NovelToon NovelToon
Wanita Terakhir Sang Playboy

Wanita Terakhir Sang Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Playboy / Angst / Obsesi / Romantis / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Swan

Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga tokoh

"Lo...?"Ucapan Kanaya terpotong.

"Mmmmhhh..."

DUK!

"Agh...!!"

Gavin mengerang dengan kedua tangan memegang aset berharga miliknya.

"Agh...Sakit anjing!"umpat Gavin.

"Burung  gue bisa ga bangun lagi sialan."lanjut Gavin.

"Agh...Sakit bangsat."Gavin terus mengumpat.

"Kanaya sial... agh, ini sakit banget anjing."Gavin rasanya ingin menangis saja, ini sungguh menyakitkan.

"Mampus lo syukurin... lagian ngapain pake bekap bekap gue segala, dasar cowok mesum!"jawab Kanaya. Kanaya ikut meringis melihat Gavin kesakitan, sebenarnya dia pun tak niat melakukan kekerasan pada Gavin, yang terjadi hanya spontanitas saja karna Kanaya terlalu kaget dengan sikap Gavin.

Gavin masih mengerang, wajah putihnya terlihat memerah, Kanaya yang melihat Gavin seperti itu akhirnya perlahan mendekati, namun masih memberi jarak.

"Sakit banget ya...?"tanya Kanaya polos.

Gavin menganggukan kepalanya, rasa sakit di senjata berharganya memang tidak main main, Gavin sampai memikirkan nasibnya bila senjatanya tidak berfungsi lagi.

"Kalo barang berharga gue sampe kenapa kenapa, lo yang harus tanggung jawab Nay!"ucap Gavin.

"Eh, ko gue?"ucap Kanaya sambil menunjuk wajah nya sendiri.

"Maaf ya tuan Gavindra wijaya yang terhormat, gue tuh gak sengaja, lagian ngapain coba lo narik narik gue, terus bekap bekap segala, udah gitu di toilet cewek juga."lanjut Kanaya sarkas.

Gavin memalingkan wajahnya, Gavin sebenernya juga bingung, kenapa dia bisa berada di sini, Gavin hanya mengikuti kata hati saat tadi melihat Kanaya.

Sebenernya alasan Gavin ini, kalo boleh di ceritakan sangat tidak masuk akal, pasalnya Gavin ingin menemui Kanaya, karna Gavin tak suka melihat penampilan Kanaya pagi ini,..Gavin merasa model rambut Kanaya saat ini adalah model rambut yang bisa mengundang para buaya, termasuk dirinya tentunya, maka dari itu Gavin ingin mengatakan langsunf pada Kanaya, namun entah kenapa Gavin malah melakukan hal seperti tadi, Gavin pun jujur tak mengira dengan diri nya sendiri.

Beberapa menit berlalu, Akhirnya Gavin sudah merasa jauh lebih baik, Gavin mulai menegakan badannya, kemudian menatap dalam Kanaya, suasana toilet yang cukup sepi membuat Kanaya Sedikit takut dengan ekspresi Gavin saat ini.

"Kenapa?"tanya Kanaya.

Gavin tak menjawab, matanya masih terus menatap Kanaya tajam.

"Ish... Gav, sebenarnya ada apa, lo kenapa? Terus maksud lo sampe dateng ke toilet itu kenapa?"tanya Kanaya, dengan suara yang lebih lembut.

Gavin masih bungkam, sementara matanya semakin tajam menatap Kanaya.

"Lo lupa semalam kita ngapain?"tanya Gavin.

Kanaya menggelengkan kepalanya dan tampal bingung, memangnya apa yang terjadi pada Kanaya dan Gavin. Kanaya menggeleng.

"Emang kita ngapain?"tanya Kanaya.

"Lo yakin, lo ga inget?"tanya Gavin seolah ingin memastikan.

Kanaya mengangguk, memang tak ada yang Kanaya ingat selain perjalanan mereka membeli buku, lalu makanan, dan akhirnya mereka ketiduran, dan akhirnya Kanaya sudah ada di kamarnya.

"Kita siangnya beli buku sampai sore, pulangnya kita beli makan dulu terus pulang, tapi pas di jalan pulang gue ketiduran, terus kata bu Lastri, kamu yang bawa aku ke kamar kan, gitu kan?"tanya Kanaya balik bertanya.

Gavin mengerang frustrasi sekaligus salting, karna Kanaya tiba tiba salah bicara dengan kata aku kamuan, agak beda memang efek seorang Kanaya itu. Sungguh Gavin merasa di permainkan sekarang, apalagi perkara ciuman itu, walau sebenarnya semua kejadian yang terjadi pada mereka bukanlah salah Kanaya, tapi setidaknya Gavin berharap Kanaya mengingat ciuman mereka.

"Lo mau gue ingetin, apa yang terjadi semalam?"tanya Gavin dengan suara serak.

Kanaya semakin bingung dengan pertanyaan Gavin. Oh ayolah...Kanaya benar-benar tidak ingat apa yang terjadi selain dia yang katanya tidur itu.

"Oke, sepertinya kita perlu reka ulang biar lo inget."ucap Gavin, kepalanya memindai ruangan mereka saat ini kemudian mendekat ke arah Kanaya.

Gavin mendekat, mempersempit jaraknya dengan Kanaya, sementara Kanaya melangkah mundur ,Kanaya tak mengerti dengan Gavin, dan melihat Gavin yang seperti ini membuat Kanaya Sedikit takut.

