Ketika pernikahan yang selama ini ku anggap sempurna,ternyata hanya sebuah kebohongan membuat kehidupan ku hancur lagi dan lagi.
Namun aku bertahan berharap bisa mengubah pernikahan palsu itu benar-benar nyata,namun semakin aku bertahan rasanya semakin aku jatuh dan hancur mengetahui lebih banyak hal yang lebih menyakitkan.
"Aku mau bercerai"
"Setelah kau membuat ku bergantung pada mu,kau ingin bercerai dengan ku?JANGAN HARAP!.KAU TIDAK AKAN BISA PERGI DARI KU SELAMANYA SAMPAI AKU MATI!"
"Kenapa tidak?,AKU AKAN PERGI SELAMANYA SAMPAI KAU TIDAK PERNAH MELIHAT KU SAMPAI KAU MATI!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Alessia
Sementara itu,saat ini Yasmine duduk di samping Oliver yang saat ini mengemudikan mobil dengan dengan laju yang cepat membuat nya sedikit takut.
"Uhuk... Oliver bisakah kau mengemudikan nya pelan,aku merasa perut ku sangat terguncang", ucapnya memegangi perutnya yang sangat terguncang.
Kecepatan mobil berkurang Oliver juga meghela nafas pelan,Ia baru sadar kalau mengemudi begitu cepat bahkan pegangan tangannya pada setir begitu kuat,sejak tadi Ia ternyata tanpa sadar memikirkan Alessia.
"Kenapa sejak tadi dia diam saja?,dia juga terlihat sangat cuek.Apa jangan-jangan dia memikirkan Alessia?"
Memikirkan itu membuat Yasmine mengepal tangannya dengan kuat, hingga matanya sampai memerah.
"Oliver aku tau kau memikirkan Alessia saat ini karna meninggalkan nya begitu saja,tapi jika aku ke rumah sakit sendiri sekarang mereka semua yang ada di sana akan mengolok-olok aku dan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang ku karna keluar masuk rumah sakit begitu saja", ucapnya dengan suara yang begitu lemah dan penuh sesal.
Beberapa saat lalu
"Jack antar kembali Yasmine ke rumah sakit"
Oliver menutup pintu mobil setelah membiarkan Yasmine masuk.
"Baik tuan",ujar Jackson kemudian masuk ke dalam mobil.
Namun Yasmine tiba-tiba kembali turun dan berlari mengejar Oliver yang belum jauh,Ia menangkap tangan pria itu."Oliver aku mohon tolong jika memang aku harus kembali ke rumah sakit lagi tolong antar aku ke sana"
"Kenapa?"
Yasmine tampak menahan tangis nya namun tetap keluar juga."Para suster dan dokter akan mengejek ku, mereka akan membully ku karna keluar rumah sakit hiks..."
Oliver menarik nafas dalam,menatap ke dalam rumah dimana Ia meninggal kan Alessia di sana tanpa sepatah katapun,entah kenapa perasaan nya ragu namun karna paksaan dan penjelasan Yasmine akhirnya Ia setuju mengantarkan nya sendiri ke rumah sakit.
"Jack,tolong antar Nyonya kemana pun Ia akan pergi hari ini.Aku akan segera datang menyusul"
"Baik tuan"
Jawab Jackson setelah keluar dari dan mobil.
***
Yasmine akhirnya kembali ke rumah sakit dan kembali ke ruangan sebelumnya dan bertemu kembali dengan suster dan dokter yang di bayar Oliver untuk merawat nya selama berada di sana.
Namun perasaan nya tetap tidak senang karna Oliver bahkan tidak menepati keinginan nya yang ingin di antar ke ruangan nya,pria itu pergi begitu saja tanpa turun dari mobil.
"Bu Yasmine kenapa menangis?",tanya seorang perawat menghampiri Yasmine yang saat ini meringkuk duduk di atas ranjang.
