"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RETAK YANG TAK TERLIHAT
(POV Arlan)
Arlan tidak pernah menyukai kebocoran.
Dalam bisnis, kebocoran berarti kelemahan.
Dan kelemahan adalah celah untuk dihancurkan.
Ia berdiri di depan jendela ruangannya, tangan dimasukkan ke saku celana, memandangi Jakarta yang mulai diselimuti cahaya sore. Pantulan wajahnya di kaca tampak keras. Stabil. Tidak terguncang.
Namun pikirannya bekerja lebih cepat dari biasanya.
Pukul 21.47.
Ia mengingat jam itu dengan terlalu jelas.
Aira berdiri di depannya. Wajahnya pucat, tapi tetap memaksakan profesionalisme. Ia menunjuk angka-angka di layar dengan suara sedikit serak karena lelah.
Tidak ada jeda.
Tidak ada momen di mana ia memegang ponsel.
Tidak ada waktu kosong.
Jadi siapa yang mencoba menjebaknya?
Arlan kembali ke mejanya. Ia membuka ulang laporan IT yang baru saja masuk.
Login tambahan.
Perangkat internal.
Akses lima menit sebelum file terkirim.
Seseorang di dalam.
Bibirnya menipis.
Ia tidak peduli pada gosip. Tidak peduli pada opini direksi. Tapi ia sangat peduli pada kontrol.
Dan hari ini, seseorang mencoba mengambil kontrol itu darinya.
Pintu diketuk.
“Masuk.”
Clarissa melangkah masuk tanpa menunggu izin kedua.
Gaun putihnya kontras dengan ruangan gelap bernuansa kayu hitam. Senyumnya lembut, namun matanya penuh perhitungan.
“Aku dengar ada masalah,” katanya santai.
Arlan tidak menatapnya. “Kau dengar dari siapa?”
“Gedung ini kecil untuk rahasia sebesar itu.”
Arlan menutup laptopnya perlahan. “Kau tidak perlu khawatir.”
Clarissa berjalan mengitari meja, berhenti di depannya. “Aku hanya tidak ingin orang yang salah berada terlalu dekat denganmu.”
Nada suaranya terdengar manis. Terlalu manis.
Arlan akhirnya menatapnya.
“Dekat?” ulangnya pelan.
Clarissa tersenyum tipis. “Sekretaris yang terlalu sering masuk ruang CEO. Terlalu sering ikut acara. Orang mulai bertanya.”
“Biarkan mereka bertanya.”
“Arlan.” Clarissa menghela napas. “Citra itu penting.”
“Citra bisa dibangun ulang,” jawabnya datar. “Kepercayaan tidak.”
Untuk sepersekian detik, senyum Clarissa goyah.
“Kau mempercayainya?” tanyanya.
Arlan terdiam.
Ia tidak menjawab.
Dan justru itu yang menjadi jawaban paling jelas.
Clarissa berdiri tegak kembali. “Aku hanya mengingatkan. Wanita seperti itu—”
“Cukup.”
Suaranya tidak keras. Tapi cukup membuat udara di ruangan berubah.
“Jangan sebut dia seperti kau mengenalnya.”
Hening singkat tercipta.
Clarissa menatapnya, membaca sesuatu yang tidak ia sukai.
“Aku calon istrimu,” ucapnya pelan.
Arlan berdiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, jarak di antara mereka terasa seperti batas yang nyata.
“Belum,” katanya tenang.
Clarissa membeku sesaat.
Ia tersenyum lagi—kali ini lebih kaku. “Kau sedang emosional.”
“Aku tidak pernah emosional.”
Clarissa tidak membantah.
Ia tahu itu benar.
Arlan adalah tipe pria yang menghancurkan tanpa meninggikan suara.
Setelah Clarissa pergi, ruangan kembali sepi.
Arlan berdiri diam beberapa saat.
Lalu tanpa sadar, pikirannya kembali pada satu detail kecil.
Saat rapat tadi.
Ketika semua orang menatap Aira dengan tuduhan.
Ia tidak menangis.
Tidak memohon.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Ia hanya berdiri dan berkata:
“Saya tidak melakukannya.”
Dengan suara yang stabil.
Arlan mengepalkan tangannya.
Mengapa itu mengganggunya?
Ia seharusnya menikmati tekanan itu.
Ia pernah bersumpah akan membuat Aira merasakan hal yang sama seperti lima tahun lalu.
Namun ketika kemungkinan ia benar-benar dikeluarkan dari perusahaan muncul—
Ia tidak suka perasaan itu.
Bukan karena kontrak.
Bukan karena pekerjaan.
Tapi karena…
Arlan menutup matanya sesaat.
Karena jika Aira pergi sekarang,
ia tidak akan pernah tahu kebenaran masa lalu itu.
Dan ia belum siap untuk tidak tahu.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Aira:
Laporan revisi sudah saya kirim ke email Bapak.
Profesional. Singkat. Jaga jarak.
Arlan menatap layar itu lebih lama dari seharusnya.
Lalu membalas satu kalimat.
Kerjakan dari rumah. Jangan kembali ke kantor malam ini.
Ia menatap pesan yang sudah terkirim.
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Baik, Pak.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada terima kasih.
Arlan meletakkan ponsel perlahan.
Ia bersandar di kursinya.
Seseorang mencoba menjebaknya.
Seseorang mencoba menyentuh miliknya.
Dan Arlan Dirgantara tidak pernah membiarkan apa pun yang berada di bawah kendalinya diambil begitu saja.
Namun untuk pertama kalinya—
ia mulai mempertanyakan satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada sabotase perusahaan.
Apakah ia ingin menghancurkan Aira?
Atau justru…
melindunginya dari sesuatu yang bahkan belum ia pahami?
Di luar gedung, malam turun perlahan.
Dan retakan yang tak terlihat itu—
semakin melebar.
sangat seru