"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Invasi Pasukan Kecil ke Rumah Sunyi
"Wow... rumah Om Papa besar banget! Tapi kok serem ya? Kayak istana hantu di film kartun!"
Elia menempelkan wajahnya ke kaca jendela mobil yang perlahan memasuki gerbang besi raksasa Mansion Alger. Matanya membulat sempurna menatap bangunan megah bernuansa abu-abu gelap dan hitam yang berdiri angkuh di tengah halaman luas yang sunyi senyap. Tidak ada ayunan, tidak ada bunga warna-warni, hanya rumput Jepang yang dipangkas terlalu rapi dan patung-patung abstrak yang bentuknya aneh.
"Ini bukan istana hantu, Elia. Ini gaya arsitektur brutalism modern," koreksi Cayvion datar tanpa menoleh dari ponselnya. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati setinggi tiga meter.
"Brutal... apa?" Elia menoleh ke Elio.
"Artinya rumah orang kaya yang nggak punya selera humor," bisik Elio santai sambil memanggul ransel robotnya. "Lihat catnya. Hitam semua. Kayak markas penjahat."
Pintu mobil terbuka otomatis. Hara turun dengan langkah ragu. Dia menatap mansion di depannya.
Dingin. Itu satu kata yang langsung terlintas di benaknya.
Rumah ini persis pemiliknya. Indah, mahal, tapi tidak punya kehangatan sama sekali.
Seorang wanita paruh baya dengan seragam kepala pelayan yang kaku dan rambut disanggul ketat sudah berdiri di ambang pintu. Wajahnya seperti baru saja menelan jeruk nipis utuh—asam dan tidak ramah. Ini pasti Bu Marta, kepala pelayan legendaris yang sering disebut-sebut staf kantor sebagai "Penjaga Neraka".
"Selamat datang kembali, Tuan Cayvion," sapa Bu Marta sambil menunduk hormat, lalu matanya melirik tajam ke arah Hara dan dua bocah di belakangnya. Tatapannya berubah total. Menilai. Merendahkan. Seolah Hara adalah kotoran yang menempel di sepatu mahalnya.
"Marta, ini Hara. Istri saya," kata Cayvion singkat, nadanya tidak peduli. "Dan ini Elio serta Elia. Anak-anak saya. Siapkan kamar tamu di sayap timur, sebelah kamar saya."
Mata Bu Marta membelalak sekejap, tapi dia cepat-cepat menguasai diri. "Istri? Tuan tidak pernah memberitahu saya akan... membawa tamu."
"Bukan tamu. Penghuni," koreksi Cayvion sambil berjalan masuk, melempar kunci mobil ke vallet.
Hara menggandeng tangan si kembar erat-erat dan melangkah masuk ke lobi utama. Lantainya marmer putih yang licin. Langit-langitnya tinggi sekali. Suara langkah kaki mereka menggema: tak, tak, tak.
"Whoaaa... licin banget!" Elia yang hiperaktif langsung melepaskan tangan Hara. Dia berlari kecil menuju sebuah vas keramik biru raksasa setinggi badannya yang dipajang di tengah ruangan. "Mami! Lihat! Gucinya ada naga-naganya!"
Tangan mungil Elia baru saja mau menyentuh permukaan vas itu ketika suara lengkingan tajam menghentikannya.
"JANGAN SENTUH!"
Bu Marta setengah berlari, menghalangi tubuh Elia dengan vas itu. Napasnya memburu, matanya melotot horor.
"Tuan!" Bu Marta menoleh ke Cayvion dengan nada mengadu. "Vas bunga Dinasti Ming ini harganya lima ratus juta rupiah! Baru dilelang minggu lalu! Tolong dijauhkan dari tangan... anak-anak ini. Bekas jari yang berminyak bisa merusak lapisan glasirnya, apalagi kalau sampai tersenggol."
Elia mundur ketakutan, bibirnya mulai gemetar. "Elia cuma mau lihat naga..."
Hara langsung maju, menarik Elia ke pelukannya. Dia menatap Bu Marta tajam. Rasa hormatnya hilang seketika. "Bu Marta, anak saya cuma melihat. Dia tidak bawa palu. Jangan bentak anak kecil gara-gara barang pecah belah."
"Maaf, Nyonya," Bu Marta menjawab dengan nada yang sama sekali tidak terdengar menyesal. "Tapi di rumah ini, barang-barang seni lebih berharga daripada mainan anak-anak. Saya hanya menjalankan tugas menjaga aset Tuan."
Hara menoleh ke Cayvion, berharap suaminya itu membela. "Pak? Bapak dengar itu?"
