Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Saat mereka berjalan cepat menjauhi rumah itu, langit di ufuk timur mulai memucat. Hari hampir pagi. Karina menyadari satu hal yang cukup ironis, untuk pertama kalinya, ia melewatkan satu malam penuh tanpa tidur sama sekali, dan entah bagaimana, ia masih bisa berdiri.
“Apakah kita akan berjalan kaki terus?” tanya Karina setelah hampir lima belas menit berlalu tanpa tanda-tanda kendaraan apa pun. “Maksudku… kita tidak akan naik mobil atau motor?”
Ia melirik jalan di depan mereka. Tidak mungkin, pikirnya. Jika benar-benar berjalan kaki, itu akan sangat melelahkan. Desa itu terletak jauh dari pusat kota, dan tubuhnya sudah nyaris kehabisan tenaga.
Damon tetap melangkah tanpa melambat. “Sebentar lagi kita sampai di halte. Seseorang akan menjemput kita di sana.”
Ia terdiam sesaat, lalu menoleh ke arah Karina. “Kamu masih kuat?”
“Ya,” jawab Karina cepat, meski nafasnya mulai terengah. “Aku masih sanggup jalan.”
Itu bohong.
Kakinya terasa nyeri setiap kali menapak, punggungnya perih, dan tubuhnya lemas seperti diperas habis. Namun Karina berusaha menahannya. Ia tidak ingin menyusahkan Damon. Ia bahkan tidak benar-benar mengenal pria ini, tidak tahu alasannya membantu, tidak tahu apa hubungannya dengan Ranra. Berutang budi terlalu banyak pada orang asing bukan pilihan yang aman.
Tiba-tiba Damon berhenti.
Tanpa peringatan, ia berjongkok tepat di depan Karina, satu tangannya menunjuk ke punggungnya. “Naik.”
“Apa?” Karina menatapnya bingung, tak yakin apa yang ia dengar.
“Naik, Karin.” Suara Damon tetap tenang, terkendali. “Aku tahu kamu sudah tidak kuat jalan.”
“Tapi—”
“Naik saja.”
Nada suaranya tidak keras, tapi tidak bisa dibantah. Damon meraih tangan Karina dan menariknya dengan cepat. Tubuh Karina terhuyung, lalu membentur punggung tegap Damon. Secara refleks, tangannya mencengkram bahunya.
Damon berdiri perlahan, menopang berat tubuh Karina dengan mudah, seolah itu bukan beban sama sekali.
“Kita tidak punya waktu untuk pingsan di tengah jalan,” ujarnya singkat, lalu kembali melangkah.
Karina terdiam, membiarkan dirinya dibawa, sementara denyut jantungnya berdetak semakin cepat, bukan hanya karena lelah, tapi karena perasaan asing yang tak bisa ia jelaskan.
Langkah Damon tetap cepat seolah berat tubuh Karina di punggungnya bukan apa-apa. Angin pagi menyapu wajah Karina, dingin, membuatnya sedikit lebih sadar.
“Kamu kuat juga,” gumam Karina pelan, setengah tak percaya.
Damon tidak menanggapi.
Karina mendesah kecil. “Kamu memang bukan tipe yang banyak bicara, ya?”
Tetap tak ada jawaban.
Ia menggeser sedikit posisi lengannya agar lebih nyaman, lalu mencoba lagi. “Kalau begitu… aku boleh tanya sesuatu?”
“Kamu sudah bertanya sejak lima menit lalu,” jawab Damon akhirnya, nadanya datar.
“Dan kamu belum menjawab satupun,” balas Karina cepat.
“Apa?” Damon berjalan terus
Karina ragu sesaat. “Kamu ada hubungan apa dengan Ranra?”
Langkah Damon sedikit melambat, hanya sesaat lalu kembali normal. “Dia orang yang tepat untuk membantumu.”
“Itu bukan hubungan,” kata Karina. “Dia bibimu? Teman lama? Atau—”
“Atau apa?” potong Damon singkat.
“Atau kalian bagian dari hal yang sama,” ucap Karina hati-hati.
Hening sebentar. Karina hampir berpikir Damon tidak akan menjawab.
“Aku berutang padanya,” kata Damon akhirnya. “Itu saja.”
“Utang apa?”
“Utang hidup.”
Jawaban itu membuat Karina terdiam.
Tak lama kemudian, jalanan di depan mereka terbuka ke sebuah halte kecil yang tampak sepi. Lampu jalan masih menyala, sementara langit perlahan berubah warna. Dan disana, tepat di tepi halte, sebuah mobil hitam sudah terparkir, mesinnya menyala pelan.
Damon berhenti.
“Kita sudah sampai,” katanya.
Karina mengangkat kepala, matanya langsung tertuju pada mobil itu. “Itu yang menjemput kita?”
Damon mengangguk. Ia menurunkan Karina dengan hati-hati, memastikan kakinya menyentuh tanah dengan aman sebelum melepaskannya.
Pintu mobil terbuka dari dalam.
Damon melirik Karina. “Setelah ini, jangan banyak bertanya di depan orang lain.”
“Kenapa? Apakah berbahaya?”
Damon tidak membantah. Ia hanya membuka pintu mobil lebih lebar dan memberi isyarat agar Karina masuk lebih dulu.
Karina menoleh sejenak ke arah kursi pengemudi, mencoba menangkap siapa yang berada di balik kemudi. Namun, sosok itu tetap diam, menatap lurus ke depan, tak sekalipun menoleh ke arahnya. Wajahnya tertutup bayangan, misterius, membuat Karina semakin penasaran dan sedikit was-was.
Akhirnya, ia duduk di kursi penumpang, menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Tak lama kemudian, Damon masuk menyusul, menutup pintu dengan perlahan. Tepat setelah pintu terkunci, mobil itu melaju pergi, meninggalkan halte dan jalan sepi di belakang mereka.
Meski laju mobil cepat, mata Karina sempat menangkap sesuatu, sosok seseorang berdiri di seberang jalan, menatap ke arahnya. Sekilas saja, tapi tatapan itu menusuk hati. Aneh, campuran rasa sakit dan lega memenuhi dada Karina. Ada sesuatu tentang pandangan itu yang membuatnya kembali merasakan perasaan akrab.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor