Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 10
Sampai di rumah, Reni meletakkan motornya begitu saja di halaman rumah orang tuanya.
Reni berjalan masuk dengan wajah dan suasana hatinya yang kacau.
"Ren, darimana saja kamu?" tanya ibunya yang duduk di ruang keluarga bersama suaminya melihat kedatangan anaknya. Sedang, Jordan sudah sembuh sejak beberapa hari yang lalu dan kini bermain di antara kedua kakek neneknya.
Reni terus berjalan melangkah menuju kamarnya tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya itu lalu masuk ke kamar dan mengunci pintunya rapat.
Braak
Bu Erni dan Pak Guntur terlonjak kaget mendengar pintu di tutup dengan keras, sehingga membuat Jordan menangis kencang.
"Huwaaaa…huwaaaa…"
"Ya, ampun Pak, lihat cucuku sampai menangis kaget mendengarnya," ucap Bu Erni mengusap pelan dada Jordan agar berhenti menangis.
"Ada apa dengan Reni? Hari ini tingkahnya berbeda sekali!" tanya Pak Guntur merasa heran dengan sikap anaknya.
"Kita lihat saja nanti, Pak. Biar dia sendiri dulu di kamar, paling soal suaminya yang selingkuh," ujar Bu Erni geram dengan menantunya itu.
*
Di tempat kerja. Zai sedang melakukan tugasnya mencatat laporan kegiatan paginya di lakalantas. Sebagai polisi, Zai cukup rajin dan giat melaksanakan kegiatannya itu.
"Gimana Zai? Sudah sehat 'kan? Kalau belum sembuh, jangan dipaksakan untuk bekerja," kata Toni yang merasa khawatir temannya itu tidak masuk kerja selama beberapa hari.
"Iya, sudah sembuh kok? Tenang saja, terimakasih Ton," ujar Zai tersenyum menatap Toni sekilas dan mencatat di buku laporannya.
"Syukurlah kalau begitu. Lalu, gimana kelanjutan hubunganmu dengan Reni?" Toni bertanya lagi karena dirinya lah yang mengetahui masalah rumah tangga temannya itu.
"Aku sudah mengajukan surat perceraian untuk Reni. Selebihnya, menunggu tanggal persidangan dilaksanakan," ungkap Zai menceritakan pada Toni.
"Apa! Serius bercerai? Lalu, gimana reaksi Reni dengan surat itu?" Toni terkejut mendengar berita ini.
"Aku tak peduli, Ton. Mau dia marah, atau kecewa dan tak terima dengan perceraian itu, aku tetap tak peduli! Bukti sudah jelas, bahwa Jordan bukan anak kandungku dan juga foto perselingkuhannya dengan Gunawan terbukti benar adanya," terang Zai dengan penuh keyakinan.
"Terimakasih, Ton. Bila tidak ada kamu, mungkin selamanya aku akan menjadi laki-laki paling bodoh sedunia," imbuh Zai tersenyum kecut menghadapi kenyataan yang ada, kalau Reni telah mengkhianatinya sejak lama.
"Itulah gunanya teman, kawan!" Toni menepuk bahu Zai pelan.
Tak lama, obrolan mereka terhenti karena kepala polisi datang menghampiri.
"Zai, bagaimana kabarmu? Sehat 'kan?" tanya Pak Abdi tersenyum pada Zai.
"Alhamdulillah Pak, sehat wal afiat," jawab Zai tersenyum ramah pada atasannya.
"Syukurlah, kalau begitu. Minggu depan, kamu dan Toni ke kota A untuk dinas selama 2 minggu," jelas Pak Abdi kepada kedua orang itu.
"Siap Pak!" jawab keduanya kompak.
"Baiklah, kalian lanjutkan pekerjaannya. Saya permisi keluar karena ada janji temu dengan teman lama," ungkap Pak Abdi sekaligus berpamitan pada keduanya meninggalkan mereka berdua.
Zai pun berpikir, "Mudah-mudahan sidangnya segera di gelar, agar aku bisa tenang saat bertugas nanti," batin Zai berucap dalam hati.
Keduanya pun mengangguk dan melakukan aktifitas kembali di kantor dan juga makan siang bersama di warung sekitar Polres.
Beberapa jam telah berlalu, Zai berpamitan pulang pada teman-temannya.