"Hik...hiks...dia sudah tidak peduli lagi dengan ku.Dia berubah,dia tidak mencintai ku lagi!"
Dua suster di ruangan itu saling menatap,antara kasihan dan bingung.Pasal nya mereka tau kalau Oliver Dirgantara jelas-jelas sudah punya istri,tapi melihat Oliver yang selalu peduli dengan Yasmine selama di rumah sakit membuat mereka juga yakin kalau Oliver mencintai Yasmine.
"Rasanya aku tidak ingin hidup lagi,aku ingin mati saja.Hidup ku tidak ada gunanya lagi!"
Yasmine terus menangis dengan begitu pilu hingga membuat para suster itu kasihan,dan akhirnya menghubungi Oliver.
***
Sementara saat ini Oliver tidak langsung ke kantor,namun pergi mencari Alessia.
Entah apa yang ada di pikirannya sekarang,hingga saat ini Ia sudah berada di depan gedung dengan bangunan bulat dan luas berlantaikan tiga,dan dengan logo yang bertuliskan besar nama ALESSIA FASHION.
Ia bersandar pada mobilnya melihat ke dalam gedung,dimana di lantai pertama lebih banyak dinding kaca yang transparan sehingga bisa melihat bebas ke dalam, berharap bisa melihat seseorang yang Ia ingin lihat saat ini.
Tanpa menghubungi Alessia Ia hanya diam di sana, perasaan nya ragu menelpon Alessia sehingga beberapa kali hanya melihat nomor wanita itu saja tanpa mengirim pesan atau memanggil nya.
Sementara itu di dalam gedung itu saat ini, beberapa karyawan berdiskusi melihat Oliver yang saat ini di depan kantor mereka.
"Bukankah Itu tuan Oliver Dirgantara?,apa yang di lakukan di sini"
"Entahlah,dia juga tidak berbelanja hanya berdiri di sana dan melihat kemari"
"Mungkin dia tertarik untuk membeli gedung ini kali"
"Apa yang kalian bicarakan,apa kalian tidak tau kalau tuan Oliver itu suaminya Bos kita", ucap salah satu karyawan yang tau hubungan Alessia dan Oliver.
Tiga karyawan yang sejak tadi bergosip itu begitu terkejut,
Benarkah?
Keduanya sontak bertanya serentak hampir tidak percaya.
"Ya tentu saja"
Saat ke empat karyawan itu tengah berbincang-bincang,Alessia dan Lusia muncul namun langkah mereka terhenti.
Lusia menarik tangan Alessia yang akan membuka pintu.
"Al kenapa suami mu ada di sini?",tanya nya menunjuk pria dengan tubuh menjulang tinggi di depan kantor mereka.
Alessia menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Lusia,hingga Ia menghembuskan nafas dalam dan akhirnya memutuskan untuk tidak keluar.
"Al mau kemana?,jumpain gih,kasian tau dia kayaknya udah nunggu lama di sana"
Lusia menahan tangan Alessia yang akan berbalik lagi.
"Bukan urusan ku,kenapa juga dia ada di sini",Alessia melepaskan tangan Lusia dan tanpa mempedulikan nya kembali ke lantai atas ke ruangan nya.
Lusia menghembuskan nafas kasar,Ia menoleh ke arah Oliver yang seperti nya sejak tadi melihat mereka.
Namun pada akhirnya Ia juga tidak peduli dan tidak jadi keluar hingga akhirnya kembali ke ruangan Alessia.
Sebenarnya hari ini mereka akan bertemu klien tapi karna keberadaan Oliver yang saat ini berada di depan gedung nampaknya membuat Alessia kesal dan sama sekali tidak ingin bertemu dengan nya.
"Al,jadi gimana?,kita sudah membuat janji dengan nya bertemu di kafe depan",tanya nya saat masuk ke ruangan Alessia yang seperti nya baru saja selesai menelfon.
