NovelToon NovelToon
Kembali Ke Akhir Dunia

Kembali Ke Akhir Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Serigala Kecil

Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.

Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!

Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.

Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dendam Terbalaskan

**

Jeritan pada akhirnya menghilang setelah hanya 10 menit berlalu. Entah semuanya sudah mati, atau sebagian masih hidup bersembunyi didalam ruangan yang ada di rumah komunitas lantai 5 tersebut.

Elle juga kehabisan energi pada saat ini. Ia telah menumpas habis sebagian besar zombie disana. Tentu saja, menyisakan sebagian lagi untuk membuat orang-orang didalam diam selama beberapa waktu. Tunggu sampai Elle selesai beristirahat di ruang itu.

Yang saat ini, Elle sedang menikmati waktunya sendiri didalam sub-ruang miliknya. Makan, minum, bahkan membersihkan diri. Dengan santai, ia juga melihat ladang miliknya yang telihat tumbuhannya baru menumbuhkan beberapa helai daun.

Yah, hanya ada ruang yang bisa ditanami. Tidak ada hal unik lainnya, kecuali waktu pertumbuhan tanaman yang lebih cepat, bisa berdampingan dengan waktu asli ruang yang stagnan, sehingga makanan tidak bisa rusak jika disimpan didalam.

Perbekalan yang menggunung di dalam, membuat Elle sedih. Itu semua ia siapkan untuk para prajurit yang akan berperang. Meski begitu ia tetap bersyukur karena ia ternyata menyelamatkan dirinya sendiri dengan mengisi penuh ruang dengan banyak perbekalan.

Setelah membersihkan diri, Elle berjalan menuju rumah kayu sederhana yang ia bangun sendiri sebagai tempat istirahat. Dengan halaman yang cukup luas, ada dapur darurat dunia kuno juga disana, karena sewaktu-waktu ia meluangkan waktu memasak makanan jika ia hendak pergi ke medan perang.

Syukurnya ia banyak belajar di dunia kuno yang tidak praktis dalam banyak hal itu. Jadi, ketika kembali kali ini ia masih punya beberapa keahlian yang bisa digunakan.

"Ah, untung saja ada makanan siap makan." Ucap Elle seraya menyuapkan sesendok mie buatan sendiri ke mulutnya.

Elle makan dengan pikiran yang jauh berkelana, teringat kabar ayah dan adik di dunia kuno. Entah bagaimana kabar keduanya, tapi hatinya selalu berharap semoga keduanya bisa hidup dengan baik. Elle menghela nafas, menyelesaikan makannya dengan cepat, kemudian pergi tidur karena kepalanya mulai berdenyut.

"Karena sudah kembali, aku akan tetap menjadi jenderal Ellenoir disini. Buat tempat aman sendiri, sebagai tempat yang bisa dijadikan tempat pulang. Khususnya bagi orang-orang yang berkemauan keras untuk hidup dengan baik. Selamatkan mereka dari kegelapan tak berujung itu..." Gumamnya sebelum benar-benar tertidur.

**

"Sialan! Cepatlah keluar, cek keadaan disana untukku!" Pekik seorang lelaki dengan nada marah yang tertahan. Berusaha agar pekikannya tidak terlalu berisik, enggan menarik lebih banyak zombie ke dalam.

"Bos, kau dengar raungan diluar. Jadi zombie disana sudah pasti banyak." Balas laki-laki lainnya dengan gemetar. Takut dirinya yang disuruh oleh si lelaki pertama yang dipanggil bos untuk mengeceknya.

"Pergi!" Ucap sang bos dengan mata tajam, tangannya juga menodongkan pistol ke kepalanya, membuat anak buahnya yang menolak menjadi lebih gemetar tubuhnya.

"B-baik bos, a-aku pergi, pergi sekarang. Jangan bunuh aku." Balasnya dengan wajah ketakutan. Membuat sang bos menarik kembali pistol ditangannya, kemudian mengedikkan kepalanya sebagai kode agar ia cepat pergi.

Anak buahnya berjalan pelan, menatap pintu dengan ngeri. Kemudian ia membuka pintu, perlahan...ingin mengecek terlebih dahulu. Tapi sang bos dengan kejam mendorongnya keluar, membuatnya terjatuh. Ia memejamkan mata, bersiap menerima gigitan, tapi selama beberapa detik menunggu tidak ada satupun zombie yang datang padanya.

Akhirnya ia bangun, perlahan melihat sekelilingnya. Senyumnya pun mengembang, "Bos! Tidak ada zombie disini. Cepatlah keluar." Pekiknya dengan semangat.

"Kau yakin?!" Tanya sang bos.

"Ya!" Balasnya.

"Lalu darimana suara raungan itu berasal?" Tanya sang bos memastikan.

"Tidak tahu, bos, mungkin dari ruangan lain. Cepatlah, kita harus pergi sebelum mereka kemari mengepung kita lagi?" Ucapnya lagi mengingatkan. Selain dirinya dan sang bos, yang lain sudah mati.