Sampai di rumah, Zai disambut oleh kedua anaknya dengan memeluk dan mencium pipi keduanya bergantian.
"Kalian sudah mandi?" tanya Zai menatap wajah anak-anaknya bergantian.
"Sudah Papa. Sekarang, Papa yang gantian mandi karena bau keringat," jawab Rere dan Gabriel kompak.
"Baiklah. Ayo, masuk ke dalam rumah menemui Kakek dan Nenek," ajak Zai menggandeng tangan keduanya di sisi kanan dan kiri.
*
Di rumah kediaman orang tua Reni. Reni sedang memikirkan cara untuk menemui mertuanya untuk meminta bantuan agar suaminya mau membatalkan gugatan perceraian itu.
"Besok, aku akan menemui orang tua Mas Zai. Apa pun yang terjadi, aku tidak mau berpisah dari Mas Zai. Bila benar terjadi, bagaimana nasib Jordan kedepannya," monolog Reni berbicara diri sendiri memikirkan masa depan Jordan yang tanpa sosok Ayah bila bercerai nanti.
Reni menggelengkan kepala berkali-kali tak ingin memikirkan terlalu jauh hal itu. Intinya, besok Reni datang pagi-pagi sekali menemui kedua anaknya yang lain karena sesungguhnya dirinya sangat merindukan Rere dan Gabriel.
Kemudian, Reni keluar kamar untuk bergabung dengan kedua orang tua dan juga anaknya yang sedang bermain.
"Ren, ini urus anakmu dulu? Dari tadi mencarimu terus. Kamu sebagai orang tua perhatian sedikit pada anak dong?" kata Bu Erni menasehati anaknya yang beberapa hari ini sering keluar rumah.
"Iya, iya, Bu!" Reni menjawab lalu memangku Jordan yang mengangkat tangan ke arahnya.
"Anak Mama, sudah makan belum?" tanya Reni pada Jordan, walau anaknya itu belum bisa berbicara tapi mampu mengucap satu kata yaitu Mama.
"Lagian, kamu kemana saja sih, beberapa hari ini?" Bu Erni bertanya sekaligus menasehati Reni.
"Biasa Bu, mencari suasana yang hangat untuk hati yang terluka," ujar Reni dengan wajah sendu yang dibuat-buat.
"Apa kamu bilang! Jangan aneh-aneh ya, Ren! Kamu itu masih punya suami dan juga anak. Jangan hanya karena suamimu yang berselingkuh terus kamu ikutan main belakang dengan lelaki lain sebelum kamu bercerai nanti," terang Bu Erni kembali menasehati anaknya yang sedikit bar-bar itu.
"Tapi, Bu. Reni juga punya perasaan, dan perasaan itu juga butuh sandaran untuk meluapkan isi hatiku yang terluka," jawab Reni dengan berderai air mata.
Reni seketika menangis di depan anaknya, sehingga Jordan ikut menangis karena dirinya.
"Cup…cup…cup, Sayang! Jangan menangis, maafkan mamamu yang berlebihan itu. Sudah, ikut Kakek saja di kamar dan tidur karena sudah malam." kata Pak Guntur mengambil Jordan dari pangkuan Reni.
"Ingat Ren! Apa yang dikatakan ibumu itu benar, apa pun masalah yang kamu hadapi saat ini, jangan lupakan Jordan yang masih butuh perhatian dan kasih sayangmu," jelas Pak Guntur berlalu meninggalkan Ibu dan anaknya di ruang tamu dengan membawa Jordan ke kamar.
Bu Erni pun mengikuti suaminya melangkah untuk menemani Jordan cucu satu-satunya.
Reni hanya terdiam dengan hati yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Jujur saja, perasaannya pada Zai sudah hilang sejak di tinggalkan bekerja dinas keluar kota. Sehingga, Reni menjadi buta akan kasih sayang dan perhatian yang Zai curahkan selama ini.
Bahkan, Reni tak segan membawa kekasih gelapnya ke rumahnya saat Zai kerja dinas di luar kota. Kini, Reni hanya bisa merenungi bagaimana nasib kedepannya.
"Aku harus bisa meyakinkan mertuaku. Kalau tidak bisa, aku akan meminta bantuan pada Mbak Ratih untuk menyelesaikan masalahku ini," gumam lirih Reni berucap.
Reni pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar untuk merebahkan tubuhnya yang lelah.
mampir y