NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Pelarian di Atas Aspal Berdarah

Kalimat itu menggantung di udara, meninggalkan hawa dingin yang lebih menusuk daripada kelembapan dinding septik tua di sekitar mereka. Mia dan Freya tersentak, mata mereka membelalak menatap sosok pria yang baru saja mengucapkan ancaman, atau mungkin ramalan, itu dengan nada yang begitu mutlak.

"Apa ... apa maksudnya?" Mia berbisik dengan suara bergetar. "Dia akan mencelakai kita, Dokter?"

Kayra tidak menjawab. Ia segera menepis rasa ngeri yang merayap di tengkuknya dan kembali ke mode medis. Dengan gerakan cepat, ia mendekatkan jarinya ke arteri di leher Harry.

Denyutnya ada, meski lemah dan berpacu cepat akibat syok. Ia kemudian menempelkan telinga ke dada pria itu, mendengarkan suara napas yang masih terdengar meski tersengal.

"Dia hanya pingsan," hela Kayra, suaranya berusaha terdengar setenang mungkin untuk menenangkan kedua asistennya. "Syok hemoragik dan sisa anestesi membuatnya delirium. Dia tidak sadar dengan apa yang dikatakannya."

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Kayra tahu itu bohong. Pria ini sadar sepenuhnya saat mengatakannya. Tatapan obsidian itu terlalu tajam untuk seseorang yang hanya sekadar meracau.

"Kita tidak boleh lama di sini," Kayra mengalihkan fokus, memeriksa perban di dada Harry. Darah mulai merembes lagi. "Mia, pegang senternya. Freya, bantu aku menekan bagian bawah luka ini. Kita harus menstabilkan kondisinya sebelum Enzo kembali."

Di atas mereka, suara ledakan oksigen yang direncanakan Enzo akhirnya meledak.

BOOM!

Getaran hebat menghantam tanah saat tangki oksigen di atas mereka meledak, meruntuhkan fondasi dan menjatuhkan debu dari plafon beton. Dentuman beruntun menyusul, menciptakan simfoni kehancuran yang memekakkan telinga.

"Sekarang," desis Harry. Meski terpejam, dialah yang pertama bereaksi terhadap kekacauan ciptaannya sendiri.

Penutup besi bergeser kasar. Wajah Enzo yang tertutup jelaga muncul dengan mata berkilat adrenalin. "Cepat! Mereka teralih! Kita punya waktu kurang dari dua menit!"

Enzo menarik Mia dan Freya keluar dengan cepat. Saat giliran Harry, Kayra mengerahkan seluruh tenaga mendorong tubuh berat itu ke atas sementara Enzo menarik bahunya.

"Hati-hati dadanya!" teriak Kayra tertahan melihat urat leher Harry menegang menahan nyeri.

Di gang belakang, pemandangan neraka menyambut mereka. Puskesmas Elara, pelarian damai Kayra selama dua tahun, kini bersimbah api dan asap pekat. Alarm kebakaran menjerit parau, bersaing dengan teriakan perintah musuh dari arah depan.

"Mobilnya! Masuk!" Enzo menunjuk ambulans tua di bawah bayang beringin besar.

Mereka menghambur ke kabin belakang yang sempit. Pintu terbanting, dan Enzo segera memacu mesin. Ambulans tua itu sempat terbatuk, membuat jantung Kayra nyaris berhenti, sebelum akhirnya menderu liar, melesat membelah kegelapan menuju jalur hutan pegunungan.

RATATATATAT!

"Tunduk!" Kayra berteriak sambil menarik Mia dan Freya ke lantai saat peluru menghujani bodi mobil.

Kaca belakang hancur berkeping-keping, menghujani brankar dengan serpihan tajam. Tanpa pikir panjang, Kayra merebahkan diri di atas Harry, menjadikan punggungnya perisai manusia. Ia merasakan panas tubuh Harry di bawahnya dan mendengar geraman rendah pria itu saat peluru menghantam logam mobil dengan bunyi teng-teng-teng yang mengerikan.

"Enzo, mereka mengejar!" Freya menjerit menunjuk sepasang lampu SUV hitam di spion.

"Pegangan!" raung Enzo sambil membanting setir ke jalan setapak berbatu di tengah hutan jati.

Guncangan hebat melempar peralatan medis hingga botol infus pecah membasahi lantai. Kayra bertahan mati-matian, menstabilkan tubuhnya agar jahitan dada Harry tidak robek.

"Berhenti menindihku, Dokter. Kau membunuhku lebih cepat dari peluru mereka," gumam Harry serak sambil mendorong lengan Kayra agar bisa bernapas.

Kayra bangkit sedikit, wajahnya hanya inci dari wajah pucat Harry. "Diam! Kau sedang pendarahan aktif! Tanpa tekanan ini, kau akan mati sebelum kita keluar hutan!"

"Kalau begitu ... ambil adrenalin di tas itu," perintah Harry parau. "Aku harus tetap bangun."

"Gila! Adrenalin akan membuat jantungmu memompa darah keluar lebih cepat!"

"Aku ingin selamat!" bentak Harry dengan sisa tenaganya.

BRAK!

Benturan keras menghantam samping ambulans. SUV musuh mencoba mendorong mereka ke tepi tebing. Mobil miring berbahaya, melempar Mia hingga nyaris terpelanting keluar pintu yang terbuka.

"Enzo! Lakukan sesuatu!" Kayra berteriak panik.

"Aku mencoba!" Enzo membalas, ia meraih pistolnya dan menembak ke arah ban mobil lawan melalui jendela depan yang pecah.

Baku tembak memecah kegelapan hutan jati. Di tengah kilatan mesiu, Harry menarik kerah jas Kayra, matanya berkilat tajam. "Di bawah jok ... ambil kotak hitam kecil."

Dengan tangan gemetar, Kayra menemukan pemancar darurat itu dan menekan tombol merahnya hingga lampu hijau berkedip.

"Sepuluh menit," bisik Harry sebelum kesadarannya mulai luruh.

“Harry! Tetap bangun! Jangan tutup matamu!” Kayra menepuk pipi Harry dengan keras. Ia segera meraih kain kasa dan menekannya sekuat tenaga pada perban di dada Harry yang kini sudah penuh oleh darah merah segar.

“Mia! Bantu aku! Pegang botol infus tinggi-tinggi! Freya, bersihkan sisa kaca di sekitar lukanya!” perintahnya pada dua asistennya.

BRAK!

Hantaman keras dari belakang membuat ambulans melintir 180 derajat dan berhenti mati. Asap mengepul dari kap mesin. Dua SUV musuh mengepung, lampu jauhnya menyilaukan kabin yang hancur.

"Turun! Serahkan pria itu dan kalian selamat!" teriak musuh dari luar.

"Mereka bohong," umpat Enzo sambil memeriksa sisa pelurunya. "Tak akan ada saksi yang dibiarkan hidup."

Kayra menatap Harry yang kini tampak tidak sadarkan diri sepenuhnya. Wajah pria itu sedingin es.

Di tangannya, ia masih memegang pistol yang diberikan Enzo tadi. Tangannya gemetar hebat. Ia adalah seorang penyembuh, seseorang yang bersumpah untuk menjaga kehidupan. Namun, melihat Mia dan Freya yang berpelukan sambil menangis di pojok mobil, sesuatu di dalam diri Kayra patah.

Ketakutan itu berubah menjadi amarah yang murni. Amarah pada takdir yang menyeretnya kembali ke dalam kubangan darah, amarah pada pria bernama Luca yang menghancurkan tempat perlindungannya dan amarah pada dirinya sendiri yang selalu merasa tidak berdaya.

"Enzo," panggil Kayra, suaranya terdengar dingin dan tajam, mengejutkan pria beralis luka itu. "Berapa banyak peluru yang kau punya?"

"Tujuh. Kenapa?"

"Berikan aku dua menit lagi. Aku akan menyuntikkan sesuatu ke jantungnya yang akan membuatnya bangun untuk sementara. Dia harus memberikan instruksi terakhir jika kau ingin kita semua selamat."

Kayra tidak menunggu jawaban. Ia merobek bungkus jarum suntik besar. Ia tidak menyuntikkan adrenalin, melainkan kombinasi obat darurat yang ia racik dengan cepat dari tas medisnya. Dengan presisi yang mengerikan di tengah cahaya redup, ia menghujamkan jarum itu tepat ke arah jantung Harry, prosedur intracardiac yang sangat berisiko.

Harry tersentak. Matanya terbuka lebar, napasnya masuk ke paru-paru dengan suara tarikan yang tajam. Ia seperti mayat yang baru saja dibangkitkan oleh kejutan listrik.

Kayra mencengkeram wajah pria itu. "Harry, mereka ada di depan. Apa rencanamu?"

Harry menatap Kayra, lalu beralih ke arah cahaya lampu di luar. Sebuah seringai predator muncul di wajahnya yang bersimbah darah.

Tepat pada saat itu, suara deru helikopter terdengar dari arah langit, membelah kesunyian hutan Elara. Cahaya lampu sorot raksasa dari langit menghujam ke bawah, menyapu mobil-mobil SUV musuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!