"Aku sudah memintanya untuk datang secara langsung ke kantor, sebentar lagi mungkin sampai", jawabnya dengan meletakkan ponselnya dan duduk di kursinya melihat Lusia dengan tersenyum meyakinkan.
"Bagus deh...,Tapi ngomong-ngomong apa kalian bertengkar lagi pagi tadi?,kenapa kelihatan nya kau sangat marah.Tuan Oliver juga terlihat seperti sedang membujuk mu deh Al"
Lusia bertanya dengan rasa penasaran dan berjalan ke arah kaca untuk melihat kalau Oliver masih berada di sana.
"Tidak ada,aku hanya merasa mulai nyaman dengan pekerjaan ku tanpa gangguan siapapun"
"Tapi sepertinya dia akan tetap ada di sana",ucapnya bergumam namun masih terdengar jelas.
Namun hati Alessia mulai merasa kosong dan dingin,tidak ada rasa peduli atau kasihan lagi pada pria yang menjadi suaminya itu.Saat ini Ia bahkan tidak memikirkan nya sama sekali dan fokus menyiapkan apa yang perlu di siapkan untuk bertemu klien pertamanya hari ini.
Klien yang akan bekerja sama dengan nya dalam mengembangkan brand nya.
Saat tengah memperhatikan Oliver,sebuah mobil masuk ke pekarangan kantor membuat Lusia sedikit heboh."A kayaknya klien pertama kita sudah datang!", Ucapnya dengan bersemangat.
"Secepat itu?",tanya Alessia kemudian tanpa memastikan apa yang di ucapkan Lusia benar,Ia langsung memakai blazer nya dan membawa laptop nya.
Melihat hal itu,Lusia sedikit kaget karna Alessia begitu cepat dan sigap.Ia segera berlari mengikuti Alessia yang melangkah cepat untuk menyambut klien mereka,"Eh tunggu Al,kamu bahkan belum melihat ke bawah udah main pergi aja",ucapnya karna Alessia bahkan tidak memastikan kalau klien mereka benar-benar datang.
"Kamu tidak mungkin berbohong kan",jawab Alessia dengan terus berjalan cepat menuruni tangga.
Hingga saat sampai di pintu utama,Ia sedikit agak kaget melihat sosok pria yang tidak asing di matanya.
"Selamat pagi nyonya Alessia senang bertemu dengan anda kembali"
Meski agak ragu, Alessia menjabat tangan pria itu."Ya selamat pagi tuan.apakah saya dengan tuan Tirta Adhitama?",tanya nya memastikan.
Pria dengan tinggi 185 itu tersenyum khas, kemudian mengangguk."Benar saya Tirta Adhitama,yang akan bekerja sama dengan perusahaan nyonya Alessia,saya sangat senang bisa bekerja sama dengan orang hebat seperti anda"
"Terima kasih tuan,perkenalkan ini asisten saya Lusia",ucapnya sedikit mendorong Lusia maju selangkah setara dengan nya.
Pria berkacamata dengan wajah tampan itu tersenyum dan menjabat tangan Lusia."Senang bertemu dengan anda nyonya Lusia"
"Terimakasih pak,mari silahkan"
Ketiganya kemudian masuk untuk melakukan pertemuan yang akan membahas kerja sama.
Sementara itu Oliver yang sejak tadi berwajah tenang dan dengan posisi yang nyaman, langsung berubah sejak melihat kedatangan seseorang di kantor Alessia bahkan wanita itu juga menyambut nya dengan ramah dan sopan.
Hingga entah karna dorong apa,Ia langsung melangkah dengan langkah cepat dan panjang masuk ke gedung itu.
***
telat kamu cemburu olav karena Ale sudah hilang rasa cinta dan pedulinya untuk mu terbang di bawa angin
padahal gak sakit di bikin sakit
sakit beneran baru tau rasa dia
Kamu tahu rasanya bagaimana diabaikan bahkan ramah pada orang lain