"Gav..."Kanaya menahan tubuh Gavin agar tak semakin menempel pada tubuh nya.

"Hmmm..." Jawab Gavin Singkat, mata tajamnya membuat Kanaya semakin takut.

"Gav, kita terlalu deket, gue gak mau keliatan orang lain, gue sedeket ini sama lo."ucap Kanaya lagi.

"Dan, gue gak pernah peduli pendapat orang lain!"jawab Gavin.

Kini punggungnya sudah menyentuh tembok, dan Kanaya tak mungkin mundur lagi. Satu-satunya hal yang bisa Kanaya lakukan hanya menahan tubuh Gavin saat ini.

Gavin terus menatap lekat Kanaya, kemudian tangannya naik ke atas, menyentuh rambut Kanaya, menyingkirkan beberapa helai rambut Kanaya yang tak terikat, namun menutupi sedikit bagian matanya. Lalu tangannya mulai menyentuh ikatan rambut Kanaya, dan dengan cekatan Gavin menarik nya.

Ctas...Tiba-tiba rambut hitam Kanaya yang cukup lebat terurai, leher putihnya yang tadi terlihat, kini tertutup sempurna.

Kanaya menunduk,menyentuh rambut bagian bawahnya dengan tangan nya, lalu menatap ke arah Gavin.

"Lo...ngap....emmmhhh." Tiba-tiba Gavin mencium bibir Kanaya, melumat bibir atas dan bawah Kanaya bergantian, kemudian melepas ciuman nya.

"Semalam... Lo tiba-tiba nyium gue, sama seperti itu!"ucap Gavin lembut, tangannya mengusap bibir kanaya yang masih terlihat basah. Sementara Kanaya masih mematung di tempatnya.

"Lo tau... efek ciuman lo, bahkan bikin gue gak bisa tidur semalam, karna itu gue minta pertanggung jawaban lo hari ini."lanjut Gavin, dengan tangan yang terus mengelus lembut bibir Kanaya.

"Dan gue... Gue gak suka gaya rambut lo tadi, jadi jangan pernah lo pake gaya rambut yang sama ke kampus ini lagi, kecuali..."Gavin menjeda ucapanya.

"Kecuali,,, lo pengen, gue bikin tanda merah di leher putih lo."lanjut Gavin, kemudian mengecup singkat leher Kanaya membuat Kanaya menegang, setelah itu tersenyum ,dan pergi begitu saja.

Tubuh Kanaya luruh ke lantai begitu Gavin meninggalkannya ,Kanaya masih mencerna apa yang terjadi antara dirinya dan Gavin, dan Kanaya masih tak mengerti apa yang barusan terjadi.

Setelah beberapa menit baru Kanaya mampu mengontrol dirinya sendiri, dan memutuskan berdiri dan beranjak dari tempatnya saat ini.

"A-Apaan dia." Gumamnya.

Kanaya langsung mencuci wajahnya dengan air, mencoba menghilangkan jejak sentuhan Gavin di bibirnya.

Hingga beberapa saat berlalu, Kanaya masih sibuk menatap wajahnya di cermin dengan pikiran yang tak bisa berhenti memikirkan kejadian yang baru saja terjadi, bahkan Kanaya sepertinya sudah tertinggal jam pelajaran dari beberapa menit yang lalu.

Dan tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, lalu seorang gadis cantik masuk, dan berdiri di samping Kanaya matanya menatap cermin yang sama dengan Kanaya.

"Hai, gue Hera,gue... Gadis tercantik di kampus ini, gue terlahir dari keluarga Atmadja, lo pasti pernah denger kan...Gavin dan Alex ,dua-duanya milik gue, jadi sebagai anak baru, gue harap lo tau diri, untuk tidak membuat masalah sama gue,"Ucap gadis di samping Kanaya.

"Lo paham..?"lanjut nya dengan mata yang terus menatap Kanaya melalui cermin di hadapannya.

Mendengar ucapan gadis di sampingnya, Kanaya tersenyum tenang.

"Gue gak pernah tertarik dengan dua cowok yang lo maksud dan..."jawab Kanaya santai.

"Dan, kalo lo ngerasa lo gadis paling cantik dan terhormat di kampus ini, seharusnya lo ga perlu repot repot, untuk mengatakan itu sama gue."lanjut Kanaya.

Kemudian pergi begitu saja meninggal gadis dibelakangnya yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.

"Sepertinya lo mau bikin masalah sama gue,, bitch."ucap Hera marah.

Yah...gadis itu adalah Hera Atmadja, tadi Hera tak sengaja melihat Gavin yang keluar dari toilet wanita yang membuatnya penasaran, sampai akhirnya Hera melihat  seorang gadis yang sedang menatap cermin, yang jujur saja, membuat rasa percaya diri yang dia miliki selama ini tiba-tiba berkurang saat melihatnya.

oh ayolah, Hera memang cantik, sama cantiknya dengan Karina, yang membedakannya adalah penampilan mereka saja, Karina yang terkesan bad girl, dan Hera si cantik yang polos tentunya, namun gadis yang di lihat nya terlihat berbeda darinya maupun Karina.

Gadis itu bahkan terlihat sangat cantik walaupun dengan style yang sangat sederhana, tak seperti dirinya maupun Karina.

Dan hera sangat membenci, bila ada orang yang melebihi dirinya.

-Bersambung

1
Supri Yanto
bagus alur ceritanya menarik pingin baca terus kelanjutannya😊
Supri Yanto
lanjut👍
D
Lanjut
D
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!