Cayvion berhenti di tengah tangga menuju lantai dua. Dia menoleh ke bawah, menatap drama kecil itu dengan wajah lelah.
"Marta benar, Hara. Itu vas mahal," kata Cayvion enteng. "Ajari anakmu supaya tangannya tidak gerayangan."
Rahang Hara jatuh. "Bapak lebih belain vas daripada Elia?"
"Aku belain uangku. Kalau pecah, kamu mau ganti pakai gaji asistenmu selama sepuluh tahun?" Cayvion kembali menaiki tangga. "Sudah, jangan ribut. Aku ada meeting penting lima menit lagi. Marta, tunjukkan kamar mereka. Hara, urus kekacauan ini sendirian. Jangan ganggu aku sampai jam makan malam."
Pria itu menghilang di balik pintu ganda di lantai atas.
Hara berdiri mematung di tengah lobi megah itu, menahan amarah yang meletup-letup di dadanya. Dia melihat Bu Marta tersenyum miring, senyum kemenangan.
"Mari, Nyonya," kata Bu Marta dengan nada dibuat-buat sopan. "Lewat sini. Dan tolong bilang ke anak laki-laki itu untuk tidak menyeret tasnya di lantai. Marmer ini impor dari Italia, gampang tergores."
Hara menarik napas panjang. Sabar, Hara. Ingat biaya sekolah Elio. Ingat masa depan Elia. Jangan jambak sanggul ibu ini sekarang.
Malam itu, suasana di lantai dua Mansion Alger jauh dari kata tenang.
Cayvion duduk di ruang kerjanya yang kedap suara (seharusnya). Dia sedang mencoba membaca laporan keuangan kuartal tiga. Matanya lelah, kepalanya pening. Dia pikir dengan membiarkan Hara dan anak-anak masuk kamar, dia bisa kembali ke rutinitas malamnya yang damai dan sunyi.
Tapi dia salah besar.
DUG! DUG! DUG!
Suara benturan benda tumpul terdengar jelas dari dinding sebelah kanan. Dinding yang berbatasan langsung dengan kamar yang kini ditempati "pasukan sirkus" itu.
Cayvion mencoba mengabaikannya. Dia membalik halaman dokumen.
BRAKK!
"SERAAANG! HANCURKAN BENTENG MUSUH!"
Itu suara Elio. Berteriak.
"KYAAAA! MAMI TOLONG! ELIO CURANG PAKAI GULING KERAS!"
Itu suara Elia. Menjerit cempreng.
Cayvion memejamkan mata, meremas kertas di tangannya sampai kusut. Konsentrasinya buyar total. Dia melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Seharusnya anak-anak tidur jam delapan, kan? Kenapa mereka malah terdengar seperti sedang latihan gulat WWE?
GLODAK!
Suara benda jatuh. Mungkin lampu tidur. Atau mungkin kepala seseorang.
"HARA!"
Cayvion tidak tahan lagi. Dia membanting dokumennya ke meja, berdiri dengan gusar, dan melangkah lebar keluar kamar. Dia berjalan menuju pintu kamar sebelah yang tertutup rapat.
Dia tidak mengetuk. Dia langsung membuka pintu itu dengan kasar.
"Bisa diam ti—"
Kalimat Cayvion terhenti. Pemandangan di depannya membuatnya kehilangan kata-kata.
Kamar tamu yang tadinya rapi ala hotel bintang lima kini sudah berubah menjadi kapal pecah. Bantal-bantal berserakan di lantai. Seprai sutra mahal sudah ditarik dan diikat ke tiang ranjang, membentuk tenda darurat. Bulu-bulu angsa dari bantal yang entah kenapa bisa sobek beterbangan di udara seperti salju.
Di tengah kekacauan itu, Elio dan Elia sedang berdiri di atas kasur, memegang bantal sebagai senjata.
Dan di antara mereka, ada Hara. Rambutnya acak-acakan, blazernya sudah dilempar entah ke mana, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung asal. Wajahnya merah padam, memegang guling besar.
Mereka bertiga menoleh serentak ke arah pintu. Beku.
Sebuah bantal melayang dari tangan Elia yang telat mengerem lemparannya. Bantal itu meluncur indah melewati udara, dan mendarat telak tepat di wajah Cayvion.
Bugh.
Hening.
Bantal itu jatuh ke lantai. Cayvion menatap mereka dengan tatapan maut. Wajahnya datar, tapi aura membunuhnya menguar kuat.
"Perang... bantal?" desis Cayvion pelan.
Elio menelan ludah. "Bukan, Pa. Ini... simulasi pertahanan militer."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri