maka keributan besar akan terjadi. Siap-siap saja akan ada bencana bagi musuh yang berani melintasi wilayahnya.
Tetapi. Mereka cukup heran dan kebingungan kala Maxwell tadi di ikuti oleh bocah kecil perempuan cantik yang berlari untuk mengimbangi langkah lebar Maxwell yang begitu cepat sampai ia berulang kali jatuh tapi tetap bangun berlari lagi.
"Daddy!!" panggil Evelyne membuat beberapa orang di sekitar Lobby saling pandang heran dan kebingungan.
Maxwell tak memperdulikannya. Ia masuk ke Pintu Mobil yang sudah di bukakan oleh Anggotanya yang berjaga disini.
"Daddy!!! Tunggu Leen!!" panggil Evelyne masih berlari hingga sampai ke Boddy Mobil.
Maxwell tak memperdulikan Evelyne yang ingin masuk ke Mobil tapi pintu itu sudah di tutup oleh Anggotanya.
"Daddy!!!"
"Tuan!" panggil Jirome mengetuk jendela Mobil untuk bertanya apakah Evelyne harus dibawa?!
Lama Maxwell diam masih dengan wajah dingin itu tapi Evelyne terus memukul-mukul Boddy Mobil membuat kepalanya terasa mau pecah.
"Daddy!!! Daddy!!"
Ntah karna setan apa yang bersemayam di tubuh Maxwell kaki jenjang nan kokoh itu langsung menerjang Pintu didekat sampai kaca itu retak dan getaran Mobil terasa kuat.
Evelyne lagi-lagi jatuh sampai kakinya memar dan merah terkikis lantai berulang kali.
"PERGI DARI SINII!!" bentak Maxwell dari dalam Mobik membuat semuanya merinding.
Jirome paham karna emosi Tuannya tengah tak baik-baik saja akhir ini. Banyak hal yang mengacau kepalanya.
"Evelyne!"
"Daddy!" gumam Evelyne berdiri menatap sendu Mobil ini. Tingginya tak sampai untuk melihat kaca hingga hanya bisa meratapi baja di depannya.
"Bawa dia kembali ke dalam!"
"Daddy!!! Mau Daddy!!" Berontak Evelyne kala Jirome menyuruh anggota mereka membawa Evelyne yang terlihat sangat menolak.
Ia terus memukul Boddy Mobil ini dengan tangan mungilnya hingga ia melihat jika ada cela di Pintu depan. Saat Jirome sudah pergi ke Pintu kemudi Evelyne dengan cepat menyelipkan Tubuh Mungilnya di sela Pintu depan yang nyatanya juga sudah di buka.
Sontak hal itu membuat Jirome terkejut kala Evelyne dengan sudah payah naik ke atas kursi depan sampai harus memanjat menaikan satu kakinya lebih dulu.
"Kauu.."
"Ikut!" gumam Evelyne menarik Seatbelt ini sebagai tumpuannya hingga berhasil duduk.
Maxwell sampai terdiam kosong menatap Baby Evelyne yang sekecil ini tapi hal yang selalu ia tunjukan begitu membuat mereka tak percaya dan begitu aneh.
"Daddy! Leen ikut!" cengir Evelyne masih sanggup menoleh pada Maxwell yang tak merubah raut wajah datar tapi jelas ia begitu mencari-cari apa isi kepala bocah ini?!
"Tuan! Aku akan membawanya kembali ke dalam Rumah Sakit."
"Tidak perlu!" Jawab Maxwell menyandarkan tubuhnya ke kursi Mobil. Ia memandangi gerak-gerik Evelyne yang seperti begitu nyaman disini sampai dengan lecet-lecet di tubuhnya tak di hiraukan.
"Malam itu ada bayangan perempuan yang masuk ke Gudang. Saat di lihat hanya dia tergeletak di sana. Lalu kemana bayangan itu pergi?!"
Batin Maxwell yang tadi meneliti kejanggalan semalam. Ia tentu tak semudah itu mengabaikannya karna bisa saja ada yang ingin menipunya dengan kedatangan Evelyne.
.....
Vote and Like Sayang..