Bahkan wanita yang tidur dengan sang bos, mati dicabik zombie karena sang bos membuatnya menjadi perisai bagi dirinya sendiri. Semua zombienya masuk ketika mereka dalam keadaan tidak siap sama sekali. Tidur nyenyak di malam hari.

Sang bos pada akhirnya keluar, memilih percaya pada satu-satunya anak buah yang masih hidup, entah bagaimana keadaan yang lain dan para penyintas itu. Ia akan mencarinya perlahan nanti.

"Cepat tutup pintu masuknya, kau bodoh! Jangan sampai zombie-zombie itu datang dan memakan kita ketika kita tidak siap!" Ucap sang bos mendesak, ketika keluar ia melihat pintu masuk terbuka lebar.

"Apakah kita tidak akan pergi, bos? Akan tetap disini?" Tanyanya bingung.

"Tentu saja! Kita tunggu saudara-saudara yang lain datang. Lagipula perbekalan itu begitu banyak, kau rela meninggalkan semuanya?!" Balasnya sinis.

"T-tapi bos-"

"Cepatlah! Tutup saja dulu pintunya!" Geram sang bos, mulai menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Membuat si anak buah dengan cepat menutup pintu rumah tersebut. Dan menghalanginya dengan lemari sepatu yang ada disampingnya. Sang bos kemudian menghela nafas lega.

"Bos, kau lelah? Aku akan bersihkan sofa agar kau bisa duduk." Ucap si anak buah, kembali ke setelan menjilatnya. Langsung berjalan ke arah beberapa sofa yang terbalik berniat mengembalikannya seperti semula agar bisa diduduki.

Begitu berhasil, ia berbalik hendak memanggil sang bos. "Bos sof-"

ROARGH!

"AKH!" Ia berteriak, selain terkejut dengan kedatangan zombie yang datang tiba-tiba tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya melambai kepada sang hos yang sudah menatapnya dengan ngeri. Zombie menggigit bahunya, dan si anak buah menatapnya dengan rasa sakit serta meminta tolong.

"A-aku..." Ucapnya gugup. Tapi kemudian ia mengarahkan pistolnya pada zombie tersebut. Meski telat, ia tetap berhasil menembak jatuh zombie tersebut. Kemudian maju, melihat kiri kanan dengan waspada, memastikan tidak ada zombie lain yang akan tiba-tiba datang.

"B-bos, tolong aku... Sshhh, a-aku tidak mau mati." Si anak buah yang terduduk mengulurkan tangannya meminta tolong, sesekali mulutnya meringis kesakitan, tangan lainnya memegangi bahunya yang terluka, dengan darah merah yang mengucur perlahan warna darah dan sekitar bahunya berubah menjadi hitam.

Sang bos menatapnya ngeri. "Aku akan memberimu kematian yang cepat!" Balasnya menggeleng, karena ia tahu anak buahnya itu tidak akan selamat. Jadi, ia mengulurkan tangannya, mengarahkan pistol ke dahi si anak buah.

ROARGH! ROARRRH! ROAAAR!

Belum sempat ia menembak, 5 zombie lain yang datang tanpa suara, langsung menggigitnya dari berbagai arah. Membuatnya menjerit kesakitan, pistol yang ia pegang pun jatuh begitu saja.

"Sial! Darimana datangnya zombie-zombie ini?!" Pekiknya seraya menahan rasa sakit.

Diatap, Elle menatapnya dengan mata berbinar dan senyum lebar, seperti psikopat yang menemukan mangsanya. Benar, itu ulahnya. Setelah satu jam beristirahat, ia keluar dan memasuki rumah kepala keamanan. Diam-diam, ia menahan beberapa zombie dengan sulur miliknya, sementara ia bersembunyi diatap melihat keadaan.

Itulah kenapa, zombie yang menerkam keduanya tidak mengeluarkan suara sama sekali. Karena sulur miliknya selain menahan tubuh zombie itu, juga menutup mulut zombie-zombie tersebut.

"Sempurna!" Ucapnya seraya mengangguk puas. Kemudian mengeluarkan panah otomatis yang dibuatnya di dunia kuno. Menunggu sampai dua orang itu benar-benar berubah menjadi zombie, barulah ia bersiap menembak.

Zombie kepala keamanan menatapnya dengan kepala patah-patah. Membuat Elle menyunggingkan ujung bibirnya. "Bagaimana? Apa kau menikmati rasa dicabik-cabik oleh zombie? Yah, itulah yang pantas kau terima... Bajingan!" Pekik Elle penuh dendam. Dan Wooosh! Panah mengenai dahinya, tepat ditengah. Mati seketika. Ia juga menembak zombie lain dengan cepat setelahnya.

**

1
azka aldric Pratama
hadir 😁
Windy Hapsarini
lanjut Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!